
Eza yang sedang mempunyai segudang urusan tiba-tiba meninggalkan itu semua ketika mendengar Nikita menyerang Alita dikafe milik
Boy. Seperti biasa, Eza menyerahkan semuanya kepada Yoga sementara dirinya langsung melesat ke tempat dimana Alita berada.
Barrack Coffe..
"Kamu gak papa kan?" Eza menangkup wajah Alita dengan kedua tangan. Memastikan bahwa gadis yang ia cintai baik-baik saja.
Mendengar Alita diserang Niky benar-benar membuat jantung Eza hampir melompat
dari tempatnya.
"Alit gak papa kok A'." Pandangan gadis itu cukup sendu. Membuat Eza refleks merengkuh tubuh mungilnya kedalam pelukan.
"Maafin Aa'.." ucap Eza seraya memperdalam pelukan itu sambil memejamkan mata.
"Sorry ya, Za. Gue gak tahu kalo bakal ada kejadian kayak gini. Gue juga syok sumpah." Rya berujar sambil menyaksikan pasangan yang berperlukan itu. Merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Alita dengan
baik.
Eza melepaskan pelukannya kemudian melihat ke arah Rya."Bukan salah elo kok. Mantan gue aja yang gila!"
"Parah banget sih ini. Baru berapa jam ampe nyebar
videonya di sosmed." Rya menepuk jidatnya sendiri. Tidak menyangka banyak
kamera netizen yang merekam kejadian yang di alami Alita. Barack Coffe
memanglah kafe yang selalu ramai pengunjung dari berbagai kalangan, tapi
kejadian rusuh seperti itu baru kali ini terjadi.
"Mana coba. Gue pengen liat." Wajah cemas Eza kini
berubah jadi wajah penasaran. Mari kita lihat apa yang Niky lakukan terhadap
Alita.
Sejurus kemudian Rya memberikan ponselnya itu kepada Eza,
dan Eza segera menerima ponsel yang memutar rekaman bagaimana tadi Niky
menyerang Alita. Astaga dragon! Niky bahkan menjambak rambut Alita dan bagian
itu sukses membuat Eza rasanya naik pitam.
__ADS_1
Tapi bukan Alita kalau tidak konyol, polos dan menyebalkan.
Eza mendengar Gadis itu meneriaki Niky sebagai Tarzan yang hidup di kota,
membuat Eza hampir saja tertawa ditengah rasa kesalnya kepada Niky.
"Anjim. Niky udah keterlaluan banget!" Tangan Eza
mengepal dan ingin rasanya menjambak Niky lebih dari apa yang dia lakukan.
"Gue saranin mulai sekarang elo harus lebih tiati
jagain Alita, Za. Serem gue liat mantan bini lo yang kaya preman. Bar-bar
banget terus ngancem mulu." Rya sama khawatirnya terhadap Alita. Merasa
iba gadis polos seperti Alita diperlakukan seperti itu.
"Gue bakal kasih pelajaran!" Eza semakin
mendengkus kesal.
"Alit pengen pulang A'." Alita menyahut lirih.
kembali ponsel itu kepada Rya. "Gue pamit dulu, sorry banget ngerepotin
elo."
"Gue yang sorry, gue bener-bener ngerasa bersalah. Kalo
gue gak bawa Alita kesini maybe gak bakal kejadian kaya gini. Lit... Maafin aku
ya." Rya sangat merasa bersalah. Di momen pertama pertemuan mereka sebagai
teman justru terjadi hal yang kurang menyenangkan. Dan yang sangat disayangkan
adalah Rya tidak bisa berbuat banyak sampai-sampai Nikita menjambak rambut
Alita.
"Alit mah nggak papa teh, gak usah minta maaf. Makasih ya udah mau jadi teman Alit." Wajah yang terlihat lesu itu menyimpulkan
senyuman tipis untuk Rya.
"Yaudah kita berdua pamit dulu ya.." Eza kembali berpamitan dan mereka akhirnya benar-benar pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Sudah didalam mobil~
Alita terlihat murung dan jadi pendiam. Sepanjang perjalanan gadis itu bungkam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pandangannya dibuang menuju jendela mobil, menatap bangunan-bangunan tinggi yang terlihat seperti berlarian.
Gadis itu masih memikirkan kalimat Nikita yang menyebutnya hanyalah sebuah kelinci percobaan, apa Eza benar-benar menganggap Alita seperti itu?
"Kamu gak papa?" Satu tangan Eza berpindah menuju tangan Alita, menggenggam Gadis itu sambil menatapnya.
"Nggak papa A'. Alit cuma pengen cepet sampe rumah.. Alit pengen tiduran." Gadis itu menjawab tanpa merubah posisi atau menatap
ke arah Eza. Mungkin Alita masih syok dan terbayang kejadian yang menimpanya
beberapa waktu lalu.
Hingga akhirnya keheningan itu memakan waktu perjalanan, mereka sudah tiba di apartemen dan Alita sudah langsung menuju kasur. Gadis itu tampak tidak bersemangat, terlihat sangat lesu sekali.
"Kejadian tadi nggak usah diinget-inget yaa, jangan
dijadiin beban pikiran. Anggap aja angin lewat." Eza yang ikut merebahkan
diri disamping Alita mengusap gadis yang sudah memejamkan mata itu, namun Eza
tahu bahwa gadis itu belum benar-benar tertidur.
"Aa' janji hal yang kayak gitu gak bakalan terjadi
lagi, Aa' minta maaf, Aa' sayang sama kamu." Eza mengecup kening Alita
lama. Sangat dalam seperti perasaanya kepada gadis itu.
Namun Alita masih saja diam. Tidak menjawab atau bergerak
sedikitpun meskipun jelas-jelas ia tidak tidur. Banyak hal dan perasaan
baru yang ia rasakan, namun Alita belum bisa memgendalikan semua rasa yang
hadir dalam dirinya itu.
Mungkin pengaruh hormon, Alita sudah bermetamorfosis menjadi wanita dewasa kan.
Tentang kejadian Nikita yang menyerangnya, Alita tidak tahu
harus marah atau menerima. Yang Alita rasakan hanya tubuhnya seperti lemah tak
bertenaga~
__ADS_1