
Alita masih berada dikamar dengan hatinya yang sungguh tidak tenang sekali. Gadis itu gusar dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi dibawah sana. "Si Aa' lagi apa ya dibawah?" tanya Alita berbicara sendiri. "Alit mah takut si Aa' dipukulin." tsk. "Mana Kang Eman mah garang orangnya, duh." Alita jadi bingung sendiri.
Alita kemudian mengingat tentang hape. Mengingat benda kecil nan pintar yang selalu Alita simpan baik didalam lemari. Sebuah alat yang bisa membuat Alita dan Eza bisa mengobrol meskipun tidak sedang bersama. "Untung ada hape.. Mending Alit telpon si Aa' aja." Alita lumayan bisa tersenyum sedikit. Kemudian gadis itu menuju walk in closet dan segera mengambil ponsel tersebut.
"Tiap aja mau Alit pake, pasti aja mati." Alita menggerutu ketika mendapati ponselnya mati. Bagaimana tidak mati, ponsel itu sudah berhari-hari atau mungkin berminggu-minggu berada didalam lemari itu. "Kudu di cas dulu inimah."
Untungnya Alita sudah tahu bagaimana mengatasi hape yang mati. Ia tidak perlu berteriak kaget saat benda kecil itu tidak menyala. Alita hanya perlu menghubungkan hape itu dengan kabel kecil yang sudah tersambung dengan aliran listrik. "Tinggal nunggu batrenya penuh deh." ujar Alita saat berhasil mengecas hape miliknya. Gadis itu kemudian meletakan hape itu sambil sesekali melihat bagaimana batrainya terisi.
5 menit 10%
10 menit 25%
15 menit 55%
"Meuni lama pisan nyampe seratusnya initeh." Menggerutu lagi. Alita kemudian lanjut mondar-mandir sambil sesekali menempelkan telinga dipintu kamar. Namun Alita tidak menangkap suara apapun. Rumah itu tiba-tiba sunyi dan penuh aura menegangkan. "Apa mending Alit keluar aja ya? tapi.... kata si Aa' kan gak boleh." Aaaaaaah~ Alita menjadi cemas dan tidak jelas.
Sejurus kemudian Alita kembali mengecek hape itu namun presentase batrai belum juga mencapai angka seratus. "Gimana ini? Yaallah Alit takut si Aa' kenapa-napa."
Tok..Tok..Tok.. "Lit.." ditengah kegusaran Alita tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan suara orang setengah berteriak memanggil namanya. Suaraa ituuuuu.. tapi suara itu bukan suara Eza. Tok..tok..tok.. "Lit..Bukaa.. Udah aman." teriak lagi orang dibalik pintu itu.
__ADS_1
"A' Yoga?" Alita buru-buru menuju pintu. Namun saat akan membuka kunci, Alita kembali terdiam. "A'? ini bener A' Yoga kan?" sebelum berani membukanya Alita kembali memastikan bahwa orang dibalik pintu itu adalah Yoga, bukan kang Eman atau pun kawannya.
"Iya.. Kang Eman udah pergi.."
"Alit udah boleh keluar emang sama A' Eza?"
"Iya cepetan, kasian tuh Eza babak belur dibawah."
"Babak belur?"
Cekrek!! Akhirnya pintu itu dibuka dan ternyata orang dibalik pintu adalah benar Yoga. "Kenapa A' Eza babak belur? pasti gara-gara kang Eman ya?"
Hyaaaaa!! Orang itu ternyata bukan Yoga, Melainkan salah satu anak buah Kang Eman yang memang sejak tadi mengikuti gadis itu. "Hayooooo... mau kemana?" Orang itu merentangkan tangannya bersiap untuk menangkap Alita, "Nyerah ajah atuh, Lit. Ngapain kamu bela-belain orang kota itu. Kamu itu cuma diperalat." ujar A ifan, Anak buah Kang Eman yang kebetulan Alita juga mengenalnya. Karena memang orang itu adalah putra kang Eman.
"Kabungah naon ari kamu? yang penting mah hutang kolot kamu udah kabayar. Dan yang pasti orang tua kamu udah tersenyum disurga sana!" A Ifan kembalin memberikan bualan agar gadis itu bisa dirayu untuk diajak pulang. Merayu Alita yang memang terkenal polos memang membutuhkan tenaga ekstra sekaligus alasan yang logis agar gadis itu bisa mengerti.
"Nggak, Alit pokoknya gak mau!!" Alita setengah berlari menuju pintu dan berusaha mati-matian untuk kembali mengunci pintu itu. Tapi sayang, tenaga gadis itu kalah kuat meskipun sedang berbadan dua. A Ifan berhasil menghadangnya dan membuat Alita kesulitan untuk membuka pintu.
Detik selanjutnya Alita mendorong Ifan kemudian berlari sekuat tenaga untuk menuju lantai baawah dimana Eza berada. Namun nahas, saat gadis itu akan menapaki anak tangga, tangan Alita justru ditarik dan membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya hingga akhirnya terjatuh dan menggelinding diantara anak-anak tangga.
__ADS_1
Aaaaaa~ Alita berteriak seiring tubuhnya yang menggelinding diantara anak-anak tangga itu.
"Aliitaaaaa.." Ifan berteriak dari ujung tangga ketika melihat gadis tak berdaya itu berputar-putar dengan gerakan menyeramkan.
~
Sementara Eza dan Yoga tengah mengobrol di ruang tengah. Mereka mengira bahwa bald-balad kang Eman sudah berhasil dipukul mundur semuanya. Mereka benar-benar tidak menyadari salah satu orang ditugaskan untuk mencari Alita di lantai atas.
"Mending kita langsung ke rumah sakit aja, bro. Luka lo kayaknya cukup parah." Yoga menyahut sambil memperhatikan Eza yang sedang terduduk lemas disofa.
"Nggak usah. Gue gapapa." Sayup Eza menjawab dengan mata yang masih terpejam. Merasai hantaman balad-balad kang Eman yang kini mulai terasa sakitnya.
"Gemes gue, padahal elo kan udah bayar mahal buat ngontrak si Alita, tapi kok mereka masih berani gangguin elo ya?! padahal kan perjanjiannya mereka gak akan ikut campur sebelum kontrak itu berakhir."
"Tauklah,, mereka itu emang orang-orang gila. Lo bakal lebih gak nyangka lagi kalo tau apa aja yang udah mereka lakuin sama Alita"
"Aaaaaaaa.." Sayup-sayup mereka mendengar suara teriakan dari arah tangga.
"Astaga!!! Alita bro!!" Yoga langsung bangkit ketika mendengar teriakan itu begitu nyaring tertangkap oleh gendang telinganya.
__ADS_1
"LITTT?" Eza sama paniknya. Merreka berdua kemudian sama-sama berlari menuju arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya dua lelaki itu tatkala mendapati Alita tergeletak diujung bawah anak tangga dengan darah segar yang mengalir di kedua paha milik gadis itu. "Lit? sayaamg banguuuuuun!!!!" Eza meraup tubuh Alita yang lemas tidak berdaya, gadis itu sangat lemah dan kehilangan kesadaran.
"PANGGIL AMBULANCE CEPEEETTT!!!" Teriak Eza kepada Yoga.