
Akhirnya Mutia dan raja pun sampai di Jakarta
Setelah berjumpa dengan keluarga nya dan melepas rindu dengan adelio, barulah Mutia bergegas ke rumah sakit untuk menemui Miko.
Raja Masih setia mengikuti nya dan bahkan menemani nya ke sana, Mutia tidak menolak, justru bersyukur karena paling tidak, di saat hatinya gelisah seperti sekarang ini, dia membutuhkan seseorang untuk tetap berada di sampingnya dan untuk saat ini raja lah yang ada bersamanya.
Tidak lama pun Mutia dan raja sampai dirumah sakit, Mutia pun langsung menuju kamar di mana Miko sedang di rawat
Setibanya di depan pintu kamar tempat Miko di rawat, Mutia Bertemu Dengan Sera dan Adi yang sedang berpelukan, Sera terdengar menangis pilu dan hal itu tentu saja membuat jantung mutia yang sejak tadi berdetak kencang semakin tak karuan.
"Ma, mama kenapa nangis?" Tanya Mutia, perlahan mendekat
Sera melerai pelukannya lalu menoleh menatap Mutia
Mutia nyaris tak percaya kalau itu adalah mantan ibu mertuanya lantaran wajah nya tak lagi sama, dan fisiknya yang Tampak mengurus, beliau terlihat lelah dan putus asa
"Ya tuhan Mutia, akhirnya kamu datang juga!" Sera memeluk Mutia dan menangis terisiak di pundaknya "Miko pengen banget ketemu kamu, ada yang mau dia bicarakan sama kamu"
"Miko baik- baik aja kan ma?"
"Miko di dalam, kamu bisa ketemu dia sekarang" ujar Sera di sela Isak tangisannya
Mutia mengangguk dan pelan- pelan dia membuka pintu berdinding cokelat tersebut.
Bau obat dah suhu yang cukup dingin menyergap nya seketika setelah ia menginjakkan kaki nya ke dalam ruangan serba putih tersebut
Pandangan matanya beralih pada sosok yang tengah tertidur di atas ranjang.
Hanya perlu beberapa detik bagi Mutia untuk mengenali kalau sosok itu adalah Miko, tanpa di sadarinya pula, air matanya mengalir begitu saja begitu melihat Miko yang tampak kurus dan pucat.
Apakah ia sedang sekarat? Pikiran itu tiba- tiba memasuki kepalanya.
"Miko..." Lirih Mutia berjalan mendekati miko
Mata yang tadinya Terpejam itu pun membuka.
Perlahan Miko menggerakkan kepala nya untuk mencari si pemilik suara yang amat di rindukan nya itu.
"Mutia?"
Mutia tersenyum miris "iya ini aku"
__ADS_1
Miko membuka matanya lebih lebar dengan tatapan tak percaya "Ini beneran kamu? Aku nggak lagi mimpi kan?"
Mutia berusaha menahan tangis nya "Kamu sakit?"
Miko meraih tangan Mutia yang menempel di sisi ranjang dan menggenggam nya dengan erat "Udah lama aku pengen ketemu kamu, tapi kamu sibuk terus, kamu masih marah sama aku?"
Miko seperti anak kecil yang merajuk, sungguh Mutia merasa sedih melihat keadaan nya yang sekarang
"Kamu kok kurus banget sih ko? Kenapa kamu kok jadi kaya gini?"
Miko menangis dan memohon pada Mutia untuk mendekat dengan cara mengangkat ke dua tangan nya, seolah- olah minta dipeluk
Mutia tidak kuasa menahan tangis nya dan serta Merta ia mendekat dan memeluk Miko
"Aku mau minta maaf sama kamu, maafin aku Mutia, maaf untuk semuanya"
Mutia mengerjapkan matanya dan setitik air mata jatuh dibahu Miko "aku udah maafin kamu kok, aku nggak pernah benci sama kamu"
"Makasih, setelah ini tuhan bakalan benar- benar panggil aku"
Mutia menarik tubuh nya dan menatap Miko dengan tatapan marah "kamu nggak boleh ngomong gitu!"
"Kamu harus kuat! Kamu harus lawan sakit itu! Ingat adelio! Dia butuh kamu! Adelio butuh kita!"
"Adelio butuh kamu juga! Jaga adelio ya?" Suara Miko melirih dan ia terlihat ke susahan menarik nafas
"Dia butuh kita miko! Kamu harus sembuh!" Seru Mutia dengan nada tinggi bercampur putus asa "Ko denger aku nggak! Kamu harus sembuh!"
Namun, mata Miko justru perlahan terpejam lalu tubuh itu berubah Kaku dan terasa dingin.
"Miko?"
"...."
Mutia merasakan jantung nya seakan jatuh ke lantai dan ia pun berteriak histeris "Miko! Miko!"
Pintu kamar itu membuka dan ke dua orang tua Miko masuk dengan terburu- buru
"Ada apa Mutia?" Tanya Adi terkejut
"Pa, Miko Kok nggak nyahut sih diajakin ngomong? Badannya juga agak dingin" Mutia tak bisa menyembunyikan rasa takut nya.
__ADS_1
Adi mendekati anak sulungnya itu dan merasakan denyut nadi nya, ia diam sejenak, menarik nafas lalu berkata "inalillahi wa innailaihi rojiun"
"Enggaaaaaak!" Sera menjerit frustasi "anakku ga mungkin pergi meninggalkan aku!" Ia memeluk Miko, mengusap- usap pipinya dengan penuh sayang "Miko ini mama sayang, kamu jangan pergi mama mana bisa hidup tanpa kamu...."
Adi memeluk istrinya itu dengan kuat dan berbisik "Kita semua sayang Miko ma, ikhlaskan Miko, saat ini dia udah gak ngerasa sakit lagi, sekarang ini lebih baik kita doakan saja agar Miko tenang dia alam baru nya"
Sementara itu, Mutia menundukkan kepala nya dalam- dalam dan melepaskan genggaman tangan nya dari Miko "selamat tinggal ko, aku udah maafin kamu kok, kamu orang baik....."
Mutia lalu berlari ke luar kamar dan menjatuhkan dirinya di atas kursi panjang yang berada di luar ruangan.
Mana ia tau kalau Miko akan pergi secepat ini, di usianya yang masih remaja, Miko meninggalkan mereka semua dan meninggalkan kenangannya.
Mutia tidak pernah membenci nya meskipun hatinya pernah dihancurkan berkeping- keping, hanya saja mungkin luka itu masih ada dan ia belum bisa sepenuh nya melupakan nya.
Tapi ia ikhlas dan sudah memaafkan semua kesalahan Miko dulu padanya.
"Kenapa?" Tanya raja seraya mendekat
"Miko udah pergi ja, dia udah nggak bareng kita lagi"
Reaksi apa yang bisa raja tunjukkan selain memeluk Mutia dan menenangkan nya "Sabar ya Mutia"
Mutia mengusap air mata nya yang terus berjatuhan akibat kehilangan Miko untuk selama nya.
Miko adalah yang pertama untuknya, yang selama ini di matanya terlihat sempurna
Mutia pernah menganggap nya sumber kebahagiaan dan menaruh semua harapan di tangannya, namun takdir berkata lain, perpisahan nya adalah garis tangan ke duanya.
Rejeki, maut, jodoh semua di tangan tuhan, dan Mutia percaya, apa pun masalah yang selama ini ia hadapi memang sudah menjadi takdirnya, termasuk jodohnya, Mutia tidak mengira bahwa kematian akan memutuskan hubungan nya dengan Miko selama- lama nya.
**
Kabar kematian Miko pun tersebar ke seluruh teman- temannya, bahkan keluarga Mutia sendiri tidak menyangka kalo Miko akan pergi secepat itu.
Begitu dengan teman- temannya yang disekolah baru maupun disekolah lama nya
Mereka pun berdatangan ke rumah Miko dan mengantar kan Miko ke tempat peristirahatan terakhir.
Bahkan bunga dan Adila saat itu pun sempat bertemu Mutia dan mereka pun saling bermaafan atas ke jadian yang dulu.
****
__ADS_1