
Hakim mengetuk palu sebagai tanda bawah keputusannya sudah tidak bisa diganggu gugat lagi, dia memberikan sepenuhnya hak asuh itu pada Lili.
Semua orang bernapas lega, terutama Lili yang langsung bersyukur dan berterima kasih dengan keputusan hakim, tetapi lain hal dengan Reza dan keluarganya yang langsung keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal dan marah.
Hakim dan seluruh jajarannya bergegas keluar dari ruangan itu, begitu pula dengan orang-orang yang melihat proses persidangan. Tinggallah Lili dan semua anggotanya di ruangan tersebut.
"Ekhem! Mau sampai kapan kalian berpelukan?"
Lili dan Arthur langsung melepaskan cengkraman tangan mereka saat mendengar suara Masya, raut wajah mereka sama-sama memerah karna rasa malu yang menjalar sampai ketulang.
"Selamat untuk anda, aku merasa senang karna kita bisa memenangkan kasus ini!"
Masya mengulurkan tangannya untuk mengucapkan selamat pada Lili, dan tanpa dia duga, Lili membalas ucapan selamat itu dengan pelukan.
"Terima kasih! Terima kasih atas bantuan anda, aku benar-benar berhutang budi pada kalian semua!" Tangan Lili memeluk Masya dengan bergetar, menumpahkan segala rasa syukur atas bantuan wanita itu.
Tangan yang tadi terulur kini naik mengusap punggung Lili, Masya juga ikut senang karna Lili berhasil memenangkan hak asuh anaknya.
"Aku seorang pengacara, sudah menjadi kewajibanku untuk menolong semua klienku. Anda tidak berhutang apa-apa!"
Mereka melerai pelukan itu dan saling melempar senyum, sampai kedatangan seorang lelaki berhasil mengalihkan perhatian Lili.
"Ka-kakak?"
Lili mengangkat kedua tangannya dan meletakkannya di depan mulut, isak tangis terdengar lirih dan tidak sanggup dia tahan.
Kiki terus berjalan untuk menghampirinya, dia berdiri tepat di hadapan Lili dengan jarak yang cukup dekat.
"Ternyata kau ada di sini ya! Bagus, bagus sekali. Kau pergi dan melupakan segalanya!"
Lili tertunduk tidak sanggup melihat kewajah sang Kakak, rona bahagia yang ada diwajahnya seketika lenyap oleh kenangan-kenangan pahit yang terjadi.
Arthur dan Masya saling pandang seolah-olah saling bertanya tentang apa yang sudah terjadi, tetapi mereka tetap diam memperhatikan dua manusia yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Bertahun-tahun aku mencarimu, apa kau tau itu?"
Suara Kiki tertahan, amarah dan kerinduan bercampur jadi satu dalam hatinya saat ini. Keluarganya hancur berantakan sejak kepergian Lili, dan dialah yang harus direpotkan ke sana kemari untuk mencari keberadaan wanita itu.
"Maaf, maafkan aku, Kak!"
Kiki maju selangkah dan menarik Lili masuk ke dalam pelukannya membuat tangisan Lili semakin menggema di ruangan itu.
"Dasar bod*oh! selama ini kami mengkhawatirkanmu, tapi kau malah seenaknya saja pergi meninggalkan rumah!"
Walaupun merasa kesal dan marah, tapi Kiki tetap menyayangi adik satu-satunya itu. Meskipun di masa lalu dia marah besar atas kebod*ohan yang adiknya lakukan, tapi bukan berarti rasa sayangnya berkurang pada Lili.
__ADS_1
Arthur dan Masya sedikit menggeser tubuh karna tidak ingin mengganggu, walaupun beribu pertanyaan sudah berputar-putar dalam kepala mereka.
"aku minta maaf, Kak! Aku tidak mau membuat keluarga kita menjadi bahan hinaan semua orang, itu sebabnya aku pergi!"
Sesak melanda, ingatan tentang kejadian yang membuat malu seluruh keluarganya kembali melintas, dan semua itu dikarenakan kebod*ohannya.
Untuk beberapa saat, Lili dan Kiki saling memeluk dan bertukar rindu. Walaupun sesekali Kiki akan memarahi adiknya yang keras kepala itu.
Setelah sedikit tenang, mereka melerai pelukan itu dan beralih melihat Masya dan Arthur yang sedang pura-pura sibuk dengan ponsel mereka.
"Aku tau kalau kalian sejak tadi memperhatikan kami!"
Pandangan curiga Kiki layangkan, terutama pada Masya yang melihatnya dengan gugup.
"Ayo, kita pulang! Aku sudah sangat lelah!"
Arthur yang memang sudah merasa tidak nyaman sejak kehadiran lelaki yang mengaku sebagai Kakak Lili ingin segera pulang, entahlah kenapa dia merasa seperti itu.
Akhirnya mereka semua meninggalkan pengadilan itu dan berlalu pulang ke rumah Arthur, tetapi Arthur merasa seperti ada sesuatu yang salah saat ini.
"Aku memang mengajak pulang, tapi bukan berarti kalian juga ikut pulang bersamaku!"
Kesal melanda, tatapan tajam Arthur hunuskan ke arah Masya dan Kiki yang tidak merasa sedang disindir.
"Apa? Kakak pikir aku perempuan?"
Arthur merasa tidak terima mendengar ucapan Masya, dia bahkan sampai menginjak rem secara mendadak dan mereka semua hampir terjungkal karnanya.
"apa kau gila?" suara Kiki terdengar keras dan geram melihat tingkah Arthur, begitu juga dengan Masya dan Lili yang memandangnya dengan aneh.
Sementara Arthur sendiri merasa tidak peduli, dia lalu kembali melajukan mobilnya dengan perasaan yang tentu saja bertambah kesal.
Tidak berselang lama, mobil Arthur sudah sampai dihalaman depan rumahnya. Dia langsung turun dan menutup pintu mobilnya dengan kencang membuat semua orang terlonjak kaget atas aksinya itu.
"kenapa sih, anak itu?" Masya merasa sebal, Arthur terlihat seperti seorang bocah yang sedang merajuk.
"dasar bocah!" Kiki pun tak kalah kesal, dia bahkan ingin sekali menjitak kepala Arthur saat ini juga.
Arthur yang sudah berjalan masuk ke dalam rumah langsung disambut oleh teriakan Zia yang sedang bermain bersama dengan kedua orangtua lelaki itu.
"Papa!"
Zia berlari dan mengalihkan perhatian Mama Mawar dan Papa Ari, mereka berdua ikut melihat ke arah Arthur yang sedang berdiri di depan pintu.
"Papa, Cia balu beli mainan loh!"
__ADS_1
Zia menunjukkan mainan yang ada ditangannya dengan semangat, membuat Arthur membuang napas kasar.
"Kalian sudah selesai?"
Mama Mawar berjalan ke arah pintu saat melihat ke datangan Lili dan yang lainnya.
Lili segera menyalim tangan kedua orangtua Arthur, begitu juga dengan Kiki dan juga Masya.
Mereka lalu dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu, sementara Arthur membawa Zia seperti biasa ke kamarnya.
"bagaimana kabar Om dan Tante?" tanya Masya, sudah cukup lama dia tidak berkunjung ke rumah mereka karna selalu disibukkan dengan segudang pekerjaan.
"Tante dan Om baik, Masya!"
Lalu mereka saling bertukar kabar, Mama Mawar juga bertanya bagaimana jalannya proses persidangan yang baru saja mereka jalani.
"berkat kesaksian dari Kiki, kami berhasil memenangkan kasus itu. Yah walaupun sebenarnya aturan hukum memang berpihak pada kami!" ucap Masya.
Mama Mawar dan Papa Ari merasa lega mendengar penjelasan dari Masya, kini mereka bertanya-tanya siapakah sosok lelaki yang ada di samping Lili tersebut.
Sadar akan rasa penasaran kedua orangtua Arthur, Lili lalu mengenalkan Kiki pada mereka semua.
"Oh, jadi kau ini Kakaknya Lili?"
Kiki menganggukkan kepalanya, dia juga mengucapkan banyak terima kasih karna selama ini mereka sudah baik pada Lili dan juga anaknya.
"Itu tidak masalah, kami sudah menganggap Lili sebagai menantu kami sendiri!"
Ucapan Mama Mawar berhasil membuat semua orang menatap tajam ke arah Lili, sementara Lili sendiri berusaha untuk tetap tersenyum canggung walaupun dilanda dengan rasa malu yang luar biasa.
Sementara itu, Arthur yang sedang berada di dalam kamar mandi mencoba untuk mendinginkan kepalanya. Dia tidak tau kenapa saat ini dia merasa sangat kesal dengan semuanya.
"kalau terus seperti ini, aku benar-benar bisa gila! tidak, tidak mungkin aku jatuh cinta padanya! Oh, ayolah, Arthur! Masih banyak wanita lain yang lebih baik, kenapa aku harus jatuh cinta pada seorang janda?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
Bagi yang udah baca Mengejar Cinta Kupu-Kupu Malam, aku minta maaf karna terpaksa menghapusnya🙏 ada beberapa hal yang harus aku perbaiki, terima kasih 🥰
__ADS_1