Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Ngeselin


__ADS_3

Siang Hari...


Dikamar utama~


"Lit, Aa' mau ada urusan siang ini. Gapapa Aa' tinggal sendiri disini?" Eza baru selesai mandi dan sedang menggunakan pakaian yang sudah Alita siapkan.


"Mau kemana A'?" Alita bertanya sambil menghampiri meja rias, mengambil sisir untuk merapihkan rambut lelaki itu.


"Aa' mau urusin dokumen buat pernikahan kita. Owh iya, kamu punya KTP kan?" Eza duduk dikursi meja rias, menunggu Alita menyentuh dan merapihkan rambutnya.


"Alit gak punya A', kata ibu sama kang Eman bikin KTP mahal terus ribet juga. Jadi Alit gak dibikinin.Katanya harus nunggu pemutihan biar gratis." Alita mulai menarik sisir yang sudah diletakan disela-sela rambut Eza. Mulai merapihkan rambut itu sesuai kebiasaanya.


"Ampun deh sama keluarga kamu. Gak ngerti mereka tuh orang-orang kaya apa." Aneh. Selama ini penuturan Alita selalu mencerminkan bahwa mereka tidak pernah bisa memanusiakan Alita. Dan bodohnya gadis itu selalu mengangguk patuh.


"Gimana lagi atuh A', Alit juga gak ngerti yang gitu-gituan." Alita masih sibuk menyisir rambut Eza sambil menatapnya lekat.


"Gitu-gituan apa? maoo?" Eza malah menyeringai mesum.


"Ish.. Maksutnya bikin KTP A', kan harus punya kartu keluarga, terus keterangan ini itu nya, bener kata kang Eman sama ibu, ribet."


Hah.. Ampun dije!


"Tenang aja, nanti pengacara Aa' yang ngurusin semuanya. Kamu tinggal duduk manis dan siap-siap jadi nyonya Wiraguna." Eza memutar kursi rias itu, membuat wajahnya kini menghadap Alita. Atau lebih tepatnya perut Alita. Dikecupnya perut itu sambil melingkarkan tangan dipinggang Alita. "Semoga setelah kita resmi menikah, rahim kamu bisa cepet isi lagi yaa." Eza mecium perut itu berulang.


Sementara Alita hanya mengulum senyuman dan refleks mengusap rambut Eza. Mereka sudah seperti suami istri sungguhan bukan, tidak ada istilah kontrak atau apapun yang membatasi.

__ADS_1


"Nanti bayiknya manggil kita apa yaa? ayah ibu, ayah bunda, mama papa, mami papi atau mami dedi?" Eza kembali menatap Alita.Berbica seolah mereka sedang berada difase menunggu sijabang bayi lahir. Janinnya saja belum muncul, udah ngomongin panggilan \=D


"Serem atuh A' kalo bayiknya bisa langsung ngomong mah. Masa iya baru lahir udah bisa manggil ayah ibunya."


"Jangan suka gemesin gitu deh, minta dicium juga yaa? cie mama_nya cemburu tuh." ujar Eza seolah berbicara dengan sijabang bayi, tidak lupa mengulum sebuah senyuman juga. "Mwah mwah mwah.." Eza


berdiri dan mengecup wajah Alita berulang-ulang. Membuat wanita itu tersenyum seperti dirinya, meskipun sedikit terhenyak dengan adegan itu. Eza pasti sangat berharap jabang bayi itu masih bersemai di rahimnya. Tapi apa boleh buat, janin itu sudah gugur.


"Yaudah Aa' berangkat dulu ya? Aa' mau sekalian ke kantor bentar." Eza kembali memberi jarak dan membuat pandangan mata mereka bertemu.


"Ikuuuuuut.." Malah Alita yang kini memeluk Eza. Seperti memberi isyarat bahwa ia tidak mau ditinggalkan. Gadis itu kini memang sedikit berubah, berubah menjadi lebih manja, lebih sensitif dan kadang lebih menyebalkan. Mungkin karena perubahan hormon. Gadis itu bukan lagi remaja sekarang.. Tapi Eza selalu menyikapi segalanya dengan sabar, dengan kasih dan juga cinta.


"Aa' takut kamu bete nanti, soalnya pasti lama juga. Ataaaau kamu main ke rumah mama aja gimana?" Eza menolak Alita untuk ikut dan memberikan penawar yang lain. Urusan ini pasti sangat lama dan panjang, lagipula ini urusan serius. Bagaimana nanti kalau Alita mengacau dengan


pertanyaan-pertanyaan anehnya. Lebih baik Eza mencegah sebelum terjadi hehe.


"Uluuuuu tumben manja banget.." Eza meraih kepala Alita dan memainkan rambut Alita dengan usapan teratur.


"Kalo nggak Aa' bawa kamu ke tempat temen Aa' yang kemarin diundangan itu aja ya, mau gak? Sekalian main.. Biar kamu punya temen. Gimana?" Eza memberikan penawaran lagi. Baginya urusan ini lumayan penting, jadi Eza benar-benar harus pergi dan tentunya harus propesional juga. "Nanti kapan-kapan kamu Aa' ajak ke kantor kok. Kalo sekarang waktunya belom pas."


"Maksutnya temen Aa' siapa? A' Yoga? ih gak mauuuuu." Gadis itu masih mencebik gemas.


"Bukan, Yoga kan ada urusan juga sama Aa'.. Ituloh yang kemarin lagi hamil, Ryaa.."


"Teh Rya yang waktu dipesta itu yah A'?"

__ADS_1


"Iyaa.. Dia juga emang pengen kenalan sama kamu katanya. Biar lebih akrab.. Mau gak?"


Dan setelah pembicaraan panjang itu akhirnya Alita mau untuk pergi ke tempat Rya, meskipun tidak terlalu mengenalnya tapi wanita itu sudah cukup ramah dipertemuan pertama. Wanita itu baik dan ramah, juga sedang hamil, mungkin selain menambah teman Alita juga bisa belajar tentang kehamilan pikirnya. Agar saat Alita hamil lagi nanti, dia bisa memiliki basic yang lebih mumpuni tentang kehamilan.


Sudah dimobil~


Sudah siap berangkat~


"Udah siap?" tanya Eza saat mereka sama-sama masuk kedalam mobil.


"Udah A' hayu." jawab Alita sambil menoleh dan tersenyum.


"Kok gak bawa tas? Hape sama dompet kamu mana?" Eza menatap penampilan Alita dan menyalahi diri sindiri, kenapa baru sadar sekarang sih.


"Tas Alit dikamar A', hapenya dilemari."


Astagaaa Kuliiiiiit!!!! Dalam hati.


Eza sudah mengambil tas, ponsel dan juga dompet milik Alita yang tertinggal diapartemen. Bukan tertinggal, tapi barang-barang itu memangsengaja tidak dibawa. "Aa' kan udah bilang kalo kemana-mana harus bawa hape sama dompet. Terus hape kamu jangan disimpen terus dilemari, emang biar apasih?" Eza kesal saat mobil itu kini melaju meninggalkan apartemen. Syebal dengan kebiasaan Alita yang selalu seperti itu.


"Kan Aa' bilangnya hape itu cuma buat ngobrol sama Aa' kalo Aa' jauh, kita kan sehari-hari deket terus.. terus buat apa? Alit juga kalo bawa dompet kan percuma, setiap mau beli apa-apa juga pasti Aa' yang bayarin. Uang Alit mah utuh terus." Gadis itu terhenyak dan merasa sedikit bersalah. Apalagi airmuka Eza memang menunjukan sebuah rasa kesal. "Maaf yah A', Aa' pasti kesel sama Alit."


Iya juga yaa, kan gue yang bilang hape itu cuma buat kalo lagi jauh-_____- Kok jadi salah gue sih?


"Yaudah pokoknya mulai sekarang kalo kemana-mana hape sama dompet harus dibawa yaa. Maksutnya kalo lagi keluar rumah. Buat jaga-jaga aja Lit.. nanti kalo udah kebiasaan, kamu juga bakalan paham kok fungsi hape

__ADS_1


sama dompet itu. Yaaaa.. Bukan marah.. Aa' cuma ngasih tau aja." Eza menggenggam tangan Alita dengan sebelah tangannya.


#Sabar yah Aa'


__ADS_2