Terjebak Kawin Kontrak

Terjebak Kawin Kontrak
Murung


__ADS_3

Semenjak kejadian kedatangan Nikita kerumah itu, Alita menunjukan perubahan drastis sekali. Jika biasanya Alita bawel dan ceria, kini gadis yang tengah berbadan dua itu terlihat menjadi pendiam. Bukan hanya Eza yang merasakan perubahan itu, Bik mumun yang hanya seorang asisten rumah tangga pun melihat perbedaan itu.


"Non Alit kenapa yaa? gak biasanya." ujar Bik mumun saat melihat Alita berjalan menuju laundry room tanpa menyapa dirinya. Wajah Nona Mudanya itu selalu datar tanpa senyuman. Sangat tidak cocok dengan karakter manis dan natural seperti biasanya.


Alita bersikap seperti itu hanya menyiapkan diri dan hatinya, sebelum kepahitan yang lebih besar menerpanya nanti, Alita harap sudah tidak kaget lagi saat waktu itu tiba. Tanpa pemahaman yang cukup, Alita masih mengira bahwa Eza dan Nikita adalah pasangan suami istri dan Alita hanya seorang istri muda. Biasanya Alita tidak pernah seperti itu, sepahit apapun kenyataan yang dia hadapi, Alita tidak pernah menyembunyikan senyumannya. Gadis itu selalu tersenyum entah itu palsu atau sungguhan. Dan karena hormon kehamilan juga, bersikap seperti itu seolah sempurna dimainkan oleh Alita.


"Non apa kabar? gimana kandungannya?" Bik mumun memberanikan diri untuk menyapa terlebih dahulu saat Alita sudah kembali dari laundry room dengan ekspresi yang masih sama.


"Eh.. Baik bik." jawab Alita lirih. Alita terlihat tidak bersemangat sama sekali. Suara Alita menyiratkan bahwa ia sangat tidak berdaya.


"Lesu banget keliatannya.. Kalo Non kurang enak badan istirahat aja Non.. Biar bibik aja yang beresin kerjaan hari ini." Prihatin. Bik mumun merasa prihatin jika melihat Alita. Apalagi setelah mengetahui kehidupan gadis itu sebelumnya dan bagaimana gadis itu bisa berada dirumah ini. Sebagai seorang wanita, bik mumun juga tidak tahu bagaimana jadinya jika dirinya berada diposisi seperti Alita.


"Alit gakpapa kok bik." Alita mencoba mengulas sebuah senyuman. Meskipun terpaksa tapi Alita berusaha untuk itu. "Tapi Alit emang sedikit lemes, gakpapa ya kalo Alit hari ini gak bantuin bibik."


"Iya Non, apalagi Non lagi hamil. Gak boleh terlalu capek.. Biar bibik aja yang ngerjain semuanya.." Bik mumun tahu bahwa Alita sedang tidak baik-baik saja. Jika bisa menghibur, bik mumun ingin sekali menghibur gadis itu. Tapi bagaimana caranya bik mumun tidak tahu.


"Yaudah makasih yah bik, nanti kalo Alit udah enakan Alit bantuin bibik lagi kok."


"Gak usah sungkan Non,- Mau bibik buatin sesuatu gak?"


"Enggak bik, Alit mau ke atas aja.. Alit pengen tiduran." Tidak. Alita tidak menginginkan apapun. Alita hanya ingin diam dan sendirian. Seorang wanita yang tidak berdaya memang selalu bingung untuk menempatkan diri, tidak tahu harus bersikap seperti apa. Kerisauan akan nasib membuat Alita benar-benar gundah gulana. Membuat gadis itu murung dan kehilangan ceria.


Alita sudah berada dikamar utama. Mengedarkan pandangannya diruangan itu. Menyusuri kamar sambil meraba benda-benda yang ada disana dengan sentuhan jari.


 

__ADS_1


Haahh~ Alita membuang nafas tertahan. Dada Alita rasanya penuh dengan sesuatu dan membuatnya menjadi sesak. Menangis pun percuma, kering sudah air mata Alita. Sebanyak apapun ia menumpahkan air mata, itu semua tidak akan merubah apapun.


Suasana hening dikamar itu membuat Alita menatap pantulan dirinya sendiri didalam cermin. Berusaha berbicara dengan dirinya sendiri sebagai pemecah keheningan.


"Bu.. Tolong ajarin Alit gimana caranya merelakan yang memang bukan milik Alit. Gimana cara Alit untuk ikhlas tanpa membenci, karena ternyata kata ikhlas itu tidak semudah yang Alit ucapkan." Alita murung sambil memperhatikan dirinya dipantulan cermin.


"Senyum ituu... Tawa itu.... Wangi parfume yang selalu mendamaikan saat A' Eza meluk Alit, sentuhan lembut yang selalu A' Eza berikan buat Alit. Perhatian dan cinta dari A' Eza... Alit gak mau kehilangan itu semua.. Alit sayang sama Aa'." Pikiran Alita terlalu rumit. Andai saja Alita mengerti bahwa Eza mengatakan Nikita adalah mantan istri sebagai bekas istri, Alita tidak perlu menjadi seperti itu. Alita ketakutan sendiri padahal semua keadaannya baik-baik saja.


 


 


Hey Alita... sadarlah. Cintai dirimu lebih dari kamu mencintai siapapun, kamu harus berdamai dengan dirimu sendiri. Agar mudah melawan asa dan segala duka yang sering menghantammu itu. Pejamkan matamu, rasakan semua rasa yang bersarang dalam dirimu. Sedih, sakit, kecewa, benci, dendam dan semuanyaaa, ajak mereka berdamai. Jangan kau lawan, terima saja. Jangan biarkan dukamu kamu pikul dibahu. Membiarkan dia sendirian seperti kamu yang ditinggal sendirian. Ucapkan bahwa kamu berharga, bahwa kamu mencintai dirimu lebih dari apapun. Lalu menangislah..


Menangislah jika memang ingin menangis, menangislah seapaadanya. Luangkan waktu sejenak untuk memberi ruang kepada diri merasakan segala rasa. Luka bathin yang tidak kunjung pulih salah satunya karena sering tertawa berpura-pura, menahan tangis sampai se-begitunya. Belajarlah dari anak kecil yang tertawa dan menangis penuh kemerdekaan. Menangis bukan berarti dirimu lemah luka itu akan perlahan sembuh seiring keringnya air mata yang kamu tumpahkan.


 


 


~


 


 

__ADS_1


Eza pulang lebih awal karena merasa gelisah mengingat Alita. Meskipun Eza berkutik dengan pekerjaan namun hati Eza berada dirumah bersama Alita. Eza benar-benar tidak tenang maka dari itu, Eza buru-buru pulang.


"Eh.. Tuan, tumben sudah pulang.." Bik mumun menyambut majikannya yang pulang sangat awal. Seharusnya Eza pulang 4 atau 5 jam lagi.


"Lagi pengen cepet pulang aja. Alita dimaba bik?" tanya Eza sambil mengayuhkan kaki memasuki rumah.


"Non Alit daritadi dikamar Tuan." jawab bik mumun sambil mengikuti langkah Eza. "Non Alit keliatannya murung gitu."


"Kemaren Niky dateng kesini. Saya gak tau apa yang dia lakuin ke Alita, soalnya saya lagi gak dirumah." Sebagai anak tunggal yang jauh dari orang tua, Eza memang terbaisa berbagi cerita dengan bik mumun. Hampir semua tentang Eza, bik mumun pasti tahu meskipun tidak seratus persen. Karena bik mumun sudah menjadi seorang asisten rumah tangga sejak Eza masih kecil.


"Astaga! Duh saya jadi ngeri Tuan. Soalnya tahu sendiri kan Non Niky jadi seperti apa akhir-akhir ini."


"Yagitudeh.. Saya ke atas dulu yaa, Bibik kalo udah selesai boleh langsung pulang aja."


"Iya Tuan. Saya cuma mau titip pesen, lindungin terus Non Alita ya Tuan. Saya gak tega.."


"Iya bik tenang aja."


Eza kemudian setengah berlari menuju kamar utama. Dan setibanya disana Eza mendapati Alita sedang tertidur diatas kasur. Eza kemudian menyimpulkan senyuman sambil menghampiri Alita.


Kenapa yaa Aa' jadi khawatir terus sama kamu. Batin Eza sambil menatap Alita yang sedang terpejam. Dan saat Eza mau ikut merebahkan diri dikasur, tiba-tiba ada yang mengganjal dibawah bantal. "Apa ini?" ujar Eza sambil mengambil benda yang ternyata adalah album foto pernikahan dirinya bersama Nikita. "Yaampun. Kenapa masih ada disini sih?"


Apapun yang menyangkut tentang Nikita sudah tidak berarti lagi bagi Eza. Lelaki itu tidak segan untuk membuang album foto itu. Eza kemudian kembali keatas kasur dan merebahkan diri sambil memeluk Alita.


 

__ADS_1


Bersambung~


__ADS_2