
"Bang kok perut kak Mutia gede kayak ibu hamil deh" ucap Kansa
Mutia berhenti terisak dan suasana mendadak menjadi tegang
"Oh iya, kayaknya tadi dimobil ada yang ketinggalan deh! Kansa temenin Abang yuk" agy mengalihkan perhatian Kansa yang mengamati perut Mutia dengan seksama
"Hah?" Kansa mendongak ke arah agy
"Yuk ikut Abang dulu ke mobil" serta Merta agy menggendong kansa dan membawanya pergi dari sana.
Tak lama setelah agy dan Kansa pergi, Mutia segera membuka pintu unitnya dan mempersilahkan kedua orangtuanya masuk, sebelum Amira menginjakkan kaki nya ke rumah itu, Mutia sempat menatap nya penuh harap, akan tetapi ibunya itu terus melangkah masuk, mengacuhkan Mutia yang ingin dipeluknya.
Mutia menghembuskan nafas berusaha tetap sabar, mungkin ibunya masih marah padanya biarlah jika itu membuatnya merasa lebih baik
"Sebentar ya pa, ma, Mutia ganti baju dulu" ujarnya sebelum masuk ke dalam kamar
Sepeninggalnya Doni langsung bertanya pada istrinya, "ma, kenapa sih mama masih aja dingin sama Mutia?, Memangnya nggak kangen sama dia, setidaknya tanya kabarnya jangan diam sajaa"
Amira tak menjawab ia justru beranjak menuju dapur menghindari pembicaraan itu
Disana tanpa ada yang tau, ia menangis terisak isak disiksa rindu yang menyesakkan dadanya sejak berbulan-bulan lalu, akan tetapi rasa kecewa dan marah membuat hatinya mengeras terhadap Mutia, meskipun setiap malam ia merindukan anak itu.
"Ma....?"
Tak disangka-sangka Mutia muncul lekas-lekas Amira mengusap air matanya, untung nya ia sedang berdiri membelakangi Mutia, jadi Mutia mungkin tidak tau kalau ia sedang menangis tadi.
"Hmm?"
Mutia mendekat, "mama sehat?"
Amira berbalik menatap Mutia di matanya selama satu detik, "sehat"
Mutia tampak gugup pada saat ia memberanikan diri mengatakan "Mutia minta maaf ya ma, Mutia udah bikin mama kecewa, tapi sampai kapan mama menghukum Mutia kaya gini? Mutia kangen mama udah tujuh bulan Mutia nggak ketemu mama"
Amira pikir hatinya yang keras tak akan mampu menahan air matanya jatuh di hadapan Mutia, akan tetapi air mata itu luruh membasahi pipinya.
"Mutia tau mama benci sama Mutia mangkanya itu selama ini mama enggak pernah ngomong sama Mutia ditelpon, setiap hari Mutia berdoa, semoga mama mau maafin Mutia dan kita bisa kayak dulu lagi" Mutia tersenyum disela Isak tangisannya
Amira tak kuasa menahan diri untuk tidak menarik Mutia kepelukannya
"Mama nggak benci sama kamu, mama sayang sama kamu Mutia!, Maafin mama nak mama nggak bermaksud membuat kamu menjauh dari kami semua, enggak sama sekali sayang! Mama cuma nggak mau kamu menjadi pembicaraan orang-orang, mama ngga mau mental kamu kena imbasnya"
Mutia balas memeluk ibunya dengan penuh sayang seandainya beliau tau betapa sulitnya menghadapi masalah ini sendirian.
"Seharusnya mama berada di samping kamu bukannya membiarkan kamu menjalani semua ini sendirian, maafin mama Mutia maafin mama"
Amira menciumi puncak kepala Mutia dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Mutia tersenyum lega, "Mutia kuat ma, Mutia bisa melewati ini semua mama nggak salah ini hukuman yang memang harus Mutia terima"
Amira melerai pelukan mereka ia kemudian menatap wajah Mutia, "kamu baik-baik aja kan sama Miko, mana dia? Kok nggak di rumah?"
Mutia ingin menjawab akan tetapi agy dan Kansa sudah muncu di dipintu dapur sehingga pembicaraan itu terhenti.
"Kak kata bang agy kakak mau punya Dede bayi ya?"
Mutia dan Amira sama-sama menatap agy yang perlahan mengangguk, walau bagaimanapun juga pada akhirnya Kansa harus tau
Mutia tersenyum canggung "iya hhhehee"
"Kata bang agy, Kansa nggak boleh bilang orang-orang kalau kak Mutia punya Dede bayi, tapi oke deh kalo begitu Kansa janji nggak bakal bilang-bilang"
Amira mengusap pipi Kansa "anak pintar janji ya"
"Iya janji!" Seru Kansa semangat
Amira merangkul pundak Mutia sehingga agy menengok nya mengerut kan dahi sadar dengan arti tatapan agy, Amira menunjukkan seulas senyum yang memberi pesan tersirat bahwa semua sudah baik-baik saja.
Waktu berlalu sekitar jam dua belas malam lewat lima menit, Miko baru pulang ke rumah, ia terkesiap begitu melihat agy dan kedua mertuanya duduk di ruang tv
Sejenak mereka saling menatap sadar kalau yang dilihatnya benar-benar keluarga Mutia Miko pun perlahan mendekat menyalami ketiga nya dengan canggung.
"Dari mana kamu? Kok baru pulang jam segini?" Tanya Amira sambil menatap Miko dari ujung kaki sampai ujung rambut
"Ngapain?"
"Ada acara tadi"
"Acara apa sampai tengah malam begini?"
"Acara ulang tahun temen ma" jawab Miko berbohong
Agy menatapnya sinis "awas aja kalo macem-macem" ucapnya sebelum beranjak
Miko mengulum bibir sebelum pamit masuk ke dalam kamar dilihatnya Mutia sudah tertidur pulas dengan Kansa di atas ranjang, Miko menghampiri nya mengguncang bahunya pelan sampai Mutia terbangun.
"Kamu udah pulang, oh iya ada mama papa dan bang agy dirumah" ucap Mutia setengah sadar
"Kenapa kamu nggak bilang kalau mereka mau datang?"
"Handphone kamu mati"
Miko baru ingat ia memang sengaja mematikan ponselnya sejak dua jam yang lalu
"Oh iya aku lupa isi daya"
__ADS_1
Mutia mengangguk percaya begitu saja "malam ini kamu tidurr dibawah ya udah aku siapin kok" ujar Mutia sebelum kembali melanjutkan tidurnya
"Iyaa" balas Miko maklum
Setelah melihat Mutia tertidur pulas Miko mengaktifkan ponsel nya, ada beberapa pesan masuk bertubi-tubi ke ponselnya, dari Mutia dan dari sebuah nomor yang sengaja tidak disimpannya.
088xxxxxzzxxx : "hai pacar udah sampe belum? Thanks ya buat malem ini aku seneng banget sampai ketemu besok disekolah".
Miko tersenyum singkat sebelum menghapus semua pesan-pesan yang dikirim oleh nomor tersebut
Sesaat dia memandangi Mutia rasa bersalah itu ada namun mengingat seraut wajah yang selalu tersenyum di pagi hari padanya dididalam kelas beberapa waktu ini membuat rasa bersalah itu tak lagi berarti.
Lalu Miko pun bergegas kekamar mandi setelah selesai mandi dia pun bergegas untuk tidur
Sedangkan Amira dan Doni juga sudah tertidur dan agy masih menonton tv sambil memakan sebuah cemilan yang ada dikulkas
Tidak terasa agy pun mulai mengantuk dan ia memutuskan untuk tidur disofa yang berada di depan tv tersebut.
Keesokannya pagi nya
"Mama pulang dulu ya kalian baik-baik Disni" ucap Amira di depan pintu sebelum benar-benar beranjak ia pun menoleh ke arah Miko "ko kamu jaga Mutia baik-baik ya kalo bisa jangan sering keluar malam kasihan kan Mutia sendirian dirumah"
Miko mengangguk "iya ma"
"Papa pulang dulu ya mutia, Miko" ucap Doni sambil mengusap puncak kepala Mutia dan menepuk pundak Miko dengan pelan "kalau ada apa-apa kabari kami"
Keduanya mengangguk secara bersamaan
"Kak Kansa pulang dulu ya" Kansa memeluk Mutia dan Mutia membalasnya dengan penuh sayang
"Iya jangan nakal ya dirumah"
"Ih aku nggak nakal kok, aku kan anak baik yang nakal itu bang agy suka banget gangguin aku, nyebelin gitu deh"
Mutia tertawa kecil seiring berjalannya waktu Kansa kini semakin bijak dan bawel, Mutia berjanji akan ikut membimbing nya esok Agar di masa depan Kansa tidak melakukan kesalahan yang sudah dia lakukan.
"Mama pulang ya Mutia" pamit Amira dan berlalu diikuti suaminya
"Dah kakak!" Kansa ikut melangkah sambil melambaikan tangan
"Abang pulang, kamu baik-baik di sini, kalo ada apa-apa telpon Abang" lalu agy menatap Miko dengan tajam "kalau kamu macem-macem kamu berhadapan sama Abang ko!"
Miko hanya mengangguk
Mutia mengusap air matanya begitu melihat punggung orang-orang, terkasih nya itu menjauh.
Ah rasa nya sedih sekali harus kembali tinggal berjauhan, tapi di satu sisi Mutia senang karena pada akhirnya ibunya kembali seperti dulu, beban yang dipikulnya tak lagi berat justru ia menjadi lebih semangat menjalani hari-harinya, kini semua ada bersamanya keluarga nya dan juga Miko yang setia bersamanya.
__ADS_1