
Sambil membawa adelio pergi dari sana, Mutia menangis sejadi jadinya, tak lagi dia pedulikan tatapan orang- orang di sekitar situ yang menatap nya penuh tanya, Mutia hanya ingin segera pergi dari sana membawa adelio bersama nya.
"Are you okay?" Suara itu membuat langkah Mutia berhenti ketika ia menoleh ke belakang raja tengah tersenyum padanya
Raja mengajak nya ke taman agar Mutia bisa mengeluarkan kesedihan tanpa harus diperhatikan oleh orang lain.
Raja duduk dikursi panjang di sebuah taman dengan adelio di dekapannya, sementara itu Mutia masih menangis terisak- isak di depannya
Ingin rasanya ia menarik Mutia ke pelukannya dan mengatakan kalau semua akan baik-baik saja, raja tau apa yang baru saja terjadi dan dia sudah menduga hal itu sebelum nya,
Raja sempat mendengar pembicaraan Dewi ketika menelepon seorang temannya di lorong unit ketika mereka berpapasan di jalan tadi, Dewi mengatakan kalau dirinya dan Miko sudah resmi jadian sejak beberapa hari yang lalu.
Saat itu juga ingin rasanya raja menghajar Miko hingga kehabisan nafas, namun Mutia tau-tau datang di saat yang tepat dan raja membiarkan Mutia mengetahui semuanya sendiri, bisa dibayangkan betapa hancurnya hati Mutia saat ini.
"Apa aku penuh dosa, sehingga tuhan ngasih cobaan terus sama aku ja? Apa aku memang nggak pantas untuk bahagia?" Lirih Mutia seraya mengusap air matanya yang jatuh ke pipi, hati nya hancur berkeping-keping dan Mutia tak tau bagaimana cara menyudahi tangisan nya ini.
Raja tersenyum kemudian menjawab "ini cara tuhan buat ngasih tau ke Lo, kalau dia bukan orang yang tepat buat Lo, percaya deh Mutia, tuhan punya rencana yang baik buat lo dan adelio, juga Miko di masa depan yang akan datang"
Mutia menatapnya dengan mata sayu "kamu tau nggak sih, rasanya sakit banget, sakit banget ja"
"Gue tau, gue ngerasain apa yang Lo rasain"
Mutia menoleh kan kepala nya ke arah adelio dan menangis lagi "Aku nggak tau ja, apa aku bisa bertahan menghadapi semua ini, gimana kalo Keluargaku tau soal ini? Aku nggak mau nambah beban pikiran mereka, kenapa sih aku selalu aja nyusahin mereka...."
"Lo pasti bisa! Yakin sama diri Lo sendiri Mutia! Menurut gue keputusan Lo udah bener, Lo memang harus meninggalkan sesuatu yang hanya membuang-buang waktu Lo".
Apakah selama ini dia sudah membuang-buang waktu nya dengan mempercayai Miko? Mungkinkah keputusan nya tadi adalah akhir dari semuanya? Mutia tidak tau harus berbuat apa setelah semua yang terjadi hari ini, namun yang pasti untuk sementara waktu ini dia tidak ingin bertemu Miko.
Rasa nya ia masih tak percaya kalau Miko dan Dewi telah mengurangi nya dibelakang, padahal selama ini Mutia sangat mempercayai Dewi, dia juga sudah menjadi temannya dan bahkan Mutia menganggap nya seperti kakak perempuan nya sendiri, namun siapa sangka Dewi bisa jadi musuh dalam selimut dalam sekejap.
Tadinya Mutia mempunyai rencana untuk memperkenalkan Dewi dengan kakak nya, karena Mutia menganggap Dewi sangat baik selama ini, tetapi ketika mengetahui Dewi yang sebenarnya rencananya itu hilang sekejap mata dan tidak akan pernah terjadi.
Diusianya yang masih belia, Mutia tidak pernah mengira bahwa hidupnya akan menjadi sesulit ini
Hanya ada penyesalan setiap kali ia mengingat kesalahan terbesarnya di masa lalu yang sungguh nyata mengubah masa depannya
Mutia bahkan hampir tidak pernah merasakan bahagia yang sempurna, yang dirasakan nya justru perasaan hampa meskipun Miko berada disisi nya, lebih-lebih ketika dia menemukan fakta bahwa Miko telah banyak membohongi nya, semua menjadi terasa tak lagi bermakna.
Hanya ada adelio yang setidaknya mengingatkan diri nya kalau dia tidak sendirian menjalani semua ujian yang datang.
Kendati demikian Mutia percaya bahwa Tuhan menyayangi nya dan semua cobaan ini adalah bentuk kasih sayang nya supaya Mutia senantiasa mengingat dan lebih dekat Dengannya
Dan Mutia juga percaya rencana tuhan jauh lebih baik dari pada rencananya, ia pun yakin suatu saat dirinya akan menemukan kebahagiaan yang tidak pernah diduga-duga.
**
Mutia menarik napas dalam-dalam sebelum ia membuka pintu unit apartemen nya, jam menunjukan pukul delapan malam, sudah waktunya untuk pulang karena ia tak tega membiarkan adelio berada di luar rumah sampai larut malam.
Seharian tadi, Mutia pergi ke sebuah tempat penitipan anak, di sana dia menghabiskan waktu nya untuk memikirkan dengan matang- Matang langkah apa yang harus diambil nya setelah apa yang terjadi.
Merasa dirinya akan siap kalau- kalau bertemu Miko di dalam sana barulah ia menekan handle pintu dan membukanya, langkahnya berhenti tepat saat pintu itu terbuka dan menampilkan adegan di mana Miko dan agy sedang adu jotos, bukan hanya ada agy namun juga ada ibunya.
Begitu melihat kedatangan Mutia, agy langsung berhenti mengacungkan tinjunya terhadap Miko yang terbaring di lantai
"Mutia? Ya Allah nak kamu kemana aja? Kami udah dari tadi sore nungguin di sini, kamu dari mana sih? Kenapa baru pulang?" Ibunya mendekat dan langsung mengambil alih untuk menggendong adelio yang sedang tertidur pulas.
"Kamu bawa adelio ke mana? Udah malem gini baru pulang, mama tau kamu lagi ada masalah Sama Miko, tapi kamu harus ingat kalau adelio ini masih kecil, kamu harus pikirkan kesehatannya dia"
"Bilang sama Abang, apa aja yang udah dilakuin Miko sama kamu, sampe kamu nggak mau pulang ke rumah!" Seru agy penuh emosi
Mutia mendekati Miko, membantu nya berdiri, dan bersikap seolah-olah dia dan Miko baik- baik saja "Kamu nggak ada masalah kok"
Miko menarik tangannya yang di sentuh oleh Mutia, kemudian tertawa mendengus "Gue udah capek hidup kaya gini bang, Lo bisa bawa adek Lo pulang ke Jakarta"
Rahang Agy mengeras begitu mendengar penuturan Miko barusan.
"Miko, Kok kamu ngomong nya gitu?" Tanya Amira berhati-hati, karena sejak tadi dia merasa Miko tidak seperti biasanya
Miko terlihat tidak fokus dan kerap kali meracau layaknya orang yang sedang berada di bawah pengaruh sesuatu, namun entah apa
"Miko capek ma, Miko udah nggak sanggup lagi, Miko mau pisah sama Mutia"
Mutia memejamkan matanya, membiarkan air matanya itu mengalir deras di pipinya.
Tangisan ini.... Tak bisakah melunturkan rasa kecewa dan sakit hatinya? Mutia sudah lelah menangis seharian, namun rasa sakit itu tak kunjung hilang dan juga berkurang, justru semakin bertambah dengan perkataan Miko yang mengambil langkah itu.
"Eh brengsek! Maksud Lo apa ngomong kayak gitu? Lo mau ninggalin adek gua gitu aja, hah?!" Sergah agy dan kembali menarik kerah baju Miko
"Seenggak nya Mutia masih punya rumah kan buat dia pulang?"
__ADS_1
Satu pukulan mendarat di wajah Miko dan beberapa detik kemudian ada darah yang mengalir dari hidung nya.
"Sudah gy! Sudah! Kamu jangan pukulin Miko terus, kita bicarakan ini baik-baik, biar mama telpon Tante Sera dulu, oke?" Amira mengambil jalan tengah kemudian menelepon orang tua Miko untuk segera ke Bandung.
"Aku baru dari Bandung loh mbak kemarin, masa harus pergi lagi ke sana? Capek tau bolak-balik" begitu jawab Sera di seberang sana
"Tapi kamu memang harus datang ke sini, anak- anak kita lagi ada masalah"
"Kenapa lagi? Pasti Mutia deh yang bikin masalah, iya kan?"
"Saya nggak mau ribut ya sama kamu, mendingan sekarang kamu segera ke sini" Amir menutup telepon lalu menatap Miko dan Mutia secara bergantian.
Raut wajah kedua nya tampak tidak bersemangat, mereka juga tak terlibat percakapan sejak tadi, dalam hatinya Amira bertanya- tanya, masalah seperti apa yang sedang dihadapi kedua nya sehingga mereka sama- sama tampak frustasi.
Keesokan pagi nya, setelah mereka semua berkumpul di unit apartemen Miko dan Mutia, pembicaraan pun mulai dibuka
"Jadi sebenarnya ada apa? Kamu sama Mutia ada masalah apa ko?" Sera mulai bertanya seraya menatap Miko dan Mutia secara bergantian.
Miko merasakan lidahnya kelu, sungguh dia tidak benar- benar sadar ketika mengatakan kalau dirinya mau berpisah dengan Mutia, apa pun yang dia katakan kemarin malam, keluar begitu saja tanpa pertimbangan karena saat itu ia baru saja menghisap barang tersebut yang diberikan Dewi setelah dia dan Mutia bertengkar.
Oleh sebab itu Miko tidak tau harus menjawab apa meskipun dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia memang tidak sanggup hidup seperti ini lagi, namun bukan berarti dia ingin meninggalkan Mutia dan adelio, hanya saja Miko merasa selalu ada yang kurang di dalam hidupnya, entah apa.
"Katanya, Miko mau pisah sama Mutia" jawab Amira yang langsung di respon Sera dengan bahu yang terangkat dramatis
"Yang benar ko? Kamu mau pisah sama Mutia? Kenapa? Kok tiba-tiba gini?" Sera menoleh menatap Miko dengan ekspresi kaget
Miko menggeleng "Miko nggak tau ma, Miko nggak bermaksud kayak gitu"
"Terus maksud omongan Lo yang kemarin malam itu apa? Hah!?" Sergah agy yang kemudian di tenangkan oleh Doni
"Gy..." Tegurnya sambil menggerakkan telapak tangan nya sebagai isyarat agar Agy tidak terbawa emosi
"Maaf bang, kemarin gue cuma lagi agak stres aja" tutur Miko
"Tuh kan! Mama bilang juga apa? Kamu itu nggak bakalan sanggup hidup kaya gini! Ngaca dong ko! Kamu sekarang kayak gembel! Kurus, dekil kayak nggak pernah dikasih makan tau nggak! Padahal setiap bulan kan mama transfer uang ke kamu buat keperluan kamu sehari- hari di sini! Tapi kenapa kamu jadi kayak nggak pernah makan sih?"
Sera kemudian melirik Mutia dengan tatapan penuh arti "atau uangnya dipake ya buat beli barang- barang yang nggak guna?"
Sadar karena perkataan dan lirikan mata itu mengandung pesan tersirat, Mutia lalu angka bicara "Mutia nggak pernah dikasih uang sama Miko ma, Mutia pake uang yang dikirim sama mama nya Mutia sendiri"
Sera tertawa mendengus mendengar perkataan Mutia barusan seolah-olah tak percaya terhadap Mutia.
"Ya karena memang Mutia yang salah mbak, seharusnya dia itu di rumah aja, nggak usah sok-sokan sekolah lagi lah! Ngapain sih? Memangnya mbak nggak rugi? Buang-buang duit buat anak yang bikin malu orang tua?"
"Lah kamu sendiri gimana? Ngerasa rugi nggak menyekolahkan anak yang bikin kamu malu?"
Sera mendelik malas namun tetap melanjutkan perdebatan, "mbak bisa lihat sendiri kan Miko gimana? Dia kayak nggak di urus sama sekali, perasaan waktu Mutia dirumah Aja, Miko kelihatan sehat dan baik- baik aja nggak kaya sekarang ini"
"Mutia kan juga berhak meraih mimpinya, dia juga punya cita-cita untuk masa depannya, lagian Miko sudah besar dan bisa ngurus dirinya sendiri, kenapa jadi harus Mutia yang disalahkan kan? Mutia juga harus ngurusin adelio kan? Ya kamu harus nya ngertilah gimana rasanya jadi Mutia! Jangan nyalahin anak saya kalau anak kamu jadi kayak gitu!"
"Pokoknya saya mau bawa Miko pulang ke Jakarta!"
"Oh Yaudah! Saya juga akan bawa Mutia pulang ke Jakarta! Saya nggak mau anak saya terus merasa bersalah karena ditekan sama mertua seperti kamu!"
"Oh silahkan! Malah itu yang saya mau!" Sera berdiri dan meraih tasnya
"Sudah, sudah! Jangan Bertengkar! Kita selesaikan semua nya dengan kepala dingin" ucap Adi suaminya sembari menahan pergelangan tangannya
"Nggak ada lagi yang perlu diselesaikan, Miko harus ikut pulang ke Jakarta!"
"Mutia, siap-siap nak! Kita pulang ke Jakarta sekarang juga!" Amira menoleh menatap Mutia yang tampak terkejut
"Sabar, sabar! Jangan ambil keputusan sepihak begitu dong! Ini kan hidup Miko dan Mutia, sebaiknya kita tanya sama mereka berdua, mau nya sekarang apa dan bagaimana"
Baik Sera maupun Amira hanya mendesah pendek lalu kembali duduk disofa tersebut.
"Jadi Miko, Mutia kalian mau nya apa? Apa kalian siap untuk berpisah?" tanya papa Miko sambil memandang keduanya secara bergantian
Ada hening yang panjang, sebelum keduanya sama- sama menjawab
"Siap" tutur Mutia mantap
"Nggak siap" ucap Miko, sebelum akhirnya terkejut dengan jawaban yang keluar dari mulut Mutia
Merasa Miko tengah memandang nya dengan tatapan tak percaya, Mutia mengangkat dagunya lalu menatap miko
"Aku mau kita pisah" ucap Mutia dengan mantap tanpa merasa ragu sedikitpun
Miko terkesiap, tak mengira kata- kata itu akan keluar dari mulut Mutia "Kamu masih marah sama aku? Aku minta maaf Mutia, aku benar- benar menyesal"
__ADS_1
"Udah ko, aku udah capek dan aku udah terlalu banyak sabar, dan mungkin emang seharusnya kita pisah dan berjalan menuju hidup masing-masing kedepannya"
Kemudian Sera mengangguk setuju "okey, semua udah jelas kan? Sebaiknya mereka memang harus berpisah karena ini nggak baik buat kesehatan mental mereka"
"Nggak semudah itu bilang pisah, kalian itu punya adelio! Ingat gimana masa depannya besok" Amira menimpali
"Iya Mutia plis pikirkan lagi ya?" Bujuk Miko seperti orang ketakutan
Mutia menggeleng "Kadang kita harus melepaskan nya, demi menemukan kebahagiaan lain ko, aku nggak bisa bertahan sama kamu selama ini kamu terus menyakiti aku, aku yakin Adelio akan mendapatkan banyak kasih sayang dari kita semua"
Sejenak ruangan itu di sergap oleh hening, bersamaan dengan itu, air mata mengalir dari pelupuk mata Mutia.
Miko memandangi wajahnya dengan seksama dan tanpa terasa matanya pun meneteskan butiran yang sama.
"Jadi Miko kamu ikut mama pulang ke Jakarta kan?"
"Gimana sekolah ku ma?"
"Udah jangan kayak orang susah, semua bisa diatur"
Amira menyentuh tangan Mutia lalu bertanya "Kamu ikut mama pulang kan sayang?"
Mutia menggeleng "Mutia mau menamatkan sekolah Mutia dulu ma"
"Kamu mau tinggal dimana nak? Kita nggak punya kerabat disini, pulang sama mama, papa dan bang agy ya?"
"Mutia bisa tinggal di apartemen ini sampai kapanpun dia mau, Mutia sudah saya anggap seperti anak sendiri" Adi buka suara
"Bukan masalah di mana dia akan tinggal, tapi dengan siapa? Saya nggak mungkin membiarkan Mutia tinggal sendirian di sini"
"Mutia bisa ma! Plis mama cukup bantu Mutia dengan jaga adelio"
"Mutia, berpisah dari anak itu adalah cobaan paling besar seorang ibu nak, tolong pikikan baik- baik"
"Dijakarta nanti kan ada Miko yang bisa jagain adelio, Mutia mau fokus sekolah ma, Mutia mau membayar semua kesalahan Mutia dulu"
"Hadeh, malah mau enak-enakan disini, jauh dari keluarga, mau bebas dan nggak ada yang ngelarang" tukas Sera mulai menyulut emosi siapa pun yang mendengar nya
"Ma sudahlah! Hargai keputusan Mutia, dia juga punya cita-cita, dan kita harus berikan dia kesempatan" ujar Adi
"Perempuan itu kodratnya di dapur, kalau kerja anak nggak terurus, jadinya malah bikin malu orang tua!" Balas Sera ketus yang juga bermaksud menyindir Amira
Merasa tersindir dengan ucapan itu, Amira pun membalas sengit "Lah kamu, dirumah aja tapi anak nggak keurus, jangan bisa nya nge-judge orang aja"
"Sudah-sudah, jangan bertengkar" Doni menangahi lalu dipandangi nya putri nya dengan penuh perhatian "Mutia sekarang sudah besar dan sudah jadi orang tua, Mutia bisa ambil keputusan apa pun yang Mutia anggap baik dan bisa menjaga dirinya dengan baik, papa, mama, agy, Kansa dan adelio akan menunggu Mutia pulang ke rumah"
"Pa nggak semudah itu kita lepasin Mutia sendirian Disni, nggak ada siapa- siapa yang bisa jagain dia, kita nggak punya kerabat didekat sini" protes Amira
"Iya pa nanti kalau ada apa-apa sama Mutia gimna?" Agy menambah kan
"Mutia janji, Mutia akan jaga diri baik-baik" Mutia terus berusaha meyakinkan keluarga nya bahwa dia bisa bertahan hidup sendirian di Bandung tanpa ada nya sanak saudaram
Mutia juga yakin pada dirinya sendiri kalau ia pasti bisa melewati semuanya sendiri meskipun di lain sisi dia harus merelakan adelio untuk tinggal berjauhan dengan nya sementara waktu ini.
Mutia tidak bisa mempercayai orang lain lagi sekarang karena kejadian kemarin Miko dan Dewi, adelio akan aman bersama keluarga nya di Jakarta.
"Kalau gitu, Abang janji bakal sering lihat kamu ke sini" ucap agy sambil tersenyum lebar, menghargai keputusan Mutia, masalah telah membuat pemikiran adik kecil nya itu menjadi lebih dewasa dan agy salut dengan keberanian nya.
Sera berdeham kemudian berkata kepada Miko "Ko, kamu bisa talak Mutia sekarang"
Miko menggeleng "Miko nggak mau pisah dari Mutia ma"
"Dia aja udah nggak mau sama kamu! Ngapain lagi coba kamu pertahankan?"
"Mutia plis kasih aku kesempatan" Miko mencoba menggenggam tangan Mutia, akan tetapi Mutia lebih dulu menepis nya
"Aku nggak mau kecewa lagi ko.... Kamu bisa talak aku sekarang"
Miko tiba-tiba berdiri dan menunjuk-nunjuk Mutia dengan kasar "Oke! kalau itu mau kamu!" Seru nya
Baik Mutia dan semua yang ada di sana terkejut dengan reaksi Miko yang tiba-tiba marah tersebut, dan disaksikan oleh kedua keluarga dan jatuh lah talak dari mulut Miko dengan penuh emosi
"Aku talak kamu! Puas!?" Miko kemudian berlalu meninggalkan semua orang dengan pandangan penuh tanya
"Ko anak kita jadi gitu pa? Kayak bukan Miko deh, Miko kan nggak pernah marah-marah" ungkap Sera keheranan.
Mutia menutup mulutnya rapat- rapat sesuatu telah mengubah sifat Miko, namun biarlah mereka semua tau dengan sendirinya apa yang sudah membuat Miko berubah menjadi temperamen, waktu yang akan menjawabnya.
Bersambung...
__ADS_1