
"Halo A', Aa' lagi dimana?" Akhirnya ponsel yang Alita punya itu berguna juga. Benda itu bisa dimanfaatkan dalam situasi yang tepat. Alita merasa takut dengan kejanggalan yang ia alami saat ini, untuk itu lebih baik ia menghubungi suaminya dan meminta saran tentang apa yang harus Alita lakukan sekarang.
"Aa' masih dikantor, sayang.. Mungkin setengah jam lagi Aa' pulang. Kenapa hm? kangen yaaaa.." Eza malah menggoda Alita dibalik sambungan telpon darurat itu.
"Oh gitu.. Tapi.. hm,," tiba-tiba Alita sedikit gugup. Bingung memilih kata apa yang harus ia ucapkan kepada suaminya.
"Kenapa? Kamu mau makan sesuatu?"
"Eng-nggak A', Alit gak mau makanan apa-apa."
"Kenapa dong? kok kayak gelisah gitu suaranya."
"Mmh anu A', ini.. Mmh kenapa yaaa. Alit euuumm.." Malah gugup terbata-bata. Bagaimana cara mengatakannya. Pendarahan itu mungkin saja darah haid, tapi Alita malah panik bukan main.
"Apanya yang kenapa?"
"Ini A', Alit kok berdarah yaa.. Maksudnya, Alit, itunya kok berdarah yaaa, darahnya meuni banyak pisan dan kayaknya bukan darah haid A'. Perut Alit juga sakit banget." Suara Alita begitu lirih dan terdengar begitu lemah sekali. Gadis itu hampir kehabisan tenaga saat menahan rasa sakit yang teramat diperutnya.
"Berdarah? kamu jatoh?" Suara disebrang sana sudah ikutan panik. "Emang Bik mumun atau mama belum datang?"
"Nggak A', tadi Alit---
"Aa' pulang sekarang!!" Eza memutus panggilan itu tanpa menunggu Alita menyelesaikan kalimatnya. Sangat panik karena kejadian itu memberikan firasat terlebih dahulu, Eza takut sesuatu yang parah terjadi pada Alita.
Pantesan tadi gak enak hati!
Tut.. Panggilan itu terputus.
"Ih si Aa' malah dimatiin." Alita menatap layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya bersama Eza. Telepon antara dirinya dan Eza sudah berakhir.
"Biiik,," Alita memanggil Bik Mumun dengan setengah berteriak.
__ADS_1
"Iya Non." Bik Mumun dengan sigap menghampiri Alita.
"Kok Alit berdarah ya? tapi darahnya teh item terus kentel gitu. Kenapa yaa? seumur-umur Alit belum pernah seperti ini." Alita memasang wajah heran.
"Berdarah gimana maksudnya? Enon pendarahan?" Bik Mumun malah seperti orang kebingungan. Alita kan tidak hamil, lalu kenapa dia pendarahan.
"Kayaknya bik, Alit gak tau kenapa bisa berdarah kaya gitu. perut Alit juga sakit banget ini." Wajah Alita sudah sangat pucat. Bahkan keringat dinginpun sudah keluar dari pori-pori kulitnya. Entah apa yang sedang menimpanya saat ini. "Bibik jijik gak? Bekas darah Alit nggak Alit buang, soalnya disana kaya ada gumpalan rambut juga."
Deg!! Gumpalan rambut? Maksudnya?
"Astaga non! Kita harus di buru-buru ke rumah sakit takut enon kenapa-napa. Non udah hubungi Tuan Eza belum?" bik Mumun panik bukan kepalang. Ekspresi Alita benar-benar menunjukan bahwa dia sedang sangat kesakitan. Apalagi darah yang Alita ceritakan sangat tidak wajar menurutnya. Seumur hidup Bik Mumun baru pertama kali melihat yang seperti itu.
"Alit udah nelpon A' Eza kok, katanya Aa' mau pulang sekarang."
"Duh bibik jadi deg-degan nih. Enon rebahan dulu aja ya sambil nunggu tuan datang."
Sejurus kemudian Lelaki itu sudah tiba di apartemen yang mereka tinggali. Lelaki itu tampak panik dan berlari dengan sedikit terburu-buru dan langsung saja menghampiri Alita yang berada di kamar untuk melihat keadaan gadis itu. Benar saja, Alita terlihat sedikit pucat dan lemas sekali. "Lit? kamu nggak papa?"
"Alit gapapa A', Alit cuma..."
Astaga! Apa itu? Eza bergidik ngeri.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Eza tidak mau mengambil resiko, takut-takut hal berbahaya sedang mengintai istrinya. Tanpa menunggu persetujuan, Eza akan membawa Alita ala bridal style.
"Tapi Alit belum mandi A'. Masa kita langsung ke rumah sakit." Alita mencoba bangkit dan duduk di sandaran ranjang. menatap suaminya yang sudah sangat panik sekali.
"Mandinya nanti aja kalau pulang dari rumah sakit. Kita harus buru-buru kasih tindakan sebelum terlambat. Aa' takut kamu kenapa-napa." Eza sudah sangat panik sekali. Darah yang begitu banyak, juga gumpalan hitam yang ia tidak tau itu apa keluar dari tubuh Alita. Eza harus cepat memastikan jika Alita memang baik-baik saja.
"Tapi kan ini mandi wajib A', pamali."
Astaga!
__ADS_1
"Apa Alit kayak gini gara-gara telat mandi besar ya A'? terus Alit juga tadi nggak salat subuh."
"Yaudah sekarang kamu mandi dulu, Aa' temenin ya. Habis itu kita harus langsung ke rumah sakit."
"Tapi Aa' gak bakal macem-macem kan kalau nemenin Alit mandi?" Gadis itu menatap suaminya dengan ekspresi menyelidik. Tahu perangai Eza yang tidak akan melewatkan hal intim seperti itu.
"Nggak lah, masa di keadaan darurat gini Aa' mau apa-apain kamu!"
Bersamaan dengan itu, Mama Rosa juga datang. Wanita itu sudah siap untuk ikut bersama Eza dan juga Alita untuk berkunjung ke desa. Namun setibanya disana, ia malah mendapati pemandangan yang lain. "Ada apa ini?"
Dengan ditemani Eza akhirnya Alita menyegarkan diri sebelum akhirnya mereka berangkat ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan mereka tidak henti-hentinya merapalkan do'a agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Semoga Alita baik-baik saja.
Dirumah sakit~
"Gimana dok?" dengan perasaan cemas Eza menatap dokter itu, meminta jawaban atas apa yang Alita alami hari ini. Dengan jantung berdebar dan perasaan berkecamuk.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa~
"Saya belum bisa memastikan pendarahan itu normal atau tidak, yang jelas ini diluar siklus menstruasi. Tapi menurut pemeriksaan, rahim ibu baik-baik saja. Tidak ada luka atau apapun."
Lalu pendaran apa ini?
__ADS_1
Bersambung...