Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 11 Ingin Pergi Dari Rumah


__ADS_3

"Apa!?", Amira terperanjat, "kamu nggak mau tanggung jawab ko, Tante nggak salah denger?"


Miko memejamkan matanya sejenak dan mengangguk lagi, "maaf Tante tapi Miko belum siap nikah muda, Miko masih mau sekolah"


"Kalau Lo tau resikonya, kenapa Lo masih ngelakuin itu hah!?" Bentak agy


"Gua khilaf bang"


Agy berdiri hendak mengajar Miko lagi, akan tetapi gerakannya ditahan oleh sang ayah "sabar gy, jangan pake kekerasan nggak ada gunanya".


"Terus ini gimana ceritanya pa?, Masa mutia harus tanggung semua sendirian?"


Mutia tiba-tiba bangkit dan beranjak sambil menangis terisak, khawatir dengan keadaan Mutia, Amira lantas ikut beranjak namun sebelum itu ia sempat berbicara pada kedua orangtua Miko.


"Pokoknya saya gak mau tau, Miko harus tanggung jawab, kalau enggak saya akan bawa kasus ini kepihak berwajib!"


Amira lalu bergegas menyusul Mutia


"Kamu dengar sendiri kan tadi Miko bilang apa, dia nggak mau tanggung jawab, sekarang gimana, masa depan kamu benar-benar hancur Mutia!" Ucap Amira meneriaki Mutia yang berjalan menuju kamarnya


Mutia menutup telinganya tidak mau mendengar lebih banyak lagi, rasanya sudah cukup dan ia lelah sekali.


"Mama benar-benar kecewa sama kamu!, Mama sudah kasih kamu kepercayaan tapi kamu malah bikin malu keluarga!, Sekarang mau gimana hah!, Kamu mau ngebesarin anak itu sendirian? Jawab mutia!"


"Ma..." Mutia membalikan tubuhnya dengan dramatis


Amira tertegun begitu melihat luka yang terpancar jelas Dimata anak gadisnya itu, mendadak sebuah perasaan sedih yang amat dalam menelusup kedalam dirinya.


"Mutia bakalan pergi dari rumah ini, Mutia akan urus hidup Mutia sendiri", dan masuklah Mutia kedalam kamar nya lalu menangis tersedu-sedu dibalik pintu.


Dunianya telah runtuh, Miko pernah berjanji tidak akan meninggalkannya, namun dia mengingkari, ia pikir mereka akan berpegangan tangan menantang dunia akan tetapi Miko justru melepaskan tangannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya agy ketika melihat Mutia yang sedang menyusun pakaian nya didalam koper,


"Pergi" jawab Mutia lesu


"Pergi kemana"


"Nggak tau"


"Nggak tau tapi kok mau pergi?" Agy menahan koper yang hendak ditutup tersebut "memangnya ada yang nyuruh kamu pergi dari rumah?"


"Mutia udah bikin malu keluarga kita, Mutia harus pergi, mama pasti benci banget sama Mutia"


"Semarah apapun orangtua, Meraka nggak akan bisa benci sama anaknya sendiri"


Mutia menangis dan agy segera memeluk nya "maafin Abang karena nggak bisa jagain kamu"


"Abang nggak salah, Mutia yang salah, Mutia nggak bisa jaga diri" ucap Mutia disela-sela tangisan nya


Agy mengusap kepala adiknya tersebut dengan penuh kasih sayang


"Kita lewatin ini bareng-bareng ya?, Kamu yang sabar masalah ini udah ada digaris tangan kamu, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya".


Beberapa saat kemudian


"Mutia, buka pintunya, mama mau bicara sama kamu" ujar Amira sesudah mengetuk pintu, Mutia pun muncul dengan wajah sembab, sepertinya anak gadisnya itu menangis seharian


Ketika Amira masuk kedalam kamar matanya melirik pada sebuah koper di atas kasur, ia menghela nafas berat kemudian bersedekap.

__ADS_1


"Tadi Tante Sera dan om Adi kesini, Meraka bilang, Miko mau nikah sama kamu, dan kami sudah sepakat, setelah menikah kalian pindah kebandung tinggal diapartemennya Miko, dan Miko tetap melanjutkan sekolahnya"


Amira menatap Mutia yang juga menatapnya


"Kamu sendiri untuk sementara harus putus sekolah sampai kamu melahirkan, setelah itu terserah kamu, mau lanjut sekolah lagi, atau mau ngapain, kamu sudah dewasa kan, apalagi setelah jadi ibu, kamu harusnya tau apa yang terbaik untuk masa depan kamu dan anak kamu"


Mutia tak kuasa menahan air matanya, ketika ia hendak mendekat memeluk sang ibu, beliau justru bergerak menjauh.


"Diluar ada Miko, dia mau ngomong sama kamu" ujar Amira lantas beranjak


Tak selang berapa lama Miko masuk kedalam kamarnya cukup lama keduanya saling diam


"Kamu marah? Maaf tadi aku-"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat diwajah Miko sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.


Miko mendongak menatap Mutia yang menatapnya marah namun penuh luka dalam satu waktu.


"Kamu pernah janji nggak akan ninggalin aku" lirih Mutia


Miko mengangguk lalu menarik Mutia kepelukannya, "aku akan tepati janji itu, mulai besok kita akan bareng-bareng ya"


Mutia tidak tau harus merasa apa, bahagia ataukah sedih, meski Hari ini ia dan Miko bersatu namun ada hubungan lain yang telah retak.


"Jangan pernah tinggalin aku" kata Mutia penuh harap seraya melingkarkan tangganya dipinggang Miko memeluknya erat-erat.


Dibalik punggungnya Miko tampak tertegun sejenak, sebelum akhirnya mengangguk "iya janji".


Seminggu kemudiann....


"Gaes kalian udah dengar berita soal Mutia sama Miko?" Seru cia sesampainya ia dihadapan putri,Lista dan fani


"Emangnya kenapa Meraka?" Tanya Fani


Cia menoleh ke kiri-kanan memastikan kalau tidak ada orang lain yang akan mendengar pembicaraan Meraka, meski ia yakin bahwa berita itu sudah tersebar di sekolah dan hampir semua murid pasti mengetahuinya.


"Mutia hamil gara-gara Miko"


"Hah?!"


"Astaghfirullah!"


"Kamu serius ci? Dapat kabar dari mana?"


"Iya tau dari mana?"


Cia mendecakkan lidah, "katanya sih dari Ravel makanya udah seminggu Mutia sama Miko nggak masuk sekolah, mereka udah nggak sekolah Disni lagi"


"Ya ampun Mutia kok bisa sih, sumpah gak nyangka" lirih Fani tak habis pikir


Putri mendengus, "ada yang mau kerumahnya Mutia nggak?"


"Nggapain sih kita ke sana-sana, dia aja nggak anggap kita temennya" ucap Lista sewot


"Gimana pun juga, Mutia sahabat kita", putri berusah memberi pengertian, "sekarang dia lagi ada masalah dan dia pasti terpuruk banget, dia butuh support biar dia nggak ngerasa sendirian"


Fani mendesah, "putri benar kita harus kasih dia semangat, hamil diluar nikah itu masalah besar buat anak sekolahan kaya kita, kalau nggak kuat, bisa aja nekat buat suicide"

__ADS_1


"Okey pulang sekolah nanti kita kerumah Mutia"


***


"Abang bakal sering liat kamu ke Bandung, kalau ada apa-apa kamu bilang aja" ucap agy memasukan barang-barang Mutia kedalam mobil


Mutia hanya mengangguk sambil sesekali menoleh kearah pintu rumahnya


"Papa akan transfer uang ke rekening kamu setiap bulan, kamu jaga kesehatan disana" ucap Doni sambil mengelus-elus kepala Mutia dengan penuh perhatian.


Mutia mengangguk lagi


"Kak kenapa harus pergi sih, nanti Kansa nggak punya teman lagi dong kalo Kaka pergi" rengek Kansa sambil memeluk pinggang Mutia


Mutia tersenyum, "kamu jaga mama baik-baik ya, jangan nakal, okeyy?"


"Emangnya kak Mutia mau pergi kemana sih, kok Kansa nggak diajak, terus pulangnya kapan?"


Mutia hanya tertawa sumbang, "nanti kakak pasti pulang, kalo kangen telpon ya"


Kansa memberengut, "Yaudah deh"


Untuk mengalihkan perhatian Kansa agy menggelitik perut adiknya itu sehingga mereka tertawa-tawa, dan Mutia tau ia akan merindukan wajah-wajah itu, Mutia kembali menoleh ke pintu rumahnya yang terbuka namun sejak tadi sosok yang amat diharapakan tak juga muncul.


Sejak pernikahan sirinya dengan Miko dilaksanakan secara rahasia tadi pagi ibunya tak lagi menampakkan diri.


Mutia merasa sedih dan terluka, seharusnya disaat-saat seperti ini ibunya ada didekat nya, memeluknya dan mengatakan semua pasti akan baik-baik saja, tapi sepertinya harapannya kandas sampa Mutia masuk kedalam mobil pun ibunya tak kunjung muncul.


"Bang bilang sama mama, mutia minta maaf ya" ucapnya pada agy sebelum mobil itu bergerak meninggalkan rumahnya


Agy hanya mengangguk seraya melambaikan tangannya.


"Dadah kak Mutiaaa!", Seru Kansa suaranya menembus sampai dalam rumah sehingga terdengar oleh Amira.


Beberapa saat kemudian dibelakang taksi online yang dinaiki Mutia sudah ada mobil milik keluarga Miko menyusul, Sera dan Adi yang akan mengantarkan Meraka ke Bandung.


Sebelum masuk kedalam rumah agy melihat ada beberapa tetangganya yang berbicara dipinggir jalan sambil sesekali menunjuk rumahnya dan rumah miko


"Nggak nyangka ya si Amira anaknya bisa begitu?"


"Iya padahal dia kan guru, masa nggak bisa ngedidik anaknya sih"


"Iya heran harusnya bisa dong kasih contoh yang baik buat masyarakat malu-maluin aja!"


Agy yang mendengar semua itu merasa emosi ia lantas mendekat dan menegur keempat wanita paruh baya didepannya itu, agy sudah kehilangan rasa hormatnya Karena tidak terima keluarganya jadi bahan gunjingan


"Ibu-ibu ini, emang nggak ada kerjaan ya selain gosipin orang" tegurnya


Tanpa berkata-kata keempat wanita itu pun membubarkan diri


Sementara disisi lain Amira tampak termenung didepan jendela kamarnya, Doni menghampirinya, menepuk pundaknya pelan


"Kenapa nggak keluar? Tadi Mutia nyariin kamu"


Amira mengusap air matanya yang perlahan mengalir, "mama nggak sanggup, mama nggak sanggup melepas Mutia, tapi mama juga nggak bisa mempertahankan dia Disini, Disini hanya akan membuat psikologisnya tertekan, rasanya dada mama sesak pa, rasa-rasanya mau meledak!"


Doni memeluk nya, "mama tenang aja semua pasti akan baik-baik saja, kita akan sering-sering lihat Mutia kebandung"


Amira menangis terisak-isak, "ya Allah pa, kenapa tuhan kasih kita cobaan seberat ini, apa Mutia sanggup melewati semua ini?"

__ADS_1


"Dia sanggup dia anak yang kuat" ucap Doni yakin.


Bersambung....


__ADS_2