
"Mbak tau nggak?"
Amira menoleh menatap rekan kerjanya yang baru saja duduk dimeja sampingnya, kemudian bertanya, "tau apa?"
"Aku lagi ngisi hehehe"
Amira tampak sumringah, "wah selamat ya pantesan saya perhatikan kamu belakangan ini lesu, kaya nggak bersemangat gitu, ternyata lagi hamil muda".
Rekan kerjanya itu terkekeh sambil merapikan pinggiran hijabnya, "iya mbak, aku seneng banget, tapi hamil muda emang suka yang asem-asem ya mbak? Masa sekarang aku sukanya makan yang asem-asem, kayak mangga muda, buah jeruk dan Eneg banget lagi kalau ngeliat nasi."
Senyum diwajah Amira seakan sirna, terbayang olehnya adegan saat dimeja kemarin saat Mutia menolak memakan nasi dan lebih memilih buah jeruk.
"Mbak Amira kan, lebih pengalaman dari aku hehehe"
Amira tersenyum, "hamil muda emang begitu tapi nanti kalau sudah masuk empat bulan nggak lagi kok"
"Oh gitu, lama juga ya, empat bulan sedangkan ini masih enam Minggu"
Amira tak berniat merespon lagi karena pikirannya kini sedang berkecamuk.
Bagaimana kalau Mutia ternyata...
**
"Nyari apa?" Tanya Amira saat ia menemukan Mutia sedang mencari-cari sesuatu dikulkas
Mutia menutup lemari pendingin tersebut sambil menjawab, "nyari jeruk tapi udah habis"
Amira mengerjapkan matanya lalu menaruh sebuah plastik diatas meja makan "ini mama baru beli"
Mutia langsung terlihat sumringah dan lekas membuka plastik tersebut, dia mengambil dua buah jeruk dan membuka salah satunya, Mutia tidak sadar kalau gerakannya itu dalam pengawasan ibunya.
"Kamu udah makan?" Tanya Amira lagi sambil berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan
"Barusan makan mie instan"
"Kan mama masak ayam kecap kesukaan kamu" ucap Amira lalu mencengkram kran air dengan gusar
"Iya ma, tapi Mutia lagi gak mau makan ayam"
"Kenapa?"
"Nggak tau, eneg aja"
Amira ber-oh kecil kemudian meraih cangkir dan mengisinya dengan air putih lalu meneguknya hingga habis.
"Kamu udah mens?" Tanyanya lagi sambil menoleh menatap Mutia
"U-udah kemarin" jawab Mutia lalu "Mutia lupa kalau ada pr Mutia kekamar dulu ya ma"
Amira menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya perlahan, "ya Allah kenapa aku merasa kalau anakku..."
Detik berikutnya ia menggeleng kuat
"Enggak, mungkin hanya perasaanku saja"
__ADS_1
Keesokan paginya
"Ma, kak Mutia kenapa sih dari tadi muntah-muntah terus dikamarnya?"
"Masa?"
Kansa meraih gelas berisi susu lalu meneguknya sedikit, "iya barusan Kansa kekamar nya terus kak Mutia uwek-uwek gitu"
Saat Amira hendak beranjak untuk menghampiri mutia dikamarnya, Mutia sudah lebih dulu turun dengan tergesa-gesa.
"Ma Mutia berangkat ya, Mutia nggak sarapan soalnya nggak sempat" ucap Mutia lalu berjalan cepat keluar rumah.
Amira hanya menatap punggung anak gadisnya itu dengan penuh tanya,
Mutia tidak pernah mengira jika kejadian pulang sekolah saat digudang kemarin sudah tersebar begitu cepat disekolah dan langsung menjadikannya pusat perhatian dan topik pembicaraan, banyak dari mereka yang menatapnya simpati, tapi banyak juga yang mencibirnya secara blak-blakan, seperti saat dirinya duduk dikantin sendirian dimeja seberang ada sekumpulan cewek yang dengan terang-terangan menggosipkan nya.
"Ya iyalah secara lihat gayanya pakai baju ketat begitu, gimana nggak bikin cowok-cowok melotot?"
Mutia menunduk sedikit, melihat kemeja sekolahnya yang ketat dan rok lipat yang posisinya ada diatas lutut sedikit.
"Itu mah bukan pelecehan tapi dasarnya suka sama suka!"
Mutia meremas roknya dengan penuh amarah
"Hahaha lagian mereka bukannya temen ya?"
"Si Ravel itu kan cowoknya bunga ya, ah gila sih, gue rasa dia sengaja deh ngegodain tuh cowok karena kemarin si bunga ngebentak dia gitu dikantin, pada ingat gak?"
"Oh yang itu, wah jangan-jangan iya tuh soalnya kan meraka udah gak temenan lagi"
"Nggak nyangka ya kelihatannya kalem gitu gak tau nya.."
Terlalu lelah untuk membalas, Biarlah terserah Meraka mau bilang apa toh penjelasan pun rasanya percuma tidak ada yang bisa mengendalikan pikiran seseorang bukan?
Pada saat yang sama dimeja lain ada putri dan yang lainnya disana, ikut mendengar perkataan cewek-cewek tersebut tadi sambil memperhatikan reaksi Mutia yang tampak berusaha menahan amarahnya.
"Kok bisa ya satu sekolah tau?, Padahal kan kita belum ada yang bilang apa-apa" seru cia terheran-heran
Putri mendengkus, "pasti selain kita, kemarin itu ada orang lain juga disana".
"Kasian Mutia malah jadi bahan gibah"
"Nggak tau kenapa, aku ngerasa ada sesuatu yang beda gitu dari dia, dia gak ceria seperti biasanya, dia seperti kehilangan rasa percaya dirinya" ucap putri kemudian mengembuskan napas panjang.
"Kenapa ya" timpal Fani
"Udahlah nggak usah ngurusin dia, dia aja nggak anggap kita temennya", ucap Lista sambil mengaduk teh manisnya tanpa minat lalu berkata lagi "disaat dia lagi ada masalah begini, biarin dia mikir ada nggak, temannya yang seperti kita yang selalu ada buat dia yang selalu ngasih perhatian sama dia dan ngehibur dia karna gak semua orang yang dia pikir teman benar-benar teman",
Putri dan yang lainnya mengangguk mendengar perkataan Lista tersebut, walau bagaimanapun juga Mutia sendiri yang telah menciptakan jarak diantara mereka.
Setibanya dikelas seorang cewek tampak terburu-buru menghampirinya
"Mut, itu simiko lagi berantem sama si Ravel dibelakang perpus!"
Mutia terperangah, "hah, berantem?"
__ADS_1
"Iya buruan deh kesana"
Lalu Mutia bergegas berlari mengikuti cewek itu menuju belakang perpustakaan, benar saja ditengah-tengah kerumunan itu tampak Miko sedang beradu jotos dengan Ravel, wajah keduanya tampak lebam akibat saling menonjok satu sama lain.
Mutia melihat sekeliling tapi tak ada satupun dari mereka yang menonton yang mau melerai keduanya, mau tak mau Mutia akhirnya maju dan menarik Miko menjauh
"Miko udah plis! Udah!" Ucap Mutia dengan suara rendah namun terkesan penuh emosi
Ditahan Mutia dengan jari-jarinya yang mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat, tak urung membuat Miko akhirnya berhenti menyerang ravel,
Ravel menghampiri Miko dan berbisik ditelinga nya, "cuma gara-gara cewek kaya dia Lo bikin gua babak belur ko? Kenapa Lo bisa pake cewek-cewek gua, tapi gua gak bisa pake dia?"
Miko menggertakkan giginya, "Dia bukan cewek murahan kaya cewek-cewek Lo!"
"Jadi Lo bayar berapa dia sebelum Lo tidurin?" Tanya Ravel sambil tersenyum menyeringai
Miko melayangkan tinjunya sekali lagi ke wajah Ravel, sebelum akhirnya pergi dari sana sambil menggenggam tangan Mutia
Ravel mengusap pipinya yang terasa perih sebelum berkoar-koar menyuruh Meraka yang menonton perkelahian tadi untuk membubarkan diri.
"Sialan! Nama gue jadi jelek gara-gara tuh cewek!" Umpat nya kesal bukan main,
"Ngapain berantem?" Tanya Mutia setelah Meraka tiba ditempat parkir, untuk sekarang hanya tempat itu yang sepi dan Mutia rasa aman untuk membicarakan hal-hal yang berbau rahasia pada Miko.
"Kenapa ga bilang aku, kalau kemarin Ravel macem-macem sama kamu?"
Ketimbang menjawab pertanyaan Miko, Mutia justru mengatakan sesuatu yang membuat Miko mendadak tegang.
"Aku telat mens, udah sepuluh hari"
Sesaat Mutia melihat keterkejutan Dimata Miko
"Bi-biasanya gimana?"
Mutia menatap sepasang mata yang dipenuhi rasa takut itu dengan seksama, "biasanya enggak gimana kalau aku hamil"
Miko menggigit bibirnya dengan gusar "jangan sampe, aku bisa mati dibuat bang agy sama papa kamu dan orangtua ku juga"
"Kalau aku beneran hamil gimana?" Tanya Mutia disertai degup jantungnya yang berdebar kencang.
Miko menatap Mutia dengan mata membelalak, "plis jangan sampe, aku nggak bakal siap"
Mutia bungkam ditelan rasa kecewa
Siapa yang siap dengan kenyataan itu seandainya benar terjadi, dia pun tidak siap dan tidak akan pernah siap.
Disisi lain Amira sedang membeli obat
"Tolong obat sakit kepalanya satu bungkus ya" ucap Amira pada seorang penjaga apotek
Belakangan ini kepalanya sering diserang migrain dan ia butuh obat untuk meredakan nya.
Perempuan muda itu mengangguk dan segera memberikan obat yang Amira minta, kemudian bertanya "ada lagi Bu?"
Amira menggeleng dan tersenyum namun ketika hendak melakukan transaksi dia teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Tes pack-nya satu" ucapnya lebih cepat dari yang dia rencana kan.
Bersambung....