
"Happy birthday to you! happy birthday to you!"
Mutia yang baru keluar dari kamarnya terkejut saat mendapati keluarganya dan keluarga Miko berkumpul diruang tengah sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun tepat saat ia keluar kamar.
Perasaan haru pun menyelusup kedalam dirinya seketika, lalu dia tersenyum dan berjalan mendekati agy yang mengasurkan sebuah kue dengan lilin-lilin kecil menyala diatasnya.
"Selamat ulang tahun adekku sayang" ucap agy sambil tersenyum
"Selamat ulang tahun ya sayang" ucap ibunya menimpali
Kemudian suara-suara lainnya menyusul mengucapkan selamat ulang tahun kepada Mutia, Mutia hanya mampu mengangguk dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih.
Ini bukan yang pertama baginya, tahun-tahun sebelumnya pun keluarganya dan keluarga Miko akan merayakan hari jadinya bersama-sama, keluarganya sudah menganggap keluarga Miko seperti kerabat sendiri itu sebabnya setiap ada acara apa pun dikeluarga mereka, keduanya akan mengundang satu sama lain.
"Selamat ulang tahun ya kak, semoga apa yang kakak cita-citakan segera terwujud" ucap Hani sembari menyalami Mutia
Senyum itu pudar walau sedetik, perasaan bersalah itu kembali muncul dan peristiwa malam hari itu langsung terbayang oleh nya yang membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Selamat ulang tahun Mutia, semoga bisa menjadi anak yang membanggakan mama dan papamu, semoga diusia kamu yang sekarang tuhan memberikan kamu hadiah yang istimewa yang nggak pernah kamu duga sebelumnya amin." ucap ibunya Miko lalu mencium pipi Mutia dan memeluknya singkat.
Senyum itu ada diwajahnya namun terlihat menyedihkan dan untung nya tidak ada yang menyadari hal itu karena Mutia lekas menggantinya dengan tawa kecil meskipun tanpa humor.
"Makasih ya Tante." ucap Mutia pura-pura bahagia
Dia lalu melirik Miko yang duduk disofa dengan Kansa, lalu Miko menatap nya dan tersenyum
"Kenapa dia terlihat baik-baik saja?" Seru Mutia dalam hati
Mutia mencoba berfikir bahwa barang kali sebenarnya Miko pun memiliki beban yang sama dengannya, Miko juga pasti lah merasa bersalah, bagaimanapun juga yang meraka lakukan adalah kesalahan besar, akan tetapi saat ini mungkin dia tidak ingin merusak momen ultah Mutia, dengan sikap tenangnya saat ini membuktikan semua akan baik-baik saja.
Saat sedang asik berbincang-bincang tiba-tiba
"Kak nanti malam tidur dirumah lagi yuk, tapi tidurnya dikamar ku ya, jangan dikamar bang Miko lagi biar kita bisa nonton Drakor bareng-bareng."
Suara Hani barusan membuat fokus beberapa orang teralihkan, sementara itu jantung mutia dan Miko rasa-rasanya mau copot saat Hani bicara seperti itu.
Amira menoleh menatap Hani dan tersenyum "memangnya kapan kak Mutia dirumah Hani?"
"Kemarin Tante yang pas ada acara pesta dibandung itu, malemnya kak Mutia tidur dirumah"
Mutia merasakan lehernya kaku dia bahkan kesulitan untuk melarikan pandangannya dari Mata sang ibu yang menatapnya penuh arti, dan papanya dan agy yang juga menatapnya dengan pandangan yang sama.
"Oh jadi malam itu Mutia tidur dirumah ya" tanya Sera ibunya Miko sambil tersenyum bahkan tak ada ekspresi terkejut diwajahnya seolah-olah hal itu sudah biasa dan wajar.
"Iya ma." Hani menjawab
"Hahaha kebiasaan ya dari dulu nih anak dua nggak bisa dipisahin kayaknya, kamu nggak macem-macem kan bang sama Mutia"
Miko menggeleng cepat "ya enggaklah ma"
Agy menatapnya penuh intimidasi namun Miko pura-pura tidak menyadari nya.
Tepat pukul sepuluh malam, Miko dan keluarganya pamit pulang, ketika Mutia hendak menuju kamarnya terdengar suara agy yang memanggilnya, sambil menoleh ke sekeliling agy bertanya kepada Mutia dengan suara berbisik
"Benaran kamu tidur dirumah Miko waktu itu?"
Mutia tidak bisa ngeles lagi karena Hani sudah jelas-jelas mengatakannya.
"Iyaa" jawab Mutia
"Kok bisa, kapan kamu kesana"
"Nggak lama setelah Abang pergi"
"Ngapain kamu tidur disana memangnya kamu nggak punya rumah untuk tidur"
"Hmmm" Mutia menggigit bibirnya cemas
"Mutia! mama mau bicara sama kamu" ucap Amira yang tiba-tiba muncul
Menyadari kedatangan Amira, agy beranjak menuju kursi yang ada di dekat sana, menatap kedua nya dan menyimak pembicaraan mereka.
"Kamu ngapain tidur dirumah Tante Sera?, Dikamar nya Miko lagi, kan mama udah berapa kali bilang sama kamu, kamu sama Miko itu bukan anak kecil lagi, jadi gak wajar kalau kalian tidur bareng atau dekat-dekat lagi seperti dulu"
Mutia menunduk dalam, jari-jarinya gemetar
"Kalian pacaran?"
Pertanyaan itu Mutia kian gemetar "I-iya ma"
Amira mendengkus kasar "ngapain aja kamu sama dia dikamar, berdua-duaan kek gitu bukan muhrimnya tau gak"
"Nggak ngapa-ngapain kok"
"Nggak macem-macem kan"
"Nggak kok"
Amira memejamkan matanya sejenak untuk meredakan emosinya,
"Pokoknya jangan diulangi lagi, jangan sampai bikin malu orangtua."
Mutia menggangguk lalu cepat-cepat menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kamu juga bang, bisa-bisanya kamu nggak tau kalau Mutia tidur disana, disuruh jagain adiknya juga!"
__ADS_1
Agy meringis, "maaf ma agy beneran gak tau"
"Pusing mama liat adik kamu yang satu itu, sekarang-sekarang ini dia agak berubah, temen-temennya juga kelihatan bukan anak baik-baik, mama tuh nggak mau kalau adik kamu malah terpengaruh dan jadi ikut-ikutan"
Agy memahami maksud ibunya lantaran dia pun merasakan hal yang sama, dulunya Mutia adalah remaja polos yang apa adanya, suka belajar selalu diam dirumah, dan berpakaian sopan jika berpergian keluar tapi belakangan ini dia terlihat lebih dewasa dari yang seharusnya caranya berdandan, berpakaian, dan tingkah laku nya tampak bukan Mutia yang biasanya.
Tapi Waktu memang begitu cepat dalam merubah seseorang bukan?
Mutia kini sudah remaja dan masa SMA adalah masa-masa yang paling indah, jadi mungkin dia berpikir tidak ada salahnya apabila dia berubah menjadi seperti remaja lainnya, meski begitu agy berharap adiknya itu tidak terjun kepergaulan bebas.
Hari-hari pun berlalu...
"Gaes kalian perhatiin nggak? si Mutia belakang ini dia kok nggak pernah maen sama Adila dan Bunga lagi ya" tanya cia sambil matanya memperhatikan Mutia yang sedang makan sendirian dikantin.
Putri menoleh menatap kearah yang sama mengerjapkan mata dan mendengkus
"Dia kayaknya lagi ada masalah"
"Iya, dia kelihatan murung banget belakangan ini kenapa ya" ucap Fanny menimpali
Tepat saat mereka semua memperhatikan Mutia, Mutia menoleh kearah Meraka pandangan mereka pun bertemu untuk beberapa detik yang terlewat mereka habiskan dengan diam, lalu Mutia memalingkan wajahnya yang murung dan berdiri, ketika itulah tiba-tiba Adila dan Bunga datang dan tabarkan pun tak bisa dihindari.
Mutia jatuh tepat dibawah kaki bunga yang terang-terangan menatapnya dengan malas
"Makanya kalau jalan tu pake mata!"
Suara lantang bunga tersebut menarik perhatian orang sekitar, mereka pun heran setahu mereka Mutia dan bunga adalah teman baik, meraka selalu bertiga kemana-mana, tapi kenapa bunga malah membentak Mutia seperti itu.
Mutia bangkit berdiri dan beranjak begitu saja, tanpa mau repot-repot membalas perkataan bunga yang menyakitkan hatinya
Dia terlalu capek khususnya belakang ini entah mengapa.
Sementara itu putri memperhatikan punggung Mutia yang menjauh bahkan dari belakang pun ia bisa melihat ada beban berat yang sedang dipikulnya namun entah apa dan waktu pun berlalu.
"Kak Mutia kenapa, kok nasinya nggak dimakan" ucap Kansa malam itu di meja makan
Amira melirik Mutia yang terlihat hanya memakan sayuran saja, wajah anak gadisnya itu terlihat tidak seperti biasanya,
"Kamu sakit" tanya Amira
Mutia menggeleng, "enggak kok ma, cuma lagi gak nafsu makan aja, kalau liat nasi ngga tau kenapa rasanya eneg" jawab Mutia sejujurnya
Tidak ada yang menyadari saat Mutia menjawab pertanyaan itu raut wajah Amira berubah agak terkejut
"Kalau gitu makan sambalnya saja" tawarnya
"Eneg juga ma, Mutia makan buah aja" Mutia bangkit kemudian tangannya bergerak diatas piring berisi buah-buahan,
Amira menengok tangan Mutia yang tampak ragu menyentuh buah apel maupun pisang, jantung Amira berdetak kencang ketika Mutia meraih buah jeruk, buah yang biasanya tidak dia sukai, setalah mengambil dua buah jeruk Mutia lalu beranjak menuju kamarnya,
Mutia meraih kalender diatas meja belajar nya telat sepuluh hari seharusnya awal bulan kemarin dia sudah mentruasi, barang kali tanggalnya akan maju seminggu, Mutia berusaha berpikir positif ia pun membaringkan tubuhnya lalu tidur.
Keesokan paginya tepat saat dia hendak meraih tas sekolahnya rasa mual menderanya, Mutia berlari ke kamar mandi dan mencoba mengeluarkan isi perutnya tapi tidak ada yang keluar,
Sebenarnya ini bukan rasa mual pertama yang dialami nya namun sudah yang ke tiga kali dan selalu dimulai pada pagi hari.
Mutia kemudian memandangi pantulan wajahnya dicermin, wajah itu sedih tampak tidak bersemangat, sinar matanya redup seperti dirampas ketakutan kejadian malam itu telah merubah nya dan hari-hari pun tidak sama lagi seperti biasanya.
"Mutia?"
Mutia menoleh pada seseorang cowok yang memanggilnya saat ia melintasi koridor kelas yang pagi itu cukup sepi,
"Iya?" Sahut Mutia pada cowok itu yang ternyata pacarnya bunga Ravel
"Sendiri aja, Miko kemana?" Ucap Ravel celingukan seperti mencari-cari
"Mungkin ke kelas, kenapa"
Ravel tersenyum "hmm nanya doang, btw thanks ya kemarin"
Kening Mutia mengerut tak paham
"Kemarin?"
"You know lah yang kemarin digudang"
Mata Mutia terbelalak berubah masam, "gue nggak ikut-ikutan gue gak tau kalo kalian didalam"
"Oh ya?masaa? Nggak usah malu lagi mut, banyak yang bilang Lo itu cewe Miko yang paling polos, tapi sih gua gak percaya"
"Maksud nya?"
"Iya gue liat Lo bukan cewek sepolos itu gimana kalo kita jalan bareng"
"Lo pacarnya bunga kan"
"Iya kenapa"
"Kok bisa Lo ngajak cewe lain padahal Lo sendiri udah punya"
Ravel tergelak membuat Mutia terheran-heran
"Yaampun Mutia bisa ajalah, gue sama bunga tuh cuma main-main doang maksudnya gue sama dia pacaran buat senang-senang kaya Lo sama Miko juga"
"Guee sama Miko nggak main-main"
__ADS_1
"Ternyata Lo emang polos ya, Miko itu nggak cuma sama Lo aja tau, dia banyak pacarnya"
Mutia menggeleng percaya diri, "Miko nggak gitu"
"Yakin, berani taruhan?"
"Digudang pulang sekolah Lo liat Miko disana sama cewek" Ravel menjentikkan jarinya didepan wajah Mutia sambil menyeringai.
Mutia mau membuka mulutnya namun Ravel sudah keburu menjauh, lama Mutia berfikir Ravel pasti bohong dia cuma ingin mengerjai Mutia saja entah apa motivasinya, miko nggak mungkin kayak gitu, Mutia nggak akan datang kesana karna Ravel pasti bohong.
Akan tetapi Mutia malah datang, disinilah Mutia sekarang didepan gudang dia datang tak lama setelah bel tanda pulang sekolah berbunyi dan disana sudah ada Ravel bersandar disisi pintu gudang sambil tersenyum menyeringai.
"Gue yakin Lo pasti datang" ucap Ravel
Meski dirinya tidak percaya dengan omongan Ravel namun terselip keraguan dihatinya yang memaksa kakinya untuk datang kesana untuk membuktikan bahwa Miko tidak seperti yang dikatakan Ravel
Mutia mendengkus, "Miko mana?"
"Didalam masuk aja"
Sayang nya Mutia tidak melihat seringai yang muncul diwajah Ravel, terlebih saat Mutia mendorong pintu gudang dan melangkah kedalam.
Mutia celingukan dan nggak melihat ada siapa-siapa disana, ketika ia berbalik ravel sudah berdiri dibelakang nya dan menahan bahunya.
"Mau kemana Mutia" ucap Ravel dengan suara serak bergetar
Mutia terkejut bukan main dia langsung bergerak menjauh saat Ravel memegang dagunya.
"Ravel apa-apaan sih Lo" Mutia memekik namun Ravel segera membekap mulutnya
"Nggak usah teriak Mutia kita seneng-seneng bentar doang"
Mata Mutia melotot ketika dia merasakan tangan Ravel menyentuh dadanya alaram tanda bahaya seperti meledak dikepala nya serta Merta dia menginjak kaki Ravel dan hendak berlari meraih kenop pintu namun geraknya kalah cepat dengan Ravel.
"Apa salahnya sih seneng-seneng doang, gua udah lama pengen Deket sama Lo, kasih gua kesempatan Mutia" bisik Ravel ditelinga Mutia
"Lepasin gue vel jangan lakuin ini sama gue plis lepasin gue" Mutia mulai menangis akan tetapi Ravel masih memeluknya dari belakang dan dalam hati mutia berharap ada seseorang yang akan menolongnya saat ini, yang terlintas saat itu memang wajah Miko tapi bagaimana caranya menghubungi Miko disaat seperti ini, semua gerakannya dikunci oleh tangan Ravel.
Mutia merasakan Ravel mencium pipinya dan sekelebat bayangan tentang malam saat dia bersama Miko melintas dibenaknya serta Merta Mutia gemetar takut jika hal itu terjadi kembali
"Nggak usah takut gue nggak akan bilang siapa-siapa soal ini," bisik Ravel lagi
"Enggak tolong hmmmppp!" Mutia berusaha berteriak akan tetapi Ravel menutup mulutnya.
"Jangan teriak Mutia Lo mau juga ketangkep sama pihak sekolah, Lo bakal nyesel kalo sampe mereka tau"
Mutia menggeleng nyaris tak berdaya saat itu lah tiba-tiba terdengar pintu didobrak dari luar oleh beberapa orang hingga terbuka.
"Woii gila Lo ya" suara itu terdengar Lantang "lepasin nggak tuh"
Ravel otomatis melepaskan pelukannya dari pinggang Mutia dan menoleh kebelakang ada empat orang cewek, yang tidak dikenalnya
"Lo Ravel kan, anak fotografi?"
Ravel mendecakkan lidah nya sama sekali tidak merasa terkejut, "ganggu aja sih Lo pada"
Plakk!
Satu diantara keempat cewek itu menamparnya dengan keras, "pergi atau gue panggil orang-orang buat gebukkin Lo!"
Ravel mengusap pipinya yang digampar lalu mendengkus, "okey gue pergi"
"Eh, eh put enak aja mau disuruh pergi gitu aja"
Putri menoleh cia dengan kening berkerut samar
"Digebukin dulu lah!" Cia maju melayang kan tinjunya ke tubuh Ravel diikuti dengan Fani dan Lista
"Aduh,aduh oiii!" Ravel meringis kesakitan dan berusaha menghindar akan tetapi keempat cewe itu terus saja memukuli bahkan mencakarnya.
"Udah gaess entar mati lagi anak orang" putri melerai dan saat itulah Ravel lari pontang panting.
Mutia yang sejak tadi diam memperhatikan hanya bisa mengucapkan terimakasih dengan suara bergetar.
"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Putri
Mutia menggeleng tanpa mampu berkata-kata lagi
"Pulang bareng mau?"
Mutia mendongak menatap putri dengan tatapan nggak percaya
"Its okay, kalo aja Fani nggak liat kamu kesini mungkin aja..." Ucap putri mengangkat bahunya
"Makasih Fani" ujar Mutia pelan dengan mata berkaca-kaca
Fani mengerjapkan matanya sebelum mengangguk dan berkata "Yapp"
Mutia lalu beranjak diiringi dengan tatapan penuh simpati dari keempat cewek tersebut
"Sialan tuh sih Ravel nggak ada otaknya apa, ini pelecehan namanya!" Seru lista berapi-api
Cia mengangguk setuju, "terus gimana, apa kita mau diam aja?"
Putri mengepalkan tangannya, "kita laporkan kepihak sekolah".
__ADS_1
Bersambung....