Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Otok otok


__ADS_3

Hari-hari berlalu namun Alita masih saja mengalami pendarahan. Padahal semua saran dokter sudah dilakukan, seperti banyak-banyak istirahat dan mengurangi kegiatan berhubungan badan.


Bagaimana mau berhubungan badan, medan perangnya kan sedang terluka!!


Berkali-kali juga Alita di bawa check up ke dokter, namun hasil pemeriksaan tetap menunjukkan bahwa Alita baik baik saja. Secara pemeriksaan medis, rahim ataupun tubuh Alita tidak bermasalah.


Eza sudah melakukan berbagai cara agar pendarahan itu berhenti. Membeli obat yang paling mahal sekalipun, namun hasilnya tetap nihil. Pendarahan itu masih saja berlanjut, membuat Eza dihantui rasa cemas setiap harinya.


"Aa'.." Panggil Alita lirih.


"Iya sayang, kenapa? ada yang sakit?" Eza menatap Alita dengan wajah nanar.


"Nggak A', Alit gak papa kok." gadis itu menggenggam tangan Eza, menatap suaminya dengan tatapan mendamaikan. "Aa' gak usah khawatir kaya gitu, kata dokter kan Alit sama baik-baik aja."


"Iya tahu, tapi tetep aja Aa' gelisah.. Aa' takut kamu kenapa-napa." Eza membalas tatapan Alita kemudian mengelus perut Alita lagi dan lagi.


"Za, menurut mama sakit Alita gak wajar deh." Mama Rosa yang sejak kemarin menemani sama khawatirnya dengan Eza. Menatap Alita, Mama Rosa merasa sangat menyayangi gadis itu;. Terlebih jika enyaksikan bagaimana saat Alita memperlakukan Eza sebagai suaminya.


"Gak wajar gimana, Mah?"


"Ini bukan penyakit medis, tapi..."


Tok..Tok..


"Tuan, Ada tamu." Suara bik Mumun memanggil di balik pintu.


"Iya sebentar." Eza setengah berteriak menyeru sahutan itu. "Maksudnya gimana sih, Mah? Eza gak ngerti." Eza mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Kita bicara diluar aja nanti. Kamu mending temuin dulu tamunya."


"Aa' keluar dulu sebentar yaaa." Pamit Eza kepada Alita dan sejurus kemudian Alita pun mengangguk mengiyakan.


Eza keluar kamar dan mendapati Yoga ada di sana dengan membawa beberapa berkas, mungkin berkas itu adalah berkas-berkas yang harus ditandatangani oleh Eza. Karena belakangan ini pekerjaan Eza di kantor memang terbengkalai dan selalu di-handle oleh sahabatnya itu.


"Hallo, bro. Pucet amat!" Yoga menyambut si empunya rumah yang baru saja keluar dari guha persembunyian. Sahabatnya itu terlihat lumayan berantakan.


"Eh elo, Ga." Eza menghampiri yoga kemudian menjatuhkan diri tanpa tenaga ke atas sofa.


"Kenapa sih? Elo kalau udah kayak gini pasti menyangkut tentang Alita, iya kan?" Yoga menebak. Karena sudah dipastikan jika Eza berperilaku sangat khawatir dan cemas seperti itu, pasti ada sesuatu yang terjadi pada istri mudanya.


"Gue kayak lagi ada di ujung jurang, Ga. Gue lagi dihantui rasa takut. Gue takut kehilangan Alita." Seperti biasa, hanya kepada Yoga Eza berani bercerita dan mengeluarkan segala keluh kesahnya. Hanya sahabatnya itu yang selalu bisa diandalkan dan memberikan sesuatu yang positif dikala Eza sedang berantakan.


"Hilang gimana maksud lo? ini kan lagi diurusin dokumen-dokumennya supaya elo punya hak paten atas Alita. Nih.." Yoga menyerahkan beberapa berkas kepada Eza. "Elo tinggal bawa Alita buat perekaman data dan tanda tangan aja, abis itu baru deh semuanya gue yang kelarin."


"Bisa aja sih asal nambahin uang pelicin nya aja. Emang Alita sakit apaan sih bro? elo kayaknya kalut banget!"


"Entahlah gue juga bingung. Udah hampir dua minggu ini Alita pendarahan terus,. Gue udah bawa dia ke dokter bolak-balik tapi secara medis dia tuh sehat-sehat aja. Ini semua gak masuk akal!"


"Pendarahan? Ya sabar aja kali bro! Mungkin bini elo dateng bulan, gak sabar banget sih pengen bajak sawah melulu!" Cih, Yoga malah menggoda Eza dengan candaanya yang selalu menjurus ke hal intim. Namun setelah melontarkan candaanya, ternya Eza malah diam dan semakin menunjukan raut bingung. "Elo yakin secara medis dia sehat?" Kali ini Yoga bertanya dengan benar.


 


"Gaktau. Tapi kita udah USG, tes ini itu tapi meskipun udah check up berkala dan beli obat yang paling bagus, tetep aja hasilnya sama, Alita nggak apa-apa tapi pendarahan nya masih lanjut." Eza menjelaskan panjang lebar sambil menepuk jidatnya sendiri, merasa bingung dan aneh dengan keadaan yang sedang dialami.


Waktu dua minggu seharusnya sudah sangat cukup bukan untuk melihat obat-obat itu bekerja?

__ADS_1


Haaaah~ Yoga hanya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Lelaki itu mencoba menelaah dan membuat benang merah tentang apa yang sedang terjadi sebelumnya. Prediksi dan penuturan Yoga biasanya selalu akurat. Sahabat Eza itu meskipun slengean namun seperti punya kemampuan six sense, atau kemampuan mata batin Indra ke enam. "Menurut gue ini memang bukan masalah medis sih, bro." Setelah memejamkan mata dan menerka-nerka cukup lama, akhirnya Yoga mengucapkan pendapatnya. Benang merah itu sudah dia dapatkan dan ini harus segera ditangani dengan baik.


"Maksud lo?" Eza mengernyitkan dahi karena belum mengerti jurus pembicaraan Yoga. Kenapa perkataan Yoga sama seperti Mama Rosa tadi.


"Bini lo kena penyakit kiriman, harus buru-buru lo obatin sebelum terlambat."


Aaaaahh.. Eza mengacak rambut frustasi. Apa lagi ini?


"Yoga.." Mama Rosa menyahut sambil melangkahkan kakinya dengan hati-hati. Seolah tidak ingin menciptakan suara karena katanya Alita tertidur.


Mereka berbincang panjang, sampai akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa penyakit Alita bukanlah penyakit biasa.


"Za, Alita harus buru-buru diobatin sebelum keadaanya makin parah dan malah mengancam nyawa dia. Ini udah gak beres banget!! Alita harus buru-buru diobatin ke ahlinya, percuma lo abis ratusan juta buat bayar dokter, Alita gak bakal sembuh karena ini bukan penyakit medis! Ini ilmu hitam!" Yoga menguraikan lagi maksud kata-katanya.


"Setuju, Mama setuju sama Yoga. Alita sakit pasti karna otok-otok!" Ujar Mama Rosa.


"Otok-otok?"


"Guna-guna!"


 


 


 


Bersambung~

__ADS_1


__ADS_2