Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 20 Melewatinya Sendirian


__ADS_3

Pukul sembilan malam dan saat itu sedang gerimis, Mutia yang sejak tadi merasa gelisah karena perut nya menegang akhirnya beranjak dari atas ranjang


"Kenapa ya? Kok dari tadi kayak kram gitu" gumam nya seraya berjalan menuju ruang tamu sekilas dilirik nya jam dinding


Miko belum juga pulang kemana dia?


Mutia mendarat kan bokong nya di atas sofa berusaha rileks, menurut HPL atau hari perkiraan lahir dan memang Minggu-minggu ini adalah waktu nya untuk melahirkan, mengingat itu tentu saja membuat Mutia merasa cemas sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu.


Apa Mutia bisa menjadi orangtua yang baik nanti nya? Apa Mutia sanggup melewati ujian yang lebih besar lagi dari ini?


Belum lagi rasa sakit yang terbayang olehnya Mutia takut dia tak kuasa menahan sakit nya bagaimana kalau dia tak sanggup dan tuhan mengambil nyawa nya? Atau bagaimana kalau sesuatu terjadi dengan anak nya? Usia nya masih terlalu muda untuk melahirkan seorang anak dan dokter bilang itu juga sangat berisiko


"Ah aduh!" Mutia tiba-tiba merintih kesakitan ketika merasa kan ada sesuatu yang bergejolak didalam perut nya.


Pukul sebelas malam lewat lima menit raja terbangun dari tidurnya karena mendengar ada yang mengetuk pintu rumah nya


Siapa yang bertamu malam-malam begini? ucap nya saat bangun dari tidur nya


"Raja tolong!"


Raja mempercepat langkahnya begitu mengenali suara itu dan sewaktu dia membuka pintu, tampak lah Mutia sedang berusaha tetap tegak sambil memegangi perutnya


"Mutia Lo kenapa?"


"Tolong perutku sakit banget, Miko belum pulang" Mutia menjawab nya susah payah


Sejenak raja termangu memandangi mutia yang kesakitan


"Raja tolong"


Rintihan itu membuat raja terkesiap segera dia masuk ke dalam unit menyambar jaket, dompet dan sebuah kunci mobil


"Ayoo kita kerumah sakit sekarang"


Raja berjalan cepat meninggalkan Mutia yang masih berdiri di depan pintu, sadar karena tidak mendengar suara langkah kaki mutia, dia pun menoleh kebelakang.


"A-aku nggak bisa jalan ja..."


Sekali lagi raja termangu sambil mencengkram erat kunci mobil nya lalu dia mendekati Mutia


"Sorry tapi gue harus gendong Lo sekarang!" Raja pun mengangkat tubuh mutia dan membawa nya menuju lif


Mutia tidak peduli lagi mau raja mengendong nya ataupun menyeret nya yang penting dia harus kerumah sakit sekarang juga, karena dia merasa sudah tidak kuat lagi, kontraksi itu semakin terasa setiap beberapa menit sekali sudah waktunya anak nya akan segera lahir


"Miko kamu dimana?".


Dilangit....


Miko merasa seperti sedang berada dilangit sekarang rasanya begitu nikmat beban hidup nya hilang entah ke mana semua rasa lelah nya akan permasalahan hidup ini sirna euforia ini telah membuat nya merasa lebih bebas dan lepas.


Vanilla tersenyum mengamati Miko yang berbaring diatas ranjang nya menatap langit-langit kamar nya dengan wajah berseri dan mata berbinar-binar


Vanilla mengangkat jarum suntik digenggam nya, memandangi nya dengan penuh harap "kita...satu...sampai mati".


Satu detik kemudian jarum suntik berisi cairan sabu itu pun menusuk tangan nya.

__ADS_1


Disisi lain raja menatap Mutia yang setengah mati menahan sakit akibat kontraksi diperut nya saat itu Mutia sudah berada di atas ranjang dalam ruang persalinan, raja memberanikan diri meraih jemari nya yang berkeringat dingin, digenggam nya erat dan dilontarkan nya sebuah kalimat yang membuat Mutia balas menatap nya dalam-dalam


"Semangat Mutia Lo pasti bisa!"


Mutia mencengkram jemari raja kuat-kuat "raja tolong hubungi Miko dan keluarga ku handphone ku ada didalam tas tolong kabari mereka"


Raja mengangguk "okee mut"


"Makasih ja"


"Semangat Mutia!" Raja menghela napas lalu beranjak meninggalkan Mutia yang memandangi punggung nya yang perlahan menjauh dan hilang di balik pintu.


Raja mengigiti kuku nya didepan ruang persalinan dengan cemas tak berhenti dia berdoa agar Mutia baik-baik saja kondisi Mutia tadi sungguh membuat nya khawatir


Didalam genggaman nya ada ponsel milik Mutia raja sudah menghubungi sebuah kontak bernama mamaku disana dan kata nya mereka akan segera datang ke Bandung syukurlah raja berharap mereka semua akan segera tiba karena Mutia sangat membutuhkan kehadiran nya.


Akan tetapi Miko justru tidak bisa dihubungi nomor nya.


"Ko, aku mau tanya sesuatu" lirih vanilla ketika Miko setengah sadar bangun dari ranjang nya


"Tanya apa?"


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari aku? Sesuatu yang besar? Sebuah rahasia may be?"


Miko tidak menjawab vanilla lantas turun dari ranjang dan memeluk nya dari belakang


"Kamu tau, aku sayang banget sama kamu aku bakal ngelakuin apa aja buat kamu"


Miko meremas jemari vanilla yang berada diperut nya "apa kamu akan tetap ada Buat ku kalau tau apa rahasiaku?"


Miko berbalik menatap ke dalam mata vanilla lekat-lekat "aku....."


***


Waktu seakan berhenti pada saat raja mendengar suara tangisan seorang bayi yang berasal dari ruangan bersalin tersebut lalu beberapa saat kemudian dia menghembuskan nafas panjang luar biasa lega.


Akhirnya Mutia bisa melewati nya


Raja kemudian mendekati ruangan tersebut dan berdiri di depan pintu nya dengan harap-harap cemas dia ingin segera melihat Mutia dan bayinya memastikan kalau kedua nya dalam keadaan baik-baik saja.


"Maaf kalau boleh tau adik ini siapa? Apa keluarga nya?" Seorang perawat menghampiri raja setelah pintu terbuka


Sejenak raja bingung harus menjawab apa "saya ini tetangga nya sus"


"Oh, keluarga nya sudah dihubungi belum?"


Raja mengangguk "sudah sus lagi dalam perjalanan"


"Oh baiklah sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang inap"


"Baik sus"


Perawat tersebut tersenyum lalu beranjak menuju ruangan lain


Setengah jam kemudian Mutia sudah berada dikamar rawat dengan satu ranjang besar disudut ruangan. dia hanya sendiri melewati semua ini, tidak satu pun keluarganya disini bahkan Miko satu-satunya yang paling dia harapkan kehadiran nya.

__ADS_1


"Ko kamu dimana? Anak kita udah lahir" tangis Mutia dalam hati nya


Tau-tau pintu membuka, Mutia sudah berharap besar kalau yang akan datang itu adalah Miko namun harapan itu patah pada saat melihat raja lah yang muncul disana dengan senyum selebar bukan sabit


"Heei" sapa raja ramah


Mutia mengusap air mata nya "ja"


Raja mendekati Mutia mengulurkan tangannya "selamat ya lo bisa ngelewatin semua ini, anak Lo ganteng kaya gue"


"Emang kamu bapak nya apa"


"Gue kan kakak nya"


"Ngaku-ngaku"


Raja terkekeh geli begitu pun Mutia.


Beberapa saat kemudian seorang perawat datang dengan menggendong bayi mungil nan lucu milik Mutia, melihat itu membuat darah Mutia berdesir


"Langsung dikasih Asi ya" ucap perawat tersebut sembari menyerahkan bayi laki-laki itu kepelukan Mutia


Mutia mengangguk "iya makasih sus"


"Sama-sama"


Setelah perawat itu pergi Mutia lalu menangis terisak Isak


"Kenapa?" Tanya raja meskipun dia tau apa yang menyebabkan Mutia menangis mungkin dia sedih karena tidak ada satu pun keluarganya disini.


"Keluarga Lo bakal Dateng kok mungkin sebelum subuh besok" tambah raja berusah menghibur


Mutia memandangi bayinya dengan mata berkaca-kaca "diumur ku yang masih tujuh belas tahun ini, aku udah punya anak, aku nggak yakin bakal bisa ngebesarin dia ja karena aku sendiri bukan orang baik"


"Jangan ngomong gitu anak Lo ini titipan Tuhan, Lo harus jaga dan ngebesarin dia sebaik dan semampu nya Lo Mutia, Lo bukan orang yang nggak baik tapi Lo hanya seseorang yang nggak sengaja melakukan kesalahan"


Mutia memandangi raja penuh arti, "Makasih ja makasih karena kamu ada Disini"


Raja tersenyum "gue bakalan selalu ada buat Lo mutia"


Mutia balas tersenyum seolah kalimat raja barusan bukan lah sesuatu yang Harus dipikirkan.


"Oh iya aku bisa minta tolong gak"


"Hm apa?"


"Semua barang bayiku ada di apartemen, kamu bisa tolong ambilkan nggak?"


"Oke gue balik bentar ya"


"Iyaa"


Raja menepuk pelan puncak kepala bayi di dekapan Mutia tersebut "see you boy" kata nya sebelum akhirnya beranjak dan menghilang dibalik pintu


Tak selang berapa lama kepergian raja, Mutia kembali dilanda kesedihan rasanya dada nya begitu sesak dan dia ingin terus menangis

__ADS_1


"Halo sayang selamat datang di dunia ini mamamu masih tujuh belas tahun, terlalu dini untuk memiliki mu,tapi mama janji akan selalu ada buat kamu, kita lewati semua ini sama-sama ya sayang, sayang mama Adelio" bisik Mutia di telinga bayi nya sambil menyusui nya.


__ADS_2