Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 32 Sudah Tidak Sanggup


__ADS_3

Mutia memandangi Miko yang sedang makan dengan kelaparan di meja makan, lalu ia menghampiri Miko sambil membawa sebuah gelas dan botol berisi minuman dingin.


Mutia kemudian duduk di depan Miko dengan rasa cemas, dia takut kalau- kalau Miko berbicara dengan nada tinggi lagi Dengan nya, entah kenapa Miko tampak berbeda pagi ini...


"Kamu ke mana saja?" Tanya Mutia pelan dan penuh perhatian.


Miko berhenti mengunyah sejenak sebelum kembali memakan dengan lahap, Miko tidak pernah makan dengan cara itu sebelum nya, dia seperti makan dengan terburu-buru bahasa tubuhnya menunjukkan kalau dirinya sedang tidak nyaman, ada apa dengannya? Mutia terus bertanya-tanya dalam hatinya.


"Aku kemarin ke sekolah kamu, nyariin kamu..."


Miko mendongak menatap Mutia dengan ekspresi tak suka


"Aku ketemu cewek namanya Tiara dan dia bilang kalau kamu sama vanilla---"


Belum sempat Mutia menyelesaikan pembicaraan nya tiba- tiba Miko melepaskan sendoknya "Vanilla" lirih Miko lantas bergegas pergi


"Kamu mau kemana lagi?"


Miko tidak menjawab pertanyaan Mutia dan lebih memilih bergegas pergi, Mutia mengejarnya hingga ke luar unit dan bahkan meneriaki nya "Miko, adelio dari kemarin nyariin kamu!"


Kalimat itu sukses membuat Miko berhenti namun hanya sesaat karena setelah nya Miko justru semakin mempercepat langkahnya.


"Miko!" Teriak Mutia putus asa


"Lo nggak apa-apa?" Tanya raja yang entah sejak kapan berdiri didepan pintu rumahnya.


Mutia tidak menjawab, dia lebih memilih berbalik dan masuk ke dalam unit lalu menangis sejadi jadinya dibalik pintu


"Ko, kok kamu jadi kayak gini sih....." Lirih Mutia menangis.


Raja pun mendengar suara tangisan Mutia tersebut, karena ia merasa takut mengganggu ia pun memutuskan untuk berangkat ke sekolah saja, karena dia berfikir mungkin Mutia butuh waktu untuk sendiri.


**


"Ko? Kamu mau kemana?" Seru Dewi ketika berpapasan dengan Miko di tempat parkir


Miko melirik nya tanpa minat dan terus berjalan, namun Dewi tidak tinggal diam dan dia justru mengejar Miko yang hari itu terlihat sangat berantakan.


"Ko! Kamu kenapa?" Dewi berhasil dan menarik tangannya dan memaksa Miko menatap wajahnya


"Kenapa sih? Ada masalah?"


"Gue butuh vanilla sekarang juga! Gue nggak bisa kayak gini terus, gue nggak sanggup"


"Maksudnya? Emang vanilla ke mana?"


"Dia pergi ke Australia, dia ninggalin gue setelah ngerusak hidup gue!"


"Ngerusak hidup kamu gimana?"


"Gue harus cari dia! Gue harus cari dia!" Miko terus menyerocos seperti orang mabuk


"Kenapa sih? Emangnya apa yang udah vanilla kasih ke kamu sampe kamu jadi kaya gini?"


Miko menelan ludah susah payah "plis bantuin gue, gue bakal ngelakuin apa aja buat Lo asalkan Lo mau bantuin gue Dewi" untuk pertama kalinya Dewi mendengar Miko menyebut namanya dan terus terang itu membuat jantungnya berdebar, dia lantas menarik Miko menuju mobilnya.


"Kita perlu ngobrol" ucap Dewi dan membuka pintu mobil


Dan saat didalam mobil Miko pun bercerita tentang apa yang dikasih vanilla kepadanya sehingga membuat nya menjadi seperti sekarang ini.


"Aku nggak pernah pake barang itu ko"


"Jadi Lo nggak bisa bantu gue?"

__ADS_1


"Gimana ya... Tapi aku punya temen sih yang mungkin bisa bantu kamu buat dapet barang itu"


Seketika Miko tampak bersemangat "anter gua kesana"


Lalu Dewi pun menjalani mobilnya dan mencari temannya yang dapat membantu Miko.


Tidak lama kemudian mereka pun bertemu dengan temannya Dewi tersebut


"Jek lu bisa bantu temen gua nggak?" Ucap Dewi


"Bantu apa nih?"


Lalu Dewi menceritakan tentang Miko


"Jadi dia sekarang kecanduan, gimana lu bisa bantu nggak?"


"Okee bisa".


Tidak lama kemudian setelah mereka mendapatkan barang haram tersebut Dewi pun mengajak Miko untuk kerumahnya.


**


Mutia terbangun dari tidurnya ketika merasakan ada sebuah tangan yang mengusap- usap rambutnya, tanpa bertanya pun dia tau kalau tangan itu milik Miko.


"Kenapa tidur disini?" Tanya Miko


Mutia turun dari sofa dan berdiri menatap Miko tepat ke matanya


"Kamu kenapa hari ini? Apa kamu nggak tau kalau dari kemarin aku mikirin kamu, kamu ke mana aja ko?"


Miko tersenyum seraya menarik Mutia ke pelukannya "Sorry"


Mutia tidak ingin merusak suasana ini, Miko sudah pulang saja rasanya sudah syukur, Mutia tidak ingin menanyakan hal lain karena tak ingin membuat mood Miko menjadi buruk.


"Mutiaa..." Ucap Miko dengan lembut


"Iyaa?"


"Aku mau..."


"A-apa?"


Miko menarik lehernya dan mengecup bibirnya perlahan "boleh nggak?"


Tubuh Mutia mendadak terasa kaku, Mutia masih merasa marah pada Miko dan dia masih kecewa berat, tapi Miko malah meminta haknya, bagaimana ini.....


Perlahan Mutia mengangguk mata miko berkilat-kilat seiring jemari nya yang kembali menarik Mutia mendekat dan mencium nya.


Ketika Mutia hendak membalasnya, tiba-tiba suara tangisan adelio membuat ke duanya tersentak, Mutia pun menoleh menatap Miko yang terlihat kecewa akan tetapi dia tetap menunjukkan seulas senyum.


"Nanti saja" ucap Miko


Mutia mengangguk lantas berlari kecil menuju kamar, sekitar lima belas menit kemudian ia pun kembali ke ruang tamu.


Mutia menghela nafas ketika mendapati Miko sudah tidur di sofa.


Mutia menghampiri lalu duduk disisi nya, dipandanginya wajah Miko dengan seksama


Miko tampak kurus sekarang, rambutnya agak panjang dan semrawut.


Miko memang sudah banyak mengecewakan nya namun Mutia tidak bisa sungguh- sungguh membenci nya, katakan lah dirinya bodoh namun begitulah kenyataannya cinta Mutia mengalahkan rasa bencinya.


**

__ADS_1


Minggu pagi ini Mutia dikejutkan oleh kehadiran ibu mertua nya, Sera datang pagi- pagi sekali dan masuk ke dalam unit tanpa ramah tamah pada Mutia yang ketika melihat kehadiran nya sudah tersenyum manis.


"Miko mana?" Tanya Sera setelah duduk di sofa


"Ada ma di kamar" jawab Mutia


"Mama mau minum apa?"


"Nggak perlu" Sera kemudian berdiri dan berjalan menuju kamar utama.


Mutia mengikuti nya dengan was- was, entahlah Mutia selalu merasa takut setiap kali berhadapan dengan ibu mertuanya itu, hal itu dirasakannya sejak terjadi pertengkaran ketika Mutia melahirkan Adelio dulu.


"Ya ampun Miko! Kamu kenapa jadi kayak gini sih? Itu rambut kenapa bisa panjang banget? Janggutan lagi! Terus kok kamu jadi kurusan?" Tanya Sera bertubi- tubuh


Miko yang baru saja terbangun dari tidurnya hanya menggaruk- garuk kepalanya "Mama kapan Dateng?"


"Baru aja, kamu jawab dulu pertanyaan mama, kenapa kamu jadi kayak gini sih?"


"Kayak gimna sih ma? Biasa aja kok" Miko menguap lebar


"Biasa apanya? Kamu tuh kayak nggak keurus!"


Sera kemudian membalikan badannya menghadap Mutia dan berseru "kamu tuh ngapain aja sih? Masa nggak bisa ngurusin suami?! Miko jadi Kumal gini, terus kurus lagi! Kamu nggak masa ya di rumah!"


Mutia gelagapan "Eng-enggak gitu ma"


Sera mengibaskan tangannya, tak memberikan Mutia kesempatan untuk membela diri


"Halah, udahlah! Ini semua pasti gara- gara kamu sekolah lagi, jadi kamu nggak sempat ngurusin Miko, lagian kamu ngapain sih sekolah lagi? Mau jadi wanita karir? Cih mendingan kamu ngurusin anak sama suami di rumah! Mau jadi apa sih memangnya kamu? Nggak usah mimpi ketinggian deh!"


"Ma jangan salahin Mutia, Mutia nggak salah" tukas Miko


Mutia menegakkan bahunya, berusaha tegar.


"Udahlah, kamu jangan belain dia terus! Memang kenyataan nya gitu Koko! Jangan- jangan, kamu kerjaannya main terus ya di luar sama temen- temen sekolah kamu?!"


"Aku nggak kayak gitu, ma..." Jawab Mutia gugup


Sera mendengkus "mendingan kamu nggak usah sekolah! Di rumah aja ngurus anak! Kamu lagian bisa apa sih Mutia? Nggak bisa apa- apa kan selain nyusahin orang tua dan nyusahin anak saya juga?"


"Ma udahlah ma!" Bentak Miko tak disangka- sangka.


Baik Sera maupun Mutia memegang dada nya masing-masing lantaran terkejut


"Aku mau mandi" Miko beranjak dan masuk ke kamar mandi


Sepeninggalnya Miko, Sera langsung menoleh menatap Mutia "itu tuh pasti gara- gara kamu kan Mutia! Miko jadi kayak orang frustasi gara- gara kamu!"


"Ma, mama nggak akan ngomong gini kalo tau anak mama yang sebenarnya itu kayak gimana" sahut Mutia


"Kalau kamu nggak sanggup ngurusin dia, ya sudah biar mama bawa Miko pulang ke Jakarta!"


"Jangan ma" Mutia menggeleng panik


Sera lagi- lagi mengibaskan tangannya lalu beranjak, meninggalkan Mutia yang perlahan- lahan merosot jatuh ke lantai dan menangis.


Sementara itu di dalam kamar mandi Miko hanya bisa menghembuskan nafas panjang kemudian tangan nya merogoh sesuatu di dalam saku jaket nya.


Di kepalanya seketika terngiang-ngiang oleh ucapan Dewi


"Aku udah lama suka sama kamu ko, aku rela kasih apa aja ke kamu, asal kamu mau jadi pacarku, kamu nggak perlu ngeluarin duit buat beli ini, biar aku aja yang urus, kamu mau nggak jadi pacarku?" Ucapan Dewi kemarin yang sampai saat ini Miko masih mengingat nya, dan karena Miko butuh Dewi ia pun menerima Dewi sebagai pacarnya.


Lagi- lagi Miko melakukan kesalahan yang sama tapi kali ini dia melakukan nya karena barang tersebut.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2