Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Mantan Istri


__ADS_3

Eza sungguh merasa bersalah ketika mendapati Alita dengan mata sembab yang masih merah berair. Gadis itu tampak menatap kosong sambil mengelus perutnya. "Kamu gapapa kan, Lit? Maaf tadi Aa' lama perginya." Eza menatap Alita yang sangat terlihat sedih. Kemudian merapihkan anak rambut Alita yang berantakan. "Tadi ada orang gila kesini, kamu gak di apa-apain kan?" tanya Eza lagi. Dengan ekspresi berharap Alita segera menjawab semua pertanyaanya. "Lit~" Panggil Eza lagi.


"Aa' jahat!" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Alita setelah cukup lama bungkam. Pandangan Alita masih kosong, enggan untuk melihat Eza.


"Jahat? siapa yang jahat? Maksutnya Aa' jahat gitu?" Eza tahu dirinya salah. Namun ini semua diluar kehendaknya. Siapa yang tahu jika Nikita akan datang kan. Tapi Eza sedikit lega ketika melihat fisik Alita baik-baik saja. Artinya Nikita tidak menyakiti Alita.


"Kenapa Aa' giniin Alit? hati Alit sakit A'." Mata merah berair itu kembali memanas, semakin banyak embun bening yang terkumpul disana. Satu kali saja Alita berkedip, maka tumpahlah air mata itu.


"Maaf.. Aa' gak bermaksud buat nyakitin kamu Lit, Aa' gak tau kalo dia bakal dateng kesini." Eza benar-benar merasa bersalah ketika melihat Alita nampak semakin berantakan dengan mata yang sembab dan hidung yang memerah. Tidak tega dan juga tidak rela.


Hiks~ Alita malah memejamkan mata dan menangis. Sungguh, ada rasa sakit seperti luka sayatan didalam dirinya. Belum pernah Alita merasa seperti ini, mungkin karena ini patah hati pertama bagi Alita. "Aa' jahat!"


"Sstt.. Udah dong, Aa' minta maaf." Eza berusaha memeluk Alita. Tidak ada gunanya terus berbicara jika keadaan Alita masih seperti itu. Lebih baik Eza menenangkan Alita dulu sebelum lanjut mengobrol.


"Alit bodoh. Kenapa Alit percaya sama kata-kata Aa'. Liat sekarang, yang Alit takutin beneran bakal terjadi. Hiks~" Alita masih menangis dipundak Eza. Sementara Eza hanya mengusap punggung Alita dan membiarkan Alita menangis menumpahkan semua emosi yang ada dalam dirinya. Meskipun tidak tahan, tapi Eza menahan diri. "Aa' pembohong! Hiks~"


Eza terus memeluk Alita dan membiarkan Alita mengatakan apapun yang ada didalam hatinya. Meskipun sebenarnya Eza juga jadi ikutan sedih melihat Alita menangis seperti itu.

__ADS_1


 


Alita mengira bahwa dirinya sudah hidup seperti dinegri dongeng. Bisa mencintai dan dicintai seseorang. Bisa berbagi suka dan duka. Apalagi setelah kehadiran jabang bayi dalam rahimnya. Alita mengira hidupnya sudah cukup sempurna, sudah sangat lebih baik dari sebelumnya. Tapi ternyata Alita salah, bukannya hidup dinegri dongeng, justru Alita harus masuk ke dalam neraka baru yang tidak pernah ia ketahui kedalamannya.


Nasib Alita sudah telak didepan sana, pasti akan lebih suram dari ini. Sungguh pahit dan ketir sekali. Alita tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelah bayi itu lahir. Akankah Eza membuangnya bersama bayi itu? ataaaau membuang Alita dan mengambil bayi itu saja? Apalagi yang lebih buruk? Hiks~ Pikiran Alita sudah bercabang kesana kemari.


Hingga beberapa saat kemudian akhirnya Alita berhenti menangis. Mencoba menelan pil pahit itu dan tidak lagi menyalahi takdir. Sejak dulu Alita dilatih untuk berlapang dada menerima apapun yang terjadi didalam hidupnya. Dan lagi-lagi kali ini Alita dituntut untuk tegar.


"Capek yaa?" Eza menatap Alita yang wajahnya banyak pembengkakan saking banyak dan lamanya menangis. Mengusap wajah Alita kemudian mengecup kening Alita lama. "Maafin Aa' ya.." ucapnya dan Alita hanya bungkam sambil sesenggukan sisa menangis tadi.


"Tadi itu mantan istri Aa'." Ucap Eza mengawali pembicaraan sambil menyuapi Alita dengan makanan yang tadi Eza bawa. "Demi apapun Aa' gak tau dia bakalan kesini." tambahnya.


 


Mantan istri? Alita menelan kunyahan itu dengan hati-hati. Mencerna kata-kata yang Eza ucapkan. Apa mantan istri itu sebutan untuk istri tua, pikirnya.


"Dia gak nyakitin kamu kan? gak ngapa-ngapain kamu?" tanya Eza lagi.

__ADS_1


Beruntung. Alita hanya beruntung istri Eza tidak menjambaknya seperti cerita kebanyakan wanita yang dilabrak istri tua. Nikita hanya merendahkan Alita saja, tidak melakukan kekerasan fisik. Alita tidak boleh mengadu, takut-takut Eza akan bertengkar dengan Niky, pikirnya.


Alita kemudian mengatakan tidak dengan menggelengkan kepala. Leher Alita rasanya tercekat untuk mengucapkan satu dua patah kata.


"Kamu gak usah takut, Aa' bakal lindungin kamu."


Semakin Eza berucap semakin hati Alita sakit. Kerisauan tentang nasib Alita seakan menjadi siluet dan terpampang nyata dalam pandangannya.


"Aa' gak bakalan buang Alit kan nantinya? Alit gak mau dipisahin dari bayi ini." Akhirnya Alita bersuara, meskipun dengan suara yang hampir habis.


"Hehe.." Eza malah tertawa kecil. "Aa' kan udah pernah bilang kalo Aa' bakalan nikahin kamu secara resmi. Buang jauh-jauh pikiran itu yaaa.."


Meskipun resmi tapi tetap aja Alita hanya menjadi istri muda, istri kedua, istri simpanan. Apa istimewanya itu Apapun yang akan Alita dapatkan hanyalah sisa~


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2