
Hari sudah mulai gelap ketika Mutia keluar dari minimarket sambil membawa dua kantung plastik besar yang berisi barang-barang belanjaan nya.
Hujan masih turun meski tak lagi deras, lampu-lampu toko mulai menyala pun dengan lampu jalanan, Mutia menengadah lantas tersenyum, aroma hujan yang terhirup olehnya membuat perasaan nya menjadi nyaman dan damai, Mutia lalu menjulurkan sebelah tangganya dan menampung air hujan yang turun sehingga percikannya mengenai wajahnya.
Tinggal gerimis, mungkin tak masalah jika harus pulang sekarang, Mutia kemudian memasukan payungnya ke dalam salah satu kantung dan mulai melangkah, jalanan basah bahkan menciptakan genangan air, Mutia menoleh ke kiri dan kanan tak banyak yang berjalan kaki, hanya ada beberapa orang saja, Mutia berlari kecil menyebrang jalan tapi sialnya, salah satu kantung plastik yang dibawa nya terjatuh ditengah jalan, seketika Mutia dilanda panik segera ia putar balik untuk mengambil kantung tersebut namun lampu mobil tampak menyorot nya dari kejauhan, Mutia menegang dan ia menutup mata, pasrah dengan apa yang akan menimpanya.
Pada waktu bersamaan sebuah tangan tiba-tiba menarik tubuh nya sampai ke tepi jalan, mobil yang tadi menyoroti nya berhenti mendadak, Mutia membuka mata karena merasakan tubuhnya dilepas, ia kemudian menoleh kebelakang dan melihat seorang remaja laki-laki berseragam sekolah berjalan ke tengah jalan dan mengambil kantung miliknya yang terjatuh tadi, setelah orang itu kembali ke tepi jalan, mobil tadi pun melaju
"Ini" remaja itu mengasurkan kresek tersebut ke hadapan Mutia.
Sesaat mereka saling pandang, cowok itu menatap Mutia dengan seksama, seperti sedang menilai dan barulah Mutia sadar kalau ia lupa mengenakan masker sewaktu keluar dari minimarket tadi, Mutia sengaja melepaskan nya karena tiba tiba merasa sesak nafas, pantas saja tadi si kasir memandang nya dengan tatapan aneh, wajahnya masih remaja namun ia sudah hamil besar, pasti lah mereka berpikirran buruk tentangnya.
"Kakak nggak apa-apa?" Tanya remaja tersebut
Mutiaa mengangguk dan buru-buru meraih kresek tersebut, "makasih ya"
Cowok itu balas mengangguk, "oke, lain kali hati hati"
Mutia tak merespon ia langsung beranjak dengan langkah tergesa sesekali Dilihatnya langit yang semakin gelap.
Tiga belas menit kemudian, Mutia tiba di gedung apartemennya, sewaktu ia menoleh kebelakang betapa terkejutnya Mutia ketika melihat remaja cowok tadi berjalan tak jauh dibelakang nya, kening Mutia berkerut mulai panik,
Apa cowok tersebut sedang mengikuti nya?
Kenapa dia bisa ada disini?
Bahkan cowok berambut cokelat semerawut itu juga masih berjalan di belakang Mutia setibanya ia dilantai tempat unitnya berada, pikiran buruk mulai mengisi kepala Mutia.
Jangan-jangan cowok itu sengaja mengikut nya, siapa dia? Kenapa dia terus mengikuti kemana pun Mutia melangkah?
Sepuluh meter lagi Mutia tiba di pintu unitnya, Mutia langsung berhenti dan menatap cowok itu dengan pandangan tak suka, jangan mentang-mentang tadi dia sudah menyelamatkan Mutia, sekarang dia justru mau mencari kesempatan dalam kesempitan, jangan-jangan dia mau mengambil barang-barang belanjaan nya lagi, atau mungkin dia mau melakukan sesuatu hal yang jahat kepadanya, jantung mutia berdegup kencang memikirkan segala kemungkinan buruk itu.
"Kamu ngapain ngikutin aku?"
Cowok itu berhenti tepat satu meter di hadapan Mutia "hah?" Tanyanya terlihat kaget
"Kamu ngapain ngikutin aku sampe ke sini? Kamu mau macem-macem ya?"
Cowok itu menaikan satu alisnya kemudian tertawa mendengus, "sorry macem-macem gimna ya?"
"Ya kamu mau modus kan?"
"Hmmm" cowok itu semakin tak mengerti
Tak sengaja Mutia melihat tulisan yang berada diseragam sekolah nya, raja Alfaro lalu Mutia mengamati wajahnya, hidung mancung, mata elang dan alis yang tebal dan panjang, tinggi nya seperti Miko namun dia lebih ramping.
Tampangnya sih nggak kayak orang jahat tapi kenapa dia mengikuti Mutia sampai kesini coba?
"Kamu ngapain Disni? Kamu nggak ngikutin aku kan?"
__ADS_1
Cowok itu tertawa sehingga sebuah lesung pipi tampak menyembul dipipinya, "siapa yang ngikutin?" Kemudian cowok bernama raja itu melangkah melewati Mutia.
Mutia menoleh melalui bahu melihat dengan jelas raja masuk ke pintu di depan unitnya,
Seketika Mutia terperangah dan merasa malu ternyata cowok itu tinggal disini juga,
Ya ampun bisa-bisanya dia menuduh orang yang baru saja menolong nya dan berpikiran yang bukan-bukan tentangnya, Mutia meringis merasa bersalah sejenak ditatapnya pintu yang tertutup rapat itu, kapan-kapan kalau bertemu lagi Mutia berjanji akan meminta maaf.
Disisi lain Miko yang sedang mengantarkan vanilla pun tiba dirumahnya vanilla,
"Lo nggak mampir dulu?" Ucap vanilla turun dari motor dan melepaskan hemlnya
Miko menggeleng "enggak"
Vanilla terlihat kecewa "baju lo basah nanti lo sakit masuk dulu yuk!"
"Enggak enak udah mau malam"
"Enggak apa-apa di rumah juga cuma ada gue sama pembantu doang"
"Enggak makasih" Miko bersiap mengegas motornya, akan tetapi vanilla menahannya dengan menyentuh tangan nya,
Keduanya pun saling menatap cukup lama sampai Miko bisa melihat wajah vanilla lekat-lekat.
"Thanks ya udah mau nganterin gue lagi, hati-hati dijalan"
Miko tersenyum "okey"
"Sampai ketemu besok" ucap nya lagi senyum manis pun tak luput dari wajahnya,
Miko mengangguk "sampai ketemu besok juga"
Perlahan melajulah motor itu dan meninggalkan Halaman rumah bertingkat dua tersebut, dari kaca spionnya Miko bisa melihat vanilla masih berdiri didepan rumahnya menunggu nya hilang dari pandangan.
Tidak lama kemudian Miko pun sampai diapartemennya lalu membuka pintu unitnya
"Kamu kehujanan" tanya Mutia begitu melihat Miko yang pulang dengan keadaan basah kuyup
"Iya aku mandi dulu ya Ndut"
"Oh oke" Mutia manggut-manggut sambil kembali menikmati cemilan keripik singkong yang tadi dibelinya.
Sementara itu didalam kamar Miko langsung masuk kekamar mandi pada saat ia melihat cermin, ia tiba-tiba membayangkan sosok vanilla yang tengah tersenyum manis, di bawah rinai hujan tadi sosoknya terlihat mempesona pelukannya tadi membuat dada Miko berdebar kencang,
Miko tau-tau tersadar ia menggeleng kan kepalanya dan menyalakan shower dia nggak boleh menghianati Mutia tidak boleh.
Beberapa saat kemudian mutia terkejut lantaran tiba-tiba Miko memeluknya dari belakang, cukup lama sampai Mutia merasa heran
"Kamu kenapa?"
__ADS_1
Miko lalu duduk disampingnya
"Nggak apa-apa kangen aja"
Mutia memberengut, "kamu tadi kemana sih?, Aku telpon dari tadi tapi nomor nya nggak aktif-aktif, jadi Yaudah aku pergi sendiri ke minimarket"
"Iya, lupa ngeces kemarin sory ya" Miko mencubit pipi Mutia yang semakin hari semakin tembam.
"Terus gimana udah dibeli semuanya? Kamu nggak kenapa-kenapa kan dijalan?"
"Hampir ketabrak mobil tadi"
"Hah? Hampir ketabrak gimana? Kok bisa?" Ucap Miko langsung menatap Mutia dengan perhatian penuh
"Iya cerita nya aku lagi nyebrang jalan terus kantung belanjaan ku jatuh pas mau aku ambil ternyata didepan ada mobil, Untung nya ada orang yang tiba-tiba nolongin kalo enggk mungkin aku ga bakal selamat"
Miko menghembuskan nafas panjang "kamu kan bisa nunggu aku pulang dulu, kenapa sih nekat pergi sendirian, bukannya tadi juga hujan?"
"Aku pikir tadi cuma sebentar doang, makanya pergi sendiri, aku nggak tau bakal ada kejadian kayak tadi"
Miko menggenggam jemari Mutia lalu menatap nya dalam-dalam, "lain kali biar aku aja yang pergi kan biasanya juga gitu, kamu dirumah aja"
"Aku bosen dirumah terus"
"Aku tau tapi sampai kamu lahiran nanti, lebih baik kamu dirumah aja ya"
Mutia mengangguk "hm iya"
"Mutia" lirih Miko seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Mutia "aku mau kita..."
Mutia memejamkan matanya ketika merasakan miko menciumnya, tangan Miko juga mulia bergerak di tubuhnya Mutia merinding namun juga merasa takut
"Ma-mau apa?" Tanyanya dengan suara pelan
Tatapan Miko sama persis dengan hari itu hari dimana mereka melakukan sesuatu kesalahan besar yang mengubah hidup mereka untuk selamanya, berkabut dan membuat jantungnya berdentam-dentam dan ini bukanlah pertama kalinya Miko bereaksi seperti ini.
"Aku mau kita melakukan itu" ucap Miko suaranya bergetar
Mutia menelan ludah "akuu akuu takut ko"
"Takut kenapa"
"Aku nggak tau tapi untuk sekarang aku belum mau kita melakukan itu lagi aku udah bilang itu kan dari kemarin?"
Miko tersenyum "oke nggak apa-apa"
"Sorry" lirih Mutia merasa bersalah
Miko mengangguk ia pun mencengkram bantal duduk yang ada disampingnya, saat-saat seperti ini harusnya ia dan Mutia memperdalam hubungan mereka karena Miko mulai merasa ada bagian dari hubungan itu yang mulai kosong dan terasa hambar,
__ADS_1
Mutia sering menolak nya dan terus terang itu membuat nya merasa jenuh dan lelah.