Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Obsesi


__ADS_3

Cupp!! Eza mencium kening Alita dengan segenap perasaan. Setelah menemani gadis itu, mengelusnya, merapihkan rambut Alita dengan jemari tangan, memberikan kenyamanan agar ia terlelap akhirnya kini Alita benar-benar tidur. Meskipun Alita tidak mengatakan, tapi Eza tahu apa yang Alita rasakan saat ini. Bisa saja ia marah atau memendam sesuatu gara-gara perbuatan Niky.


"Aa' tinggal dulu sebentar yaaa." ucapnya pelan. Meski tahu Alita tidak akan mendengar, tapi tetap saja Eza mengucapkan kalimat itu.


Sejurus kemudian Eza menyambar kembali kunci mobil. Berjalan cepat menuju pintu lalu keluar dengan cukup tergesa-gesa. Rasa marah dan benci yang ia tahan untuk Nikita rasanya seperti api yang disiram bensin karna ulah wanita itu sendiri.


Wanita yang hampir sepuluh tahun membersamai Eza itu sekarang pasti sedang berada di butik, Eza masih hafal jadwal kegiatan wanita itu. Langsung saja Eza menuju kesana untuk menuntaskan apa yang harus ia tuntaskan.


Di butik~


Dengan gaya memberontak lelaki itu memasuki gedung yang sebenarnya adalah miliknya. Mengayunkan kaki dengan angkuh menunjukan bahwa ia datang bukan dengan itikad baik. Eza menghiraukan semua orang yang menyapa atau memfokuskan pandangan kepada dirinya, langsung saja Eza memasuki ruangan Niky yang sudah pasti wanita itu ada disana.


Brakh!! Cukup keras Eza membuka pintu. Membuat orang yang ada didalam ruangan itu hampir melompat kareana kaget.


"Kak?" Nikita terperangah mendapati Eza berada di ruangannya. Namun bukannya senang, Niky justru menciut nyalinya. Lelaki itu tampak berapi-api dan dikuasai amarah.

__ADS_1


"Apa yang kamu mau sebenernya hah? Apa peringatan kemaren belom cukup buat kamu sadar? Kamu udah sangat keterlaluan! Aku gak pernah usik hidup kamu Nikita!" Dengan netra tajam Eza mencengkram wanita itu. Tatapan Eza sungguh sangat menakutkan. Bahkan mendengar suara nya saja sudah membuat bulu kuduk merinding dan jantung hampir copot.


"Aku gaada maksud buat ngusik hidup kamu. Aku cuma memperjuangkan apa yang memang seharusnya jadi milik aku, kak. KAMU! Kamu itu cuma milik aku, kamu cuma cinta sama aku. Iya kan?" Nikita menatap wajah penuh amarah itu dengan tatapan nanar.


Haha. Eza terkekeh dengan nada sarkas. Seolah mengejek apa yang Nikita ucapkan. "Cinta apa yang kamu maksud? Bukannya kamu yang membuang cinta itu? Aku bukan Eza yang dulu, Nikita. Aku bukan lelaki yang mencintai kamu dengan sepenuh hati lagi, Kamu yang membuat aku mencintai orang lain."


"Aku tau aku salah, tapi apa nggak ada kesempatan buat aku sekaliiiiiii aja, satu kali. Please kasih kesempatan buat aku memperbaiki segalanya." Wanita itu menghiba dengan wajah memelas, benar-benar menyesal dan minta dikasihani.


"Tidak ada maaf untuk pengkhianatan, Niky. Kamu menikam aku terlalu dalam. Lagipula aku milik Alita sekarang." Suara Eza sudah kembali melembut. Mencoba menyadarkan wanita itu tentang kenyataan.


"Aku yakin kamu gak bener-bener mencintai wanita itu. Kamu sama dia cuma kawin kontrak, kak. Dan semua itu akan berakhir bulan depan. Tolong kasih aku kesempatan, aku sangat menyesal berpisah dari kamu. Aku tau cewek kampung itu cuma pelarian kamu." Air mata buaya betina itu tumpah lagi. Menyiratkan bahwa Nikita benar-benar menyesal. Wanita itu bahkan menghampiri Eza dan bersimpuh. "Aku tau aku salah.. Aku udah sangat menyakiti kamu. Tapi dilubuk hati yang paling dalam, aku masih sangat mencintai kamu."


"Aku sudah memaafkan kesalahan kamu, Nik. tapi tidak untuk kita kembali bersama. Yang kamu rasakan itu bukan cinta, itu hanya Obsesi." Eza menghela nafas sambil melihat kearah Nikita yang berada di bawah kakinya "Berhenti mengharapkan aku karena aku sudah menjadi milik orang lain. Bukannya dulu kamu yang bilang bahwa 'Semoga aja kita berbahagia dengan pasangan kita masing-masing di masa depan' dan sekarang aku sudah menemukannya. Aku berharap kamu juga segera mendapatkan cinta yang kamu mau, yang kamu inginkan, yang kamu harapkan, yang bisa membuat kamu bahagia. Jangan sibuk Mengejar aku karena bahagia kamu bukan sama aku."


Hiks~ Nikita benar-benar menangis, menumpahkan kepedihan atas penyesalan yang kini menggerogoti dirinya sendiri. Tidak, Niky tidak ingin kehilangan Eza. Sampai kapanpun tidak akan ada seseorang yang seperti Eza. Lelaki berhati malaikat yang sudah sangat Niky sakiti. Mencampakan Eza adalah sebuah penyesalan terbesar dalam hidup Niky.

__ADS_1


"Apa bener-bener udah gak ada ruang buat aku? Sama sekali?" Niky berujar sambil mendongkak ke atas, menatap Eza sambil menahan air mata yang sejak tadi bercucuran. Dan sedetik kemudian Eza menggelengkan kepala.


"Ini peringatan terakhir! Semua kartu kamu udah aku pegang. Sekali lagi kamu bertingkah, aku gak bakal tinggal diam! Aku bisa ngusik kamu lebih hebat dari apa yang kamu lakuin." Eza membuang pandangannya kemudian memutar badan untuk meninggalkan ruangan Niky, namun saat kaki itu akan dilangkahkan, Niky menahan lagi.


"Tunggu.." Susah payah Niky berucap. Rongga dada wanita itu terasa sangat sesak, leher Niky rasanya seperti dicekik dan kesulitan bernafas. Inikah kenyataan?


Penyesalan memang selalu datang di akhir, dan kita hanya akan menyadari seseorang sangat berharga adalah ketika kita Kehilangan~


Nikita bangun dan mensejajari Eza yang sudah membelakanginya. "Aku minta pelukan tulus kamu untuk terakhir kali, buat yakinin aku kalo ini semua bukan mimpi." Lirih wanita itu berucap diiringi isakan sisa tangisnya.


"Aku gak bisa. Aku gak mau." Apapun alasannya Eza tidak mau memberikan permintaan Nikita meskipun untuk terakhir kali. Ia tidak ingin menyakiti Alita meskipun gadis itu tidak ada disana.


"Untuk yang terakhir, Kak."


"Buat apa aku meluk kamu, kamu lagi dipeluk rasa sesal sekarang." Tanpa menoleh lagi, Eza melenggang meninggalkan Nikita. Membuat gadis itu semakin tidak percaya dengan segala yang terjadi.

__ADS_1


Aku bener-bener kehilangan dia~


__ADS_2