
Mutia mengigit bibirnya gusar saat mendengar ibunya berbicara di seberang sana, jam menunjukan pukul delapan malam ketika ibunya menelpon dan menceritakan tentang Miko yang mengalami sakau sore tadi.
ibunya pun bertanya apakah selama ini Mutia tahu tentang hal itu dan jika sudah, kenapa ia tak memberitahu mereka semua soal itu.
"Maaf ma, Mutia juga baru tau kemarin, terus bagaimana keadaan Miko sekarang ma?"
"Ya begitulah, katanya Miko mau dibawa ke panti rehabilitasi, kamu nggak mau liat dia ke sini?"
Mutia tidak langsung menjawab sambil menyibakkan tirai jendela nya sehingga menampilkan pemandangan sebagaian sisi kota Bandung pada malam hari setelah itu barulah iya menjawab "Enggak Ma"
Untuk apa Mutia ke sana? Toh Miko juga tidak membutuhkan nya.
Lagi pula, Mutia tidak ingin memberi jalan untuk mereka kembali bersama karena Mutia tidak ingin merasakan sakit yang sama lagi
Ibarat kaca yang sudah retak, seperti itu lah hubungan nya dengan Miko, jika di paksa bersatu tidak lagi sempurna.
"Kenapa?"
"Ma, Mutia mohon sama mama jangan minta Mutia buat ketemu Miko ya"
"Iya sayang, mama ngerti, kamu baik- baik aja kan di sana? Gimana sekolah nya?"
"Alhamdulillah baik ma, sekolah juga lancar, oh iya Mutia mau ikut kompetisi masak antar sekolah besok, doa kan tim Mutia menang ya ma?"
"Mama seneng dengar kamu semangat lagi, iya pasti mama doa kan kamu menang"
"Makasih ya ma, maafin Mutia udah ngerepotin mama dengan minta mama buat jagain adelio" Mutia berusaha kuat untuk menahan diri untuk tidak menangis, namun nada suara nya tak bisa membohongi ibunya di seberang sana"
"Kejar mimpi dan cita- cita kamu sampai ada di genggaman kamu, kamu pulang ke rumah ini dengan membawa semua itu, mama udah seneng nak"
Mutia tiba- tiba merasa kan dada nya sesak "iya ma, udah dulu ya ma"
"Iya sayang"
Mutia lalu menekan tombol merah di ponsel nya kemudian menangis terisak-isak, rasanya ia malu karena terus merepotkan semua orang.
Sekarang ia juga di siksa oleh rindunya pada adelio, dan semoga harapan nya menjadi kenyataan.
**
__ADS_1
"Mutia!"
Refleks Mutia berhenti berjalan ketika mendengar ada yang memanggil nya, ketika ia menoleh barulah ia tau siapa pemilik suara cempreng tersebut, siapa lagi kalau buka Risa teman sekelas nya yang cerewet tapi dia itu pintar banget, Risa juga salah satu anggota tim di kompetisi memasak antar kelas yang di adakan beberapa menit lagi.
"Hei" sahut Mutia seraya tersenyum manis
"Gimana, Gimana? Lo udah siap belum?"
"Ehmmm, siap dong hehehe"
Padahal nyatanya Mutia tidak siap
"Relaks dong Mutia! Nggak usah gugup gitu, ketauan loh sama gue hihihi"
Mutia tertawa kecil "percaya atau enggak, ini adalah pertama kali nya aku ikut kompetisi memasak ris, plis kamu bimbing aku ya?"
"Aduhhhh, nggak usah pake bimbingan segala, Lo harus percaya kalau Lo bisa masak, terus jangan lupa, memasak itu harus di nikmati dan lo harus ngerasa bahagia, kalau kita bahagia, apa pun masakan kita nantinya akan menjadi istimewa" Risa menepuk pundak Mutia dengan penuh perhatian
Sejenak Mutia tertegun mendengar nya, jadiĀ harus merasa bahagia ya.....
Oke baiklah! Mutia akan mencoba nya!
"Eh, eh, ada raja tuh! Gue pergi ke sana bentar ya!" Risa tau- tau pergi meninggalkan Mutia yang langsung di hampiri raja.
Mutia mengangguk belakang lehernya dengan gusar "Sebenarnya, aku nggak yakin dengan kemampuan memasakku, yang benar- benar....." Mutia menggeleng lemah sembari tertawa hambar "payah banget" sambung nya
Raja tersenyum "Nggak boleh pesimis gitu dong, itu kan Lo yang dulu bukan yang sekarang, Lo kan udah jadi Mutia yang baru?"
Mutia menatap ke dalam mata raja yang berkilat- kilat menyemangati diri nya, entah bagaimana bisa, ucapan raja barusan membuat dada nya bergemuruh oleh semangat yang lebih besar dari sebelumnya.
Dia bukan lah Mutia yang dulu, yang lemah dan penakut, ini adalah langkah awal nya Menuju dirinya yang baru.
Mutia siap menantang dunia dan melangkah sendiri, mimpi nya pasti akan menjadi nyata selama dia terus berusaha dan berdoa, tidak ada usaha yang mengkhianati hasil dan Mutia percaya itu.
Dan untuk sekarang diri nya hanya perlu bersungguh-sungguh dalam belajar demi masa depan yang akan datang dan dia harus bisa membanggakan orangtua tua nya yang dulu pernah kecewa oleh ulahnya, dan juga akan membuktikan kepada orang- orang yang telah memandang kalau dirinya tidak punya masa depan.
Ia juga tambah bersemangat ketika ia mengingat adelio, dia harus mewujudkan masa depan yang indah untuk adelio.
"Ayo mut! Mau mulai tuh!" Risa yang tiba- tiba menarik Mutia menjauh dari raja dan membawa nya ke aula yang sudah dipadati oleh murid- murid SMK Nusantara.
__ADS_1
Setiap menjelang akhir tahun, SMK Nusantara memang mengadakan kompetisi memasak antar kelas dengan tujuan untuk mengasah bakat para murid yang berada di jurusan tata boga.
Ada 20 kelompok yang akan berlomba pada hari itu dan Mutia ada di kelompok lima bersama Lisa dan tiga temannya yang lain
Lomba memasak hari itu mengusung tema sehat dan kreatif, juri juga datang dari salah seorang guru tata boga dan chef yang cukup populer di kota Bandung.
Kompetisi berlangsung selama empat puluh lima menit dengan meriah, para murid saling memberikan semangat pada tim masing-masing meski di luar matahari mulai tinggi, namun itu tidak menyurutkan semangat mereka yang mengikuti lomba masak hari ini, termasuk tim Mutia sendiri.
Menu masakan mereka adalah sup buntut dan sebuah makanan penutup yang mana sudah di diskusikan seminggu sebelum diadakan nya kompetisi.
Mutia sudah merasa gugup sejak awal lomba di mulai, karena ini adalah yang pertama untuk nya berada disebuah tim, Mutia Takut dirinya tidak bisa menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang baru yang pastinya sudah berpengalaman di Banding kan dengan dirinya.
Namun Mutia tidak mempercayai apa yang terjadi pada dirinya, ia mampu mengikuti kompetisi itu dengan penuh rasa percaya diri sampai ia menemukan fakta bahwa inilah yang memang dia inginkan.
Mutia ingin menjadi seorang chef di masa depan nya nanti, masuk ke jurusan tata boga adalah pilihan nya bukan lagi karena mengikuti Miko seperti yang ia lakukan dulu.
Mutia percaya ini adalah salah satu mimpinya dan Mutia berjanji akan membuat nya menjadi lebih besar.
Menjadi juara pertama dalam kompetisi memasak kali ini pun langsung membakar semangat nya untuk segera menggapai mimpi nya menjadi kenyataan.
"Ya ampun, ya ampun, ya ampunnnnn! Kita menang gaessss!" Teriak Risa kegirangan dan memeluk ke tiga temannya yang lain
Mutia pun ikut melompat kegirangan, tak menyangka bahwa masakan mereka akan menjadi pemenang nya, ini pasti berkat Risa yang memang paling di andalkan, juga teman-temannya yang lain.
"Ini semua gara- gara Mutia! Masakan Lo enak banget! Sumpah!" Seru yang lainnya membuat Mutia terbengong- bengong
"Kok gue?"
"Ya iyalah, Lo kan yang tadi paling banyak kerja ketimbang kita hehehe"
Mutia menggeleng tak setuju "Ini tuh gara- gara Risa, dia yang paling pinter masak, kalian juga, gue di sini cuma Pelengkap".
"Ya udah deh, oke ,oke pokoknya, kita semua kereeeen!" Risa bertepuk tangan heboh
Mutia terkekeh geli melihat senyum dan tawa bahagia teman- temannya itu, rasanya ia bahagia berada di tengah- tengah mereka
Kesedihan yang kerap kali menemani, kini perlahan mulai memudar, setidaknya sekarang Mutia tidak benar- benar sendirian.
Sekarang ia memiliki teman- teman baru yang membuat nya bahagia, seperti sahabat- sahabat nya yang di Jakarta, meski ia tidak bisa cerita tentang dirinya kepada teman- teman barunya, ia tetap merasa bersyukur karena mereka sudah membuat hidup nya menjadi berwarna lagi.
__ADS_1
Sudah waktunya Mutia melupakan masa lalu nya yang pahit itu, dan lebih baik fokus ke masa yang akan datang, karena masih panjang perjalanan untuk menggapai mimpi dan cita- cita nya.
Bersambung...