Terjebak Pergaulan Bebas

Terjebak Pergaulan Bebas
Bab 12 Kehidupan Baru


__ADS_3

Tepat saat agy hendak menutup pintu rumah, keempat remaja perempuan memanggilnya, setelah dilihat-lihat dengan seksama barulah agy sadar kalau mereka adalah teman-teman Mutia.


"Hai bang agy" putri menyapa lebih dulu


"Hai, kemana aja kalian?, Kok baru kelihatan"


Keempat remaja itu hanya tersenyum, tidak ada yang mau menjawab pertanyaan itu, alih-alih menjawab mereka justru menanyakan keberadaan Mutia


"Mutianya ada nggak bang?"


Agy menggigit bibir atasnya tampak ragu, "hm Mutia lagi dijalan, mau kebandung"


"Hah? Jadi, berita soal Mutia itu beneran bang?" Tanya Lista terkejut


Agy mengangguk, "Abang minta tolong ya, kalian jangan jauhin Mutia, jangan biarin dia ngerasa gak punya temen."


"Kita boleh minta alamatnya nggak bang?, Siapa tau kapan-kapan kita maen kesana"


"Okeey, sebentar ya" agy masuk kedalam rumah sebentar, tak lama kemudian dia kembali sambil membawa secarik kertas berisikan alamat tempat tinggal baru Mutia "nih alamatnya, kalo ada yang tanya soal Mutia sama kalian, Abang harap jangan ada yang kasih tau ya Mutia sekarang lagi dimana".


Keempat remaja itu mengangguk


"Iya bang janji".


**


Unit apartemen yang akan mereka tempati itu tidak begitu luas, namun cukup, kamarnya ada dua, berukuran 4x4 meter dengan sebuah jendela geser menghadap ke luar, sinar matahari menerobos masuk ketika tirai merah marun itu disibak.


Mutia termenung pandangannya lurus kelangit biru, rasanya ia sedih untuk pertama kali dalam hidupnya, ia tinggal berjauhan dari keluarganya, belum apa-apa, rindu sudah membuatnya nelangsa.


Mutia kemudian menoleh, menatap Miko yang sedang mengobrol dengan kedua orangtuanya, sesekali mereka melihat kearahnya, mungkin membicarakan dirinya atau entah apa.


"Papa akan biayai sekolah kamu dan uang makan kalian, tapi papa nggak akan lagi ngasih kamu uang jajan seperti dulu, kalau kamu mau uang, kamu harus kerja kamu sudah jadi kepala rumah tangga sekarang, setidaknya cobalah untuk berkerja biar kamu tau gimana susahnya cari uang" ucap Adi yang memberikan nasihat kepada miko


Sera melirik Miko yang hanya mengangguk pasrah.


"Papa ini gimana sih, Miko itu kan masih sekolah, masa disuruh cari kerja mana ada kerjaan buat anak sekolahan!"


"Ya kerja apa kek, jadi tukang parkir Tah, jadi pelayan cafe, atau jadi tukang ojek banyak kerjaan asal dia mau kerja"


"Ya ampun pa, kalau kita punya uang, apa salahnya kita bantu Miko, miko ini anak laki-laki kita satu-satunya pah, kecuali kalo kita orang susah, tapi ini kan kita berkecukupan jadi yaudahlah perlakukan Miko seperti biasanya" ucap Sera tak terima Miko diperlakukan tidak adil oleh ayahnya sendiri, mereka punya banyak uang, kenapa juga Miko harus berkerja dengan orang lain kalau orangtuanya saja bisa memberikan apapun yang dia minta.


Adi mendengus malas, "Yasudah terserah mama, manjakan saja terus dia!"


Adi lalu mendekati Mutia yang sedang mengeluarkan barang-barang dari kopernya


"Mutia?"

__ADS_1


Mutia menoleh dan tersenyum


"Papa...."


"Gimana, kamu suka disini?"


Mutia tersenyum lagi, "suka pa"


Adi tampak terdiam sejenak seraya matanya menatap bangunan-bangunan lain yang tampak kecil jika dilihat dari tempat mereka berdiri saat ini.


Dan Mutia mulai menerka-nerka apa yang dipikirkan oleh beliau.


"Sebuah masalah itu ibarat badai ditengah laut nak, kalau kamu tidak berpegang kuat pada kapalmu, maka mungkin kamu akan tenggelam sampai ke dasar laut yang paling dalam, tapi kalau kamu mampu bertahan percayalah langit cerah akan ada setelah badai itu pergi",


Mutia tertegun mencoba memahami apa yang dikatakan oleh pria paruh baya itu


"Semua akan indah pada waktunya, papa yakin kalian bisa melewati masalah ini, banyak-banyak berdoa dan meminta ampun sama Allah, papa yakin kamu kuat dengan ujian ini", ucap Adi sambil tersenyum hangat sehingga Mutia agak sedikit lega, sejak di perjalanan tadi rasa-rasanya dada nya begitu sesak, dan dia membutuhkan semangat dan sekarang dia sudah mendapatkan nya.


"Makasih pa, maaf kalau Mutia merepotkan mama dan papa"


Adi mengelus puncak kepala Mutia, "kamu sudah papa anggap seperti anak sendiri, dan papa nggak merasa direpotkan",


Disisi lain Sera terlihat berbicara serius dengan Miko, mereka duduk disofa ruang tamu sehingga pembicaraan mereka tidak menembus sampai kedalam kamar.


"Mama akan transfer uang ke kamu, kalau kamu perlu apa-apa kamu telpon mama"


Sera menghembuskan nafas panjang kemudia berbicara lagi, "mama sebenarnya nggak mau kamu nikah, apalagi dengan Mutia, mama yakin nanti dia pasti merepotkan mu, tapi Yaudah gimana lagi, kamu sih pake acara ngehamilin anak orang!"


"Iya, Miko salah ma, maaf"


"Mama masih pengen kamu sekolah yang bener, terus kuliah diluar negeri, pokoknya kalau kamu udah tamat SMA, kamu mama kirim ke Australia tinggal disana dan kuliah disana kalau perlu nggak usah balik-balik lagi ke Indonesia"


"Terus Mutia gimana dong ma?"


"Memangnya kamu udah betulan siap jadi bapak-bapak?, Ngurus anak dan istri itu nggak gampang ko!, Udahlah urusan Mutia biar besok-besok kita bicarakan lagi, yang penting sekarang ini kamu harus menerima hukuman atas perbuatan kamu!, Sampai anak kalian lahir kamu harus terus dengan Mutia, setelah itu biarin orangtuanya yang mengurus nya".


"Mama nggak sayang ya sama Mutia?"


Sera tidak langsung menjawab entah kenapa, sejak sering melihat kedekatan Miko dan Mutia, Sera merasa tak suka dengannya, Sera berfikir Miko seharusnya mendapatkan seseorang yang jauh lebih cantik dan pintar dan juga lahir dari keluarga yang lebih berada dibandingkan dengan Mutia.


"Udahlah, pokoknya kamu dengerin aja kata mama, lagian mama yakin kalau sebentar lagi kamu juga nggak akan bakal tahan hidup kaya gini, kamu masih terlalu muda untuk jadi kepala rumah tangga"


Miko tidak merespon ia hanya diam sambil memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh ibunya.


"Pa, mama mau ngomong sebentar sama Mutia" ucap Sera masuk ke dalam kamar menghampiri Mutia yang duduk ditepi ranjang


Adi mengangguk dan beranjak sepeninggalnya, Sera langsung to the poin mengutarakan maksudnya,

__ADS_1


"Kamu tau Mutia jadi istri dan seorang ibu itu nggak gampang, apalagi diusia kamu yang masih muda ini, mama harap kamu jangan terlalu merepotkan Miko, karena kan Miko tetap harus fokus kependidikan nya"


Mutia menggangguk paham, "iya ma"


"Kamu juga jangan baperan kalau misalkan Miko bikin masalah, biasanya tu ya kalau orang hamil kan bawaannya manja, apa-apa harus diturutin dan kamu jangan gitu"


"Iya ma, Mutia ngerti"


"Kamu juga harus masak dirumah, beres-beres rumah dan jangan boros, jangan kemana-mana kalau nggak penting-penting amat, ingat ya teman-teman sekolah Miko yang baru nggak boleh tau kalau dia udah menikah, kamu juga jangan pergi-pergi bareng dia, nanti malah ada yang liat soalnya lama kelamaan perutmu itu semakin membesar dan udah nggak bisa disembunyikan lagi"


Mutia menarik nafas mengembuskannya perlahan, "iya ma, Mutia akan lakukan apa yang mama bilang"


"Bagus kalau gitu, yasudah mama pamit pulang dulu, kamu jaga makan ya, jangan makan sembarangan dan jaga kesehatan juga"


"Iya ma"


Sera mengangguk dan berlalu, sejenak Mutia termangu, ia merasa Sera tidak sungguh-sungguh peduli padanya, mungkin ia marah pada Mutia dan keadaan ini, tak apa Mutia mengerti dan memakluminya, meskipun ia merasa sedih karena sebenarnya ia menginginkan seseorang seperti ibunya ada dipihaknya dan mendukungnya sepenuh hati, namun kenyataannya menjadi lebih menyakitkan ketika ia tau kedua ibunya itu justru tidak ada disisinya.


Ketika malam tiba dan Mutia hendak terlelap, dia merasakan Miko naik ke atas ranjang lalu mencium pipinya,


"Kamu pasti capek banget seharian beres-beres" ucap Miko penuh perhatian, Mutia tidur membelakanginya ketika sedang berbicara.


"Ko apa kita akan bertahan" ucap Mutia


"Maksudnya?"


"Apa kamu bahagia?"


Miko menggigit bibirnya, "aku sayang kamu dan aku bahagia karena sekarang kita bisa bersama-sama".


"Apa kita akan selamanya begini ko?, apa kita akan terus bersama sampai tua nanti?"


"Kenapa kamu ngomong kaya gitu?"


"Kita masih tujuh belas tahun, kita masih terlalu muda untuk menikah, kalau nanti ditengah jalan kamu ninggalin aku gimana?"


"Aku nggak akan ninggalin kamu"


Mutia tidak tau harus percaya atau tidak namun ia merasa sedikit tenang mendengar nya.


"Kamu besok mulai sekolah ya? Dimna?"


"Mama masukin aku ke sekolah swasta SMK harapan"


"Oh" Mutia mengangguk-angguk "kamu belajar yang rajin ya, jangan nakal disekolah"


Miko tersenyum "iya sayang"

__ADS_1


Mutia meneteskan air mata tanpa sepengetahuan Miko, ia juga masih ingin sekolah, mengejar cita-cita seperti teman-temannya yang lain, sekarang Mutia betul-betul merasa disiksa oleh rasa penyesalan, seandainya waktu bisa terulang kembali..


__ADS_2