Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 33 Sudah Tidak Bisa Dipertahankan Lagi


__ADS_3

"Kamu ikut mama pulang ke rumah ya?" Bujuk Sera setelah Miko duduk bersamanya di ruang tengah.


Mutia yang saat itu sedang membawa satu nampan berisi segelas teh hangat berhenti dibalik dinding yang menjadi pembatas antara ruang tengah dan dapur, mendengarkan pembicaraan keduanya dengan taku- takut, Mutia mulai menebak-nebak jawaban seperti apa yang akan diberikan oleh Miko pada ibunya.


Dan Mutia berharap bahwa Miko akan menolak ajakan ibunya tersebut, karena bagaimana pun dia memiliki adelio yang sudah menjadi tanggung jawabnya.


"Ko? Kok nggak jawab sih, kamu tuh sekarang kurus banget, rambut nya juga gondrong gitu, kayak nggak di urus tau nggak? Mama kasihan deh lihat kamu, mama yakin kamu pasti tertekan banget tinggal disini, iya kan? Jadi lebih baik kamu ikut mama pulang saja" ucap Sera lagi, karena Miko tadi tidak menjawabnya


Miko mendesah "Miko kan harus tamatin sekolah Miko dulu ma, baru nanti bisa balik ke Jakarta lagi"


Sera balas mendengus kasar "Kamu tuh selalu aja cari- cari alasan!, Dari kemarin ini lah itu lah, mama bosen tau nggak denger nya!"


"Enggak gitu ma, Miko capek harus pindah sekolah lagi, lagian tanggung juga kan, tahun ini Miko udah kelulusan, dan kalo pindah lagi Miko malas untuk beradaptasi nya disekolah baru nanti"


"Tapi kamu makannya yang banyak dong! Kamu kurus banget tau sekarang!"


Sera menyentuh lengan Miko dan mengusap- usap nya "Mama nggak mau kamu sakit, kamu itu anak laki-laki mama satu satunya ko, dan mama sayang banget sama kamu"


Miko tersenyum "iya ma, Miko juga tau"


"Pokoknya gini aja, kapan pun kamu mau pulang dan merasa nggak sanggup lagi menjalani semua ini, kamu pulang saja ya sayang? Jangan dipaksain oke?"


Miko mengangguk sambil menggenggam jemari ibunya dengan erat "Iya ma"


Mutia mengembuskan napas gusar, sadar karena terlalu lama berdiri di sana, Mutia kemudian beranjak mendekati ke duanya dan bersikap seolah tak mendengar apa pun, lalu Mutia duduk disebelah Miko setelah meletakkan segelas teh ke atas meja.


Sera melirik nya sekilas dan mendelik malas


"Kamu boleh aja sekolah Mutia, tapi ingat juga sama tugas kamu di rumah, terus jangan suka keluyuran! Inget kamu bukan anak gadis lagi"


Mutia berusaha menahan emosinya dengan cara menunjukkan seulas senyum tipis "Iya ma"


"Adelio mana? Mama mau lihat dia"


"Sebentar ya ma" Mutia lantas beranjak menuju kamar untuk mengambil adelio dan membawanya ke pangkuan ibu mertua nya itu.


**


"Ko, aku duluan ya, aku ada piket kelas hari ini" pamit Mutia tergesa- gesa


Miko yang baru selesai mengenakan seragam nya hanya mengangguk "Hati-hati" katanya kemudian namun telat karena Mutia sudah keluar unit.


Namun ketika Miko membalikkan tubuhnya, dia mendengar pintu kembali membuka


"Ada yang ketinggalan?" Tanyanya tanpa menoleh


Tau- tau, sebuah tangan meligkar dipinggang nya dan sesuatu mencium punggung nya


Miko membalikkan tubuhnya


Bukannya sosok Mutia yang di bayangkan, melainkan Dewi yang terkikik geli melihat ekspresi kaget nya.


"Hei?" Sapa Dewi dengan senyum manis


Miko menoleh takut- takut ke arah pintu


"Mutia udah pergi kok, tenang aja" ucap Dewi lagi dan kembali tersenyum menyeringai


Miko mengangguk "Oh"

__ADS_1


"Kamu mau berangkat sekolah?"


"Iyaa"


Dewi memberengut "Hmm, kapan dong kita bisa jalan bareng?"


"Kenapa harus jalan bareng?"


"Ya kita kan udah jadian"


"Terus?"


"Ya jalan kek, ke mana gitu"


"Kapan- kapan saja" jawab Miko acuh tak acuh.


Tiba- tiba Dewi maju dan melingkarkan tangannya di leher Miko "aku udah sabar banget loh selama ini, aku bisa kasih apa aja buat kamu ko..."


Miko menatap bibir mengkilap di depannya itu dengan jangtung berdebar sudah lama rasanya ia tidak....


Satu detik kemudian, rasa hangat menyentuh bibirnya, Miko terkesiap menatap Dewi dengan mata membelalak.


"Why? Ini bukan yang pertama kan buat kamu?"


"Lo tau gua berengsek"


Dewi mengusap bibir Miko dengan jarinya yang lentik "aku nggak sebaik yang kamu pikir ko, main- main dikit nggak apa-apa kan?"


Miko menggeram setiap merasakan sentuhan yang diberikan oleh Dewi dengan gerakan sensual, tanpa pikir panjang digendongnya tubuh sintal Dewi dan dibawa nya menuju kamar.


"Gue bukan anak- anak lagi dew, harusnya Lo tau itu" ujar miko yang dibalas Dewi dengan tawa kecil nan manja.


**


Tapi dengan penuh pertimbangan, Mutia akhirnya memutar tubuhnya lantas berlari menuju apartemen, masih ada waktu.


"Hei, kok balik?" Tanya raja ketika berpapasan dengan nya dilorong


"Ada tugas yang ketinggalan nih"


"Tugas bu Henny?" Raja menyebut nama salah satu pendidik di sekolah mereka yang terkenal galak.


Mutia mengangguk sambil terus berjalan, meninggalkan raja yang menatap nya dengan tatapan khawatir.


Alih- alih pergi dari sana, raja justru berdiri tak jauh dari unit Mutia sambil melipat tangan nya di depan dada, ia bersikap seolah-olah menunggu sesuatu.


Mutia mendorong pintu dengan tergesa- gesa, diliriknya tempat sepatu yang ada di samping pintu, dan sepatu miko masih ada disana berdampingan dengan sepasang wedges milik Dewi yang tadi berpapasan dijalan dengan nya dilorong sewaktu ia berangkat ke sekolah.


Tapi, kenapa sepi?


Mutia memandang sekeliling, baik Miko maupun dewi tidak ada disekitar situ, dan samar- samar mutia mendengar suara- suara aneh dari dalam kamarnya


Seperti suara orang yang sedang tertawa cekikikan bercampur dengan ******* manja yang seketika membuat jantungnya berdegup kencang


Pikiran Mutia mulai ke mana- mana, dan bagaimana kalau ternyata di dalam sana ada Miko dan Dewi yang sedang....


Mutia menggelengkan kepalanya berkali-kali "enggak! Enggak mungkin! Miko nggak mungkin sejahat itu dia janji akan berubah dan semua sudah membaik bukan? Miko tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama lagi" Mutia yang menepis isi kepala nya yang berprasangka buruk.


Tapi....

__ADS_1


Mutia menekan ke bawah gagang pintu kamar di depannya dengan pelan lalu mendorong nya sehingga pintu itu terbuka lebar


Mata Mutia terbelalak kaget ketika melihat bagaimana Miko tertawa bahagia dengan Dewi berada di atasnya tanpa mengenakan sehelai benang pun dan juga dengan Dewi yang mencumbui Miko seakan-akan tak ada lagi hari esok.


Namun tawa keduanya lenyap setelah menyadari kehadiran Mutia di ambang pintu, Miko serta merta mendorong Dewi dari pangkuannya


"Mutia?"


Mutia seakan-akan merasakan langit runtuh di atas kepalanya, jantungnya seperti berhenti berdetak dan dia mulai kesulitan bernapas ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri


Miko sosok sempurna yang amat dikasihi nya itu justru bercinta dengan wanita lain di ranjang mereka, senyum dan tawa bahagia nya itu semakin membuat luka di hatinya kian mendalam.


Dewi yang baru saja sadar akan kedatangan nya, terkejut bukan main lalu ditariknya selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Mutia?" Miko terbata-bata dia beranjak mendekati Mutia yang menatapnya dengan pandangan tak percaya "aku, aku...."


"Mau bilang apa lagi?" Lirih Mutia putus asa "sejak kapan ko? Sejak kapan kak Dewi?"


Dewi menunduk dan merasa bersalah, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Aku bisa jelasin" ucap Miko dan hendak meraih tangan Mutia


Namun yang dia dapatkan justru tamparan keras di pipinya sebanyak dua kali.


"Kamu jahat banget, aku kecewa sama kamu!" Mutia berlari ke kamar lain, di mana adelio masih tertidur pulas disana, Digendong nya adelio dan dibawa nya keluar kamar


"Mutia! Aku bisa jelasin, aku benar-benar butuh Dewi buat sekarang"


"Dulu vanilla, sekarang Dewi! Besok siapa lagi ko? Terus kamu Anggap aku apa? Apa!"


"Aku perlu jelasin-"


"Nggak usah cari pembenaran atas kesalahan kamu! Kamu benar-benar jahat ko! Jahat!"


"Terus mau kamu apa? Aku butuh orang yang bisa kasih aku barang itu! Kamu bisa kasih itu ke aku nggak?!" Bentak Miko sehingga membuat Mutia menurunkan bahunya dramatis


"Kenapa kamu jadi kaya gini sih ko? Kenapa kamu rusak diri kamu sendiri? Kamu masih muda! Kamu punya adelio! Harusnya kamu belajar dong dari kesalahan kamu yang dulu-dulu!"


"Semua ini gara- gara kamu! Kalau kamu nggak hamil, aku nggak akan ada disini dan aku nggak akan serusak ini!"


"Jadi kamu nyalahin aku? Kamu yang brengsek ko! Kamu kan yang ngajak duluan waktu itu!"


"Kamu juga mau kan? Mangkanya jadi cewe itu jangan murahan!" Tutur Miko lalu terkekeh-kekeh


Mutia kembali melayangkan tangannya ke wajah Miko sehingga menimbulkan bekas merah disana


"Aku nggak nyangka ya, kalau kamu bisa sekasar ini sama aku, aku pikir selama ini kamu tulus sama aku...."


Menyadari apa yang baru saja dikatakan nya, Miko terkesiap "sorry, sory, aku nggak bermaksud seperti itu Mutia, plis maafin aku..."


Mutia menarik tangan nya yang berusaha digenggam miko, dengan lesu dan tertatih Mutia mundur sambil memeluk adelio erat-erat "cukup ko, aku capek, aku mau kita sama di sini aja, kamu mendingan pulang ke Jakarta, tinggalin aku sama adelio"


"Enggak, enggak bisa gitu Mutia pliss" Miko bertekuk lutut dan mulai menangis


"Tolong aku butuh kamu"


"Kamu nggak butuh aku ko, kamu sama sekali nggak butuh" Mutia membalikan tubuhnya dan berlari ke luar unit.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2