
Nikita melakukan pengakuan dosa tentang apa yang telah ia sembunyikan sejak awal mereka menikah. Mengakui bahwa ia memang sengaja menggunakan alat kontrasepsi agar ia tidak hamil. Selama ini Nikita hanya berpura-pura bahwa memiliki anak adalah sebuah impian yang sulit sekali untuk diraih. Kenyataanya Nikita yang selama ini sama sekali tidak siap untuk memiliki seorang anak. Nikita masih ingin menikmati bagaimana menjadi pasangan muda yang hidup berdua namun masih bisa berkarir juga.
Meskipun pada akhirnya Nikita malah khilaf dan kelewat batas. Hingga akhirnya berkhianat dan mencampakkan Eza yang begitu mencintai dirinya. Nikita terlanjur melajur nafsunya mengejar sebuah kepuasan hidup. Nikita selalu berpikir bahwa Eza akan selalu merentangkan tangan menerima dirinya. Tapi ternyata Nikita salah, Eza justru tidak menerima dirinya sama sekali.
“Aku gak peduli, apapun yang kamu katakan aku gak peduli Nikita! Mending sekarang kamu pergi!” Tidak pernah Eza bersikap sekasar ini terhadap siapapun, apalagi kepada Nikita. Wanita yang pernah mengisi hati dan hidupnya, wanita yang dulu pernah sangat ia cintai. Cinta eza kini milik orang lain, milik Alita.
“Bukannya kamu cinta banget sama aku? aku mengaku salah, tapi aku mohon maafin aku. Aku mau kita rujuk lagi.” Ekspresi Nikita begitu menyedihkan. Entah sungguhan atau kembali bersandiwara, yang jelas Eza tidak akan terkecoh lagi. Sudah tidak ada lagi ruang di hatinya untuk wanita yang menghiba memohon ampunan itu.
“Kamu sendiri yang ninggalin aku! Masih inget gak sih kata-kata menyakitkan yang kamu ucapkan dengan gamblang saat kamu ninggalin aku? Ataaaau perlu aku ulang agar rasa sakit hati aku jadi double?”
Gulp!! Nikita menelan ludahnya sendiri. Kenapa Eza jadi seperti ini. Laki-laki yang sangat mencintainya itu sungguh berubah drastis. Apa Eza sudah memiliki wanita lain? pikirnya.
“Aku gak mau selamanya hidup[ berdua, ski pengen kita punya anak! Aku gak bisa terus-terusan hidup sama cowok mandul kayak kamu! Haha.. Puas kamu Nik? Kata-kata itu bahkan masih jelas terngiang ditelingaku. Jadi jangan jilat ludah kamu sendiri, karena kamu sendiri yang buang aku!” Eza tersenyum sarkas saat mengingat bagaimana Nikita mengucapkan kalimat itu tanpa beban. Tidak ada rasa sakit hati sama sekali. Yang ada Eza malah merasa jijik sendiri.
“Aku udah minta maaf, kak. Please maafin aku. Aku rela kamu mau ngasih hukuman apapun, yang penting kamu mau maafin aku.” Dengan raut wajah yang masih menghiba, Nikita tidak juga menyerah. Masih mengemis permintaan maaf dan berharap Eza akan luluh kembali.
__ADS_1
“Hukuman…” Hm.. Tawaran yang cukup menarik. Tentu saja, dengan senang hati. “Selamat kehilangan cinta yang besar, Nikita. Aku benci kamu dan itu hukuman buat kamu. Puas?” Luka masa lalu benar-benar merubah Eza, bahkan merubah bagaimana sikap Eza kepada Nikita. Semua kalimat Eza mengandung hardikan telak. Tidak ada tutur kata lembut atau menghargai lagi perasaan wanita itu. Yang jelas eza sudah sangat muak!
“Kak..” Mata Nikita mulai berkaca-kaca lagi. Semakin tidak menyangka setiap kata yang keluar dari mulut mantan suaminya itu. “Sumpah aku gak kenal kamu yang ini, kak. Apa kamu udah punya cewek lain?” Cewek mana yang udah ngerubah kamu jadi kayak gini? Apa cewek yang tadi nyambut aku hah?!”
“Pergi atau aku panggil polisi!” Eza sudah jengah menatap wanita yang kini menurutnya gila. Setelah apa yang dia lakukan, kenapa masih berani bertingkah seolah dia adalah sampah yang minta dipungut.
“Oke.. Oke aku pergi! Tapi jangan harap aku akan menyerah buat berusaha supaya kita bisa rujuk lagi!”
Cih, benar-benar wanita tidak tahu malu. Bukannya dia yang ngotot ingin bercerai waktu itu?
“Liat aja nanti!”
“Gak usah buang-buang tenaga. Kamu itu udah gak ada di kamus hidup aku!” Pelan tapi sakit. Eza kemudian kembali menunjuk pintu. Memberi isyarat agar wanita tidak tahu malu itu agar segera keluar.
Dengan perasaan geram dan tangan mengepal kemudian Nikita berbalik badan dan meninggalkan Eza. Sungguh Nikita jadi dibuat bingung. Benarkah itu Eza? “Sialan! Awas aja kamu!!” Nikita kemudian pergi dengan perasaan yang berapi-api.
__ADS_1
Huh~ Eza memijat pangkal hidungnya. Masih tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi. Setiap kalimat yang Eza lontarkan benar-benar diluar kendalinya. Tidak apalah. Nikita memang pantas untuk menerima itu setelah apa yang ia lakukan.
Lalu sedetik kemudian pandangan Eza melihat bungkusan buah tangan yang tadinya akan diberikan kepada Alita. Dan saat itu juga sontak Eza merasa disadarkan.
Sejak tadi kami bertengkar disini, lalu dimana Alita? Apa dia mendengar semua ini?
Tanpa pikir panjang Eza buru-buru berlari menuju lantai atas. Mengutuk dirinya sendiri di sela kayuhan kakinya yang secepat mungkin menaiki satu persatu anak tangga. Kenapa sampai melupakan Alita yang ada di rumah itu. Dan siapa yang tahu apa yang sudah dilakukan Nikita kepada Alita sebelum dia kembali ke rumah.
“Lit..” Panggil Eza saat pintu kamar itu terbuka. Eza kemudian masuk kedalam dengan langkah yang sangat pelan. Dilihatnya Alita sedang meringkuk diatas kasur sambil membelakanginya. Alita sedang mengelus-ngelus perut buncitnya dengan suara isak tangis yang tertahan.
“Aa’ udah pulang, kamu gak papa kan?”
Bersambung~
__ADS_1