
"Jangan terlalu lama menatapku, aku takut kalau kau jatuh cinta!"
Malik terlonjak kaget saat mendengar ucapan Ayah Barra, begitu juga yang lainnya yang tidak habis pikir dengan apa yang lelaki paruh baya itu katakan.
"A-anda bu-bukan Tuan Barra Zander, kan?"
Deg, tubuh Malik kembali bergetar saat melihat smirik iblis dari Ayah Barra. Dia merasa tidak percaya kalau lelaki yang ada di hadapannya adalah lelaki yang sama, yang baru saja dia sebutkan namanya.
"Ki, bawa Tuan Ari pergi dari sini!"
Tiba-tiba Ayah Barra memberi perintah, kini lawannya sudah tau siapa dia sebenarnya, jadi permainan baru akan dimulai.
"Ta-tapi Tuan, kenapa saya harus pergi?"
Papa ari merasa tidak terima, dia seperti diusir dan tidak diperbolehkan untuk tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"itu karna, sejak tadi anda menatapku dengan wajah pucat pasi seperti itu! Jantungku berdebar-debar karnanya!"
"Apa?"
Entah apa maksud dari ucapan Ayah Barra, yang pasti, dia berhasil membuat Papa Ari tidak berminat lagi untuk ada di tempat itu.
"Ayah, aku mohon jangan sampai-"
"Dia tidak akan mati ditanganku! Kau tenang saja."
Kiki menghembuskan napas kasar, memang benar kalau Ayah Barra tidak pernah membunuh orang secara langsung. Akan tetapi, ujung-ujungnya orang itu tetap akan mati juga dengan berbagai alasan.
Kemudian Kiki mengajak Papa Ari untuk pergi dari tempat itu membuat Malik semakin ketakutan, ingin sekali dia ikut pergi bersama Papa Ari tetapi kakinya tidak bisa dia gerakkan.
"Baiklah, aku sudah cukup basa-basi sampai membuatku mual sendiri!"
Glek. "Tu-Tuan, maaf-maafkan saya karna tidak bisa mengenali anda! Ampuni saya, Tuan!"
Malik bersimpuh dikedua kaki Ayah Barra membuat Gesya mengikuti apa yang Ayahnya lakukan, walaupun dia tidak tau siapa lelaki paruh baya itu.
"Aaarggh!"
Malik menjerit kesakitan saat kaki Ayah Barra mendarat tepat di atas kepalanya membuat Gesya terlonjak kaget.
"Kepala ini kan, yang kau gunakan untuk berpikir bagaimana caranya menghancurkan keluarga Arthur?"
Ayah Barra semakin menekan kakinya membuat Malik tengkurap di atas tanah. "Jawab sebelum ku hancurkan kepalamu yang botak ini!"
"be-be-benar, Tuan! Maafkan saya, ampuni saya!"
"Jadi, bagaimana jadinya kalau kuhancurkan kepalamu ini?"
__ADS_1
Malik semakin memohon belas kasihan dari Ayah Barra membuat lelaki paruh baya itu merasa muak dan kesal.
Buak! Kaki yang sejak tadi berada di kepala, kini berpindah ke perut buncit Malik membuatnya mengerrang kesakitan.
"A-ampuni kami, Tuan! Tolong lepaskan kami, aku akan melakukan apapun untuk Tuan!"
Gesya gantian memohon belas kasihan Ayah Barra sembari memegangi kakinya, tetapi bukannya merasa senang, Ayah Barra bertambah kesal karnanya.
Plak! Sebuah tangan mendarat dipipi Gesya, tetapi bukan dari Ayah Barra, melainkan Bianlah pelakunya.
"tunggu giliran, kenapa kau tidak sabar sekali?" ucap Ayah Barra.
Gesya mengatupkan rahangnya sembari menahan perih diwajahnya, sementara Ayahnya terus memohon belas kasihan Ayah Barra.
Ayah Barra lalu meminta Malik untuk duduk yang langsung dituruti olehnya, secepat kilat kaki Ayah Barra langsung melayang tepat ke aset Malik membuatnya mengerrang keras akibat rasa sakit yang luar biasa.
"Gunakan kepalamu untuk berpikir! Rasa sakitmu ini tidak seberapa dibanding rasa sakit orang-orang yang kau hancurkan!"
Ayah Barra semakin menekan kakinya membuat Malik terus berteriak minta dilepaskan.
"A-ampuni saya, Tuan- heegh! Aaarrg ...!"
Ayah Barra lalu berjongkok dan membuka celana Malik, terlihat jelas betapa remuk redamnya pusaka lelaki itu.
"Apa kau masih punya obat yang kau beri pada Arthur?"
"ti-tidak ada, Tuan! Saya-"
"Periksa dia!"
Bian langsung menganggukkan kepalanya mendengar perintah Ayah Barra, dia langsung merobek paksa pakaian Gesya untuk mencari obat yang dia sembunyikan.
"Hentikan! Jangan sentuh aku!"
Gesya terus memberontak, tetapi mudah saja bagi Bian untuk melumpuhkan wanita sepertinya.
"Aku menyuruhmu untuk memeriksa dia, bukan memperkosanya!"
Bian mendengus sebal, dia hanya melakukan cara cepat dengan menelanjangi wanita itu untuk menemukan apa yang dia cari.
"Saya mohon ampuni kami, Tuan! Ampuni anak saya, Tuan!"
Malik kembali memohon, suaranya terdengar lirih dengan tangan yang memegangi asetnya.
"Tidak perlu dipegangi, tidak akan terbang kok!"
Sumpah demi apapun Malik ingin sekali mengoyak mulut Ayah Barra, tapi tentu saja dia tidak berani melakukan semua itu.
__ADS_1
Bian lalu memberikan obat terlarang itu pada Ayah Barra yang langsung disuntikkan tepat ke pusaka Malik membuat sang pemilik pusaka memberontak tidak karuan.
"Ja-jangan, Tuan!"
Bles, sebuah jarum sudah menancap tepat dipusakanya membuat Malik memejamkan mata menahan perih.
"bagaimana bisa kau memuaskan para ******* yang kau sewa, kalau tititmu cuma sebesar jari telunjukku?" ucap Ayah Barra dengan heran.
Sudah kepala botak, perut buncit, dan sekarang ***** kecil. Lengkap sekali penderitaan lelaki itu pikirnya.
Dia lalu mulai mendekati Gesya yang meringkuk memegangi kedua kakinya sepertinya kucing tersiram air.
"Cantik!"
Satu kata berhasil lolos dari mulut Ayah Barra seperti angin segar bagi Gesya, dia mulai berpikir mungkin bisa diampuni kalau melayani dan memuaskan lelaki itu.
"Aku, aku akan melayani, Tuan! Aku akan memuaskan, Tuan!"
Ayah Barra tertawa mendengar penawaran wanita itu, dia lalu berjongkok tepat di depan wajah Gesya.
"Istriku jauh lebih memuaskan darimu! Dan aku, sama sekali tidak berminat dengan barang obral sepertimu!"
Wanita mana yang tidak merasa sakit hati atas ucapan Ayah Barra, tetapi begitulah dia yang selalu menghancurkan mental musuh-musuhnya.
Ayah Barra kemudian memberi kode pada Bian untuk menyuntikkan obat itu ke tubuh Gesya juga agar anak dan bapak bisa saling memuaskan malam ini.
"dasar bajing*an, brengs*ek!" maki Gesya.
Plak! "Tutup mulutmu, Gesya! Apa kau mau mati?"
Malik menampar anaknya sendiri karna sudah memaki Ayah Barra, dia sudah merasa beruntung karna tidak mati ditangan lelaki itu.
"aku tidak peduli, dia benar-benar brengs*ek!"
"berkacalah! Kalau kau tidak punya, biar ku belikan!" balas Ayah Barra.
Dia lalu memerintahkan Bian untuk memasukkan dua manusia itu ke dalam mobil dan mengunci mobilnya, dan jangan lupa untuk mengamankan ponsel mereka.
"Nikmati malam panas kalian ini, dan ingat, aku hanya mengembalikan apa yang telah kalian lakukan!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1
Terima kasih yang udah baca 😘