
"Adelio kenapa?" Tanya Miko berjalan mendekat
Mutia tak menjawab dan terus menimang adelio, dan mengayunkan pelan sambil berusaha menenangkan nya.
Entah kenapa sejak sore tadi adelio menjadi sangat rewel
"Sini biar aku yang gendong" ucap Miko menjulurkan tangannya
Mutia menepis tangan itu "nggak usah"
Miko mendengus dia tau kalau Mutia masih marah padanya
"Mutia, mungkin adelio mau sama aku" seru Miko lagi
Mutia menatapnya dengan pandangan berkilat-kilat "bilang sama aku, ada dimna kamu waktu aku ngelahirin adelio? Hari itu kamu sulit dihubungi, aku nahan sakit itu sendirian, dimna? Dimna kamu waktu itu!?"
Miko merasakan lidahnya kelu namun dia tetap menjawab "aku hari itu bersama vanilla"
Bibir Mutia mengatup rapat, tatapannya dalam dan menusuk, membuat Miko gemetar.
Selama ini, Mutia merasa Miko adalah sosok yang sempurna, Miko melengkapi hidupnya dan menganggap miko adalah satu-satunya tempat bersandar paling nyaman, tatapan matanya selalu menyiratkan cinta yang begitu besar, sehingga Mutia tidak pernah meragukan nya, akan tetapi setelah melihat nya dari sisi lain, Mutia akhirnya tau bahwa yang selama ini dilihat nya bukanlah cinta melainkan sebuah rasa kasihan.
Apakah Miko tidak pernah benar-benar mencintai nya? Meski terbilang muda tetapi Mutia memahami betul apa itu cinta, seperti yang dirasakan nya selama ini pada Miko, apapun akan dilakukan nya untuk Miko, Mutia memberikan seluruh hatinya dan juga hidupnya, namun mengapa? Mengapa Miko begitu tega mengkhianati nya?
Mutia tak kuasa menahan perasaan sakit dihatinya, dia Lalu memberikan adelio pada Miko dan bergegas keluar unit, berlari menuju tangga darurat yang dalam beberapa menit kemudian sudah membawanya ke rooftop.
"Aaaaaaaaa!!!" Mutia berteriak semampu yang dia bisa, kemudian menangis terisak
Meski sudah melakukan nya, kenapa rasa sesak dihatinya tak juga berkurang?
"Kurang kenceng"
Tau-tau, suara itu membuat Mutia terkesiap, ketika menoleh ke sumber suara tersebut barulah dia tau kalau pemilik suara itu adalah raja, yang entah sejak kapan berada disana.
"Teriakan Lo kurang kenceng" ucap raja lagi sambil berjalan mendekat
Mutia mengusap air mata yang bertumpahan dipipinya, suara Isak tangis membuat bahunya ikut naik turun.
"Kalau mau teriak itu pake tenaga, jangan kayak ayam kejepit gitu"
Mutia memberengut dan serta Merta membuang muka, kesal karena saat-saat seperti ini raja malah meledeknya
__ADS_1
"Kamu bisa pergi nggak? Aku lagi pengen sendiri"
"Justru harusnya Lo yang pergi, gue duluan yang Dateng kesini"
"Pliss ja, aku lagi serius bisa nggak kamu pergi dulu, aku benar-benar lagi pengen sendiri"
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
Raja melipat tangan nya didepan dada "kenapa Lo nangis? Ada masalah apa?"
"Bukan urusan kamu"
"Apa gara-gara Miko?"
"....."
"Mangkanya jadi orang itu jangan jadi bucin akut, itu bikin Lo nggak bisa lihat siapa dia sebenarnya"
"Ma-maksud kamu apa?"
"Lo nangis gara-gara Miko kan? Kenapa? Lo baru tau kalo ternyata dia itu nggak sebaik yang selama ini Lo pikirkan?"
Bukan sehari dua hari melainkan berbulan-bulan lama nya.
"Nggak usah sok tau"
"Gue tau, dan untuk sekarang, menurut gue satu satunya alasan yang bikin Lo nangis kayak gini ya cuma dia"
Mutia menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan, lalu dia menunduk dalam dengan kedua tangan mencengkram tepian pagar pembatas "Aku..... aku benar-benar nggak nyangka ja, kenapa jadi kayak gini sih"
Melihat kekecewaan di wajah Mutia, raja mendengus kemudian meremas pundak Mutia dengan pelan "yang kuat ya Mutia, Lo mampu, mangkanya tuhan kasih cobaan ini buat Lo"
Perlahan - lahan raja mendengar suara Isak tangis keluar dari bibir Mutia.
"Aku nggak nyangka aja kalau dia kayak gitu, kenapa sih? Kenapa dia nggak pergi aja? Kenapa dia harus nyakitin aku? Apa dia nggak mikirin adelio? Kenapa sih ja? Kenapa?"
Raja menelan ludah tidak tau pasti jawabannya hanya Miko yang tahu jawaban dari pertanyaan itu, bukan dirinya.
"Gue nggak tau kenapa" jawab raja
__ADS_1
"Apa selama ini aku yang nggak mengenali siapa miko yang sebenarnya? Apa aku terlalu dibutakan oleh rasa sayang, apa itu sebabnya aku nggak melihat ada sesuatu yang salah didalam diri nya?"
Raja mengangguk "Kamu terlalu menganggap nya sempurna"
Mutia mendengus tertawa "iya aku merasa dia satu satunya tempat, Dimana aku bisa berlindung dan merasa nyaman, sakit ja, sakit banget rasanya, dia bahkan melakukan hal yang nggak seharus nya dia lakukan sama cewek lain"
Raja menepuk - nepuk pundak Mutia, memberikan energi positif "stok sabar Lo masih banyak kan? Sabar ya gue yakin Lo bisa ngelewatin ini semua, kalo Lo ngerasa dia nggak pantas lagi buat lo, Lo bisa pergi, tapi kalo Lo mau kasih dia kesempatan, Lo bisa minta dia untuk berubah, apa pun kepada Lo, gue bakal dukung dan doakan yang terbaik buat Lo mutia"
Mutia mendongak, menatap raja tepat Dimata nya, selalu saja raja yang memahami dirinya.
"Makasih ja" cicit Mutia
"Gue nggak ngapa - ngapain kok, Ngapain makasih segala, mendingan Lo teriak yang kenceng biar beban Lo berkurang walaupun sedikit"
"Cerita sama kamu juga bikin bebanku berkurang kok, sekali lagi makasih ya, yang aku butuhkan saat ini memang seseorang yang mau menjadi pendengar terbaik" ujar Mutia tersenyum tipis "cuma kamu ja yang selama ini selalu ada buatku"
"Jangan sedih lagi ya"
Mutia mengangguk "aku emang cengeng, nggak bisa apa - apa Selian nangis"
"Nggak mau teriak lagi?" Tanya raja
Mutia menarik nafas dalam kemudian berteriak sekeras mungkin sebanyak tiga kali sampai ia merasa ngos - ngosan.
"Gimana?" Tanya raja lagi
"Lumayan" jawab Mutia sambil mengusap sisa air mata nya yang jatuh ke pipi.
"Balik gih, udah malem"
Mutia mengangguk lantas beranjak, saat dia baru berjalan lima langkah raja memanggil nya
"Mutia...."
Mutia berhenti dan membalikan badan nya "Ya?"
"Jangan sedih, gue bakal ada buah lo, always"
Mutia tersenyum "thanks ja"
Raja balas tersenyum seraya memandangi punggung Mutia yang menjauh.
__ADS_1
Seandainya rasa itu tak pernah ada..
Sesampainya di unit apartemen Mutia melihat Miko yang sudah tidur dan juga adelio yang berbaring di ranjang nya, Mutia merasa lapar karena dia terlalu banyak menangis hari itu dan ia pun menuju dapur dan memasak mie instan saja setelah perut nya terisi makanan, Mutia pun memutuskan untuk menuju kamar, dan memilih untuk tidur karena besok dia akan mulai pergi kesekolah lagi, hal menyenangkan bagi Mutia namun disaat kondisi seperti ini tetap saja hanya ada rasa sedih dalam dirinya.