
Pagi-pagi sekali sebelum Mutia berangkat ke sekolah, Amira sudah berdiri didepan pintu kamar Mutia dengan penuh keraguan, satu tangganya berada didada sementara tangan yang lainnya menggenggam sesuatu dengan sangat erat.
Jantung nya berdegup kencang seiring dengan tangannya yang mengetuk pintu kamar anak gadisnya itu dengan pelan
"Mutia?" Panggilnya
Samar-samar didengarnya suara Mutia menyahuti nya, tak lama kemudian, Mutia yang sudah mengenakan seragam sekolah putih abu-abu nya membuka pintu,
"Iyaa ma?"
Amira masuk ke kamar bernuansa merah muda tersebut memandang sekitar dan tatapannya berhenti pada kalender diatas meja belajar, ada banyak tanggal yang dilingkari bolpoin warna hitam, sejenak ia diam, mengira-ngira apa maksudnya lingkaran tersebut.
Mutia ikut menengok ke arah yang sama, melihat bagaimana cara ibunya melihat kalender tersebut dan membuatnya gemetaran dan ketika ibunya itu menoleh padanya cepat-cepat dia memalingkan wajah dan berpura-pura sibuk dengan memeriksa isi tas sekolahnya.
"Mama mau tanya sama kamu dan kamu harus jawab jujur" ucap Amira sehingga Mutia menghentikan kegiatannya
Takut-takut Mutia membalikan badannya dan menatap wajah ibunya
"Tanya apa ma?"
"Apa kamu Sama Miko melakukan sesuatu diluar batas?"
Mutia bungkam disertai jantungnya yang berdegup kencang,
"Waktu kamu tidur dirumah Tante Sera, kamu ngapain sama Miko?"
"Ng-nggak ngapa-ngapain kok"
Amira tau-tau mengasurkan sebuah benda berukuran kecil seperti penggaris kehadapan Mutia "mama mau kamu Tess ini".
Mutia melotot melihat benda itu, setahu nya itu merupakan alat tes kehamilan, benda yang ingin dia coba beberapa waktu lalu,
"Mama apaan sih, mama nggak percaya sama Mutia?"
"Kamu banyak bohongnya sekarang pokoknya mama mau kamu tes sekarang juga!" Tekan Amira sambil kembali menyodorkan alat tes kehamilan tersebut kehadapan Mutia.
Mutia gemetar menatap benda itu
"Eng-enggak Mutia gak mau"
"Mutia mama bilang tes!, Kalau kamu sama Miko nggak ngapa-ngapain kenapa harus takut"
Mutia tidak tau harus mengatakan apa lagi dengan sangat terpaksa dia mengambil tespack tersebut dengan gemetar
"Sekarang" ucap Amira lagi penuh tekanan
Mutia menelan ludah susah payah dan berjalan masuk ke kamar kecil yang ada dipojok ruangan.
Selama kurang lebih empat menit Mutia berada disana, sedangkan diluar Amira sedang berusaha menata detak jantung nya berulang kali diusap nya punggung tangan dan lehernya, was-was menanti hasil tes tersebut.
Dia berharap asumsi nya selama ini salah, namun melihat tingkah laku nya Mutia belakangan ini rasanya kecurigaan itu semakin menjadi dan membuatnya dilema.
__ADS_1
Mutia tidak lagi seperti anak gadisnya yang ceria dia cenderung tertutup dan setiap hari nyaris menghabiskan waktu pulang sekolah nya dikamar, makanan yang selalu dihidangkan dimeja makan tak lagi disentuhnya dengan semangat dia terlihat lesu berkepanjangan, Mutia seperti perempuan yang sedang hamil muda.
Namun bisa saja ia salah, ia hanya begitu khawatir meskipun Miko dan Mutia tidur dalam satu kamar bukan berarti sesuatu terjadi diantara mereka, miko anak yang baik, Miko sangat menghargai Mutia, dia percaya itu, selain itu tidak semua yang dialami Mutia merupakan gejala awal kehamilan, mungkin saja dia memang kelelahan dan tidak mau banyak-banyak makan seperti biasanya.
Semoga saja dugaan ku salah
Tuhan tolonglah semoga ini salah.
Tidak lama kemudian Mutia keluar dengan wajah pucat pasi.
Amira menatapnya dengan penuh tanya "berapa garis?"
Bibir itu gemetar namun tetap terucap dengan terbata, "Du-dua garis ma"
Amira jatuh terduduk diatas ranjang seluruh tubuhnya terasa gemetar setelah mengetahui kenyataan bahwa hasil tes tersebut menyatakan kalau saat ini Mutia positif hamil, rasanya tak ada lagi ruang untuknya bernapas, Amira pun menangis terisak-isak
"Ya Allah Mutiaaaa!, kok bisa sih nak!"
Mutia ikut menangis dan bertekuk lutut didepan nya, "ma ,maafin Mutia ma, maafin Mutia"
Amira tiba-tiba menarik bahu Mutia dengan mengguncang-guncangnya dengan penuh emosi, "kenapa kamu ngelakuin itu?, Apa kamu nggak mikirin akibat dari perbuatan itu?kamu nggak mikirin masa depan kamu? Mutia apa kata orang-orang soal kamu dan keluarga kita mutiaaaaa!"
Amira memukul-mukul bahu Mutia seperti orang kesetanan, "kamu masih sekolah! Kamu masih muda! kenapa kamu malah bikin hancur masa depan kamu sendiri! anak gak tau diuntung kamu!"
"Ampun ma ampun!" Mutia menangis sambil melindungi dirinya dari amukan sang ibu
Tau-tau terdengar suara langkah kaki mendekat, "ma ada apa?" Ucap agy menarik Mutia dan berdiri membelakanginya, "kenapa mama mukulin Mutia kaya gini? Ada masalah apa ma?"
Seumur-umur agy tidak pernah melihat ibunya marah sampai memukul meraka, karena ia tau beliau adalah orang yang sabar dan tidak ringan tangan.
Amira menutup mulutnya menangis terisak-isak, "Mutia gy, Mutia hamil"
Agy tampak tertegun sejenak sebelum menoleh menatap Mutia yang terlihat ketakutan
"Siapa?" Tanyanya menatap Mutia dengan sorot tajam "Miko?"
Mutia mau tak mau mengangguk serta Merta agy memukul meja belajar didepannya lantas berjalan cepat keluar dari kamar.
Dibelakang nya Amira dan Mutia menyusul sambil berlari kecil
"Ada apa ini, kok pagi-pagi pada ribut?" Doni bertanya keheranan
Agy menggertakan giginya kemudian menjawab, "Miko pa, Miko sudah buat Mutia hamil aku harus kasih pelajaran sama dia!"
"Apaa!" Doni lantas menoleh menatap Mutia yang berdiri dengan tubuh gemetar diujung tangga, "kamu hamil?"
Mutia memeluk tubuhnya mengangguk pelan, Mutia melihat jelas sorot kecewa yang terpancar Dimata sang ayah. Mutia sempat berfikir kalau ia akan diamuk oleh ayahnya, akan tetapi pria paruh baya itu justru terdiam seakan-akan mencoba mengendalikan emosi nya.
Tau-tau terdengar pintu dibanting Meraka lantas berlari keluar rumah menyusul agy yang sudah berlari menyebrang jalan menuju rumah Miko.
Tanpa mengucapkan Salam atau permisi agy langsung masuk kedalam rumah bergaya minimalis tersebut, langkahnya berhenti tepat diruang makan dimana saat itu Miko dan keluarganya sedang sarapan pagi.
__ADS_1
"Agy?" Ucap Sera tampak terkejut dengan kehadiran agy yang tiba-tiba,
Agy mengepalkan tinjunya dan menyerang Miko, memukuli Wajahnya berkali-kali sampai keduanya jatuh kelantai
"Astaghfirullah ada apa ini?" Sera memekik kaget begitu melihat anaknya dipukuli dengan membabi buta.
"Agy sudah apa-apaan kamu!?,kenapa kamu pukuli Miko?" Sergah Adi papanya Miko seraya memisahkan Miko dari agy yang terus menghajarnya
"Dia udah hamilin Mutia om!" Seru agy dengan deru napas nya yang memburu
"A-apa Mutia hamil?" Seru Sera terkejut bukan main
Miko mengusap darah yang keluar dari hidungnya akibat pukulan agy, Miko tidak mungkin membalas, karena menyadari dirinya memang salah dan pantas menerima nya, disudut ruangan dilihat nya Mutia menatapnya iba.
Akhirnya mereka tau sepandai-pandainya menyimpan bangkai baunya pasti akan tercium juga.
Diruangan keluarga itu saling berkumpul, diluar matahari sudah mulai tinggi dan hawa diruangan itu pun tak kalah tinggi, semua rasa seakan menjadi satu, sedih, kecewa,marah dan sesal, semuanya hancur karena satu malam yang fatal.
Miko dan Mutia duduk bersebelahan disofa tengah, Sementara masing-masing orang tua duduk disebelah mereka.
"Mutia kamu yakin,kamu hamil dengan Miko?" Setelah lama terdiam sera justru menanyakan hal yang langsung membuat Amira naik darah
"Maksudnya ser?, Kamu pikir Mutia itu bukan anak baik-baik apa!?"
"Kalau anak baik-baik nggak mungkin bisa hamillah mbak, lagian Mutia itu suka pulang malam keluyuran sama teman-temannya
"Eh anak saya begitu juga karena anak kamu ya!, Semenjak Miko dekat dengan Mutia, Mutia jadi sering bohong sama saya!"
Miko dan Mutia hanya tertunduk dalam, mendengar perdebatan itu, akibat ulah mereka hubungan yang semulanya keluarga meraka erat, kini ibarat cermin yang sudah retak, masing-masing mereka seperti sudah kehilangan rasa hormat.
"Mbak kan guru ya!, Harusnya mbak bisa dong mendidik anak mbak dengan baik dan benar, kalau kejadian seperti ini yang disalahkan anak saya, mentang-mentang anak saya laki-laki dia yang paling disalahkan begitu?"
"Saya orangtua dan guru saya sudah mendidik anak saya dengan baik dan benar, saya limpahkan Meraka dengan kasih sayang dan perhatian tapi...tapi..." Amira tak kuasa menahan tangisannya, hatinya hancur lebur menerima kenyataan ini, bayangan akan masa depan Mutia pun kini membuatnya takut, belum lagi sanksi sosial yang akan didapatkan nya
Adi berdeham, "sebelum nya saya minta maaf karena Miko sudah melakukan hal itu terhadap Mutia yang sudah saya anggap anak saya sendiri", Adi kemudian menoleh menatap Miko, "Miko kamu siap jadi orangtua? papa sudah gagal mendidik kamu"
Miko tidak menjawab jemarinya bertautan gemetar
"Kamu tuh masih orangtua yang ngasih makan, sok-sokan mau punya anak, mau kamu kasih makan apa Meraka nanti, terus sekolah mu itu gimana, mau diberhentikan begitu saja, kamu mikir sampai situ gak sih!?" Sera menimpali dengan emosi
"Yasudah kita nikahkan saja meraka." tutur Adi kemudian
"Hah nikah pa, ya nggak mungkin lah pa kan Miko masih sekolah, kalau begitu Miko harus putus sekolah dong, enggak, enggak, mama gak setuju!"
"Jadi maksud kamu apa ser? Miko harus bertanggung jawab atas perbuatannya Mutia hamil kan gara-gara dia!"
"Sudah sudah jangan bertengkar terus, Kita selesaikan masalah ini baik-baik" Doni akhirnya bersuara.
"Miko apa kamu mau bertanggung Jawab atas perbuatan yang kamu lakukan, apa kamu siap menikahi anak om?"
Miko merasakan semua orang menatapnya, perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya kemudia menjawab pelan, "saya...saya belum siap om." Miko beralih menatap Mutia disampingnya yang tampak terkejut mendengar pengakuan nya
__ADS_1
"Sorry aku nggak siap Mutia."
Bersambung...