
Beberapa hari kemudian~
Alita sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Sesuai ucapan Eza, hari ini Eza akan mengajak Alita untuk menemui Rosa dan Hendra, Orang tua Eza. Rencananya Eza akan menceritakan semua tentang dirinya dan Alita, sekaligus meluruskan kesalah pahaman soal kemarin.
"Kok belum siap-siap?" Eza mengusak rambut basahnya dengan handuk kecil sambil melihat ke arah Alita yang duduk diujung ranjang. Gadis itu nampak meremat ujung gaunya. Belum bersiap bahkan handuk putih masih melilit rambut Alita.
"Eh hm.." Alita terkesiap ketika Eza menghampirinya. Buknannya Eza barusaja masuk kedalam kamar mandi ataaau Alita yang melamun terlalu lama. "Aa' udah selesai?" Alita malah balik bertanya.
"Kenapa ngelamun terus hm?" Eza sudah duduk disamping Alita, kemudian mengecup kilas gadis itu dengan gemas.
"Eh.. Nggak A', Alit nggak ngelamun kok." Gugup Alita menjawab. Sudah jelas dia ketahuan melamun, masih saja mengelak. Entahlah, rasanya pikiran Alita kembali bercabang. Begitu banyak rasa takut yang bersarang dalam diri Alita.
"Yaudah siap-siap yuk, mama sama papa pasti udah nungguin." Eza beranjak kemudian mengambil pakaian yang sudah Alita siapkan dan menggunakannya.
"Nungguin?" Alita menatap punggung Eza yang hendak dibungkus baju.
"Iya.. Aa' udah bilang kalo kita mau kesana."
"Kita?"
"He em.. Sisirin rambut Aa' dong." pinta Eza sambil duduk dikursi meja rias.
"Tapi Alit takut A', Alit takut mama Aa' gak mau nerima Alit. Lagipula Alit kan bilangnya keponakan bik Mumun." Dengan gontai Alita menghampiri Eza sambil mengambil sisir untuk merapihkan rambut Eza. Alita mulai menyisir rambut itu seperti kebiasaanya.
"Mama Aa' pasti nerima kamu kok, kamu gak usah takut dan mikir aneh-aneh yaa.." Eza meraih sebelah tangan Alita kemudian menatap gadis itu melalui pantulan cermin sambil tersenyum. "Yang buat kamu ngaku ponakan bik mumun kan Aa', jadi nanti Aa' yang bakal jelasin."
"Alit takut kalo nanti Alit diusir sama mama Aa' sambil dilemparin tas besar isi baju Alit, terus Alit nangis sambil kehujanan dijalanan, tidur diemperan. Alit, Aaaaaa Alit gak mau kaya gitu." Alita merengut penuh kecemasan.
"Hahaha.." Eza malah tergelak mendengar penuturan Alita. Penuturan yang mirip adegan sinetron hidayah pikirnya. "Mikir apasih sayang aku tuh? hm~" Eza berbalik badan dan mendongkak menatap Alita. "Mana ada kaya gitu? yang ada nanti kamu disayang-sayang sama Mama. Aa' jamin Mama Aa' pasti sayang sama kamu." Eza tersenyum, meyakinkan Alita karena memang Mama Rosa menyukai gadis itu sejak awal kan.
"Beneran A'?" Alita masih belum percaya dan Eza mengangguk mengiyakan.
"Yaudah kamu siap-siap dulu yaa, Aa' mau nelpon orang kantor dulu."
Kemudian Eza keluar dari kamar, menyisakan Alita yang masih termenung sendirian. Benarkah yang Eza katakan itu? Benarkah Ny.Rosa akan menerima dirinya bahkan menyayangi Alita? Entahlah. Mungkin iya jika dirinya belum kehilangan calon anak mereka, tapi sekarang? apa yang akan membuat Nyonya itu menerima dirinya?
__ADS_1
Sebelum melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, rasanya Alita belum tenang.
Alita kemudian mengganti pakaian dengan gaun yang lebih panjang. Yang lebih menutup tubuhny. Alita ingat ucapan alm.ibu yang mengatakan 'Kalo bertamu kerumah orang
harus berpakaian yang rapi dan sopan, apalagi kalo kerumah calon mertua.' Untuk
itu Alita akan mempraktekan ucapan alm.ibu itu.
Sudah dimobil~
Alita masih gemetar, takut-takut adegan disinetron yang sering ia tonton dikampung akan menjadi kenyataan. Untuk kesekian kali Alita harus mempertaruhkan nasib yang entah akan seperti apa nantinya. Ujian menuju bahagia ternyata tidak semudah itu.
Tangan Alita rasanya sudah berkeringat dingin dan bergetar, pikiran Alita sudah berlarian kesana kemari.
"Gak usah tegang dong, mau ketemu mertua tuh harus senyum manis." Senyum Eza selalu meyakinkan Alita bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Alit deg-degan A'." Jantung Alita rasanya berpacu lebih cepat. Meskipun ia tersenyum namun tetap saja hatinya masih gundah.
"Just a flow Sayang~" Eza menggenggam tangan Alita saat mereka sudah tiba dihalaman rumah orangtua
Eza.
"Hehe.. Ngalir aja. Yuk kita turun." Eza melepas pegangan tangan itu kemudian melepas sabuk pengaman juga.
"Huh~" Alita membuang nafas tertahan. "Alit takut A'."
"Ada Aa', ngapain harus takut? mama Aa' gak bakal gigit kamu kok." Eza mencairkan suasana dengan menyelipkan sedikit candaan.
"Da iya yang suka gigit Alit mah Aa' tah!"
"Hehe.. Yuk."
Dengan perasaan campur aduk kemudian Alita mau dibawa masuk kedalam rumah. Alita tidak berhenti merapalkan
doa dalam hati, semoga mama Eza mau menerima dirinya dan lidah Alita diberi kelancaran ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan didalam sana.
__ADS_1
Memang begitu bukan? bertemu calon mertua pasti akan selalu ada sesi QnA, hehe.
Detik pertama Alita dan Eza mendapat sambutan hangat dari mama Rosa, meskipun ada raut heran namun wanita paruh baya yang masih awet muda itu terlihat berbinar menyambut kedatangan mereka berdua.
Diruang tamu~
Sudah selesai berbasa-basi~
"Eza sebenernya mau bicarain sesuatu yang penting,-" Eza mulai membuka suara yang menjurus ke inti niatnya datang ke rumah itu. Membuat Alita kembali berpacu kecepatan detak jantungnya. Membuat Mama Rosa masih mengernyit tidak mengerti. "Eza mau nikahin Alita."
Deg!! Suasana hening seketika. Tidak ada yang menyahut dan malah saling menatap satu sama lain.
Apa Kami tidak salah dengar? Apa Eza tidak salah ucap?
"Alita sebenernya bukan ponakan bik mumun. Alita itu istri Eza, Eza sudah menikahi Alita secara kontrak." Eza menjelaskan lagi ketika kedua orang tuanya malah diam seolah tidak mendengar kalimat pertamanya.
"Kontrak? Maksudna kamu kawin kontrak anu rame didaerah puncak?." Rosa semakin mengernyit heran.
"Iyaaa." jawab Eza lugas.
Astaga!! Apalagi ini? setelah menemukan fakta tentang Alita yang keguguran, kini mereka harus kembali menerima fakta baru yang sulit diterima oleh akal sehat. Ada apa dengan putra semata wayang mereka? apa Eza benar-benar frustasi karena perceraiannya dengan Nikita?
"Kamu teh nanaonan atuh, Za. Kawin kontrak teh haram! Kamu kos nu teu ngarti kana agama wae." Mama Rosa memeluk tangannya sendiri, memberikan ekspresi marah dan kecewa atas kelakuan putranya.
"Iya, Mah. Eza tahu. Tapi Mama inget kan waktu Niky terang-terangan bilang bahwa Eza mandul saat kami akan bercerai?" Eza menjeda kalimatnya dan membiarkan kedua orangtua itu untuk flashback sesaat.
Kemudian setelah mereka mencerna kalimat Eza, Eza kembali melanjutkan kalimatnya dan menceritakan segalanya. "Saat itu Eza bertekad mencari wanita yang rela jadi kelinci percobaan untuk Eza hamili, untuk membuktikan bahwa Eza perkasa. Makanya Eza menikahi Alita diam-diam, secara kontrak.. Dan buktinya Eza gak mandul mah, Eza normal dan kemaren Alita sempet hamil."
"Bener kata si Niky, kamuteh jadi gelo gara-gara ditinggalin dia! Dimana ada wanita yang rela jadi kelinci percobaan EZAAAAAAAA!!!!"
Alita memejamkan mata dan memepersiapkan diri untuk melihat bagaimana reaksi kedua orang tua Eza.
Diterima atau ditolak, itu adalah sebuah konsekuensi yang harus Alita hadapi.~
__ADS_1
Bersambung~