Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Datang Lagi


__ADS_3

Dengan malas Eza kembali memungut celana yang tadi ia lempar ke lantai. Mengambil kaus polos kemudian beranjak dari kamar. Eza akan melihat siapa orang dibalik pintu yang sejak tadi memencet bell.


Suit..Sisuiit~ Anggap aja bersiul. Eza bersiul sambil menapaki satu persatu anak tangga, mencoba mengusir rasa kantuk itu. Dan saatsudah tiba di pintu utama, Eza langsung saja membuka pintu itu.


"Kak?" Hap! Orang dibalik pintu itu langsung memeluk Eza tanpa basa-basi. Nikita. Itu Nikita.


"Apa-apaan sih!" Eza mencoba melepaskan diri namun Nikita malah semakin erat memeluknya.


"Mama makin parah, kak. Please tolongin aku. Mama koma." Nikita bahkan sudah menumpahkan air matanya.


"Ya laporannya ke dokter dong, ngapain ke aku. "Lepas Niky, jangan nunggu aku berbuat kasar." Eza masih mencoba melepaskan diri dari pelukan wanita tidak tahu malu itu.


"Please, aku mohon. Buat aku hamil dan setelah itu kamu bebas mau ngapain aja. Mau ninggalin aku juga silahkan, aku cuma mau ngandung anak kamu kak." Nikita melepas pelukan itu dan menyeka air matanya yang bercucuran.


"Haha.. Jiwa p e l a c u r amat sih. P e l a c u r aja gak ada tuh yang minta dihamilin doang!" Eza tertawa smirk. Seolah menghina Nikita adalah sebuah keharusan. "Bukannya kamu punya peliharaan? kenapa gak minta sama dia? aku jamin dia pasti mau kok ngelakuinnya, dengan sukarela."


"Jaga bicara kamu kak! siapa yang kamu maksud p e l a c u r hah? aku gak pernah jual diri!" Mata berair Nikita terlihat berapi-api. Kata-kata yang diterima dari Eza selalu saja pedas.


"Owh iya.. kan kamu yang beli brondong-brondong itu." Lagi-lagi Eza menarik ujung senyumnya. Kelakuan Nikita benar-benar bikin geleng kepala.


"Kak! Aku,,,,"


"A'~" Baru saja meninggikan suara, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang sedang menuruni anak tangga. Siapa lagi kalau bukan Alita.


"Iya, sayang." Eza dengan sengaja mengatakan itu dihadapan Niky. Memanggil Alita dengan sebutan sayang dengan jelas.


"Aa' dimana sih? Alit laper, pengen makan bakso." Alita setengah berteriak sambil masih menuruni anak tangga. Mencari keberadaan suaminya yang hanya ia dengar suaranya.


"Siapa itu?" tanya Nikita dengan ekspresi aneh.

__ADS_1


"Istriku." jawab Eza telak.


"Haha. Jangan bercanda. Mana mungkin kamu udah nikah lagi. Jangan main-main kak."


"A' Alit peng~~~en." Alita menggantung kalimantnya ketika mendapati siapa yang berdiri dihadapan Eza. Bukannya itu mantan istri Eza.


"Pengen apa sayang?" Eza menghampiri Alita dengan bangga. Seolah ingin melakukan pertunjukan kecil untuk Nikita. "Dedeknya laper yaa, mau kakan apa sayang?" Jih, bagai adegan disinetron Eza mengecup perut Alita. Membuat Alita dan Nikita sama-sama mematung menyaksikan kejadian itu.


"Ada tamu A', suruh masuk dulu atuh." Gugup. Alita


 benar-benar gugup. Meksipun sudah tau Nikita adalah bekas istri Eza, namun siapa yang tahu jika Nikita tidak segarang istri tua yang melabrak istri muda.


"Biarin aja, dia cuma orang gila."


Tangan Nikita mengepal. Benarkah itu istri Eza? dan benarkah gadis itu sedang hamil? sialan! siapa yang menyangka Eza akan move on secepat ini. Tidak. Nikita tidak percaya Eza sudah tidak mencintai dirinta. Apalagi sampai sudah menikah lagi dan sedang menanti kehadiran anak ditengah-tengah mereka. Mimpi kah ini?


"Udah malem, kita mau istirahat. Silahkan pergi dari sini yaa, kita udah gak nerima tamu apalagi yang ngemis-ngemis gitu."


"Kamu beneran istri Eza hah?" tatapan Nikita kini menghardik Alita yang sedang tertunduk. Dan anggukan Alita menjadi jawaban telak untuk Nikita. "Sejak kapan? sejak kapan kalian nikah? kenapa aku gak tau? kenapa bisa sampe hamil." Nikita berteriak dan maju beberapa langkah mendekati Alita.


"Berhenti atau kamu akan menyesal! Apapun yang aku lakuin udah gak ada lagi urusan sama kamu. Kita udah pisah bahkan hampir satu tahun. Kamu gak berhak tau ataupun bertanya. Lebih baik sekarang kamu pergi!"


"Jahat! kamu jahat kak!" Nikita berkaca-kaca.


"Pergi!"


"Aku gak bakal biarin kalian bahagia!"


"Pergi!!!!!"

__ADS_1


Dengan sejuta luka dan dendam akhirnya Nikita pergi. Sungguh, bukan ini yang Nikita inginkan. Nikita sadar bahwa dirinya bersalah, tapi Nikita tidak bisa menerima diperlakukan seperti ini.


"Aa' gak boleh galak gitu atuh, kasian si Tetehnya meuni sampe nangis." Alita berujar lirih ketika melihat adegan sinetron secara Live. Sungguhan kah ini?


"Orang gak tau malu emang harus dikasih pelajaran." Eza kemudian menutup pintu dan menguncinya lagi.


"Alit gak tega ngeliatnya A', Alit juga kan perempuan." Kemudian mereka mulai berjalan masuk, meninggalkan pintu utama.


"Udah gak usah dipikirin. Mending kita tidur yuk.. Besok kita main kerumah mama." Eza meraih tangan Alita untuk dituntun menaiki tangga.


"Mama? maksutnya nyonya Rosa?" tanya Alita.


"He em." Eza mengiyakan.


"Tapi Alit takut A'." Alita berhenti melangkah. Adegan barusan saja sudah menakutkan apalagi nanti. Ini bukan cerita sinetron kan thor?


"Takut kenapa?" Eza juga menghentikan langkah dan menoleh menatap Alita.


 


"Alit takut mama Aa' gak bisa nerima Alit." Alita berujar cemas.


"Gak usah takut, ada Aa'. Yuk bobok yuk."


"Hmm.. tapi Alit pengen bakso."


Yassalam~ "Yaudah hayuk beli. Kita ganti baju dulu."


 

__ADS_1


 


"Yuuuuuuukkksss..."


__ADS_2