Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Sebuah Solusi


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian..


Red Apple, sebuah klub malam Camey Smith punya🤣🤭


Eza termenung sendirian memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa membuktikan bahwa ia tidak mandul. Dimana ia bisa menemukan wanita yang rela untuk ditiduri dan menjadi bahan percobaan untuk dihamili? Ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidaklah mandul seperti yang dituduhkan Niky kepadanya.


Hari-hari Eza terlihat tidak teratur dan berantakan sekali, lelaki itu sering menghabiskan waktu di kantor atau sesekali melipir ke klub malam untuk menghilangkan rasa suntuk dan pusing yang menggerogoti.


"Kenapa sih bro?" tanya Yoga, sekertaris sekaligus sahabat Eza sejak lama. Lelaki itu menepuk pundak Eza yang sedang memijat kepala sambil menenggak minuman dihadapannya.


"Eh elo.." Eza melihat sebentar ke arah Yoga, lalu menyulut rokok untuk menyembunyikan kegusarannya.


"Kusut amat sih lo!" ujar Yoga sambil ikut menuangkan minuman ke dalam gelas.


Huff.. Eza membuang nafas panjang. "Gue abis nalak bini gue!" ujar Eza singkat, terlihat sangat enteng namun wajah Eza tidak bisa menyembunyikan gurat kebingungan.


"Serius lo?" Yoga terperangah tidak percaya. "Kok bisa sih? bukannya lo bedua adem-adem aja?" tanya Yoga lagi.


"Gue sayang banget sama dia, gue juga gak nyangka udah nalak dia. Bahkan gue udah bilang ke bokap nyokapnya juga."


"Pasti ada sebabnya dong elo nalak dia?" tanya Yoga yang semakin penasaran.


"Dia bilang gue mandul!" ujar Eza sambil meraih gelas berisi minuman dan menenggaknya habis.


"Hah? bukannya elo udah pernah tes medis?"


"Entahlah, secara medis gue emang sehat. Gue juga bingung bro!" Eza terlihat sangat berantakan sekali, lusuh dan hilang karisma tampan sebagai seorang pengusaha. "Dimana coba gue harus nyari cewek yang rela jadi kelinci percobaan? Gue bakal buktiin kalo gue itu perkasa!" Eza yang sudah lumayan teler, nyerocos tanpa kontrol sambil menghembuskan asap yang mengepul.


"Hmm,, kayaknya gue punya solusinya!" ujar Yoga sambil tersenyum simpul. "Mending lo Kawin kontrak!" tambahnya.


"Kawin kontrak?" Eza mengernyit tidak mengerti.


"Yoi bro." Yoga mengiyakan. "Kalo lo mau tar gue anter deh! sekalian gue juga pengen icip-icip!." ujar Yoga dengan seringai mesum.

__ADS_1


Eza terdiam sejenak, ia seperti menemukan sebuah harta karun di pulau terpencil. Tapi meskipun tawaran itu menggiurkan, Eza sama sekali tidak mengerti apa itu kawin kontrak.


"Udahlah, gak usah mikir-mikir lagi. Ini bukan one night stand, Elo tinggal nentuin berapa lama elo mau ngontrak dia. Sebulan, dua bulan atau setahun mungkin. Simple." Yoga menjelaskan dengan santainya.


Eza menimang-nimang lagi kalimat yang Yoga lontarkan, hingga akhirnya ia kalah dan termakan oleh arahan sahabatnya itu.


"Yaudah, besok kita eksekusi!!"


*


Esok hari


Eza tidak menyangka hari ini ia menginjakan kaki di tanah yang katanya surga kenikmatan yang di cap halal. Sebuah desa yang katanya memang sudah tidak asing dengan kata Kawin kontrak.


"Yuk.." ajak Yoga saat mereka sudah tiba disebuah rumah yang lumayan besar dari rumah lain di desa itu. Dan Eza hanya mengikuti tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Punten..." ujar Yoga sambil mengetuk pintu rumah itu. "Kang?" Tok..tok..tok Yoga masih mengetuk-ngetuk pintu itu.


Krekk!! pintu terbuka.


"Mangga.. sareng saha iyeu?" ujar seorang lelaki yang membuka pintu rumah yang tadi diketuk Yoga.


(Silahkan. Siapa ini?)


"Saya Yoga kang, ini temen saya Eza" ujar Yoga memperkenalkan diri.


"Oh.. sok atuh, mangga." lelaki itu mempersilahkan Yoga dan Eza untuk masuk. "Mah, buatin teh manis dua!" teriak lelaki itu.


(Oh.. Silahkan masuk.)


"Aya peryogi naon atuh kang?" tanya si pemilik rumah.


(Ada perlu apa kang.)

__ADS_1


"Jadi gini kang Eman, temen saya ini katanya mau kawin kontrak." Yoga langsung to the point kepada kang Eman yang memang jalar didesa itu atau yang lebih kerennya adalah seorang mucikari.


"Owh.. buat si akang ini?" tanya kang Eman sambil melirik Eza.


"Hehe iya pak.." Eza tampak tersenyum canggung.


"Panggil kang aja, gak usah panggil bapak. Saya mah bukan pejabat." ujar Kang Eman sambil tertawa kecil. "Sebentar yaaa.." ujar Kang Eman sambil beranjak dari tempat dimana tadi mereka duduk bertiga.


Eza masih tidak bisa mengucapkan sepatah kata, lelaki itu masih diam sambil mengedarkan pandangannya. Menatap setiap rinci ruangan yang bernuansa sunda.


"Mangga kang.." ujar Kang Eman yang sudah kembali dengan beberapa foto yang diberikan kepada Eza. "Dilihat-lihat dulu saja, Siapa tau ada yang cocok." tambahnya sambil kembali duduk ditempat semula.


Eza kemudian menatap beberapa lembar foto yang tadi diberikan kang Eman kepadanya, lelaki itu masih terlihat kebingungan sambil memperhatikan setiap foto yang menggambarkan gadis-gadis desa.


"Disini udah biasa ya Kang kalo kawin kontrak?" akhirnya Eza bersuara sambil masih menatap foto-foto itu.


"Iya kang, udah gak aneh disini mah." jawab Kang Eman.


"Siapa gadis ini?" tanya Eza sambil memperlihatkan foto seorang wanita.


"Ituh.. hmm itu namanya si Anisa, kang." jawab kang Eman.


"Masih perawan?" sekarang Yoga yang bertanya.


"Udah pernah kawin kontrak juga kang." jawab Kang Eman. "Yang perawan tinggal Neng Alita, yang ini nih." tambahnya sambil menunjuk sebuah foto.


"Saya mau yang belum disentuh orang!" kini Eza yang menyahut, ia tidak mau ambil resiko jika wanita-wanita itu berpenyakit.


"Boleh saja, kang. Tapi.. hehe,, mahar nya lebih mahal!"


"Gak masalah,,, yang penting dia sehat!"


Lalu mereka pun mulai bernegosiasi, menyiapkan surat perjanjian dan juga tempat untuk melangsungkan acara itu. Eza rasanya masih mengambang, tapi apa yang dilakukanya itu mendesak Eza untuk memang harus melakukannya. Demi membuktikan bahwa dirinya tidak mandul seperti yang Niky tuduhkan.

__ADS_1


__ADS_2