
"Kamu gak suka kopi ya?" Rya kembali melirik Alita yang kelihatan kaku.
"Suka Teh, tapi jarang juga minum kopi. Suka gak bisa bobo." Alita tersenyum canggung.
"Inikan masih siang Lit. Ohiya lanjut obrolan yang tadi dirumah dong." Mode kepo Rya kembali kambuh.
Sejurus kemudian mereka berbincang kembali, membicarakan banyak hal tanpa arah yang jelas. Dan saat
mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba ada seorang wanita yang menghampiri meja Rya dan Alita.
"Boleh gabung?"
Eh..
Rya dan Alita sama-sama menoleh. "N I K I T A...."
"Eh Niky, apa kabar?" Rya menyapa wanita yang memang dikenalnya itu. Meskipun tidak akrab tapi kan mereka pernah bertemu beberapa kali.
__ADS_1
"Teh Nikita." Alita juga ikutan menyapa. Dua wanita yang tadi sedang asyik berbincang, kini menatap satu netra yang sama.
Akhirnya! Setelah mencari kemana-mana akhirnya ketemu juga! Batin Nikita.
"Heh Anak kecil. Lo gak usah terlalu pede ya mau milikin suami gue. Dia itu cuma milik gue!" Jih, ternyata wanita yang disapa itu tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
"Gak usah lo gue lo gue atuh Teh, Alit mah jadi takut." Nyali Alita tiba-tiba menciut ketika wanita dengan penampilan modis itu menghardiknya. Apalagi gaya dan nada bicara Nikita khas orang Jakarta begitu.
"Gak usah so polos deh lo!" Mulut congkak Nikita membentak Alita lagi.
"Mba kalo mau bikin keributan jangan disini dong! Mba udah ganggu pengunjung disini!" Rya bangun dari kursinya, mensejajari bagaiman Nikita berdiri dengan angkuhnya.
Pelakor?
Sebuah kosa kata baru lagi dikamus hidup Alita. "Pelakor teh apa? Alit gak ngerti." Gadis itu berujar dengan polosnya dan menatap Rya seolah meminta jawaban.
Haduuuh!! Ni anak lagi dilabrak malah nanyain pelakor tuh apa. Rya ingin menepuk jidatnya sendiri.
__ADS_1
"Perebut laki orang! Heh gue saranin mending lo balik ke kampung aja deh.. Jangan pernah mimpi jadi cinderella dinegri dongeng, Eza tuh cuma cinta sama gue! Dan elo cuma dijadiin kelinci percobaan buat uji kemandulan doang!!"
"Siapa yang ngerebut atuh Teh? Alit mah gak pernah ngerebut punya orang. Kalo A' Eza cinta sama Teh Nikita mah atuh sok aja bilang, Alit gak mau kukuh kalo emang A' Eza maunya sama Teteh." Untungnya Alita sudah berubah dari Alita yang sebelumnya. Jika sebelumnya ia selalu patuh tanpa berani melawan, tapi kali ini gadis itu mendebat ketika mendengar kalimat Nikita yang langsung menusuk hatinya. Dengan sedikit dorongan hormon yang berubah, gadis itu jadi lebih berani berucap. "Alit gak minta si Aa' nikahin Alit, itu semua kemauan si Aa' sendiri."
"Gara-gara ada elo hubungan gue sama Eza jadi hancur tau gak! Sadar diri dong lo. Elo tuh cuma cewek kampung!" Dengan tidak tahu malu Nikita semakin memaki Alita, bahkan mungkin dikafe itu ada beberapa kamera ponsel yang sedang merekam.
"Emang kenapa kalo Alit dari kampung? yang penting Alit gak teriak-teriak kaya tarzan seperti Teteh."
Upss..Haha.. Percayalah. Rya menahan tawa ketika mendengar penuturan gadis itu. Rya kira adegan itu akan menyeramkan, tapi ternyata ada komedinya juga.
"Apa maksudnya ngatain gue tarzan?" Tangan dengan kuku hasil medipedi itu kini mendarat dikepala Alita, menarik tambut hitam yang memang selalu dibiarkan menjuntai.
Awwwh.. Alita meringis seiring tarikan yang ia rasakan dikepalanya. "Gue peringatin sekali lagi kalo elo...
"Lepasin!! Kalo lo gak mau berhenti gue bakal panggil polisi. Kafe ini full cctv dan gue bakal jadi saksi lo nyerang Alita!" Rya menarik lengan Nikita dan mencoba menyingkirkan wanita itu dari Alita
"Jangan ikut campur!! Ini urusan gue."
__ADS_1
Hyaaaaa!!!
Bersambung~