
Raja sudah akan menutup pintu unit apartemen milik Mutia sewaktu dia mendengar suara derap langkah seseorang dan pada saat dia menoleh ke sana didapati nya sosok Miko berjalan pelan sambil sesekali menguap lebar
Raja menggertakan gigi nya lalu melemparkan ransel besar ditangan nya ke hadapan Miko
Sejenak Miko membisu bahkan tampak terheran-heran dia mendongak menatap raja dengan wajah terkantuk-kantuk
"Kenapa?" Tanyanya
Raja mendengus "sorry tapi gue harus nonjok Lo kali ini"
Dan melayang lah tangan raja yang mengepal ke wajah Miko, efek dari pukulan itu hanya membuat Miko mundur selangkah, masih dengan mata sayu diusap nya pipinya yang terasa perih
"Udah?" Miko kembali melangkah melewati raja yang tak habis pikir dengan reaksinya padahal raja butuh perlawanan
"Mutia lagi dirumah sakit" cetus raja kemudian
Langkah Miko berhenti "ngapain?"
Alis raja terangkat satu keatas "dia baru aja ngelahirin anak Lo!, Kemana aja Lo?"
Miko berbalik menghadap raja "gue ada urusan"
"Emangnya ada yang lebih penting ketimbang ngurusin Mutia yang lagi butuh kehadiran Lo?"
Miko garuk-garuk kepala "okee gue kesana"
Raja mendesah keras lalu beranjak dari unit nya.
Sudah ada Miko kan? Biarkan saja dia yang mengantar barang keperluan Mutia kan memang Miko yang Mutia butuhkan
Namun setelah beberapa detik raja menutup pintu terdengar suara ketukan, raja membukanya dan menemukan Miko berdiri didepan nya seperti orang yang sedang kebingungan
"Rumah sakit mana?"
Raja berusaha menahan emosi nya saat menjawab "harapan!"
Miko manggut-manggut dan berbalik badan akan tetapi dua detik kemudian dia kembali menghadap raja
"Kamar nomor berapa?"
Kali ini raja menghembuskan nafas panjang dan masih berusaha mengendalikan emosi nya, rasa-rasanya dia masih ingin menonjok Miko
"Satu kosong"
"Okey thanks"
Raja hanya Mengamati kepergian miko yang berjalan dengan langkah lunglai cowok itu seperti baru saja tersadar dari sesuatu tapi ntah apa raja tidak tau dan juga tidak peduli.
Mutia baru saja menidurkan bayi nya ketika terdengar suara pintu terbuka dan Miko muncul diambang pintu dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan, entah dia sedang bahagia, terkejut, atau sedih.
Tapi Mutia merasakan ada sesuatu yang lain dari cara Miko menatap nya dan juga bayi nya
"Ko Adelio udah lahir" lirih Mutia menahan tangis
Miko berjalan mendekat perlahan-lahan di tangannya ada sebuah tas yang tak disangka-sangka terjatuh saat ia berjalan, Miko membiarkan nya lalu berhenti tepat di sisi ranjang.
Air mata tau-tau mengalir dari pelupuk mata nya begitu melihat bayi mungil tengah tertidur pulas didekapan Mutia
__ADS_1
"Kamu adzanin dulu ya" Mutia lalu mengansurkan adelio ke hadapan Miko
Gemetar disambut nya bayi mungil itu dan dibawa nya kedekat jendela lalu miko membisik kan lantunan adzan ditelinga Adelio dengan lembut
Setelah nya Miko mencengkram pinggiran jendela dengan geram perbuatan nya beberapa jam yang lalu seakan menari-nari diingatan nya
Dosa
Kesalahan fatal
Penghianatan
Miko menghembuskan napas panjang nya dengan kesadaran penuh dia berkata pada dirinya sendiri "gue pasti bisa, gue bakal jauhin semua itu demi adelio dan Mutia"
Setelah itu dia pun kembali ketempat Mutia
"Kamu pasti tadi ngerasa sakit banget ya? Maaf aku nggak di samping kamu tadi" ucap Miko tangannya menggenggam erat jemari Mutia
Mutia tersenyum "yang terpenting sekarang kamu Disni"
Miko balas Tersenyum "iya, kamu istirahat dulu ya, biar aku yang jagain adelio"
Mutia mengangguk dan segera mencoba memejamkan mata nya untuk tidur meski terasa berat lantaran merasa mulas dan nyeri di bagian bawah tubuh nya, dan beberapa menit kemudian Mutia pun tertidur pulas.
Sementara itu Miko yang tengah fokus memandangi wajah adelio yang cenderung mirip dengan nya tau-tau tersentak karena getaran ponsel disaku celana nya.
Vanilla memanggil.....
Miko menarik napas lalu menghembuskan nya perlahan seiring dengan jari nya yang menekan tombol ikon merah di layar.
Waktu pun berlalu pagi menjelang subuh keluarga Mutia dan keluarga Miko sudah tiba dibandung melihat kedatangan mereka semua tentu saja membuat Mutia merasa bahagia, lebih-lebih ketika ibunya yang datang-datang langsung memeluk nya dan menanyakan keadaan nya.
Menjadi seorang ibu memang bukanlah hal yang mudah butuh perjuangan dan keberanian dan Mutia kembali ragu apakah nanti dimasa depan ia bisa mendidik adelio dengan benar..
"Mirip kamu hidung nya" ucap Amira pada saat memandangi bayi mungil yang tertidur didalam box bayi yang ada disisi ranjang Mutia
Mutia hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu nya barusan, sementara itu di sudut ruangan ada Sera yang memandangi Meraka dengan tatapan tak suka
"Jadi kapan kamu boleh pulang?" Tanyanya tanpa basa basi
"Dua hari lagi ma"
"Mama nggak bisa menunggu selama itu ko" Sera menoleh menatap anaknya dengan mimik serius "ya sudah kita selesaikan aja disini"
"Selesaikan apa ya?" Amira membalikan badan nya menghadap lurus kearah Sera
"Saya mau bawa Miko pulang ke Jakarta"
Perkataan nya justru membuat ruangan tersebut diselimuti keheningan sesaat sampai akhirnya agy bersuara
"Maksud nya gimna Tante? Tante Sera mau ngajak Miko balik ke Jakarta lagi?"
Sera mengangguk "iya saya mau Miko kembali bersekolah dijakarta setelah itu dia juga bakal saya kirim keluar negeri buat kuliah disana"
"Teruss Mutia gimana?" Tanya Amira bernada getir
Sera melipat tangan di atas dilututnya sembari mengangkat bahu "ya mutia bisa tetap tinggal disini kalau dia mau"
__ADS_1
"Loh apa-apaan ini ser?" Amira kemudian menoleh menatap Sera dan suami nya penuh tanya "mas kenapa Sera kok ngomong nya gitu? Kalian benar-benar mau bawa Miko?"
Adi tidak menjawab hanya diam sambil memandangi istri nya meminta penjelasan
"Aku udah ngomongin ini sama Miko dulu waktu mereka pertama kali ke Bandung, pokoknya setelah Mutia melahirkan mereka harus pisah"
Mutia tidak bisa berkata-kata hanya bisa menatap Miko yang menunduk dalam
"Nggak bisa gitu dong! Ini anak nya baru lahir loh masa kalian mau lepas tanggung jawab begitu? Nggak bisa ya! Saya nggak terima anak saya diginiin!"
"Udahlah mbak! Aku yakin mbak bisa ngurusin mereka, Miko ini anak laki-laki harus sekolah tinggi-tinggi!"
"Jadi menurut kamu Mutia nggak butuh sekolah? Dia juga punya cita-cita dia berhak melanjutkan hidup nya untuk mencapai mimpi-mimpi nya, emang nya kamu saja yang mau menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi!"
"Aduh mbak! Mutia itu nggak bisa apa-apa biarin aja dia dirumah ngurusin anaknya, nanti kalau ada yang mau tinggal dinikahi kan beres"
"Seperti itu kamu bicara soal Mutia sama saya ser? Saya nggak nyangka ya kalau kamu kaya gitu, saya tau kamu kecewa tapi saya juga merasakan apa yang kamu rasakan saya juga malu sama seperti kamu tapi gimana pun juga mereka bertiga ini tanggung jawab kita bersama, kita harus bimbing mereka sama-sama bukan malah memisahkan mereka kayak begini!"
"Oke, saya akan berikan Mutia dan anaknya sejumlah uang setiap bulan nya kalau memang mbak menyebut soal tanggung jawab"
"Nggak bisa gitu dong Tante! Memangnya Tante pikir ini masalah kecil apa? Anak Tante itu harus bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat ke adik saya, om ini gimana sih om? Pa ngomong dong jangan diam saja!" Agy ikut bersuara sambil menatap wajah-wajah paruh baya didepan nya
Mutia sudah menangis mendengar setiap rentetan kata yang keluar dari mulut ibu mertua nya tersebut rasanya benar-benar menyakitkan dan Mutia ingin berteriak untuk menghentikan perdebatan itu
"Kamu mau ninggalin aku ko?"
Mutia tidak mengira kalau suaranya akan keluar dan menanyakan hal itu, sekarang semua mata tengah menatap nya tak terkecuali miko
"Mutia, mama nggak yakin kalian bisa bertahan selama nya, kalian itu masih terlalu muda banyak hal-hal yang akan membuat rumah tangga kalian diterpa badai, menikah muda apalagi karena terpaksa itu bukan hubungan yang sehat dan patut diperjuangkan"
"Saya nggak terima ya anak saya diginiin! Miko nggak boleh ikut ke Jakarta, dia harus tetap dibandung bersama Mutia dan anaknya"
"Aku akan tetap bawa Miko ya mbak! Suka nggak suka!"
"Kamu tuh keterlaluan banget sih Dimana hati nurani kamu sebagai seorang ibu? Tega kamu memisahkan anak dan ayah nya begitu saja?"
"Sudah, sudah! Jangan bertengkar di sini, ini rumah sakit sekarang lebih baik kita tanyakan saja mau nya Miko bagaimana" Doni menengahi
Sera tersenyum sinis lalu dengan percaya diri dia bertanya dengan Miko
"Kamu mau ikut mama kan ko balik ke Jakarta? Kamu pasti mau kan kuliah ke luar negeri?"
Miko tidak menjawab ruangan itu sunyi semua tengah menunggu jawabannya
"Ko? Kamu ikut mama kan?" Tanya Sera mulai gusar
Miko mendongak menatap ibunya dengan mantap "maaf ma, aku mau dibandung saja sama Mutia"
Dan bersyukur lah Amira sekeluarga begitu mendengar penuturan Miko barusan Mutia memaksakan seulas senyum kecil seiring membuncah nya rasa haru yang menyelusup di dalam dirinya
"Miko mama udah pernah bilang kan sama kamu soal ini?"
Miko mengangguk "ma miko bukan anak kecil lagi, ini keputusan Miko maaf kalau bikin mama marah dan kecewa"
Sera mendengus dan mengelengkan kepala nya tak habis pikir "kamu ya! Mama benar-benar kecewa sama kamu!" Lalu Sera melangkahkan kaki meninggalkan ruangan itu
Mutia mengusap air mata nya yang sejak tadi sudah berjatuhan
__ADS_1
Terimakasih tuhan karena masih membuat Miko menepati janji nya untuk tidak meninggalkan nya..