Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 29 Kepergok


__ADS_3

"Aku pikir, kamu bakal jadi kakak kelas aku disini Ja, eh nggak tau nya jadi temen sekelas hehehe" ucap Mutia saat jam istirahat pertama dan saat raja dengan sengaja duduk di sampingnya tak lama setelah bunyi bel tanda istirahat berdering.


Kedekatan mereka tersebut tentu saja langsung menjadi perbincangan hangat teman- teman sekelas nya.


Raja terkekeh "Harusnya sih, tapi gue sempet nggak masuk selama beberapa bulan, jadi mau nggak mau gue harus ngulang kelas dua belas dari awal lagi"


"Kenapa gitu? Maksud aku, Kok kamu bisa nggak masuk sampe beberapa bulan, emangnya kamu ke mana?"


Raja seperti enggan menjawab, namun melihat Mutia yang sungguh- sungguh ingin tau, mau tak mau raja membagikan kisah nya sedikit.


"Sejak kecelakaan itu, gue ngerasa butuh waktu banyak buat sendiri, ya kadang- kadang gue ke sekolah dan kadang enggak, ya gitu....." Ucap Raja tampak menghela nafas panjang, seakan- akan penuh tekanan


Mutia tersenyum meminta maaf, pertanyaan itu rupa nya tanpa sengaja sudah membuka luka lama di hati raja.


"Maaf ya ja, aku nggak bermaksud bikin kamu teringat sama masa- masa sulit itu"


"Its okay, Lo satu satunya orang yang bikin gue nyaman buat cerita soal itu"


Raja tersenyum dan menatap Mutia langsung ke dalam mata nya "By the way, are you oke?"


Mengerti maksud dari pertanyaan raja, Mutia mengangguk "Ya"


"Dan lo mutusin buat bertahan?"


Mutia menarik nafas sebelum menjawab dengan ragu "Aku nggak tau"


"Lo sebucin itu ya sama Miko?"


"Aku cuma mikirin adelio"


"Yap, selalu ada alasan untuk bertahan walaupun kita tau itu sakit, ya nggak?"


Meskipun kalimat itu terdengar sarkastik, Mutia hanya menanggapi nya dengan sebuah senyuman.


***


"Van!"


"Aku mau pulang" sergah vanilla ketika Miko tiba-tiba menarik tangannya dan membawa nya ke sudut dinding koridor yang saat itu terbilang sepi


Miko menatap nya dengan pandangan sendu "Kamu bawa?"


"Bawa apa?" Vanilla berlagak pura- pura tak tau, dan ditepis nya tanga Miko yang menyentuh bahu nya.


"Pliss, aku butuh sekarang"

__ADS_1


"Nggak ada, aku nggak bisa kasih kamu barang itu lagi"


"Ke-kenapa Van?, Aku butuh banget barang itu sekarang, plis kasih aku sedikit aja" ucap Miko dengan wajah penuh harap


"Aku nggak akan kasih!" Vanilla berlari cepat, sengaja meninggalkan Miko yang tampak seperti orang kebingungan


Dalam hati vanilla berkata penuh kemenangan "follow me ko, kamu nggak akan bisa jauh dari aku, sehari pun"


Dan benar saja, ketika vanilla menoleh melalui bahu dilihatnya Miko berlari mengejar nya.


***


Miko masih berada diatas ranjang ketika vanilla keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan tangtop hitam dan celana pendek diatas lutut, seperti yang sudah-sudah, ini adalah kesekian kali nya mereka tidur bersama, tanpa paksaan, melainkan atas dasar suka sama suka, meski pada akhirnya Miko merasa menyesal setelah melakukan nya.


Mengejar vanilla sampai ke rumahnya memang bukanlah hal mudah, ada cobaan besar yang harus Miko lalui setibanya Disana, yaitu melihat vanilla yang sering kali memakai pakaian minim jika sedang berada dirumah, Miko adalah laki- laki berengsek tentu saja hal itu langsung membangkitkan fantasi liar didalam kepala nya, menyentuh vanilla pun menjadi hal biasa bagi nya sekarang dan setiap kali dia menginginkan nya, dia tak lagi mengingat dosa.


"Nggak pulang?" Vanilla bertanya seraya menoleh ke arah nya sekilas


Miko mengangguk, kesadarannya sudah kembali sepenuhnya setelah memakai barang haram itu beberapa saat yang lalu, diluar hari sudah gelap dan sudah waktunya untuk kembali ke rumah


Meski di satu sisi Miko tidak ingin pulang karena merasa dia juga butuh waktu untuk menghindar dari masalah nya dan Mutia untuk sementara waktu.


"Aku pulang dulu ya" pamit Koko dan hendak memakai jaket nya


Pada saat itulah tak disangka- sangka pintu kamar membuka dan seorang wanita berparas cantik muncul dengan wajah terkejut


Vanilla gelagapan "Ma-mama? Mama udah pulang?"


Miko bergeming menatap wanita dihadapan nya yang tengah menatapnya Dengan pandangan tak percaya.


"Kamu siapa? Ngapain kamu di kamar anak saya!?"


Miko tidak menjawab, hanya mengatup mulut nya dengan tubuh gemetar.


"Ma, dia itu pacarku" jawab vanill


"Hah? Pacar? Apa kamu sering bawa pacar kamu ke dalam kamar? Jawab mama vanilla! Kamu udah ngapain aja sama dia!!?"


Vanilla melirik Miko sekilas kemudian menjawab "maafin vanilla ma"


"Kamu nggak macam- macam sama anak saya kan?" Wanita yang dipanggil mama oleh vanilla itu menoleh menatap miko dengan tajam "sudah ngapain aja kamu sama anak saya? Apa kamu sudah rusak dia?"


"Sa-saya---"


"Ko, mendingan kamu pulang sekarang" sergah vanilla tiba-tiba

__ADS_1


"Mama belum selesai ngomong sama dia! Ngapain kamu suruh dia pulang?"


"Ko, plisss" rengek vanilla


Miko mengangguk lalu lekas-lekas angkat kaki dari sana.


Tak lama setelah kepergian Miko, sebuah tamparan keras melayang di wajah vanilla


"Kamu ngapain aja sama dia? Jawab mama vanilla! Ini apa-apaan lagi pakai baju kaya gini? Kamu macem-macem ya dibelakang mama?!"


Vanilla mengigit bibirnya dengan gusar "maafin vanilla ma, vanilla udah bikin mama kecewa"


"Maksud nya apa?"


Vanilla tidak menjawab karena mulai terisak


"Jangan bilang kalau kamu udah nggak virgin lagi?"


Vanilla menunduk dalam sambil terus menangis, melihat itu tentu saja ibu nya semakin murka "apa dia? Apa dia yang sudah merusak kamu? Bilang sama mama dimana dia tinggal biar mama sama papa datang ke sana untuk meminta pertanggung jawabannya!"


"Bukan dia ma"


"A-apa?"


"Bukan dia yang pertama"


"Asatagaaa! Maksudnya?"


Vanilla mengangkat wajahnya perlahan, lalu berkata dengan lirih "Vanilla udah pernah melakukan hubungan itu sebelum nya ma, ini bukan yang pertama buat vanilla dan Miko"


"Astaga!" Ibunya terduduk di tepi ranjang, mencoba memahami apa yang sedang terjadi, ketika ia hendak berbicara, tangannya yang mencengkram pinggiran ranjang tak sengaja menyentuh sesuatu, sebuah bungkusan kecil berisi serbuk berwarna putih.


"Ini apa Van?" Tanya nya pada vanilla yang seketika memegang barang tersebut


"I-itu---"


"Vanilla? Mama? Ada apa?" Suara milik seseorang pria paruh baya terdengar, tak lama kemudian sosoknya muncul di ambang pintu "ada apa ini? Tadi Papa dengar ada suara ribut-ribut disini...."


"Pa..." Lirih ibu nya dengan mata berkilat- kilat "anak kita sudah rusak"


"Apa?"


Vanilla mengkeret ketika melihat ibu nya berdiri dan mendekati nya sambil bertanya dengan nada tajam


"Sejak kapan kamu jadi pecandu?"

__ADS_1


Vanilla terdiam sejenak ia merasa bingung apa yang harus dikatakan oleh ibu dan ayah nya, hatinya pun kini sangat gelisah, ia tidak tau kalau mama dan ayah nya itu akan pulang, jika ia tau mungkin dia tidak akan melakukan hal itu.


__ADS_2