Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Kawin Kontrak


__ADS_3

"Saya menikahi kamu dalam waktu satu tahun."


"Saya terima."


Akad nikah kilat yang tidak sakral sama sekali itu sudah berlangsung, di dalam Villa yang yang kebetulan Eza miliki disekitaran desa itu. Dan setelah ijab itu selesai, Bahkan tidak ada embel-embel cium tangan, cium kening apalagi buku nikah. Namun meskipun begitu, pernikahan mereka Sah dimata agama. Meskipun kawin kontrak itu salah, tapi Eza meminta pernikahan itu mengikuti rukun perkawinan yang sesungguhnya. Eza tidak mau hubungan mereka menjadi sebuah zina.


Kemudian, Eza tampak langsung menyelesaikan administrasi bersama Kang Eman. Mereka semua menyunggingkan senyuman, menunjukan bahwa mereka benar-benar bahagia dengan penderitaan yang harus Alita jalani.


Hingga akhirnya di Villa itu hanya ada Eza, Yoga dan juga Alita, wanita yang dipilih Eza dan sudah sah menjadi istrinya meskipun hanya untuk sementara.


"Gue keluar dulu yaa, mau nyari yang anget-anget hehe.. ogah amat gue jadi kamcong!!" ujar Yoga sambil menggunakan jaket dan bersiap untuk bertarung dengan udara dinginnya malam di desa itu..


"Mau kemana lo?" tanya Eza sambil menatap sekertaris sekaligus sahabatnya.


"Cari yang sedep-sedep!" sahut Yoga sambil berlalu pergi.


Lalu setelah kepergian Yoga, kini divilla itu hanya ada Eza dan juga Alita. Mereka tampak sama-sama canggung dan belum saling bertanya. Masih sama-sama malu untuk memulai pembicaraan. Harus dimulai darimnana percakapan itu?


"Eh, tadi,,, Siapa nama kamu?" Akhirnya Eza mulai buka suara setelah keheningan itu berlalu dan cukup memakan waktu.


"A-alita A', nama Aa siapa?" Yaampun bahkan suami istri yang sudah sah itu baru saling bertanya nama.


"Eza."


"Aa' sudah makan? mau Alit masakin?" tanya Alita. Kini wanita itu berani menatap ke arah Eza, ke arah lelaki yang sudah menjadi suaminya. Lelaki yang tampan dengan perawakan gagah, mirip artis sinetron gumamnya. Memberanikan diri meskipun masih gugup setengah mati, mencoba memulai mendedikasikan diri sebagai istri dari orang yang beberapa menit lalu mengucapkan ijab kabul itu.


"Gak usah, Lit. nanti biar Yoga yang beli."


"Tapi Alit laper A', hehe." Alita tersenyum canggung sambil menatap Eza lagi. harus membiasakan diri agar tidak terlalu takut, karena ternyata tamu dari Jakarta itu tidak begitu menakutkan seperti bayangannya.


"Disini kan gak ada bahan makanan, Lit. Yoga juga baru berangkat." ujar Eza.


"Yaudah kita ke warung aja atuh yu, beli mie instan aja." ajak Alita.


"Warung? dimana?" Eza mengernyitkan dahi.


"Gak jauh dari sini kok, A."


"Yaudah.."


"Tapi Alit boleh cuci muka dulu A'?" Pinta gadis itu lagi, dengan polosnya. Dan Eza hanya mengangguk kecil mengiyakan.


Detik selanjutnya mereka keluar dari Villa dan menuju warung yang Alita maskud, Mereka berdua berjalan kaki dibalik hawa dingin dan penerengan yang kurang mumpuni.


"Katanya deket Lit?" tanya Eza yang merasa perjalanan mereka tidak sampai-sampai.


"Itu disana A.." jawab Alita sambil menunjuk sebuah warung diujung jalan.

__ADS_1


"Kenapa bilang deket sih! tau gitu kan kita bisa di mobil." Eza sedikit berdecak kesal. Namun masih melangkahkan kakinya untuk menuju tempat yang Alita maksud.


"Maaf A, Alit biasa jalan kaki kalo kemana-mana."


"Yaampun!!"


Mereka sudah kembali ke Villa dengan sekantung plastik berisi mie instan, telur dan kawan-kawan. Eza tampak terlihat lelah karena perjalanan panjang menuju warung dan kembali ke Villa.


"Kamu gila kalo bilang udah biasa jalan kaki sejauh ini!" Pushh... Eza membuang nafas lelah sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Maaf A'.. Aa' pasti capek ya? sini atuh biar Alit pijitin.." Alita menawarkan diri sambil menaruh plastik itu dimeja dan segera menghampiri Eza yang duduk di sofa.


"Aku gerah, pengen mandi aja." ujar Eza sambil membuka kancing kemeja bagian atas. "Kamu masak aja sana, katanya laper." tambahnya sambil mulai beranjak dari sofa.


"Maaf yah A'." ujar Alita yang masih merasa bersalah karena mengajak Eza berjalan kaki dan membuat lelaki itu kelelahan.


"Udah gak pa-pa."


Eza beranjak dari sana dan bergegas untuk mandi, meninggalkan Alita sendirian dilantai bawah. Gadis itu tampak mengedarkan pandangannya ditempat mewah yang pertama kali ia masuki.


"Dapurnya meuni keren pisan euy!" ujar Alita sambil menatap dapur dengan kitchen set mewah dan perabotan yang tidak kalah waw.


"Gusti meuni lapar kieu, tapi kumaha ngasakanana iyeu?" tanya Alita pada dirinya sendiri. Gadis itu tidak tahu bagaimana cara menggunakan kompor gas, apalagi kompor elektrik yang tersedia di Villa itu. Dan karena kebingungan, Alita hanya duduk diam dimeja makan.


Eza baru selesai mandi dan langsung kembali ke lantai bawah dimana Alita berada. Dilihatnya gadis itu hanya sedang duduk diam dengan bungkusan mie yang belum dimasak.


"Eh,,, Aa' udah selesai mandinya?" Alita malah balik bertanya. "Anu A', cara pakek kompornya gimana ya, hehe.." Alita tersenyum canggung.


"Yalord!"


Eza kemudian berjalan menuju dapur dan mengajak Alita untuk memberitahu gadis itu bagaimana cara menggunakan benda elektrik itu.


"Pencet yang ini buat nyalain, yang ini buat atur suhu, yang ini buat apinya. Awas jangan dipegang." ujar Eza mempraktekan bagaimana cara benda itu berfungsi. Merapatkan dirinya kepunggung Alita, dan tanpa sadar hal itu membuat Alita seperti diserang aliran listrik jutaan volt.


"Canggih banget yah A'." Alita tampak sedikit gugup namun kegirangan juga melihat benda modern itu. Biasanya kalo memasak, ia harus menggunakan kayu bakar sebagai media api.


"Emang biasanya kalo kamu masak gimana?" tanya Eza.


"Hmm,, Alit harus kumpulin kayu bakar dulu. Kalo mau nyalain hawu nya Alit harus bakar kertas yang dikasih minyak sedikit. Tidak seperti disini yang langsung tinggal pencet." Alita mulai bercerita. Sambil menggeser tubuhnya agar tidak terlalu menempel dengan Eza.


"Hawu?"


"Semacam tungku gitu A', dari adukan semen."


Entahlah..


Lalu detik selanjutnya Alita mulai mengambil panci yang tersedia dilemari penyimpanan, Alita akhirnya tahu bagaimana cara menggunakan alat yang katanya bernama kompor gas elektrik itu.

__ADS_1


Kompor gas aja Alit belum pernah tau, nah yang ini malah lebih modern lagi.. Batin Alita.


Alita adalah gadis yang senang dan pandai memasak, untuk itu hanya sekedar membuat mie instan sangatlah mudah baginya. Dan kini dua mangkuk itu sudah terisi oleh mie, sayur dan juga telur sebagai pelengkap.


"Ini A' mie nya..' ujar Alita sambil menghidangkan mie itu diatas meja makan, lengkap dengan sebotol saus dan juga air minum disampingnya.


Eza hanya menyaksikan tanpa berucap apapun, namun entah kenapa semangkuk mie itu terlihat sangat menggugah selera.


"Ayok atuh A' dimakan mie nya.." ujar Alita yang melihat Eza hanya diam saja.


"Iya."


Eza mulai menyantap mie instan buatan Alita itu, dan entah mengapa lidahnya sangat dimanjakan ketika suapan demi suapan itu masuk kedalam mulutnya.


Hanya Mie instan lho ini! Batin Eza.


Selesai dengan mie instan itu Alita langsung bergegas membereskan mangkuk-mangkuk itu, segera mencucinya kemudian membereskan meja juga. Gadis itu tampak cekatan sekali.


"Aku mandi dulu yah A'." izin gadis itu. Ia sadar bahwa dirinya sudah terikat kawin kontrak dan harus segera melaksanakan tugasnya.


"Owh.. iya.. Mandi dikamar mandi atas aja." ujar Eza.


Lalu mereka berdua mulai berjalan menapaki anak tangga untuk bersama-sama menuju kamar yang akan menjadi saksi bisu kegiatan mereka malam ini.


"Handuknya ada didalam.." ujar Eza sambil menunjuk sebuah pintu yang memang pintu kamar mandi didalam kamar itu.


"Iya A'."


"Kamu tau kan cara pakai kamar mandinya?" Tanya Eza. Takut-takut gadis itu malah melamun seperti saat menghadapi kompor dibawah.


Dan hehe.. Gadis itu memberi kode agar diberi bantuan.


Alita sudah berada didalam kamar mandi, sudah paham bagaimana ia akan ,membersihkan tubuhnya di dalam sana. Namun gadis itu memilih untuk diam sejenak, memastikan bahwa itu semua hanyalah mimpi buruk.


"Aw.." Alita malah berteriak, namun sedikit tertahan takut-takut Eza mendengar. Setelah mencubit tangannya sendiri dan merasakan sakit, Alita menelan ludah bahwa semua itu alah kenyataan.


Alita menatap cermin, memejamkan mata kemudian menarik nafas cukup dalam. Gadis itu tampak tegar namun sebenarnya takut juga. Alita memejamkan mata lagi. Aaaaaahhh... pikiran Alita jadi bercabang ke sana kemari.


Selesai mandi Alita segera membungkus tubuhnya dengan handuk berwarna putih, tidak lupa juga melilitkan handuk dirambutnya yang basah. Alita ragu melangkahkan kakinya untuk ke luar dari dalam kamar mandi. Wanita itu lagi-lagi memejamkan mata. Digigit bibir bawahnya pelan saat melihat tubuhnya hanya terbungkus handuk saja.


 


 


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2