Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Nyonya Mertua


__ADS_3

Eza sedang mengurusi proyek baru diluar kota. Dan sudah beberpa hari Eza hidup sendirian. Yaa, sendirian. Eza tidak jadi mengajak Alita karena dirinya merasa sangat galau dan benar-benar sedang ingin sendiri, merenung tanpa siapapun.


"Yatuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang." Eza memijit pangkal hidung karena bingung, ia merasa dirinya kini terjebak kawin kontrak.


Apalagi yang harus Eza pertahankan dari kawin kontrak itu? toh tujuan Eza membuktikan bahwa ia perkasa tidak akan pernah tercapai. Sidang perceraian dengan Nikita juga sudah berlangsung, sebentar lagi status mereka akan bercerai resmi. Tidak mungkin juga Eza mau kembali bersama Niky setelah mengetahui ke-busukkan wanita itu.


Sudahlah Za... lupakan Nikita. Sudah jelas-jelas dia menyakiti dan meninggalkanmu. Ayo, move on! Hidupmu masih panjang.


"A L I T A.." Eza menyebut nama itu sambil memejamkan mata. Dan tiba-tiba segala tentang Alita berputar dalam memorinya. Bagaimana Alita yang polos itu selalu menggemaskan dan membuat harinya berwarna, bagaimana lezatnya makanan yang selalu mengenyangkan perutnya, bagaimana lihainya wanita itu melayani segala kebutuhan, termasuk melayani Eza di atas ranjang. Senyuman Alita yang khas, tubuh mungil itu.


Ah.. Eza mendesah kecil. Sepertinya ia mulai merindukan Alita.


"Dia lagi apa ya?" Eza mengambil ponsel berniat untuk menelpon wanita yang hadir dalam ingatannya itu, namun sejurus kemudian Eza mengingat bahwa wanita itu tidak punya handphone. "Bodoh!" Eza mengutuk dirinya sendiri namun sambil menarik ujung bibir.


 


~


 


Alita sedang memasak banyak sekali makanan. Senyum gadis itu kembali mengembang saat bik mumun mengatakan bahwa hari ini Eza akan pulang.


Setelah berhari-hari tinggal sendirian dirumah besar itu, akhirnya Eza pulang juga. Gumam Alita.


Alita dan dapur adalah perpaduan yang sangat sempurna. Lihatlah bagaimana gadis itu begitu lihai bergelung dengan bumbu-bumbu dapur. Alita akan menyambut Eza dengan masakan-masakan buatan dirinya yang selalu lahap dimakan Eza.


"Biar bibi yang nunggu aja, non. Enon mending mandi dulu, bentar lagi Tuan pasti sampe." Bik mumun mengulas senyuman kepada majikan muda yang sudah berkeringat karena sejak tadi berkutik didapur.


"Yaudah tolong yah bik, Alit emang udah gerah hehe." Alita kemudian meninggalkan dapur itu, membiarkan bik mumun yang menunggu makanan itu hingga matang. Badannya sudah minta disegarkan.


Selesai mandi Alita membalut tubuhnya dengan terusan selutut berwarna satin, membuat tubuh mungil itu tampak anggun sekali. Alita kemudian menguraikan rambut dan menyisirnya hingga rapi.


"Si Aa' udah nyampe mana ya sekarang?" Alita terus saja tersenyum karena menantikan Eza pulang.


Kemudian Alita kembali turun ke bawah. Menyusun beberaoa menu masakan yang dia masak tadi di bantu bik mumun yang beberapa hari ini menginap semenjak Eza pergi keluar kota.


Ting..Tong.. suara bell dipencet. Menandakan ada orang datang ke rumah itu.

__ADS_1


"Nah, itu pasti si Aa'." Senyum Alita semakin mengembang begitupun bik mumun yang ikutan tersenyum melihat Alita ceria seperti itu.


Sejurus kemudian Alita langsung berjalan menuju pintu utama. Alita sudah siap menyambut kepulangan Eza. Namun saat pintu utama dibuka, yang Alita dapati bukanlah Eza. Melainkan wanita oaruh baya yang sangat asing bagi Alita.


Dua orang asing yang saling tidak kenal itu hanya saling menatap satu sama lain. "Bu.." Alita menyapa sambil meraih tangan kanan wanita paruh baya itu untuk dikecupnya.


"Kamu siapa?" tanya Rosa, ibunda Eza.


"Saya is,,"


"Dia ponakan saya, Nyah!" bik mumun tiba-tiba menyahut. Menyela kalimat Alita yang akan mengatakan bahwa ia adalah istri Eza. "Silahkan masuk Nyah!" bik mumun mempersilahkan Rosa masuk.


"Owh ponakan.. Sejak kapan ikut kerja disini?" Rosa bertanya sambil menatap Alita dengan ramah.


"Belum lama, Nyah.. ayo Nyah, silahkan masuk. Saya buatin minum dulu ya.." ujar bik mumun sumringah. "Non, ikut bibik." bisiknya kepada Alita.


Rosa sudah duduk di ruang tamu sementara Alita dibawa bik mumun menuju dapur. Alita tidak mengerti mengapa tadi bik mumun mengatakan bahwa dia adalah ponakannya.


"Maaf non tadi bibik bilang enon ponakan bibik. Itu, wanita yang tadi namanya Nyonya Rosa. Dia ibunya Tuan Eza." bik mumun mulai menjelaskan. Ia terpaksa berkata seperti itu karena memang Eza meminta status tentang Alita dirahasiakan dari siapapun. Termasuk orang tua Eza.


"Pokoknya nanti enon bilang ponakan bibik ya kalo ditanya sama Nyonya, Ini perintah Tuan Eza."


Alita hanya mengangguk pelan meskipun tidak mengerti. Kenapa harus mengaku ponakan bik mumun? apa mertuanya itu tidak memperbolehkan Eza punya istri? mana mungkin. Eza kan punya istri lain selain dirinya. Ataau Eza memang ingin menyembunyikan kelakuannya yang sudah poligami? Alita bertanya-tanya sendiri.


"Bibik anterin minum buat nyonya dulu yaa.." pamit bik mumun sambil membawa nampan berisi gelas minuman.


"Alit mau ikut." Alita mengikuti langkah bik mumun menuju ruang tamu. Ia ingin menatap mertuanya lebih intens, pikirnya.


"Tumben kamu lembur mun?" tanya Rosa sambil menatap bik mumun yang biasanya memang bekerja paruh waktu.


"Kalo tuan keluar kota aja Nyah." jawab bik mumun.


"Ponakanmu cantik mun." ujar Rosa sambil tersenyum.


"Terimakasih nyonya." Alita menyahut.


"Sabaraha umurna?" tanya Rosa lagi.

__ADS_1


Eh.. Nyonya mertua bisa sunda?


"Delapan belas, Nyah!" sahut Alita ketika melihat gelagat bingung dari bik Mumun. Mereka kan sedang bersandiwara, jadi harus kompak. Dan mereka lanjut berbincang-bincang. Berabsa-basi hingga akhirnya bell rumah itu kembali berbunyi. Menandakan ada orang dibalik pintu. Dan sudah dipastikan itu adalah Eza.


"Biar Alit aja yang buka." Alita tersenyum sumringah. Gadis itu merindukan suami kontraknya. Gadis itu lalu berdiri dan segera berjalan menuju pintu utama.


"Aa'." seru Alita saat mendapati Eza berdiri dihadapannya.


"Alita.." Dua insan itu saling tersenyum lebar dan tanpa sadar Eza refleks memeluk wanita itu.


"A'.. lepasin." Alita meronta saat lelaki itu memeluknya. "Didalam ada nyonya mertua."


"Nyonya?" Eza melepas pelukan itu lalu mengedarkan pandangan kedalam rumah.


Mama ada disini? Untung saja dia tidak melihat adegan berpelukan itu.


"Yaudah masuk yuk." ajak Eza dan keduanya kemudian berjalan ber-iringan.


"Apa kabar mah?" Eza menyapa Rosa yang sedang duduk di ruang tamu. "Sendirian?" tambahnya sambil cipika-cipiki.


"Mama baik.. Kalo Papa kamu mah masih sibuk makanya gak ikut." jawab Rosa sambil tersenyum kepada putra semata wayangnya. "Kumaha proyekna? Lancar?"


"Hamdallah lancar." Eza kemudian ikut duduk disalah satu sofa. "Daritadi mah?"


"Satu jam yang lalu mungkin."


"Aa' mau dibuatin teh atau kopi?" sahut Alita menyela pembicaraan ibu dan anak itu.


Eh.. Eza dan Rosa langsung menoleh ke arah Alita.


"Hm, kopi aja Lit." Eza menjawab sedikit canggung karena saat ini ada Rosa dihadapannya. Ia belum mau membuka rahasia tentang siapa Alita sebenarnya. Eza sudah meminta bik mumun untuk mengatakan bahwa Alita ponakannya dan semoga Rosa menganggapnya begitu.


"Ponakan bik mumun meuni cantik kitu nyaa.." puji Rosa kepada gadis polos yang memang cantik natural tanpa polesan make up sedikitpun. "Rajin juga."


Eza hanya mengulum senyuman. Yang Rosa katakan memang benar, Alita memang cantik. Rosa sepertinya menyukai Alita. Namun mau bagaimanapun saat ini Eza akan tetap menyembunyikan identitas Alita.


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2