Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 15 Bertengkar


__ADS_3

Tujuh bulan satu Minggu, jenis kelamin laki-laki, bayinya sehat dan beratnya cukup baik. Mutia dianjurkan untuk tidak makan terlalu banyak mulai sekarang, Mutia sudah menyiapkan satu nama untuk calon bayi mereka, yaitu adelio Antara, setelah mendengar bahwa semua baik-baik saja wajah Mutia berseri-seri setengah harian itu.


"Aku pergi sebentar ya, Jay ngajak ketemuan"


Sepulangnya dari RS Miko pamit pada Mutia untuk bertemu dengan teman-teman sekolah nya disebuah cafe, dan katanya mungkin dia akan pulang malam hari.


"Kamu belakangan ini kok sering pulang malam-malam sih?"


"Yang penting kan pulang" jawab Miko acuh tak acuh


"Tapi nggak Setiap hari juga, masa aku sendirian terus dirumah"


Selagi memasang sepatu, Miko mendongak sekilas namun ia tak mengatakan apa pun.


"Kemarin aku lihat kamu dijalan sama cowok-cowok ramean, mereka itu siapa?"


"Temen sekolah"


"Kamu ikut geng motor?"


Miko berdiri menyambar jaket jins yang ada disofa "iya"


Mutia menggigit bibirnya, "bisa nggak sih ko, kamu fokus aja sama sekolah kamu?, Jangan main-main terus! Kamu tu bakal jadi orang tua sebentar lagi harus nya kamu berubah"


"Aku capek"


Kelopak mata Mutia melebar terkejut


"A-apa?"


"Aku capek kaya gini terus, aku juga butuh hiburan"


Mutia naik darah mendengar ucapan Miko barusan ia langsung berdiri menatap Miko dengan tatapan tak suka, "kamu pikir aku nggak capek?, Aku lebih stress dari kamu! Selama enam bulan ini aku dirumah aja, kamu enak bisa sekolah, bisa ketemu temen-temen juga! Dan kamu bisa kemana-mana sementara aku?, Aku harus diam di dalam rumah supaya nggak ada yang tau siapa kita! Apalagi teman-teman sekolah kamu!"


Miko mendesah tanpa perlu repot-repot membalas perkataan Mutia ia pun bergegas beranjak meninggalkan Mutia yang perlahan menangis.


Tiba-tiba saja Mutia rindu mamanya, rindu agy, rindu papa dan juga Kansa, sore hingga menjelang malam itu Mutia dilanda galau dan kerinduan yang dalam, ia menangis didalam kamar sampai matanya bengkak.


Sadar dengan apa yang dilakukan nya hanya akan menjadi sia-sia, Mutia akhirnya beranjak keluar unit, ia pergi ke rooftop untuk sekedar mencari udara segar meskipun ia tau angin malam tak baik untuk kesehatan nya yang tengah hamil tua.


Malam itu gerimis Namun tak masalah justru Mutia menyukainya perasaan nya menjadi lebih baik setelah merasakan rintik-rintik hujan membasahi rambut dan wajahnya


Pada saat Mutia menoleh ke arah kanan, tampak seseorang hendak memanjat pagar pembatas, Mutia menyipitkan matanya mengamati dengan seksama


"Astaga apa orang itu berniat bunuh diri?"


Mutia lantas berjalan cepat sambil memegangi perutnya, setelah merasa jaraknya cukup dekat ia pun berseru, "siapa pun kamu, apa pun masalah kamu, bunuh diri bukanlah satu-satunya cara untuk lari dari kenyataan!"

__ADS_1


Sejenak hening, punggung milik seorang pemuda itu tak bergerak, tapi hanya beberapa saat pada detik berikutnya ia kembali memanjat pagar pembatas tersebut


Belum sempat kaki nya mencapai pembatas, Mutia sudah menariknya sehingga tubuh pemuda itu terhempas jatuh dengan posisi terlentang


Dan suara mengasuh kesakitan pun terdengar


Mutia menghembuskan napas lega, lalu bersandar dipagar, berpegang erat disana, perutnya tiba-tiba merasa kram lantaran melihat aksi menegangkan barusan.


"Elo?" Pemuda itu bangkit menatap Mutia tak percaya


"Eh" Mutia ikutan kaget "kamu?"


Dia kan cowok yang kemarin menolongnya, akhirnya Mutia bisa membalas Budinya juga, dia sudah menyelamatkan nyawa cowok itu bukan hanya dari kematian tapi juga dari dosa besar.


Mutia berusaha mengingat namanya kalau tidak salah namanya raja


"Ngapain sih?, Ganggu tau gak!" Ucap Raja ketus


"Kok ganggu? Aku barusan nyelamatin kamu!, Kenapa sih harus bunuh diri? Emangnya nggak ada sesuatu di dunia ini yang bisa membuat kamu untuk bertahan dari semua masalah yang kamu punya? Bunuh diri bukan satu-satunya jalan buat kamu melarikan diri!"


Mutia mengatakan semua itu tanpa jeda sampai ia tersengal-sengal


Raja mendengkus, "siapa juga yang mau bunuh diri?hidup gua terlalu bahagia buat ngelakuin hal bodoh kaya gitu"


Alis Mutia berkerut saat itulah tiba-tiba terdengar suara kucing mengeong.


Mutia mengerjapkan matanya jadi dia bukan mau bunuh diri?


Dengan gesit raja menaiki pagar pembatas pelan pelan ia turun menginjak pipa besar dan menjangkau kucing gendut berwarna abu-abu yang ketakutan di sudut sana.


Mutia meliriknya takut-takut dibawah sana ada peralatan parkir yang siap menyambut raja kalau sampai ia jatuh, dalam hati mutia berharap kalau cowok itu baik-baik saja.


"Hati-hati" teriak Mutia tak disangka sangka begitu melihat raja sempat Terpeleset, pasti permukaan pipa itu licin lantaran karena hujan malam ini.


Untung nya raja tetap berpegangan erat pada pagar, beberapa detik kemudian ia kembali ke hadapan Mutia dengan wajah sumringah


"Akhirnya selamat juga" ucapnya sambil mengguncang-guncang tubuh kucing itu dengan gemas.


Karena Mutia diam saja, raja bertanya "kenapa?, Oh iya ini kedua kalinya ya Lo berburuk sangka sama gue"


"Sorry" lirih Mutia tak enak hati


Raja menatap Mutia lekat-lekat "Lo kayaknya masih muda, Lo Korba MBA?"


Pertanyaan itu blak-blakan banget


"Sorry" raja mengedikkan bahunya

__ADS_1


"Tapi ngapain Lo Disni malam-malam, gerimis juga kan ini"


Mutia tidak menjawab dia memalingkan wajahnya ke arah lain


"Gue raja" raja tau-tau mengulurkan tangannya


Mutia menoleh menatap nya ia terlihat ragu untuk menyambut tangan itu


"Gue bukan orang jahat"


Perlahan-lahan Mutia menjulurkan tangannya sambil berkata "Mutia"


"Okey" raja menarik tangannya yang sempat bersentuhan selama satu detik dengan tangan Mutia "gue mau balik, Lo masih mau Disni? Saran gue jangan sih nanti kalau ada apa-apa nggak ada yang tau"


Mutia mengangguk "iya ini juga gua mau balik"


Kemudian keduanya pun sama-sama beranjak dari sana, raja mengamati punggung Mutia yang berjalan dua meter didepannya


Pada saat Mutia menoleh ke belakang melalui bahu, raja melambaikan kaki kucingnya ke arah Mutia seperti sedang berdadah ria.


Mutia tersenyum kecil dan terus melanjutkan langkahnya memasuki pintu yang menghubungkannya dengan tangga darurat, sekitar sepuluh meter lagi ia mencapai unitnya langkahnya berhenti bersamaan dengan suara seorang anak kecil yang amat dikenalinya memanggilnya


"Kak Mutiaaa!"


Mutia terpaku terlebih-lebih pada saat melihat empat orang yang sedang dirindukan nya berdiri didepan unitnya, papanya, mamanya, agy dan juga Kansa yang sekarang berlari kecil menghampirinya.


"Kak Mutia"


Air mata itu perlahan lahan jatuh meremas begitu saja apalagi saat Kansa memeluk nya dengan erat


"Kansa kangen banget dehh, kok nggak pulang-pulang sih kak?"


Mutia mengacak-acak rambut Kansa dengan penuh sayang "kakak juga kangen sama kamu, kangeeeen bangeeeet!"


"Maa, paa ini kak Mutia nya kakak dari tadi dicariin loh, kakak kemana aja?" Kansa menarik-narik Mutia sekuat tenaga menuju unitnya.


Di tempatnya berdiri, Amira tampak khawatir dengan gerakan Kansa yang terlalu berlebihan namun sesuatu di dalam dirinya membuat mulutnya terkunci dan kaki nya diam ditempat.


"Kamu dari mana nak?" Doni bertanya sambil berjalan memeluk Mutia "kami sudah dari tadi nungguin kamu disini"


Mutia mengusap air mata nya lalu memeluk ayahnya itu dengan erat


"Mutia kangen papaa"


Amira memalingkan wajahnya pada saat yang sama, agy melihat sebutir air bening jatuh membasahi pipinya, senyum sedih terukir di wajah nya, agy melihat hal itu, susah payah agy meruntuhkan kerasnya hati ibu nya untuk datang menemui Mutia, dan setelah berbulan-bulan berlalu pada akhirnya ia luluh juga.


"Iya, papa juga kangen sama kamu, kamu sehat kan? Kenapa kamu basah kuyup gini?Miko mana?"

__ADS_1


Mutia tidak menjawab ia hanya terus menangis dipelukan itu, melepaskan kegundahan hatinya dan juga kerinduan nya.


__ADS_2