Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 35 Melangkah Sendiri


__ADS_3

Sore itu, Langit berpayungkan mendung mengiringi kepergian satu persatu orang dari hadapan Mutia


Rintik-rintik hujan membasahi wajahnya yang beberapa saat kemudian mengeluarkan air mata


Rasanya sesak dan tak karuan, terlebih ketika melihat adelio dibawa pergi oleh sang mama, namun Mutia berusaha untuk tetap terlihat tegar dan ikhlas karena ini adalah pilihannya sendiri.


"Mutiaa..." Lirih Miko yang rupa- rupanya masih berada disana


Mutia menoleh menatap wajah sendu itu dengan perasaan campur aduk, antara sedih dan marah.


"Aku minta maaf, makasih karena kamu nggak bilang sama mama soal aku yang..." Miko menelan ludah, takut untuk melanjutkan perkataannya karena tak jauh dari sana, ke dua orangtua nya sedang memperhatikan mereka


"Aku mau peluk kamu untuk terakhir kalinya, boleh nggak?"


Mutia mengangguk dan air mata berjatuhan di pipinya, sekalipun Mutia menginginkan perpisahan bukan berarti ia berhenti mencintai Miko.


Bagi nya seluruh hatinya masih di kuasai oleh Miko, namun bersamanya tak lagi membuat nya bahagia.


Miko memeluknya dengan penuh rasa sayang "Maafin aku Mutia"


Mutia tidak mengangguk maupun memberi jawaban.


"Aku tau kamu masih marah, tapi suatu saat aku harap kamu mau maafin aku" Miko tersenyum simpul lalu beranjak setelah sebelumnya mengacak pelan puncak kepala Mutia.


Punggung itu menjauh pelan- pelan dari hadapan Mutia


Punggung tempat Mutia pernah menaruh harapan nya dan punggung tempat nya berlindung.


Kaki Mutia sudah hendak bergerak mengejar Miko, akan tetapi suara lain di dalam dirinya melarang nya untuk beranjak.


Jangan! Semua sudah berakhir.


Dan perlahan, hujan turun membasahi sekujur tubuh nya yang masih bergeming di pelataran parkir


Mutia tidak pernah mengira kalau hubungan nya dengan Miko akan kandas seperti ini, sanggupkah ia berdiri sendiri dan mengejar mimpinya?


Mutia tidak tau akan apa yang terjadi setelah nya, dia hanya bisa berusaha membuktikan kepada semua orang yang sudah dibuatnya kecewa.


**


Hari-hari pertama tanpa adelio maupun Miko menjadi terasa begitu sulit bagi Mutia


Semua terasa hambar dan setiap kali Mutia termenung maka ia akan menangis


Kesepian ini, rasa rindu ini, seolah hendak membunuh nya secara perlahan, akan tetapi Mutia akan tetap bertahan


Sekuat mungkin ia berusaha mengabaikan suara- suara di dalam dirinya yang ingin dia pergi ke Jakarta, menemui adelio dan memberikan Miko maaf dan mengulangi semua nya dari awal lagi.


Rasanya... Sesak, Mutia lantas menarik napas dan menghembuskan nya perlahan.


Menangis pun sudah tak ada gunanya, hidup akan terus berlanjut


Sekarang waktu menjadi sangat berharga bagi dirinya, Mutia tidak akan membuang waktunya untuk sesuatu yang sia- sia dan ia harus fokus pada tujuannya dan mimpi-mimpi nya.


Ia lalu berdiri mengambil tasnya dan beranjak dengan penuh rasa percaya diri


"Mutia?" Suara itu menyapanya ketika ia melewati lorong apartemen


"Ja.." sahut Mutia dan melemparkan sebuah senyum tipis


"Semangat ya! Gua yakin Lo pasti bisa ngelewatin semua ini!" Seru raja sambil mengepalkan satu tangannya ke atas

__ADS_1


Mutia mengangguk mantap "iyaa, makasih ya ja, kamu udah selalu ada dan memberikan aku semangat di saat aku ada masalah"


Raja tersenyum lebar dan mengembuskan napas panjang, dalam hati nya dia berjanji akan selalu ada untuk Mutia.


Melihat Mutia bersedih, hati nya pun ikut bersedih dan juga Mutia seperti sumber kebahagiaan baru untuk nya


Meskipun raja belum memahami seperti apa perasaan yang disimpan nya selama ini terhadap Mutia, apakah hanya rasa simpati semata atau bahkan telah melibatkan hatinya? Yang pasti raja akan selalu ada untuk nya, tidak tau sampai kapan.....


***


"Ma, Adelio mirip Kansa ya? Matanya bulat kayak bola pingpong" komentar Kansa sewaktu menemani ibunya menimang- nimang adelio di halaman rumah pada sore hari.


Amira tak lagi peduli dengan tatapan maupun pikiran para tetangga nya perihal adelio yang kini tinggal bersama nya


Amira berusaha ikhlas melewati semuanya, baginya yang terpenting ialah adelio harus mendapatkan seluruh kasih sayang yang tidak bisa dia dapatkan dari kedua orang tua nya dalam satu waktu.


Sudah hampir dua Minggu dan Miko baru satu kali datang menemui adelio, Amira tak habis pikir lantaran jarak rumah mereka yang berdekatan.


Sepengetahuan nya, Miko juga tidak bersekolah sejak kembali ke Jakarta


Pernah satu kali Amira mendatangi rumah nya sambil membawa adelio yang menangis, namun Sera justru mengatakan kepada nya kalau Miko sedang sakit dan tidak bisa diganggu, merasa itu hanya alasan semata, sejak saat itu pulalah Amira tidak pernah lagi meminta Miko untuk menemui adelio.


"Iya, mirip banget sama kamu, hidung nya juga mirip" ucap Amir seraya memandangi wajah adelio yang hanya diam menatap nya


"Ma, kak Mutia kapan pulang?"


Ada seraut wajah kaku ketika pertanyaan itu terlontar "Hm, nanti kalau kak Mutia sudah selesai sekolah di Bandung"


"Kok, Kak Mutia nggak sekolah di sini aja? Kasihan loh dia sendirian di sana, emangnya nggak kangen sama kita?"


Amira tersenyum "Ya Kangen dong sayang, tapi kak Mutia kan harus sekolah dulu, nanti kalau udah selesai baru bisa kumpul lagi sama kita di sini"


"Oh gitu, Hmm, oke deh"


Rambutnya tak lagi tampak terawat dan juga dengan kantung mata nya yang kini tampak jelas, tidak seperti biasanya


"Sera, kamu kenapa?"


"Mbak tolongin aku, Miko lagi kumat, dirumah nggak ada siapa- siapa, tolong aku mbak!"


"Maksudnya, kumat gimana?"


Sera tampak enggan menjawab "Nanti aku ceritain mbak, ada agy nggak di rumah? Kita harus tenangin Miko mbak!"


"Kansa, tolong panggilin Abang ya!"


"Iya ma!" Kansa pun lantas berlari kecil masuk ke rumah


Tak lama kemudian agy datang dengan wajah keheranan "Kenapa ma?"


"Agy, tolongin Tante! Miko kumat, om Adi lagi di luar kota, Tante nggak tau harus gimana" ujar Sera frustasi


"Emangnya Miko kenapa Tante?"


"Kamu lihat sendiri aja yuk kerumah!"


Sera berbalik dan berjalan cepat menuju rumahnya di seberang jalan dan di ikuti oleh Amira dan agy.


Setibanya di dalam rumah, mereka mendengar ada suara orang berteriak meminta tolong, semakin dekat suara itu semakin jelas dan pintu kamar itu juga di gedor-gedor dari dalam sana


"Ma! Buka Ma! Miko mau ke Bandung! Tolong buka pintunya ma!"

__ADS_1


"Miko kenapa Tante?" Tanya agy keheranan mendengar Miko seperti orang stres


Sera meremas jemarinya dengan gelisah seraya berkata "Miko, Miko.... Sakau Gi"


Amira dan agy terperanjat mendengar pengakuan tersebut


"Miko pake apaan Tante?"


"Katanya, hampir lima bulan ini dia konsumsi sabu" jawab Sera di sela Isak tangis


"Astaga, yang benar kamu Sera?" Amira mendekap tubuh adelio dengan erat


Sera mengangguk "Kamu juga baru tau kemarin nggak lama setelah pulang dari Bandung, Miko udah kecanduan banget jadi setiap kali dia putus obat, dia bakalan marah- marah, nangis, bahkan menyakiti diri sendiri dan suka merusak barang- barang di rumah".


Amira dan agy saling berpandangan selama beberapa saat, meski sempat merasa marah dengan sikap angkuh dan egois Sera selama ini, namun mengetahui fakta dengan apa yang menimpa miko, tak urung membuat mereka turut sedih dan bersimpati.


Walau bagaimanapun juga, mereka sudah mengenal Miko dari kecil dan hubungan mereka cukup baik selama ini.


Agy beranjak mendekati pintu lantaran tak mendengar suara Miko lagi, di putar nya kunci lalu dibukanya pintu itu sedikit, tau-tau Miko menerjang nya, hendak kabur namun untungnya agy bergerak cepat menariknya lagi ke dalam kamar.


"Lepasin gue! Lepasin gue!" Teriak Miko dan sekuat tenaga berusaha menyingkirkan agy dari hadapan nya.


"Sorry ko, tapi Lo nggak boleh pergi dalam keadaan kaya gini" agy merentangkan kedua tangannya


"Kenapa? Apa urusan Lo ngelarang gue! Emangnya gue siapa Lo hah?!"


Mata itu melotot marah dan urat lehernya tampak jelas, tangannya terkepal kuat dan auranya benar-benar mengerikan


"Lo adek gue dan gue peduli sama Lo"


Tiba- tiba emosi Miko menguap entah ke mana, dia tiba-tiba terduduk lemas dan memeluk lutut agy dan menangis


"Bang tolongin gue bang! Gue harus pergi, gue nggak bisa kaya gini terus bang"


Hati Sera kian sedih melihat bagaimana Koko memohon- mohon seperti itu, air matanya terus mengalir, dan tak pernah mengira kalau Miko anak kesayangan nya tersebut akan menjadi seperti ini.


"Lo harus lawan rasa itu ko! Lo nggak bisa pake barang haram itu terus! Ingat Lo punya orangtua yang sayang sama Lo dan juga adelio yang membutuhkan Lo!"


Miko melepaskan kaki agy lalu menangis meraung-raung, lalu ia merangkak menuju ranjang dan meremas seprei yang sudah berantakan akibat kemarahan nya beberapa waktu lalu


Bisa agy lihat Miko yang sedang berusaha melawan rasa sakau tersebut, Tak lama kemudian Miko tak bergerak


Agy mendekat dan membetulkan posisi tidur nya, Miko kelelahan akibat terus berteriak dan berusaha kabur dari kamar nya.


"Kenapa Miko nggak direhabilitasi aja Tante?" Tanya agy kemudian


"Iya agy, rencana nya emang gitu, tapi nunggu papa nya pulang dulu, masih ada kerjaan yang urgent di luar kota"


"Lebih cepat lebih baik Tante, kasian miko kalo dibiarin lama-lama kaya gitu"


"Iya gi, makasih ya, kamu udah bantu Tante buat nenangin Miko" Sera memeluk singkat agy


"Iya Tante sama-sama" jawab agy


Amira mengusap pelan punggung Sera kemudian berkata "sabar ya, ser"


Dan Sera pun memeluk Amira dan menangis sesenggukan akibat rasa penyesalan nya.


"Mbak, maafin aku ya? Aku udah jahat banget sama Kalian, ini hukuman buat aku mbak"


"Jangan bilang begitu, kamu itu nggak pernah jahat, mana ada adik yang jahat sama Kakak nya sendiri, kamu kan seorang ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya"

__ADS_1


Sera tak bisa berkata-kata, ia hanya menangis menyesali sikapnya selama ini terhadap keluarga Mutia.


__ADS_2