Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 18 Penghianatan


__ADS_3

Putri dan yang lainnya memutuskan untuk pulang pagi-pagi buta seperti kemarin, Mutia sudah meminta mereka menginap selama dua malam dirumah nya namun keempat nya menolak dengan alasan tidak bisa bolos sekolah terlalu lama.


Jadilah Mutia yang mengalah dan mengantar mereka semua ke tempat parkir untuk mengucap kan perpisahan entah kapan mereka akan bertemu lagi.


"Dah Mutia sampai ketemu lagi ya" ucap Fani memeluk Mutia dengan penuh persahabatan


"Iya fan rajin-rajin belajar ya" ujar Mutia tulus, Mutia berharap semoga keempat sahabat nya menjadi orang yang benar-benar sukses dan membanggakan ke dua orangtuanya kelak


Miko yang berada di sana hanya diam memperhatikan. Lista yang sejak kemarin ingin bicara Dengan nya akhirnya menghampiri


"Ko aku mau bicara"


"Bicara apa?" Miko mengangkat alis


Sesekali lista menoleh ke belakang melalui bahu nya takut kalau ada yang akan mendengar suaranya selain Miko


"Aku kemarin lihat kamu sama cewe di jalan, mesra banget lagi itu siapa?"


Miko tertawa mendengus "cewek? Yang mana? Salah liat kali"


"Udahlah gak usah bohong! Aku lihat sendiri kok!" Lista menatap Miko tajam kemudian menambahkan "awas ya kalau sampe kamu macem-macem di belakang Mutia aku bakal bilangin sama orangtuanya"


Miko tak menjawab dari wajah mukanya Lista tau Miko sedang berusaha menahan emosi nya


"Kalau memang itu pacar kamu putusin! Awas ya kalau kamu berani nyakitin temenku!" Setelah nya Lista beranjak masuk ke dalam mobil


Beberapa menit kemudian mobil itu pun melaju meninggalkan Miko dan Mutia lagi-lagi ada air mata yang jatuh Mutia sedih karena harus kembali merasa sendirian.


Merasa Miko sudah lebih dulu beranjak Mutia pun menoleh kan kepala nya ke belakang


"Ko, kok gak bareng sih?" Ucap Mutia setengah berlari kecil


"Buruan dingin" sahut Miko sekenanya


Mutia memberengut dan mempercepat langkahnya


"Tungguin!"


Dan Mutia nyaris terpleset kalau saja Miko tidak cepat-cepat menangkap nya


"Makanya hati-hati dong kalo jalan! Kamu tuh...." Miko mendesah menatap Mutia yang terkejut dengan reaksi nya "bikin ribet"


Miko lekas berlalu dan meninggalkan Mutia yang terheran-heran dengan sikap nya, ya sekarang Mutia sadar Miko tak lagi sehangat dulu dia seperti orang asing entah kenapa.

__ADS_1


Hari demi hari berlalu dan Miko semakin menunjukkan sisi lain dari dirinya, Miko jarang memperhatikan makan Mutia dan menanyakan tentang apa saja yang dilakukan nya dirumah dan Miko juga terbilang sering pulang larut malam, seperti saat ini sudah jam dua belas malam tapi Miko belum juga pulang, di telpon tidak dijawab dikirim pesan pun tak kunjung dibalas entah kemana


Mutia akhirnya memilih keluar sebentar menuju rooftop untuk sekedar melihat bintang-bintang, kadang hal sederhana seperti biasa itu mampu membuat bebannya berkurang


"Raja?"


Raja yang entah sejak kapan berada di sana pun menoleh "Mutia? Ngapain kamu malam-malam ke sini?"


Mutia tersenyum "lagi pengen aja"


"Oh" raja tak bersuara lagi dia kembali menatap bangunan-bangunan di bawah sana dengan pandangan yang sulit diartikan


"Kamu tinggal sama siapa sih? Kok aku nggak pernah lihat orangtua kamu?" Tanya Mutia kemudian.


Mutia sungguh penasaran tentang raja sebenarnya, beberapa bulan ini mereka sering bertemu dengan tidak sengaja jika sudah begitu raja akan mengajak nya mengobrol menanyi kabar Mutia dan kehamilan nya, raja pemuda yang easy going dia humoris suka melontarkan lelucon yang sering kali membuat Mutia terbahak-bahak tanpa sadar, sebagai seorang teman baru raja sangat perhatian kepadanya raja juga sering memberikan nya makanan entah itu cemilan ringan maupun martabat manis, Mutia menerima semuanya karena ia yakin raja adalah orang yang baik, oleh sebab itu Mutia ingin lebih tau lebih banyak tentang raja salah satunya tentang kedua orangtua nya yang tidak pernah terlihat selama Mutia bertetangga dengan mereka..


Raja memasukkan kedua tangannya ke saku jaket "kenapa Lo mau tau?"


"Selama ini aku cuma lihat kamu doang, aku nggak pernah lihat kedua orangtua kamu, aku penasaran sama kamu" jawab Mutia jujur


Raja tertawa mendengus lalu menatap Mutia tepat dimata nya "gue yatim piatu Mutia, kedua orangtua gue meninggal setahun yang lalu kecelakaan"


Seketika Mutia langsung menyesali perkataan nya


Mutia menelan ludah susah payah kemudian bertanya lagi "jadi Selama ini kamu tinggal sendiri an?"


Raja mendongak menatap langit yang penuh bintang "gue nggak sendirian, gue masih punya tuahn"


Mutia mengelus perut nya dengan perasaan


"Kamu bisa hidup tanpa orangtua kamu, kamu hebat raja"


"Makasih, kamu yang kuat ya tetap bersyukur kamu jauh lebih beruntung daripada aku dan orang-orang diluar sana"


Mutia tersenyum "jadi selama ini biaya hidup kamu dari mana? Maaf aku banyak nanya"


"Mama dan papa ku pegawai negeri sipil Mutia"


"Ohh, kamu nggak punya sodara gitu?"


"Kebetulan aku satu-satunya"


"Kamu bisa anggap aku adik" ucap Mutia cepat

__ADS_1


Raja memandangi penuh arti "boleh dari itu?"


"Eh?"


Disisi lain di dalam kamar bernuansa biru itu vanilla duduk di pinggir ranjangnya dengan memegang sebuah botol minuman dingin, diatas ranjang ada miko yang duduk termenung tanpa mengenakan baju keduanya baru saja melakukan sesuatu hal yang tidak seharusnya, semua itu berawal dari bujukan vanilla yang melarang Miko untuk pulang karena malam itu dia tinggal sendiri dirumah, asisten rumah tangga nya sedang pulang kampung untuk beberapa hari ke depan.


"Aku nggak sepolos yang kamu pikir kan?" Cetus vanilla tiba-tiba "aku nggak virgin lagi sejak SMA"


Miko menoleh menatap punggung yang ditutupi tank top hitam itu, bercak merah yang tadi diberikan nya tampak jelas di leher jenjang milik vanilla yang putih.


Merasa dirinya sedang diperhatikan vanilla pun menoleh pada Miko


"Hahaha kenapa? Kamu kaget?"


Miko menggeleng "sorry"


"Kalau aku hamil gimna? Kamu mau tanggung jawab gak?"


Tanpa vanilla ketahui Miko sudah gemetaran ditempat nya pada saat mendengar pernyataan itu, terbayang olehnya wajah Mutia yang mungkin sedang menunggu nya pulang saat ini, karena Miko tidak menjawab vanilla menaruh botol tersebut kelantai dan merangkak naik ke tempat tidur menyandarkan kepalanya di pundak Miko dengan manja


"Aku sayang kamu" bisik vanilla diraihnya jemari miko diatas selimut dan menggenggam nya dengan erat seolah tak ingin dipisahkan "kamu sayang aku kan?"


Miko mengangguk pelan "iya"


"Ko"


"Hm?"


"Aku punya sesuatu"


"Kamu janji nggak bilang ke siapa-siapa ya?"


"Janji".


Vanilla tampak ragu sejenak namau saat melihat Miko penasaran dengan ucapan nya dia pun beranjak menuju meja belajar nya, diambil nya sebuah vas bunga dan menuangkan nya keatas meja, bunga-bunga plastik tersebut berjatuhan bersama beberapa bungkus kecil berisi bubuk berwarna putih.


"Kamu tau ini apa?"


Miko menatap bungkusan kecil itu dari bentuk nya saja Miko tau kalau "itu sabu?"


Vanilla mengangguk dengan mata berbinar-binar "kamu mau coba?"..


***

__ADS_1


Note : Ini adalah cerita terngenes yang pernah aku buat, ambil baiknya dan buang buang buruknya ya...


__ADS_2