
"aku benar-benar berkata jujur! Aku memintamu datang ke sini untuk menolongku, karna wanita tadi ingin merebutku darimu!"
"Apa?"
Lili sangat terkejut mendengar ucapan Arthur, tetapi dia lebih terkejut lagi kenapa lelaki itu bisa tau kalau wanita tadi sedang menyukainya.
"ke-kenapa kau bisa tau? Perasaan wanita tadi biasa saja!" ucap Lili, dia tidak melihat keanehan dalam diri wanita bernama Berlin.
"Ck, ck, ck!"
Arthur berdecak melihat kepolosan wanita yang dia cintai, sepertinya dia memang harus memberi pelajaran pada Lili dalam dunia percintaan.
"Apa kau tadi tidak melihat kalau matanya berseri-seri saat melihatku? Tapi begitu kau datang, mungkin kalau ada ayam di depan matanya, ayam itu akan berubah jadi ayam panggang!"
Lili berpikir keras mendengar ucapan Arthur, sementara lelaki itu terlihat bangga karna bisa mengajari Lili sesuatu yang sangat berharga.
"Terus, aku harus melakukan apa?"
Lili tidak paham apa gunanya dia dipanggil ke sini, tidak mungkin kan dia menyuruh wanita itu untuk menghilangkan rasa sukanya kalau memang dia menyukai Arthur.
"Pertanyaan yang tepat, Sayang! Kau harus selalu bersikap manis padaku, dan tunjukkan kalau kau benar-benar calon istriku. Agar wanita itu menyingkir, dan kerja sama kami berjalan lancar! Aku tidak mau muncul titisan Gesya lagi dalam dirinya!"
Arthur merasa trauma, gara-gara Gesya adik kecilnya terus berdiri tegak karna pengaruh obat perangs*ang. Jangan sampai yang satu ini malah akan membuat adik kecilnya tidak bisa berdiri tegak, itu pasti akan sangat mengerikan.
"Tapi, aku kan bukan calon istrimu!"
Jedar! Betul juga apa yang Lili katakan. Dia belum mengatakan apapun pada Lili, dan malah memintanya untuk benar-benar menjadi calon istrinya.
"Kalau gitu, kita selesaikan semuanya nanti! Sekarang kita harus ... Sayang, apa kau lapar?"
Arthur langsung mengambil makanan yang ada di hadapannya dan menyuapkannya untuk Lili, tentu saja dia melakukan semua itu karna melihat kedatangan Berlin di ruangan itu.
Lili yang awalnya merasa bingung langsung membuka mulutnya saat melihat wanita itu, dia mulai mengikuti drama yang Arthur buat.
"Ekhem!"
__ADS_1
Berlin berdehem untuk menghentikan kemesraan yang ada di hadapannya, dia benar-benar kesal karna baru mengetahui kalau ternyata lelaki itu sudah punya calon istri.
"kau sudah kembali? Maaf kami tidak sadar!" ucap Arthur, sang raja drama.
Berlin mendengus sebal, apalagi saat matanya bertatapan langsung dengan mata Lili. Ingin sekali dia mengusir wanita itu dari hadapannya.
"jadi, apa pekerjaanmu, Lili?" tanya Berlin, dia sepertinya ingin mengorek informasi tentang calon istri Arthur.
"Pekerjaannya memikirkanku, membayangkanku, dan menyebut namaku!"
Lili yang akan menjawab kalah cepat dari mulut Arthur, sementara Berlin terpaku tidak percaya dengan jawaban yang Arthur berikan.
"Jadi, kesimpulannya Lili ini tidak bekerjakan?"
Berlin tersenyum tipis, sepertinya dia masih jauh lebih baik dibandingkan dengan wanita yang katanya adalah calon istri Arthur.
"Apa kau tidak bisa mendengar, Berlin? Baru saja aku mengatakan pekerjaannya!"
Sepertinya Arthur mulai tersulut emosi, sementara Lili mencoba untuk menenangkan lelaki itu karna takut hubungan kerja sama mereka menjadi rusak.
Ucapan Berlin terdengar sangat tajam, tapi tentu saja Lili tidak merasakan apa-apa karna dia sendiri jauh lebih mandiri dari apa yang wanita itu ucapkan.
"Lalu, apa gunanya lelaki kalau seperti itu?"
Berlin terdiam sembari menatap Arthur bingung, kenapa lelaki itu masih menanyakan hal yang sudah pasti tentang kegunaan lelaki.
"Kau sendiri juga tau gunanya laki-laki itu apa, dan para lelaki pasti akan sangat suka dan beruntung mendapatkan wanita yang mandiri dan pekerja keras!"
Lagi-lagi Berlin membanggakan tentang dirinya yang seorang wanita karir, tanpa dia ketahui kalau Lili bukan hanya sekedar wanita karir, tapi juga wanita yang sudah mempunyai bocil.
"Tapi sayangnya aku bukan lelaki!"
Berlin terkejut dengan apa yang Arthur ucapkan, begitu juga dengan Lili yang melihatnya dengan bingung.
"maksudnya, aku bukan lelaki yang suka wanita seperti itu!" ralat Arthur.
__ADS_1
Berlin bernapas lega saat mendengarnya, tapi sesaat kemudian dia baru tersadar kalau saat ini bukan waktunya untuk merasa lega.
"Tapi Arthur, seorang wanita juga harus bisa membantu pekerjaan suami. Wanita juga harus berpendidikan tinggi agar tidak mempermalukan suaminya, juga harus punya jenjang karir agar menunjang kesuksesan suaminya!"
Yah, semua yang Berlin katakan itu benar. Akan tetapi, benar menurutnya saja, dan tidak untuk orang lain.
"Aku tau apa maksudmu, Berlin! Tapi pemikiran kita berbeda, dan sangat jauh berbeda!" Arthur menarik napas perlahan sebelum melanjutkan ucapannya.
"Wanita itu adalah tulang rusuk, dan bukan tulang punggung! Jadi tidak ada yang mengharuskannya untuk bekerja, apalagi mengenai pendidikan tinggi. Aku setuju denganmu, tapi pendidikanku sendiri rendah, bahkan aku hanya tamatan Sekolah Menengah Atas. Lalu, apa yang harus diributkan? Kalau masalah kepintaran, jelas Lili sangat pintar. Itu terbukti saat dia memilihku dari ribuan pria diluar sana! Dia benar-benar wanita yang sangat pintar!"
Berlin terdiam, lidahnya terasa kaku untuk kembali membalas ucapan Arthur karna tidak ada lagi celah untuknya membantah.
Sementara itu, Lili merasa terharu dengan apa yang Arthur katakan. Walaupun diujung kalimat ada sesuatu yang membuatnya kesal.
Perlahan Arthur bangun dari duduknya diikuti oleh Lili. "Terima kasih untuk hari ini, Nona Berlin! Saya senang bisa mengenal anda, dan calon istri saya juga pasti merasa demikian. Semoga anda bisa dipertemukan dengan lelaki yang sangat mencintai anda, sama seperti aku yang sangat mencintai Lili!"
Arthur lalu menganggukkan kepalanya dan berlalu pamit dari sana, sementara Berlin hanya diam terpaku tanpa bisa melakukan apa-apa.
Setelah keluar dari restoran, Arthur mengantar Lili untuk pulang ke rumah. Entah kenapa suasana dalam perjalanan terasa sangat mencekam, karna memang tidak ada yang bersuara di dalam mobil.
"apa, apa kau baik-baik saja, Arthur?" tanya Lili dengan ragu-ragu.
Arthur meminggirkan mobilnya membuat Lili merasa bingung, dia lalu membuka sabuk pengamannya dan menghadap ke arah Lili.
"Li, maukah kau menikah denganku?"
•
•
•
Tbc.
Terima kasih buat yang udah baca 😘
__ADS_1
Yeay 🥳 sebentar lagi kisah Arthur dan Lili akan segera berakhir 🥰 yuk kasi komentar kalian untuk akhir bahagia dari kisah mereka 😘