
Mutia membuka pintu dengan wajah masam, sementara Miko berusaha untuk bersikap biasa saja meskipun sebenarnya dia merasa gugup setengah mati.
Sekarang sudah jam delapan malam, bagaimana kalau misalkan Mutia tau dia baru saja bersama vanilla?
"Dari mana? Kenapa baru pulang?" Tanya Mutia, menatap nya tepat di mata
Sejenak Miko tampak ragu dan menjawab "aku tadi ada tanding basket sama teman-teman, Terus habis itu kita makan-makan"
Mutia mengernyit, terus terang meragukannya, namun hari ini dia sudah terlalu lelah untuk bertengkar, jadi dia memutuskan untuk diam dan kembali ke kamar, untuk pertama kalinya Mutia tau kalau Miko sedang berbohong dalam diamnya air mata kembali menetes, membasahi bantal tempatnya menyandarkan kepala.
Kenapa rasanya sakit sekali?
Mutia bisa mendengar suara langkah kaki Miko yang memasuki kamar dan ia segera mengusap air matanya.
"Kamu masih marah?" Tanya Miko
Mutia merasa tidak perlu menjawab pertanyaan bodoh itu, jadi dia hanya diam sambil memejamkan matanya.
"Gimana sekolahnya?"
Mutia masih tidak menjawab
"Aku harus gimana supaya kamu nggak marah lagi?"
Mutia mengambil posisi duduk lalu menolehkan kepalanya ke arah Miko yang saat itu tampak merasa sangat tersakiti.
"Bisa nggak kamu mikir gimana rasanya jadi aku? Bisa nggak ko?!"
"....."
"Kamu udah bohongin aku, terus kamu ngelakuin kesalahan yang benar-benar fatal, aku nggak tau ada beberapa banyak kebohongan yang selama ini kamu ciptakan di belakang aku, aku terlalu percaya sama kamu selama ini yang membuat aku menjadi bodoh, iya kan!?" Mutia menarik napas dalam lalu menghembuskan nya dengan kasar
"Pernah nggak sih ko, kamu memikirkan masa depan kita dan adelio?"
Miko menelan ludah susah payah "Aku, aku....."
"Kamu nggak siap ko, kamu nggak siap untuk semua ini!"
"Aku memang nggak siap! Dari awal aku memang nggak siap!" Bentak Miko tak disangka-sangka, sehingga membuat bahu Mutia naik lantaran terkejut.
"Dari banyaknya cewek yang pernah aku tiduran, cuma kamu yang hamil! Aku nggak pernah siap untuk jadi orangtua Mutia! Nggak pernah siap!"
Mutia gemetar melihat ekspresi dan mendengar suara Miko yang meninggi, bukan karena hanya reaksinya namun juga pernyataan nya barusan.
"A-apa? Jadi bukan cuma aku ko?"
Tatapan mata Miko berubah tajam "Bukan"
"Se-sejak kapan?" Sulit bagi Mutia untuk sekedar berkata-kata, rasanya ia tak sanggup lagi menahan gejolak didalam dirinya yang seolah-olah akan meledak.
Miko tidak menjawab, dia justru membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkan Mutia dengan seribu tanda tanya.
Mutia jadi teringat dengan perkataan Adila dulu sekali, mengenai ucapannya yang mengatakan kalau salah seorang mantan Miko bernama Tiara sudah memberikan segalanya untuk Miko.
Apa yang dimaksud Adila adalah kesuciannya? Apa Miko memang seberengsek itu? Kenapa rasanya Mutia tida percaya? Mutia pikir dialah satu satunya namun ternyata salah.
Air mata Mutia kembali mengalir, dia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesah nya, tapi siapa?.
***
"Kenapa dek?" Suara agy langsung terdengar tak lama setelah panggilan tersebut terhubung "ada masalah?"
__ADS_1
"Enggak, enggk kok?" Jawab Mutia cepat-cepat
"Terus kenapa nelpon?"
"Jadi kalau nelpon artinya aku punya masalah gitu?"
"Hmm, bisa jadi soalnya selama ini kan gitu, kalau ada apa-apa juga larinya ke Abang, kenapa lagi? Kamu perlu uang lagi? Apa adelio sakit?"
Sejenak Mutia ragu untuk mengatakan namun saat ini perasaaan nya begitu tertekan "Miko...."
"Kenapa Miko? Dia nggak nyakitin kamu kan?"
Mutia menarik napas dengan gugup "Kangen rumah, Mutia kangen rumah"
Sebulir air mata jatuh ke pipinya dan nyaris tangisan itu menimbulkan suara isakan, Mutia cepat-cepat mengatupkan mulutnya supaya agy tidak mendengar nya.
"Mau pulang?" Tanya agy pelan penuh perhatian, "Kamu bisa pulang kapan pun kamu mau dek"
"Tapi Mutia udah mulai sekolah bang"
"Oh iya ya, terus gimana sama sekolah barunya? Seru nggak?"
"Ya gitu, Mutia takut"
"Takut kenapa?"
"Kalau ada yang tau soal Mutia"
"Nggak usah dipikirin, yang terpenting, kamu harus fokus belajar sekarang"
Mutia mengangguk seolah sadar kalau agy tidak mungkin melihatnya Mutia pun berkata "iya, Mutia nggak mungkin ngecewain semua orang lagi, Mutia Janji bakal belajar dengan sungguh-sungguh"
"Hhhehee iyaa"
Setengah jam berlalu, Mutia dan agy terlibat banyak pembicaraan, entah itu mengenai sekolah baru Mutia, Adelio, dan juga Kansa yang semakin cerewet seiring berjalannya waktu, sampai akhirnya Mutia mulai merasakan kantuk menyerang nya.
"Bang udah dulu ya? Mutia ngantuk nih"
"Okey, jaga kesehatan ya, baik-baik disana jangan sedih-sedih terus"
"Iya bang salam buat mama, papa, dan Kansa ya"
"Iya nanti disampaikan"
"Ya udah asalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Mutia menurunkan ponsel dari telinganya, kemudia menatap kosong ke luar melalui jendela kamar yang terbuka lebar.
Sudah lumayan , rasanya agak lega setelah bercerita, meskipun bukan cerita yang sebenarnya, setidaknya Mutia tidak merasa sendirian, lagi pula apa bila dia mengatakan kebenaran nya pada agy, bukan tak mungkin hal itu akan menimbulkan masalah baru dan membuat keadaan menjadi semakin buruk, biarlah Mutia sendiri yang tau.
***
Keesokan harinya semua terasa canggung dan tak lagi nyaman, setiap kali Mata mereka tanpa sengaja bersirobok, baik Mutia maupun Miko yang seperti kehilangan kemampuan untuk berbicara, Miko jelas merasa bersalah dan Mutia sendiri terlihat begitu tersakiti rasa kecewa yang amat besar tersirat di matanya.
Mutia tidak tau apa yang harus dilakukan nya setelah mendengar pengakuan Miko kemarin malam apakah harus bertahan menerima semua kenyataan atau sebaliknya yang memutuskan untuk pergi dan mengakhiri semuanya.
Namun ada adelio yang tidak bisa dilupakan begitu saja, adelio membutuhkan mereka berdua selain itu Mutia masih memiliki rasa sayang untuk Miko meski hati nya dirundung kekecewaan akibat setiap kebohongan yang diciptakan Miko selama ini.
Pertanyaan nya adalah, apakah Mutia bisa kembali bahagia setelah mengetahui semuanya?.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang baik" tiba-tiba Miko berbicara
Mutia berhenti memasang tali sepatunya dan mendongak menatap Miko yang perlahan mendekati nya lalu berjongkok di hadapannya.
Miko memasangkan tali sepatu Mutia sambil berkata "Maafin aku Mutia, aku tau salah untuk semuanya, plis maafin aku"
Air mata Mutia jatuh begitu saja membasahi pipinya, dilihatnya Miko yang sedang menunduk di depannya.
"Aku nggak tau ko, aku benar- benar kecewa sama kamu dan dengan diriku sendiri yang terlalu mencintai kamu dan menganggap kamu sempurna"
Miko mengangkat wajahnya yang penuh penyesalan "plis, maafin aku..."
Mutia mengusap air matanya kemudian berlalu begitu saja, dia pun melewati Dewi yang menggendong adelio sambil diam-diam mencuri dengar percakapan mereka.
"Kenapa ko? Kalian berantem ya?" Tanya Dewi sepeninggalnya Mutia
Miko enggan menjawab namun tetap mengangguk
"Kamu pasti nyakitin dia deh, kamu apain dia? Kamu selingkuh ya?"
Mendapat pertanyaan yang entah kenapa bisa tepat sasaran itu membuat ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya
"Iya"
"Tuh kan! Kamu mah emang nggak bisa dipercaya, selingkuh sama siapa kamu?"
"Teman sekelas"
"Gila kamu ko, kasihan Mutia tau!"
"Ya gimana lagi? Vanilla bisa kasih gue yang Mutia nggak bisa kasih dan gue juga nyaman sama dia"
"Gila, gila, gila! Dia ngasih apa aja emangnya ke kamu!?"
Miko menatap ke dalam mata Dewi, menanyakan secara tersirat apakah betul dia tidak tau apa yang dimaksud oleh Miko.
"Lo harusnya tau apa yang gue maksud"
"What? No, no, no! Enggak mungkin kamu sampe tidur sama tuh cewek?!"
Miko mengangguk tak lagi peduli seberengsek apa dia Dimata orang-orang.
"Gila kamu ko! Aku juga kalo jadi Mutia pasti marah banget sama kamu! Kamu kok tega sih?"
"Gue emang brengsek!" Ucap Miko lantas beranjak meninggalkan Dewi yang perlahan-lahan menyunggingkan sebuah senyum tipis.
"Hei?" Sapa raja ketika tak sengaja berpapasan dengan Mutia di lorong kelas
Mutia berhenti lalu menatap raja dan kemudian tersenyum tipis
"Hari masih pagi dan Lo udah bersedih, nggak asik banget sih...."
Mutia tertawa tanpa humor "Ya gimana lagi"
"Mau cerita nggak?'
"Aku nggak tau apa aku harus cerita sama kamu apa enggak ja"
"Harus!" Seru raja mantap dengan senyuman manisnya..
**
__ADS_1