Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 17 Bertemu Sahabat Lama


__ADS_3

"Aku berangkat sekolah dulu ya" ucap Miko


"Iya" lirih Mutia


"Ko kamu denger apa kata mama kan? Kalo bisa jangan pulang malam-malam lagi ya, aku bosen sendirian terus"


Miko menatap nya sekilas tanpa ekspresi "iya"


"Hmm aku lagi pengen rujak deh pulang sekolah nanti kamu bisa beliin gak?"


Miko mengangguk "okey"


Mutia mengerjapkan matanya, "Kamu kenapa?"


"Kenapa apanya?"


"Kok aneh gini?"


"Biasa aja" Miko kemudian beranjak setelah mengambil tas sekolahnya


"Aku pergi dulu ya" pamit nya dan menghilang di balik pintu


Terlalu terburu-buru Miko sampai melupakan ponselnya yang ada di atas sofa, pada saat Mutia mengambil nya sebuah nomor tak dikenal memanggil nya.


Mutia hendak mengangkat nya akan tetapi panggilan itu berakhir


Siapa? Batinnya bertanya


"Handphone kamu ketinggalan" Mutia mengansurkan benda petak itu ke arah Miko yang segera di sambut oleh Miko dengan cepat


"Tadi ada yang nelpon" cicit Mutia pada saat Miko mengecek handphone nya


"Siapa?"


"Nggak tau belum sempat aku angkat udah mati duluan"


"Oh mungkin Jay"


"Kamu nggak simpan nomor nya? Soalnya tadi nomor tak di kenal gitu"


"Iya dia sering Gonta ganti nomor Yaudah aku berangkat dulu ya" Miko menepuk pipi Mutia dengan pelan sebelum pergi


Mutia memandangi punggung itu dengan ragu, mungkin Miko merasa terganggu dengan nasihat orang tua nya itu sebabnya dia kelihatan aneh pagi ini, tak apa pasti nanti mood nya balik lagi Mutia yakin Miko baik-baik saja.


Miko mengeluarkan ponselnya yang berdering didalam jaketnya pada saat melihat nomor tak di kenal tertera dilayar nya  senyum nya terbit


"Hai pacar? Lagi dimna aku udah nungguin dari tadi tauk" suara imut nan manja menyahut diseberang sana


Miko terkekeh "aku lagi di jalan sabar ya"


"Oke deh hati-hati dijalan sayang"


Miko tersenyum "iya sayang"


Tidak lama kemudian Miko pun sampai dirumah vanilla


"Hai bebiii!" Vanilla berlari kecil menghampiri Miko yang memberhentikan motor nya dihalaman rumah bertingkat dua itu


Miko menaikan kaca helm nya, "Hei"


Vanilla lalu naik ke boncengan dan memeluk pinggang Miko dengan erat "yuk berangkat!" Serunya semangat


Miko mengangguk "okee"


Dan motor itu melaju melintasi jalanan yang pagi itu padat merayap oleh kendaraan lainnya, di tengah jalan motor miko berpapasan dengan sebuah mobil yang ditumpangi oleh beberapa gadis remaja


Salah satu dari mereka bahkan sampai mencondongkan tubuhnya demi bisa melihat kearah nya.


"Lihat apaan sih Lis?"


Lista menoleh menatap putri "aku kayaknya barusan liat Miko deh"


"Massa? Dimana?" Putri dan yang lain nya menengok ke luar


"Itu barusan dijalan sama cewek tapi kayaknya bukan Mutia deh"


"Kalau bukan Mutia berarti bukan Miko juga palingan orang lain kamu masih ngantuk kali" ucap cia mengingat perjalanan mereka yang berangkat pagi-pagi buta


Lista memberengut "iya kali"


"Masih jauh nggak nih?"


"Masih jauh nggak ya pak?" Putri bertanya pada supir disebelah nya


"Nggak sampe sepuluh menit kok"


Keempat remaja itu tampak antusias


"Kira-kira apa ya reaksi Mutia pas lihat Kita"? Ucap putri.


Sedangkan Mutia sedang merapikan tempat tidurnya ketika mendengar ada suara-suara yang memanggil nya, batin nya bertanya siapa ya? Dia bahkan tidak punya teman disini?


Perlahan lahan Mutia berjalan ke pintu dan membukanya pada saat itulah dia melihat empat wajah familiar menyambut nya


"Mutiaaaaaa!" Seru keempat nya heboh


Terlalu terkejut Mutia sampai membeku ditempat tak menyangka kalau keempat sahabat nya akan datang menemui nya dihari yang tak terduga.


"Ka-kalian?" Cicit Mutia di tengah keterkejutan nya

__ADS_1


"Kangennn tauuuu!" Seru putri memeluk Mutia, Lista Fani dan cia pun ikut memeluk Mutia melepaskan rindu yang beberapa bulan ini mereka tahan


Setelah pelukan itu disudahi air mata merembes membasahi pipinya


"Loh?kok nangis sih mut?" Tanya Lista


"Iya kok nangis? Nggak seru ih" cia menambah kan


"Kita ganggu ya"


Mutia menggeleng cepat "kalian jauh-jauh ke sini buat ketemu aku doang?"


"Ya iyalah buat ketemu siapa lagi coba?"


"Kenapa? Kenapa kalian masih nemuin aku? Aku kan, aku kan udah jahat sama kalian" Mutia jadi teringat dengan perlakuan nya yang dulu dulu sampai hubungan mereka tak harmonis lagi.


"Ya ampun Mutia nggak ada yang jahat kok! Ya kan gaes?"


"Iyaa nggak ada udah deh lupain aja yang dulu ya udah nggak usah di ingat-ingat lagi"


"Iya Mutia kamu itu masih Kita anggap sahabat kita jangan nangis lagi dong"


Mutia hanya diam ketika merasakan putri menyeka air matanya "jangan sedih ya kita akan selalu ada buat kamu kok apa pun yang terjadi"


Mutia tersenyum "makasih semuanya"


Sekarang rasa nya hidupnya kembali seperti dulu meski tak lagi sempurna.


Mutia tidak bisa berhenti tersenyum melihat setiap interaksi teman-temannya bagaimana meraka tertawa,bercanda membuat Mutia merasa bahagia Mutia juga tidak mengira ternyata dirinya sangat merindukan mereka Mutia pikir dia tak lagi punya teman akan tetapi putri,Fani, Lista dan cia masih menganggap nya bagian dari persahabatan yang telah mereka jalin selama duduk di bangku SMP itu, meski di satu sisi Mutia merasa tak pantas menerima kebaikan Meraka lagi.


"Kita bawa makanan banyak loh buat kamu" ucap Lista sambil menunjuk tiga kantong plastik putih yang ada diatas sofa "dimakan ya"


Mutia tersenyum "nggak usah repot-repot beliin makanan buat aku kalian sudah datang aja aku udah seneng kok"


"Gimana rasanya tinggal di Bandung mut?enak nggak?" Timpal Fani


Sejenak Mutia diam lalu dia berkata "Gimna ya? Aku nggak bisa keluar kemana-mana dalam kondisi kaya gini terus sebisa mungkin nggak ada yang boleh tau soal aku dan Miko Disni apa lagi teman-teman sekolahnya Miko aku benar-benar nggak punya teman disini"


Putri dan yang lainnya saling berpandangan


"Sabar ya tapi habis lahiran nanti kamu bakal lanjut sekolah lagi kan?"


Mutia mengigit bibirnya gusar "apa aku pantas untuk bermimpi? Aku sudah merusak masa depan ku sendiri"


Putri menggenggam tangan Mutia dan mengangguk mantap "siapa pun kamu, apa pun masalah kamu dan bagaimana pun masalah kamu, kamu berhak punya mimpi"


"Kamu harus buktikan sama semua orang Mutia kalau kamu masih bisa membuat orngtua kamu bangga" ucap Lista menambah kan


"Kamu berhak punya mimpi, kita kejar bareng-bareng ya?" Sambung Fani


"Semangaaaaat semuanya kita pasti bisa" ucap cia mengepalkan tangannya


"Makasih, makasih karena kalian selalu ada buatku, kalian memang yang terbaik".


"Iya dong siapa dulu kita"


Lalu mereka pun memutuskan untuk berjalan-jalan


"Kita mau jalan kemana nih gaes?" Tanya cia selagi Meraka berjalan melewati lorong apartemen


"Kemana aja yang penting hepi" jawab Fani asal dan cia langsung mendecih ke arah nya


"Kamu nggak apa-apa nih Mutia ikut kita? Kalau misalkan kamu mager ya kita dirumah aja cerita-cerita" ujar Lista dia khawatir dengan kondisi kehamilan Mutia yang sudah memasuki trimester akhir.


Mutia menggeleng "aku masih kuat kok, kapan lagi kita bisa kayak gini mumpung kita semua lagi bareng nggak ada salahnya kan kita seneng-seneng"


"Oke deh pokoknya tenang aja kita bakal siap siaga buat jagain kamu"


Cia dan Fani yang berjalan paling depan mendadak berhenti


"Ya ampun gaes! Ada cogan!" Seru cia belingsatan kaya cacing kepanasan


"Cogan parah ini mah nggak ada obat" sambung Fani tak kalah heboh


Mutia mengangkat pandangan nya kedepan pada seorang remaja cowok yang sedang berjalan di depan mereka oh ternyata dia


Putri yang selama ini tidak pernah terlihat tertarik pada lawan jenis mendadak speechless apalagi ketika cowok itu berhenti dihadapan mereka dan menyunggingkan sebuah senyum manis.


"Hai Mutia mau kemana?" Tanyanya ramah


"Mau jalan sama temen-temen sebentar, oh iya kenalin ini temen-temen ku dari Jakarta" Mutia melirik keempat temannya yang tampak terbengong


"Hai gua raja" raja mengulurkan tangannya kepada cia lebih dulu


Salah tingkah cia menyambut uluran tangannya "hai, Cia"


"Salam kenal cia gue tetangga depannya Mutia"


Cia mengangguk dan tersipu malu begitu pun dengan Fani yang mendapat giliran kedua berkenalan dengan raja


"Ini Lista dan ini putri" Mutia memperkenalkan


"Gue raja" raja menjulurkan tangannya ke hadapan putri


Salah tingkah, putri balas mengenalkan diri "putri"


"Kamu nggak sekolah" tanya Mutia kemudian


"Gue ada urusan mendadak hehehehe"

__ADS_1


Senyum raja yang manis terang saja membuat keempat temannya terlihat terpesona, Mutia akui raja memang tampan dia terlihat rapi siang ini dan juga wangi.


"Kalau gitu gue balik dulu ya" pamit raja dan berlalu setelah tersenyum pada mereka semua


Sepeninggal raja Fani langsung berseru "manis banget dia kelas berapa mut?"


"Kelas sebelas"


"Ternyata seangkatan udah punya pacar belum ya?"


Lista segera menoyor kepala cia begitu mendengar ucapan Fani yang mengandung kehaluan


"Yee ngapain kamu nanya-nanya? Ngarep jadi pacar nya? Nggak usah halu"


"Hahaha ya kalo dia mau sih aku nggak bakal nolak"


"Aduh denger nih ya cowok cakep kaya raja tadi itu, pasti maunya sama cewe cantik lah, kita ini apalah cuma remahan ciki keinjek gajah" cia mulai berpikir realistis


"Tapi baru kali ini aku ketemu cowok yang ramah banget kayak raja, udah cakep, manis lagi" cetus putri sehingga membuat keempat nya menoleh menatap nya.


Merasa diperhatikan dengan seksama, putri pun merasa risi "kenapa?"


"Cieee yang baru ngerasain puber"


"Baru kali ini aku denger kamu Mujib cowok put, naksir ya sama raja haahah?"


Melihat rona merah yang muncul di wajah putri cia semakin gencar menggoda nya "tuh kan, tuh kan salting jadi sekarang putri udah mau sama cowok ya? Kemarin kan anti banget lihat cowo aja kayak lihat kuman".


Malu karena jadi bahan pembicaraan teman-temannya putri pun lekas-lekas mengambil langkah lebih dulu, Mutia yang melihat nya hanya terkekeh merasa lucu, sejak dulu putri memang tidak pernah dekat dengan cowok bahkan dia terkesan judes sehingga membuat para cowok enggan mendekati nya.


Akan tetapi hari ini Mutia melihat sisi lain dari dirinya putri tersipu malu saat berkenalan dengan raja


Lagipula raja memang cogan parah siapa coba yang tidak terpesona olehnya


Tapi bagi Mutia Miko jauh lebih tampan dan tentunya berhati baik dan bertanggung jawab.


Waktu pun berlalu setelah mereka berjalan-jalan disalah satu mall Bandung meraka kembali ke apartemen yang sudah menjelang sore hari, tepat ketika Lista membuka pintu dia menemukan sosok Miko berdiri di depannya mengenakan seragam sekolah yang tadi dilihatnya di jalan.


Melihat kemunculan Mutia dan teman-temannya terang saja membuat wajah Miko tampak terkejut


"Hai ko" Fani menegur lebih dulu sementara Lista memandang nya dengan penuh perhatian


"Hai kalian kesini? Kapan Dateng nya?"


"Tadi pagi sekitar jam tujuh gitu, kamu baru pulang?" Cia yang menjawab


Miko mengangguk lalu mengalihkan perhatian nya pada Mutia "habis dari mana?"


"Dari mall" jawab Mutia Singkat


Miko hanya mengangguk, merasa diperhatikan oleh Lista Miko langsung menoleh menatap nya bersitatap selama beberapa saat setelah nya Miko membuang muka dan berlalu.


Nggak salah lagi yang ku lihat tadi pagi itu dia, batin Lista sambil memandangi punggung Miko yang kemudian hilang di balik pintu kamar.


Miko meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku celana, begitu tau siapa yang menelepon nya Miko tersenyum


"Hallo sayang? Tebak aku lagi dimana?"


"Dimana?"


"Aku lagi di depan pintu nomor 204 hihihi"


Sekita wajah Miko berubah tegang "kamu lagi di depan?"


"Iya hehehe, ini aku lagi ketuk pintu nya dengar gak?"


Serta Merta Miko berlari keluar kedatangan nya yang tiba-tiba tentu saja sempat membuat keempat teman mutia mengernyit heran, satu detik sebelum Mutia menarik gagang pintu Miko sudah lebih dulu menahan gerakan nya


"Biar aku saja itu pasti jay" ucap Miko sambil tanganya berada digagang pintu


Mutia menengoknya dengan alis terangkat "ohh?"


Miko menepuk pipi Mutia pelan "iya barusan dia nelpon"


Tau dirinya tidak boleh terlihat oleh teman-teman Miko, Mutia pun segera beranjak setelah memastikan Mutia berada jauh dari pintu Miko segera keluar dan menarik vanilla yang nyengir ketika melihat


"Mau kemana? Kamu nggak ngajak aku masuk?" Tanya vanilla selagi Miko terus membawanya melewati lorong menuju atap gedung.


Setibanya didekat tangga darurat Miko melepaskan vanilla "kamu ngapain ke sini?"


"Kenapa sih kok kaya kaget gitu? Emngnya aku nggak boleh ya datang kerumah pacarku sendiri?"


Miko menghembuskan nafas nya lega karena dia sempat menahan Mutia yang tadi hampir membuka pintu, kalau sampai Mutia dan vanilla bertemu entah apa yang akan terjadi.


"Nggak gitu Van kamu datang tiba-tiba gini aku kan kaget di rumah juga lagi ada masalah"


"Masalah apa?"


"Biasalah orangtua ku lagi berantem"


Miko terpaksa berbohong demi kebaikan


"Ya ampun maaf ya aku nggak tau" vanilla lantas menangkup wajah Miko lalu menatapnya dalam-dalam "kamu nggak papa kan? Kalau ada apa-apa cerita sama aku ya"


Melihat bibir merah itu berbicara begitu dekat di depan wajahnya tanpa berpikir panjang Miko pun mendarat kan bibirnya disana mengira ciuman itu akan berakhir vanilla justru menaruh tangannya dileher Miko dan membalas ciumannya, tepat saat mereka saling membalas ciuman satu sama lain pintu didepan mereka membuka dan sosok raja muncul


Keduanya tampak terkesiap dan segera memisahkan diri


"Sorry" ucap raja sambil berlalu dia dan Miko sempat berpandangan selama beberapa detik sebelum akhirnya dia mengangkat bahu acuh tak acuh

__ADS_1


"Cowok bangsat Mutia bego" gumam raja tak habis pikir.


__ADS_2