
Belajar Dari Masa Lalu, Hidup Untuk Hari ini, Dan Berharap Untuk Hari Esok'
Masa lalu adalah kenangan berharga yang membuat seseorang bijak dalam menentukan arah tujuan hidupnya di masa depan, Jika dulu begitu banyak tangis yang menemani, maka hari ini ada tawa yang selalu menyertai
Ada yang mengatakan bahwa kita tidak bisa hidup dalam masa lalu, namun masa lalu selalu hidup di dalam diri kita.
Di usianya yang menginjak 22 tahun, Mutia masih belum bisa melupakan masa lalunya, baik itu tentang cintanya, masa remaja nya yang pahit dan juga beberapa kesalahan yang ia perbuat sehingga menghancurkan hati dan hubungannya dengan beberapa orang.
Terkadang, Mutia masih menangis jika mengenang masa lalunya tersebut.
Namun, jika ia pikir kembali, tanpa masa lalu ia tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang ini, mungkin ia tidak sekuat ini, dan mungkin saja ia tidak menemukan jati dirinya.
Hari ini Mutia telah berada di titik di mana ia merasa benar- benar bahagia, mimpinya pun kini telah menjadi nyata begitu pun dengan cita- citanya.
Beberapa tahun yang lalu, setelah lulus SMA, Mutia mendapat beasiswa di sebuah universitas bergengsi di Singapura SHATEC.
Mutia mengambil jurusan culinary skill dan lulus dari sana dua tahun kemudian, Mutia lalu bekerja di sebuah hotel berbintang dan memulai karirnya di sana.
Lambat laun, nama dan citarasa masakan nya mulai dikenal banyak orang dan itu adalah momen di mana Mutia merasa bangga atas dirinya sendiri
Pada akhirnya ia bisa menggapai mimpinya setelah melewati hari- hari yang sulit dan penuh penyesalan,
Mutia sempat berfikir bahwa selamanya ia akan menjadi beban keluarga atau bahkan ditinggalkan begitu saja, akan tetapi tekad nya yang kuat dan kepercayaan dirinya membuat nya bangkit dari keterpurukan itu.
"Setiap orang punya masa lalu yang mungkin buat sebagian orang bukan untuk di ingat, tapi buat saya masa lalu adalah alasan saya untuk berada di sini sekarang, saya pernah berada di titik dimana saya ingin mati, karena kehilangan semangat hidup dan putus asa, tapi tuhan memberikan saya jati yang kuat untuk melewati semua cobaan itu" ungkap Mutia melalui mikrofon di sebuah acara seminar di salah satu hotel berbintang di Jakarta dan Mutia menjadi bintang tamu di sana, dan di hadiri oleh orang- orang penting lainnya.
"Yaaah, seperti makanan, hidup itu ada rasa pahit dan manisnya, tapi semua akan berakhir indah asal kita sabar dan selalu bersyukur"
Tau-tau terdengar suara tepuk tangan dari barisan kursi bagian tengah, Dimana ada sekumpulan wanita duduk di sana, wajah- wajah yang amat dikenali Mutia, lalu semua orang pun juga ikut bertepuk tangan sehingga menimbulkan euforia, Mutia kemudian bernafas lega lalu mengucapkan beberapa kalimat penutup.
"Buat kamu, siapa pun kamu, apa pun yang pernah kamu alami di masa lalu, atau masa kini jangan pernah putus asa, karena akan selalu ada orang- orang yang membantu kamu bangkit, selalu ada alasan untuk hidup, dan selalu ada alasan untuk bahagia, jadi jangan lupa bahagia see you next time.."
Setelah itu Mutia pun turun dari panggung dan menghampiri sahabat- sahabatnya yang duduk di bagian tengah tadi.
"Cantik, muda, good attitude, kamu punya semuanya Mutia" ucap putri setelah mereka semua berkumpul di sebuah meja bundar, masih di ruangan tempat seminar di adakan, hanya saja saat itu acara sudah selesai dan orang- orang mulai membubarkan diri.
Mendengar pujian itu membuat senyum Mutia melebar "Makasih Put"
"Jadi setelah nanti Mutia punya resto sendiri, kita bisa makan gratis dong" imbuh Lista dan cekikikan
"Hmmm, gimana ya? Mungkin bisa dipertimbangkan" seloroh Mutia yang di tanggapi teman-temannya dengan tawa renyah
"Kita semua benar- benar salut sama kamu Mutia, kamu bisa sampai di titik ini setelah apa yang kamu lalui di masa lalu, kamu hebat bangeeeeet" cia menimpali
"Kalian itu, salah satu alasan juga kenapa aku bisa seperti sekarang, berkat doa dan dukungan kalian aku bisa bangkit, aku nggak pernah merasa sendirian, Makasih sayang- sayangku" ujar Mutia tulus dan memeluk putri yang duduk disampingnya
"Terus, setelah apa yang kamu inginkan tercapai, apa sekarang hati kamu siap untuk menerima seseorang di hidup kamu?" Fani bertanya dengan serius, sehingga wajah Mutia bereaksi kaku.
"Iyaa Mutia, kamu udah benar- benar lupa sama Miko kan?" Lista menambahi
"Mungkin, udah saatnya kamu memikirkan masa depan adelio Mutia" cia menimpali.
Ah adelio, anak itu sekarang sudah berusia hampir enam tahun, ia tumbuh menjadi anak yang bijak, cerdas dan penuh kasih sayang, meskipun selama ini ada jarak yang memisahkan mereka, cinta adelio tak sedikitpun luntur untuk nya, dan mungkin apa yang dikatakan cia tadi ada benarnya, sudah saatnya Mutia memikirkan masa depan adelio dan adelio butuh sosok seorang ayah untuk melengkapi hidupnya meskipun Mutia yakin ia bisa memenuhi kebutuhan adelio secara materi, tapi menikah lagi? Entahlah...
"Makasih ya, kalian juga ikut mikirin adelio, dari dulu sampe sekarang, kalian memang yang terbaik" ungkap Mutia dengan tulus sampai saat ini keempat sahabat nya itu selalu memperhatikan hidupnya, jika tidak ada mereka mungkin Mutia akan berjalan tanpa arah.
"Kita saya sama adelio dan kamu Mutia, kita kan udah seperti saudara, hehehe" Lista menambahi dengan senyum manis
"By the way, kamu masih sering ketemu raja?" Tanya putri
"Raja belakangan ini sibuk sama resto barunya di Bekasi, emang nya kenapa?"
Putri senyum penuh arti "raja udah punya pacar?"
"Tuh anak jomblo Mulu dari jaman sekolah, heran"
"Ya mungkin karena dia sedang mengharapkan seseorang makanya dia memilih sendiri"
"Mungkin" jawab Mutia sambil mengangkat bahunya acuh tak acuh
"Mungkin dia mengharapkan kamu Mutia" ujar Fani yang langsung di setujui oleh teman-temannya yang lain
"Hahaha, raja nggak mungkin mengharapkan orang seperti aku, raja tau siapa aku" balas Mutia
"Makanya kalau lagi ngomong sama dia kamu lihat matanya, siapa tau ada kamu di sana"
Mutia melirik Fani yang baru saja bicara "Maksudnya?"
"Ini serius, dia masih sebego ini?" Fani melirik ketiga temannya yang lain
Ketiganya menganggukkan kepala secara bersamaan sambil cekikikan
"Lihat matanya, kamu bakal tau apa yang aku maksud" tandas Fani menutup pembicaraan.
***
Keesokan harinya Mutia berencana untuk mengunjungi makam miko bersama adelio
"Kita mau lihat papa ya ma?" Tanya adelio di tengah perjalanan
Mutia memperlambat laju mobilnya dan sejenak menatap adelio di sampingnya "Iya sayang"
"Oke deh ma" jawab Adelio sumringah.
Setibanya di pemakaman, adelio lebih dulu berjalan ke makam dan mengajak gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput itu dengan ceria
__ADS_1
"Hai papa, adelio datang nih, adelio mau berdoa dulu ya buat papa" seru adelio
Mutia berjongkok di samping adelio dengan perasaan haru, bagaimana bisa anak sekecil adelio menjadi tumbuh sebaik ini, padahal Mutia merasa ia bukanlah ibu yan baik
Ia kerap kali meninggalkan adelio dah bahkan jarak selalu menjadi tembok pembatas di tengah- tengah mereka, baru setahun inilah Mutia sungguh-sungguh bersama adelio
Saat ini tidak ada lagi jarak dan waktu yang memisahkan, kini seluruh waktunya hanya untuk adelio, Mutia berjanji akan selalu menuntunnya, dan mendidiknya dengan sepenuh hati.
Mutia kemudian menaburkan bunga ke atas makam bertuliskan nama Miko itu dengan senyum tipis "Hai, adelio jadi anak pinter loh, kayak kamu dulu" lirihnya
Mutia menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan "Ko, aku mau adelio memiliki seorang papa di kehidupan nyatanya, aku nggak bermaksud menggantikan posisi kamu, tapi adelio butuh seseorang ayah untuk masa depannya"
Adelio menatap Mutia dengan penuh tanya namun ia tidak mengatakan apa- apa
"Tapi adelio tetap akan selalu mendoakan kamu, ya kan sayang?" Mutia membalas tatapan adelio
Adelio mengangguk meskipun ia tak begitu paham dengan apa yang baru saja di katakan ibunya.
Tak selang beberapa lama mereka pun kembali ke mobil, dan barulah adelio buka suara
"Adelio mau punya papa ya ma?"
Mutia tersenyum "kamu mau nggak kalau punya papa selain papa Miko?"
Adelio sejenak tampak berfikir keras "baik nggak ma?"
"Baik"
"Baik kayak om raja?"
Alis Mutia terangkat begitu mendengar nama itu keluar dari mulut adelio "om raja emang nya baik?"
"Baik banget, raja mau dia jadi papanya adelio, mama mau nggak kalau om raja jadi papanya adelio?"
Mutia tertawa kecil "Kamu suka sama om raja?"
"Iya suka banget, mama juga suka kan sama om raja?"
Mutia lagi- lagi tertawa, ada perasaan bahagia yang tiba-tiba hadir ketika mereka membicarakan sosok itu
Ternyata sudah sangat lama ia dan raja menjadi teman sampai- sampai adelio begitu dekat dengannya, bahkan sampai berpikir untuk menjadikannya seorang ayah.
Tiba- tiba, Mutia jadi merindukan diri nya, eh? Sadar dengan perasaannya, Mutia merasa malu sendiri, mungkinkah ia benar-benar merasa rindu pada raja? Sungguh?
**
'Hei'
Mutia mengulum bibirnya sambil menunggu pesan balasan dari raja, beberapa hari ini ia tak mendengar kabar dari raja, jujur Mutia ingin tau keberadaannya, mengingat raja yang memang suka Travelling, entah itu untuk kerjaannya sebagai chef juga ataupun liburan, raja memiliki restoran sendiri, dan sudah ada beberapa cabang.
Jadi di masa mudanya ini, ia menjalani hidup nya dengan santai karena ia terbilang cukup mapan
Kok balasannya menyebalkan begitu?
'kamu lagi dimana?'
Tak lama kemudian, balasan dari raja masuk
'dimana ya'
Mutia mendengkus dan membalas lagi
Mutia : serius, lagi dimana?
Raja : lagi di hatimu
Mutia : nggak kelihatan tuh
Raja : bukan buat dilihat, tapi dirasakan
Mutia : hahaha
Raja : tumben nanya, kangen Tah?
Mutia : adelio yang kangen, dari kemarin dia nanyain kamu terus
Raja : ouh, oke besok gue ke Jakarta
Mutia : emang lagi dimana?
Raja : Bandung
Mutia : see you
Raja : Miss you
Mutia terkekeh kecil, raja memang kerap kali menggodanya melalui chatting, tapi untuk pertama kali ia merasa begitu amat senang mendapatkan balasan yang baru saja di kirimkan oleh raja, rasanya ada sesuatu yang baru masuk ke dalam dirinya, entah apa.
Beberapa hari kemudian raja pun sampai di Jakarta dan ia pun langsung menuju ke rumah Mutia untuk menemui adelio yang katanya merindukan dirinya.
"Hei boy!" Sapa raja setelah tiba di hadapan Mutia dan adelio, mengetahui siapa sosok itu serta Merta adelio melambaikan tangannya dengan semangat
"Hei om! Apa kabar?"
"Om baik- baik aja kok" jawab raja tak kalah semangat
__ADS_1
"Om kemana aja sih? Aku nyariin loh dari kemarin"
"Masa sih?"
"Iyaa, tanya aja mama kalau nggak percaya"
"Percaya kok hehehe, udah makan belum?"
"Udah"
"Mau jalan- jalan gak?"
"Mau dong!" Adelio tampak semangat.
**
Sore menjelang malam itu, mereka berada di sebuah restoran di pinggiran pantai kota Jakarta, semilir angin berembus menerpa wajah Mutia yang saat itu tampak merona merah.
Melihat kedatangan raja hari ini, terus terang membuat nya merasa happy, mungkin karena ia merasa senang melihat reaksi adelio setiap kali bertemu raja, atau mungkin juga Karana sebuah alasan yang tidak ia mengerti.
"Adelio mau makan lagi nggak?" Tanya raja
"Aku tadi udah makan banyak om, jadi nggak ngerasa laper, tapi mama tuh belum makan!" Adelio mengangkat dagunya menunjuk Mutia yang tersenyum
"Kenapa nggak makan?" Tanya raja melirik ke arah Mutia
"Entar aja" jawab Mutia
Mutia memberanikan diri untuk menatap ke dalam mata raja, dan pada detik ketiga, ia merasa pipinya memanas, segera ia mengambil minuman dan meneguknya demi mengendalikan sikap salah tingkah nya.
"Oh iya om, om mau nggak jadi papanya aku"?
Air yang baru saja masuk ke tenggorokan Mutia mendadak ingin keluar sehingga ia terbatuk- batuk
"Adelio Kok Ngomong nya gitu?" Tanya Mutia setelah batuknya reda
"Kan kemarin mama bilang mau cari papa buat adelio" sahut adelio dengan polosnya sehingga menimbulkan tawa kecil dari mulut raja.
"Serius nih?"
"Iya dong om, adelio kan pengen punya papa juga kayak teman- teman yang lain, om mau nggak jadi papanya adelio?"
Raja melirik Mutia yang sudah mati kutu, wajahnya merah dan tegang dalam waktu bersamaan, ia tau kalau sekarang ini Mutia sedang menahan malunya terhadap perkataan polos dari anak kesayangan nya itu
"Mau nggak yaaaa" raja berseloroh, membuat wajah adelio berseri- seri menatap nya dengan penuh harap
"Ja" lirih Mutia tak enak hati, ia tau mana mungkin juga raja mengiyakan permintaan adelio karena hal itu tidak mungkin terjadi, raja kan pria yang tampan, dan juga mapan, dia bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik dari Mutia, dan tentunya bukan seorang single parent seperti dirinya
Mama mungkinlah seorang raja mau menikahinya, sementara diluar sana banyak gadis yang akan mengantri untuk menjadi pacar ataupun istrinya.
"Pliss, bilang yang sebenarnya sama adelio, jangan kasih dia harapan" sambung Mutia
Raja tersenyum manis lalu menarik kedua tangan Mutia dan menggamnya "Mutia kamu tau, sejak aku mengenal kamu, sejak itu pula aku berfikir untuk selalu ada di dekat kamu, aku sempat menyimpan perasaan sama kamu walaupun aku tau saat itu kamu milik Miko, perasaan itu memang sempat hilang, tapi sejak hanya ada kamu dan adelio, aku kembali berharap untuk bisa memiliki kamu dan menjaga kamu"
Mata Mutia berkedip sekali, jantung nya berdebar kencang setiap kali ia dan raja bertemu pandang, entah perasaan macam apa ini yang tiba-tiba hadir sehingga mengusik jiwanya.
"Kita udah saling mengenal selama lima tahun ini kan? Apa itu udah cukup buat kamu mengenal siapa aku dan bagaimana aku?"
Raja mempererat genggaman tangannya dan semakin menatap Mutia dalam- dalam "Dan aku mau, sisa hidup ku, kujalani bersama kamu, adelio dan juga keturunan kita nantinya, Mutia Will you marry me?"
Adelio membuka mulutnya, terkejut sekaligus bahagia, ia menoleh menatap ibunya yang juga terlihat kaget sama sepertinya.
"Kamu serius? Jangan bercanda deh ja, kamu nggak mungkin mau nikahin aku"
"Aku serius, kasih aku kesempatan untuk membuktikan kalau aku sungguh-sungguh"
"Kamu bisa dapat yang lebih baik dari aku ja"
"Nggak ada yang sebaik kamu"
Mutia membuka mulutnya namun ia sulit menemukan kata apa yang tepat untuk membalas perkataan raja, selama ini raja memang selalu memperhatikan ia dan adelio, raja sangat peduli pada Meraka, tapi tak sedikitpun Mutia tau kalau selama ini raja menaruh hati terhadapnya.
Entahlah mungkin Mutia memang tidak peka atau raja sangat pintar menyembunyikan perasaannya, akan tetapi pada hari ini Mutia melihat kesungguhan di matanya, akhirnya Mutia mengerti apa yang dimaksud teman-temannya kemarin, ia melihat ada cinta dari cara raja menatapnya, cinta yang begitu tulus namun tak pernah menuntut, mungkinkah ini saatnya Mutia memulai kembali hidup nya?
"I love you" ujar raja penuh penekanan "and, i love you boy" tambah nya sembari melirik adelio.
"Aku mau, aku mau kita jadi satu keluarga selama nya" ucap Mutia Kemudian
Barulah raja menghembuskan napas lega, ia lantas mencium tangan Mutia dan mengusap wajahnya Dengan lembut "Makasih Karena kamu sudah percaya"
Mutia mengedipkan mata nya seraya tersenyum manis "Aku yang makasih, karena kamu selalu ada buat kami berdua, dan kamu nggak pernah lelah menghadapi adelio"
Raja balas tersenyum "aku malah seneng direpotin Sama nih bocah, entar kalo dia nakal- nakal, sedot tuh ubun- ubunnya, hahaha"
adelio cekikikan "Aku janji nggak nakal lagi asalkan om raja jadi papaku heheh"
Raja mengusap kepala adelio penuh sayang seraya berkata "Siap bosku!"
Lalu raja membawa adelio di pinggiran pantai mengajak nya bercengkrama di bawah langit sore yang kemerahan
Sementara itu Mutia memandangi mereka dari kejauhan, Mutia tidak lupa rasanya kebahagiaan hanya saja ia sudah lama tidak merasakan nya, dan hari ini ia kembali merasakan perasaan itu.
Dalam hati nya, ia panjatkan rasa syukurnya.
"Terimakasih kasih tuhan, engkau memberikan akhir cerita yang indah di hidupku, Terimakasih"
__ADS_1
Bersambung!
****