
Malam hari nya, ketika adelio sudah tidur dan waktu menunjukkan pukul sembilan Mutia merangkak naik ke atas ranjang lama di pandangi nya Miko yang sedang asyik bermain ponsel.
"Kenapa? Ngeliatin nya gitu amat?" Tanya Miko yang rupa nya sadar kalau diri nya sedang diamati oleh mutia
"Eh hm eng-enggak" jawab Mutia gelagapan
Miko menaikan alis nya "kenapa ada yang mau kamu bilang?"
Mutia meremas sprei nya menatap Miko lekat - lekat "ehmm itu..."
"Itu apa?"
Mutia menarik nafas menghembuskan perlahan kemudian berkata dengan cepat "aku udah siap"
Seketika hening menyergap lalu detik kelima Miko bertanya "maksud nya?"
Di bawah sinar lampu itu wajah Mutia terasa memanas ketika dengan berani dia berkata "aku udah siap berhubungan sama kamu"
Miko bergeming menatap Mutia tanpa ekspresi
Sementara Mutia jantung nya berdetak kencang ketika membayang kan kalau diri nya dan Miko kembali melakukan hal itu.
Sudah berbulan - bulan Mutia tidak memberikan hak Miko atas dirinya, waktu itu Mutia masih merasa takut untuk mengulangi nya karena rasa bersalah yang menggerogoti diri nya.
Namun hari ini mungkin sudah waktu nya berdamai dengan masa lalu, toh pada akhir nya mereka memang diciptakan untuk bersama, dan Miko sudah jelas - jelas memilih nya dan tidak akan meninggalkan nya, jadi mungkin inilah waktu yang tepat untuk membiarkan Miko menyentuh nya.
"Aku ngantuk" ucap Miko
Dan seketika Mutia membisu bahkan ketika Miko menarik selimut dan mengambil posisi tidur yang membelakangi nya, Mutia masih tidak bisa berkata apa - apa.
Apa Miko sedang menolak nya?
Kenapa?
Tak disangka - sangka air mata merembes di pipi nya dan Mutia segera mengusap nya.
Seperti nya bukan perasaan nya saja kalau belakangan ini Miko tidak lagi bersikap hangat pada nya, tapi Miko juga tak pernah lagi menyentuh nya, bahkan memeluk nya saat tidur, atau sekedar memberikan nya sebuah ciuman.
Satu pertanyaan terbesit di pikiran nya apakah Miko tidak lagi bahagia bersama nya?.
Keesokan nya Mutia sedang menelpon ibu nya untuk meminta doa restu karena besok ia akan sekolah lagi.
"Ma besok Mutia sekolah, Mutia minta doa nya ya, semoga semua nya lancar" ucap Mutia pada ibu nya melalui telpon di Minggu pagi
"Iya, mama doa kan semoga semuanya lancar, adelio gimana? Ada yang ngurus kan?"
"Iya ma ada kok, mama tenang aja orang nya baik aku udah dekat sama dia"
"Oh ya? Bagus kalau gitu, maaf ya mama belum bisa ke sana, kalian baik - baik aja kan?"
Mutia mengangguk tapi tiba - tiba dia sadar kalau ibu nya di seberang sana tidak mungkin tau jadi Mutia segera menjawab "baik ma, salam buat papa, bang agy sama Kansa ya ma"
__ADS_1
Sejenak Mutia tidak mendengar suara ibu nya
"Hallo ma?"
"Apa kamu bahagia?"
Giliran Mutia yang tidak bersuara, pertanyaan itu sederhana namun entah kenapa mutia tidak menemukan jawabannya, Mutia sendiri ragu apakah dia bahagia.
"Jika suatu saat kamu berada di titik di mana kamu nggak sanggup lagi menjalani semua nya, kamu boleh pulang kerumah sayang".
Dan runtuhlah pertahanan Mutia, dia menangis tersedu namun berusaha mati - matian menahan suara nya supaya tidak di dengar oleh ibu nya, Mutia tidak ingin menambah beban pikiran nya, menceritakan masalah nya hanya akan menambah masalah baru.
"Iya ma, ma adelio bangun" jawab Mutia susah payah
"Yaudah kamu jaga kesehatan ya disana, walaupun mama nggak ada di dekat kamu, doa mama selalu menyertai"
"Iya ma makasih, Mutia sayang sama mama, maafin Mutia ya ma" tutur Mutia penuh penyesalan
"Iyaa sayang mama udah maafin kamu kok"
Lalu pembicaraan tersebut berakhir, dan Mutia lantas berjalan mendekati adelio yang sedang gelisah di tempat tidur nya.
"Sayang kenapa? Haus ya" ucap Mutia sambil mengangkat adelio ke pangkuan nya
Tau - tau terdengar suara pintu di ketuk, Mutia pun beranjak untuk membukakan pintu
Jam sembilan pagi siapa yang datang? Pikir Mutia seraya menarik gagang pintu
Ada seseorang di depan nya seorang remaja seusia nya, berkulit putih dan berwajah bule rambut nya pirang dan panjang.
"Hai, aku vanilla" remaja perempuan itu mengansurkan tangan nya ke hadapan Mutia yang menatap nya penuh tanya "aku teman nya Miko di sekolah".
Disisi lain Miko sedang mencari vanilla dan bertanya kepada sahabat nya vanilla yaitu Tara
"Vanilla mana?" Tanya Miko pada Tara ketika jam pelajaran berakhir dan digantikan jam istirahat
Tara mengangkat alis nya "Lo kan pacar nya, masa nggak tau"
"Lo tau dia kemana?"
"Enggak"
"Seriusan tar"
"Ya serius, mana gue tau dia dimana, orang dia nggak ada bilang apa - apa sama gue, Lo kan pacar nya, masa nanya gue"
"Lo ada masalah apa sih sama gue? Kenapa kayak nya nggak suka sama gue?"
"Lo mau gue suka sama Lo? Lo pikir gue itu mau jadi penghianat sama temen gue sendiri!"
"Tar Lo ngerti maksud pertanyaan gue, Lo kayak anti banget sama gue, Kenapa? Gue ada salah sama Lo?"
__ADS_1
Tara berdiri melipat tangan nya di depan dada lalu mendengus malas, "Lo itu fakboy banget tau nggak? Udah punya istri masih aja ngejar - ngejar cewek lain, ngotak nggak sih Lo!?"
Seketika Miko bungkam mata nya menyiratkan keterkejutan
"Lo ngomong apa, gue nggak ngerti" ucap Miko Mulai dilanda gugup
"Alah! Nggak usah sok - Sokan nggak ngerti deh, vanilla udah cerita semua nya ke gue, gini ya kalo mau ngedeketin cewek boleh asalkan jangan temen gue!"
Miko tidak berkata - kata hanya mengembuskan napas panjang yang terkesan jengkel, jadi vanilla sudah memberitahu rahasia nya pada Tara, kenapa vanilla melakukan nya? Seharus nya dia menjaga rahasia itu dengan sangat baik meskipun Tara adalah sahabat nya, bukan berarti dia bisa mengatakan apa pun pada nya lebih - lebih mengenai siapa diri nya sebenarnya.
"Kenapa? Kok diem? Gak bisa jawab ya"
Miko mendengkus alih - alih menjawab pertanyaan itu, dia justru mengambil tas nya dan beranjak pergi meninggalkan Tara.
***
"Miko sudah cerita semua nya, kebetulan aku sama dia temen sekelas jadi cukup dekat" ucap vanilla seraya tersenyum manis
Mutia mencengkram kulit sofa yang didudukinya entah kenapa dia merasa vanilla bukanlah sekedar teman biasa bagi Miko, Miko tidak mungkin mau mengatakan hal paling rahasia jika dia benar - benar tidak mempercayai orang tersebut.
Jadi apakah Miko merasa vanilla begitu penting sampai dia mempercayai nya?
"Oh gitu, kamu nggak sekolah?" Tanya Mutia ketimbang bertanya hal - hal mengenai sejauh apa dia mengenal Miko alangkah lebih baik nya kalau Mutia menanyakan hal lain.
"Enggak hari ini aku ada urusan keluarga, oh iya, kamu sendiri nggak sekolah lagi?"
"Aku bakal sekolah lagi besok"
"Dimana? Apa bareng sama Miko?"
"Enggak aku sekolah di tempat lain, kamu tau kan masalahku dan miko ini bukan sesuatu yang harus di ketahui orang banyak, ini rahasia"
Vanilla mengangguk kecil "aku ngerti"
"Kamu nggak cerita soal Miko sama teman - teman kamu yang lain kan?"
"Tenang aja itu rahasiaku dan Miko, cuma kita berdua yang tau"
Lagi - lagi Mutia merasa perkataan vanilla barusan memberi kesan lain, apa ya? Mutia tidak nyaman saja mendengar nya.
"Miko di sekolah gimna sih?"
"Maksud nya apa? disekolah Miko punya pacar gitu maksud kamu?"
Mutia tampak tergagap bagaimana vanilla bisa tau kalau itu adalah maksud pertanyaan nya?
"Kamu sebucin itu ya sama dia?"
"Eh?"
"Sampai perasaan itu membuat kamu buta"
__ADS_1
"Ma-maksud nya?".
Bersambung....