
Beberapa Bulan Kemudian....
"Halo, Mutia?"
"Iya, halo ma, mama apa kabar?"
Tanya Mutia sopan pada Sera yang sejak kemarin sudah berkali- kali menelponnya, namun Mutia tak punya waktu untuk menjawab nya.
"Mutia..., Kamu sibuk banget ya? Bisa nggak Minggu ini kamu ke Jakarta? Miko pengen ketemu kamu kata nya"
Mutia tidak langsung menjawab, sebenarnya, Mutia tidak tau harus menjawab apa, sejak kejadian itu, dia memang belum pernah datang ke Jakarta.
Bahkan keluarga nya lah yang datang ke Bandung apabila Mutia ingin bertemu adelio, dan terus terang untuk bertemu kembali dengan Miko setelah beberapa bulan berlalu ini, entah mengapa masih membuat Mutia enggan bertemu dengan Miko.
Entahlah mungkin Mutia hanya takut ia merasakan sakit itu lagi, mengingat nama nya saja sudah terbayang rasa kecewanya.
"Miko baik- baik aja kan ma?"
Samar- samar, Mutia mendengar suara Isak tangis di Sertai kalimat "Miko sakit Mutia, dia pengen ketemu kamu, buat terakhir kali nya"
Jantung mutia berdegup kencang dan napasnya seakan- akan tercekat di tenggorokan ketiak mendengar penuturan itu.
"Maksudnya ma?" Tanyanya di selimuti rasa takut
"Sebaiknya kamu datang ke sini ya Mutia, Miko benar- benar membutuhkan kehadiran kamu" ucap mantan ibu mertua nya itu dengan nada memohon
"Iya, ma secepatnya Mutia akan pulang ke Jakarta dan menemui Miko"
"Ya sudah kalau gitu, terima kasih karena kamu udah mau dengerin mama, maafin mama ya kalau kemarin- kemarin mama udah jahat sama kamu, dan mungkin ini balasan mama karena sudah jadi mertua yang jahat" ucap Sera sambil menangis terisak-isak
"Iyaa ma, Mutia udah maafin mama kok, dan mama nggak boleh ngomong gitu, karena ini semua sudah takdirnya" ucap Mutia, karena dirinya memang tidak pernah dendam terhadap mantan ibu mertua tersebut, dan dia juga sudah lama memaafkan nya.
"Terimakasih ya Mutia, mama tunggu ya kamu ke Jakarta"
"Iyaa ma"
Setelah percakapan melalui telpon itu selesai Mutia pun memutuskan untuk berangkat ke sekolah.
**
Hari-hari menjadi sangat sibuk bagi Mutia dan setiap kali Mutia ingat kalau dia harus ke Jakarta, justru malah ada banyak sekali tugas sekolah yang harus di kerjakan, selain itu Mutia juga mulai sering mengikuti berbagai kegiatan dalam bidang kuliner setiap minggunya.
Mutia sungguh fokus dengan sekolah nya sehingga ia hampir melupakan rasa ke depannya tanpa ke hadiran adelio maupun Miko
Kendati demikian Mutia selalu ingat ke duanya dan senantiasa mendoakan mereka agar tetap sehat dan berada di bawah lindungan Tuhan, khususnya Miko yang baru mendengar kabar buruk nya seminggu yang lalu.
__ADS_1
Rencana nya, akhir pelan ini Mutia akan ke sana dan sudah mengabari Sera tentang hal itu, dan Sera bilang kalau Miko masih menunggu kedatangan nya dengan penuh harap.
Disisi lain ruangan kali empat ber cat putih dengan bau obat yang cukup menyengat itu tampak hening,
Disudut ruangan itu ada jendela kaca besar yang masih tertutup tirai, di sisi kirinya ada sebuah ranjang, di mana Miko tengah berbaring lemah di atasnya dan juga dengan jarum infus yang berada di tangan kanannya.
Tidak ada yang menyangka bahwa itu adalah dirinya, Lantaran ia kini terlihat begitu kurus, seperti tulang yang dibalut dengan daging.
Empat bulan yang lalu dirinya di vonis dokter kalau ia mengalami kerusakan ginjal akibat sering mengkonsumsi barang haram tersebut dan sudah hampir sebulan ini Miko dirawat karena penyakitnya yang bisa terbilang parah.
Miko membuka matanya, menoleh sekitar dengan pelan ketika mendengar pintu kamar itu di buka dari luar
"Mutia?"
"Ini mama sayang" Sera melangkah masuk dengan membawa satu kantung plastik berisi bubur ayam untuk Miko
Lingkar hitam yang ada Dimata nya menandakan bahwa belakang ini dirinya kesulitan untuk tidur, tubuh nya pun mengurus seiring berjalannya waktu.
"Mutia mana ma? Kata nya mau datang?"
Sera berusaha menunjukkan seulas senyum ceria "iya, Mutia kata nya lagi ada ujian, jadi akhir Minggu ini dia bakal datang"
Miko mengerjapkan mata nya "Mutia masih marah ya ma sama Miko? Apa Mutia nggak mau ketemu Miko?"
"Aku mau telpon Mutia ma"
Sera tidak langsung bereaksi sekilas tampak raut khawatir di wajahnya, namun perlahan-lahan ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Mutia
Seperti perkiraan nya, di jam-jam seperti sekarang ini Mutia tidak akan menjawab panggilan nya, mungkin masih di sekolah dan sedang belajar.
"Nggak di angkat, kayak nya mutia lagi di dalam kelas, nanti kita coba hubungi lagi ya?" Bujuk Sera begitu melihat ekspresi kecewa di wajah anak sulungnya itu.
Kenapa setiap kali miko ingin berbicara dengan Mutia, selalu saja telpon itu tidak di jawab? Dan itu membuat Miko menjadi berpikir kalau Mutia masih marah dengan nya sehingga membuat nya merasa sedih.
"Iyaa ma" akhirnya Miko mengangguk.
**
Tiba waktunya Mutia untuk ke Jakarta, Mutia tidak mengira bahwa perjalanannya ke Jakarta akan di temani raja
Dua hari sebelumnya raja yang tau kalau Mutia akan pulang kerumahnya, memohon pada Mutia agar ia bisa ikut dengan berbagai alasan, entah itu ingin bertemu adelio, ingin tau di mana Mutia tinggal, atau alasan sederhana seperti Takut Mutia kenapa- kenapa jika pergi sendirian.
Tak ada alasan Mutia untuk menolak, ia menghargai niat baik raja yang mau mengantar nya, maka di sini lah mereka sekarang di dalam kereta menuju Bandung.
Sudah enam bulan berlalu, raja akhirnya menanyakan sesuatu yang selama ini ia coba tidak lontarkan karena takut mendengar jawabannya.
__ADS_1
"Mutia?"
Mutia menoleh menatap nya "Hm?"
"Apa Lo baik- baik aja?"
"Iyaa, kenapa kok nanya nya begitu?"
Raja balas menatap sepasang mata sendu itu kemudian bertanya "apa Lo masih sayang sama Miko?"
Raut wajah itu kan sendu, dan raja pun akhirnya menyesali perbuatannya barusan, untuk apa dia bertanya hal pribadi itu? Apa yang diharapkan nya dari jawaban Mutia?
Akan tetapi itu semua di luar perkiraan nya,
Mutia justru tersenyum "butuh waktu ja, untuk melupakan nya, karena dia yang pertama dan satu satunya" Mutia mengalihkan pandangannya ke luar jendela dan tampak menghela nafas panjang "mungkin perasaanku ke dia nggak seperti dulu lagi, tapi yang pasti, sampai hari ini, aku belum bisa buat ngelupain dia"
Mungkin Mutia tidak sadar dengan rasa kecewa yang tersirat di wajah raja, namun hanya sesaat karena kemudian dia tersenyum manis
"Apa kalian bakal balikan?"
Mutia menggeleng pelan "enggak, buatku Miko udah jadi masa lalu"
Secerah harapan tampak berkilat di mata raja seiring bibirnya yang membentuk bulan sabit "oh gitu, bagus deh$
"Eh?"
Dengan salah tingkah, raja meluruskan perkataan nya "eh enggak, maksud bagus kalo Lo udah nggak sedih lagi, gue seneng lihat nya"
Mutia tersenyum lebar "Makasih ya ja, kamu udah mau nemenin aku ke Jakarta"
Raja mengangguk "iya santai aja, by the way haus nggak?"
"Enggak sih cuma laper aja hihihi"
"Okey, kebetulan gue beli roti tadi" raja mengeluarkan sebungkus roti manis dari dalam tasnya dan membukanya lalu menyodorkan sepotong roti itu ke mulut Mutia, berniat menyuapi nya.
Mutia menatapnya dengan wajah tersipu sebelum akhirnya mengambil bagian itu dengan tangan nya
"Makasih" ujar nya dan memalingkan wajah
Raja tersenyum lagi, padahal tadi nya dia berharap Mutia mau menerima suapannya
"Okee".
Bersambung...
__ADS_1