
Disaat adegan itu berlangsung, hadirlah Yoga ditengah-tengah mereka. Namun bodohnya Yoga hanya datang sendirian. Lelaki itu tidak membawa polisi atau siapapun. Tidak jelaskah saat Eza mengirim pesan bahwa keadaanya darurat.
"Woy woy woy, ada apanih!" Yoga menghalau orang yang baru saja akan melemparkan sesuatu tepat dikepala Eza. "Stop!!" Yoga berteriak. "Stop!! gue bilang stop!!"
Huh-huh-huh Dada para lelaki itu naik turun seiring helaan nafas yang berantakan. Netra mereka masih saling menikam satu sama lain.
"Ada apa ini kang Eman? kenapa akang bikin keributan dirumah orang? apa akang gak tau caranya bertamu dengan baik?" Mode nyerocos Yoga kembali On setelah berhasil melerai perkelahian itu.
"Temen kamu tah yang duluan mencari masalah!" kang Eman menuduh Eza dengan tatapan menghardik.
"Situ yang dateng kerumah saya, ngapain saya yang nyari ribut!" Eza tidak terima dan hampir saja kembali melayangkan tinjuan jika tidak ditahan oleh Yoga.
"Mending kita bicara dengan kepala dingin, daripada masalah ini makin rumit. Baku hantam gak bakalan menyelesaikan masalah." Sebagai seorang yang memang mengerti hukum, Yoga berujar dengan tenang dan santai. Dan ajaibnya orang-orang yang masih dikuasai amarah itu langsung menurut.
__ADS_1
Setelah beberapa saat~
"Pokoknya si Alita harus ikut pulang sama saya! Kalian bukan siapa-siapa dan saya yang lebih berhak atas Alita!" Kang Eman mulai mode ngotot setelah inti masalah itu kembali dibicarakan.
"Saya suaminya dan Alita sedang mengandung anak saya. Jadi saya yang lebih berhak! Anda bukan siapa-siapa, Alita cuma gadis polos yang kalian jadikan alat pencari uang! Sampai kapanpun saya gak akan pernah lepasin Alita! Dia milik saya." Eza juga ikutan ngotot mempertahankan apa yang memang harus jadi miliknya. Walaupun hanya menikahi Alita secara kontrak, namun pernikahan itu sah secara agama. Dan itu sudah cukup jelas membuktikan bahwa Alita adalah istri Eza. "Mending sekarang kalian pulang sebelum saya bawa kasus ini ke meja hijau!"
"Silahkan.. ayo kalo mau urusan sama polisi, saya masuk penjara, akang juga pasti masuk." Kang Eman malah balik menantang.
"Saya gak takut. Saya gak bersalah karena saya berniat menikahi Alita. Alita bisa menjadi saksi bahwa selama kawin kontrak ini berlangsung saya menjalankan peran sebagai suami sungguhan. Tidak ada paksaan atau menyakiti. Alita juga akan menjawab mau jika saya nikahi." ungkap Eza dengan rasa penuh percaya diri.
"Di perjanjian kan udah jelas kalau ada peraturan yang di langgar maka kontraknya berakhir. Dan yang paling dilarang adalah kehamilan. Alita tidak boleh hamil, Kang. Ini sudah peraturannya.” Kang Eman belum mau kalah.
"Sekarang juga saya akan ke rumah sakit untuk visum. Saya akan laporin kelakuan kalian yang sudah menghajar saya." Eza kembali mengancam.
__ADS_1
"Hor pan saya juga dihajar. Hayu sok nanti saya juga bisa visum." Dih, kang Eman masih juga ngeyel.
"Anda yang menyerang saya, bahkan dirumah saya sendiri!"
"Mending gini aja kang, Alita kan udah gak punya orang tua, dia berhak menentukan jalan hidupnya, kalo dia mau dinikahi secara resmi, kenapa akang harus menghalangi? Mending akang nyerah dari pada kami bener-bener bikin akang membusuk dipenjara!" Yoga juga ikut-ikutan mengancam dan hal itu sukses membuat kang Eman gelagapan.
Kalah. Kang Eman sudah kalah telak. Dia tidak mampu lagi untuk mengatakan satu patah kata. Urusan dengan hukum membuat nyali-nya begitu menciut. Hingga akhirnya kang Eman and the geng memutuskan untuk pulang meskipun dengan perasaan dendam. "Saya gak akan tinggal diam!" ucapnya dalam hati. Kemudian memberi kode kepada salan satu anak buahnya untuk mencari keberadaan Alita yang tadi berlari saat tangannya lepas dari cengkraman Kang Eman.
......................
Buat yang ngatain Alita bego, ketinggalan zaman dan sebagainya tolong ya ini cuma cerita.
Tinggal cara pandang kalian aja yang di luruskan, pilih menikmati cerita atau dongkol karena tokoh kelewat bego.
__ADS_1
Thxyou.