
Satu Minggu kemudian...
Raja merasa tidak bersemangat hari ini, rasa nya dia ingin menemui Mutia tapi ragu karena tau Miko sering dirumah belakangan ini, raja hanya ingin mengetahui kabar nya dan juga adelio tapi dia tak yakin kalau Miko akan menerima nya dengan baik mengingat apa yang sudah dilakukan nya terhadap cowok itu beberapa waktu yang lalu.
Tapi lihatlah apa yang baru saja dilakukan nya, dia baru saja mengetuk pintu unit milik Mutia tiga detik yang lalu, sebelum raja beranjak karena baru sadar dengan perbuatan nya, pintu itu membuka dan sosok Miko muncul dengan ekspresi yang sulit terdefinisi.
Sejenak mereka saling diam lalu raja berdehem "gue mau ketemu Mutia boleh?"
Miko mengangguk "masuk saja"
Raja pun membalas mengangguk dengan canggung dia melangkah masuk ke ruangan bernuansa hitam putih tersebut, tepat di ruang tv Mutia sedang duduk di sana bersama adelio dipangkuan nya.
"Hei?" Sapa raja kemudian
Mutia menoleh dan menilik dari ekspresi nya seperti nya dia terkejut mendapati raja berada di dalam rumah nya
"Eh raja, sini, sini duduk, dari mana?"
Raja tersenyum lantas duduk di sofa yang berseberangan dengan Mutia "dari rumah, gua kesini cuma pengen tau kabar Lo aja"
Mutia terkekeh "aku baik - baik saja, makasih ya"
"Heei boy gimna kabar nya?" Tanya raja menengok adelio yang tampak tenang di pangkuan Mutia
"Aku sehat om hihihi"
Raja mendelik "kok om sih emang nya gue setua itu apa?"
"Loh memang nya mau dipanggil apa?"
"Kakak ganteng boleh juga"
"Hahah ganteng dari mana nya?"
"Ya dari mana - mana
"Idih songong"
"Fakta"
"Hahaha".
Sementara itu didapur Miko Mengamati dan mendengarkan kedua nya dengan sangat jelas, entah kenapa dia merasa ada perasaan tak suka melihat interaksi ke dua nya lebih - lebih melihat cara Mutia berbicara pada raja terlalu dekat dan seperti teman dekat layak nya dua orang yang sering bertemu dan saling mengenal satu sama lain.
Namun berbagai macam kemungkinan mengenai hubungan Mutia dan raja tersebut teralihkan oleh sebuah pesan yang baru masuk ke ponsel nya.
__ADS_1
*Aku tunggu kamu di rumah Sekarang, kalau enggak aku balal datengin kamu sekarang juga!*
Miko mencengkram ponsel nya dengan erat kemudian bergegas pergi
"Aku keluar sebentar ya?" Pamit nya pada Mutia sekilas dilirik nya raja yang juga melirik nya
"Kemana?"
"Ada yang mau dibeli, kamu nggak apa-apa kan kutinggal?"
Raja tersenyum ketika mendengar Miko bertanya demikian, apa dia meragukan keberadaan nya Disni?
"Aku nggak apa - apa kamu pergi aja"
"Gue balik dulu ya Mutia" raja berdiri menatap Mutia lekat - lekat "sampe ketemu lagi"
Mutia mengangguk dan tersenyum, "Makasih ya ja udah Dateng"
"Okey" raja kemudian beranjak
Sepeninggalnya raja, Miko lalu membungkuk sedikit mensejajarkan wajah nya dengan Mutia
"Kalian kok kayaknya dekat?"
Miko mengangguk
"A-aku sama dia cuma teman kok"
Miko mengerjapkan mata nya sebelum memberikan sebuah ciuman dikening nya "iya aku tau, aku pergi sebentar ya?"
"Jangan lama - lama"
"Iya sayang"
Lalu miko pun bergegas menuju ke rumah vanilla dan tidak lama kemudian dia pun sampai dan menghampiri vanilla.
"Ada apa?" Tanya Miko setelah tiba dimuka pintu kamar vanilla
Melihat kemunculan Miko serta merta vanilla berlari dan memeluk nya erat - erat
"Jangan tinggalin aku ko, aku nggak mau Putus, aku sayang banget sama kamu, aku nggak apa - apa jadi yang ke dua tapi plis jangan tinggalin aku" ucap vanilla sambil menangis terisak
Miko mendorong tubuh vanilla menjauh "aku nggak bisa Van"
"Kenapa? Apa aku nggak berarti apa - apa buat kamu? Hubungan kita udah jauh ko" vanilla mencoba mengingat kan tentang seperti apa hubungan mereka selama ini.
__ADS_1
Seminggu yang lalu vanilla mendapatkan telepon dari Miko yang mana dalam pembicaraan berdurasi lima belas detik itu, Miko mengatakan kalau dia ingin putus dan meminta vanilla untuk tidak menghubungi nya lagi, sejak hari itu vanilla merasa tujuan hidup nya hilang, hati nya hancur berkeping-keping rasa marah dan kecewa seakan - akan hendak membunuh diri nya.
Jahat.
Dia sudah memberikan semua nya pada Miko tapi apa yang didapat nya, justru kekecewaan
Vanilla mungkin pernah menyayangi seseorang sebelum ini tapi dia tidak pernah mengira bahwa perasaan terhadap Miko akan jauh berbeda, rasa nya terlalu dalam dan untuk ke dua kali nya vanilla mendapatkan diri nya terpuruk akan cinta.
"Aku tau Van tapi aku nggak bisa ninggalin Mutia, aku udah janji sama dia"
"Kamu juga janji sama aku nggak akan ninggalin aku! Kenapa sekarang kamu malah ninggalin aku?"
"Belum terlambat untuk mengakhiri hubungan kita Van, aku nggak mau Mutia dan keluarga ku tau soal kita"
Vanilla diam beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum miris "kamu bakal butuh aku ko, kamu nggak akan bisa lepas dari aku"
Miko menghembuskan nafas panjang lalu berjalan mendekati dan memeluk vanilla "kita masih bisa jadi teman, kamu jangan ngobat lagi ya"
Miko lalu pergi meninggalkan vanilla yang kemudian tertawa dan menangis bersamaan melihat kepergian nya.
Tapi vanilla tau Miko akan kembali pada nya pasti itu.
"Hei" Miko memberikan Mutia sebuah pelukan hangat ketika melihat nya sedang berdiri di depan jendela dengan pandangan kosong "mikirin apa?"
Mutia tersenyum "nggak ada, kamu dari mana?"
"Beli cemilan buat kamu" Miko menunjuk sebuah kantung plastik putih diatas meja "aku mandi dulu ya dari pagi belum mandi"
"Ih pantesan bau hihihi" ledek Mutia seraya terkekeh
Miko tertawa kecil lalu beranjak menuju kamar mandi setelah sebelum nya mengacak-acak rambut Mutia dengan penuh kasih sayang.
Setibanya di kamar mandi Miko mulai melepaskan jaket nya, merogoh kantongnya mencari sesuatu yang mungkin saja tertinggal didalam nya sebelum jaket itu dilempar kan ke dalam mesin cuci.
Ada sebungkus bubuk putih yang familier, lalu Miko mengamati nya dan seketika jantung nya berdegup kencang.
Bagaimana benda itu bisa ada disaku jaket nya? Sejak kapan?
Susah payah Miko menelan ludah begitu pun dengan usaha nya untuk mengenyahkan perasaan ingin mencoba bubuk itu kembali.
Miko lalu membuka bungkusan plastik tersebut dan membuka penutup kloset akan tetapi sesuatu seolah olah menahan tangan nya.
Euforia itu kenikmatan tiada Tara dan Miko tau ketika menarik kembali tangan nya yang hendak tadi ingin membuang barang haram tersebut, maka di masa depan dia tidak bisa pergi jauh dari vanilla dan apa yang dia punya.
Miko terduduk di kloset dengan mata terpejam sensasi menyenangkan itu mulai dirasakan nya tak lama setelah dia menghirup serbuk putih itu rasa nya benar - benar nikmat suara Mutia yang memanggil nya diluar sana pun ibarat senandung lagu yang indah di telinganya.
__ADS_1