Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Maafin Aa'


__ADS_3

Eza yang sedang mempunyai segudang urusan tiba-tiba meninggalkan itu semua ketika mendengar Nikita menyerang Alita dikafe milik


Boy. Seperti biasa, Eza menyerahkan semuanya kepada Yoga sementara dirinya langsung melesat ke tempat dimana Alita berada.


Barrack Coffe..


"Kamu gak papa kan?" Eza menangkup wajah Alita dengan kedua tangan. Memastikan bahwa gadis yang ia cintai baik-baik saja.


Mendengar Alita diserang Niky benar-benar membuat jantung Eza hampir melompat


dari tempatnya.


"Alit gak papa kok A'." Pandangan gadis itu cukup sendu. Membuat Eza refleks merengkuh tubuh mungilnya kedalam pelukan.


"Maafin Aa'.." ucap Eza seraya memperdalam pelukan itu sambil memejamkan mata.


"Sorry ya, Za. Gue gak tahu kalo bakal ada kejadian kayak gini. Gue juga syok sumpah." Rya berujar sambil menyaksikan pasangan yang berperlukan itu. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Alita dengan


baik.


Eza melepaskan pelukannya kemudian melihat ke arah Rya."Bukan salah elo kok. Mantan gue aja yang gila!"


"Parah banget sih ini. Baru berapa jam ampe nyebar


videonya di sosmed." Rya menepuk jidatnya sendiri. Tidak menyangka banyak


kamera netizen yang merekam kejadian yang di alami Alita. Barack Coffe


memanglah kafe yang selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan, tapi


kejadian rusuh seperti itu baru kali ini terjadi.


"Mana coba. Gue pengen liat." Wajah cemas Eza kini


berubah jadi wajah penasaran. Mari kita lihat apa yang Niky lakukan terhadap


Alita.


Sejurus kemudian Rya memberikan ponselnya itu kepada Eza,


dan Eza segera menerima ponsel yang memutar rekaman bagaimana tadi Niky


menyerang Alita. Astaga dragon! Niky bahkan menjambak rambut Alita dan bagian


itu sukses membuat Eza rasanya naik pitam.

__ADS_1


Tapi bukan Alita kalau tidak konyol, polos dan menyebalkan.


Eza mendengar Gadis itu meneriaki Niky sebagai Tarzan yang hidup di kota,


membuat Eza hampir saja tertawa ditengah rasa kesalnya kepada Niky.


"Anjim. Niky udah keterlaluan banget!" Tangan Eza


mengepal dan ingin rasanya menjambak Niky lebih dari apa yang dia lakukan.


"Gue saranin mulai sekarang elo harus lebih tiati


jagain Alita, Za. Serem gue liat mantan bini lo yang kaya preman. Bar-bar


banget terus ngancem mulu." Rya sama khawatirnya terhadap Alita. Merasa


iba gadis polos seperti Alita diperlakukan seperti itu.


"Gue bakal kasih pelajaran!" Eza semakin


mendengkus kesal.


"Alit pengen pulang A'." Alita menyahut lirih.


kembali ponsel itu kepada Rya. "Gue pamit dulu, sorry banget ngerepotin


elo."


"Gue yang sorry, gue bener-bener ngerasa bersalah. Kalo


gue gak bawa Alita kesini maybe gak bakal kejadian kaya gini. Lit... Maafin aku


ya." Rya sangat merasa bersalah. Di momen pertama pertemuan mereka sebagai


teman justru terjadi hal yang kurang menyenangkan. Dan yang sangat disayangkan


adalah Rya tidak bisa berbuat banyak sampai-sampai Nikita menjambak rambut


Alita.


"Alit mah nggak papa teh, gak usah minta maaf. Makasih ya udah mau jadi teman Alit." Wajah yang terlihat lesu itu menyimpulkan


senyuman tipis untuk Rya.


"Yaudah kita berdua pamit dulu ya.." Eza kembali berpamitan dan mereka akhirnya benar-benar pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Sudah didalam mobil~


Alita terlihat murung dan jadi pendiam. Sepanjang perjalanan gadis itu bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya dibuang menuju jendela mobil, menatap bangunan-bangunan tinggi yang terlihat seperti berlarian.


Gadis itu masih memikirkan kalimat Nikita yang menyebutnya hanyalah sebuah kelinci percobaan, apa Eza benar-benar menganggap Alita seperti itu?


"Kamu gak papa?" Satu tangan Eza berpindah menuju tangan Alita, menggenggam Gadis itu sambil menatapnya.


"Nggak papa A'. Alit cuma pengen cepet sampe rumah.. Alit pengen tiduran." Gadis itu menjawab tanpa merubah posisi atau menatap


ke arah Eza. Mungkin Alita masih syok dan terbayang kejadian yang menimpanya


beberapa waktu lalu.


Hingga akhirnya keheningan itu memakan waktu perjalanan, mereka sudah tiba di apartemen dan Alita sudah langsung menuju kasur. Gadis itu tampak tidak bersemangat, terlihat sangat lesu sekali.


"Kejadian tadi nggak usah diinget-inget yaa, jangan


dijadiin beban pikiran. Anggap aja angin lewat." Eza yang ikut merebahkan


diri disamping Alita mengusap gadis yang sudah memejamkan mata itu, namun Eza


tahu bahwa gadis itu belum benar-benar tertidur.


"Aa' janji hal yang kayak gitu gak bakalan terjadi


lagi, Aa' minta maaf, Aa' sayang sama kamu." Eza mengecup kening Alita


lama. Sangat dalam seperti perasaanya kepada gadis itu.


Namun Alita masih saja diam. Tidak menjawab atau bergerak


sedikitpun meskipun jelas-jelas ia tidak tidur. Banyak hal dan perasaan


baru yang ia rasakan, namun Alita belum bisa memgendalikan semua rasa yang


hadir dalam dirinya itu.


Mungkin pengaruh hormon, Alita sudah bermetamorfosis menjadi wanita dewasa kan.


Tentang kejadian Nikita yang menyerangnya, Alita tidak tahu


harus marah atau menerima. Yang Alita rasakan hanya tubuhnya seperti lemah tak


bertenaga~

__ADS_1


__ADS_2