Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 28. Aku Cemburu!


__ADS_3

Setelah tragedi berdarah itu selesai, saat ini semua orang sudah duduk dikursi mereka masing-masing. Walaupun tatapan tajam masih Kiki berikan tetapi Arthur merasa tidak peduli dan hanya fokus memperhatikan Lili.


"Buk, aku mau yang itu dong!"


Arthur menunjuk ke arah ayam goreng yang baru selesai Lili hidangkan dan wanita itu segera mengambilkan apa yang dia minta.


"apa kau tidak kuliah, Arthur?" tanya Kiki sembari menikmati sarapannya.


Arthur menggelengkan kepalanya, hari ini dia sangat malas untuk pergi ke kampus dan bertemu dengan Gesya.


Bak pucuk dicinta ulam pun tiba, ponsel Arthur berdering dan menampakkan sebuah nama yang tertera dilayar ponselnya.


"Ck!"


Arthur mematikan panggilan itu, tetapi Gesya terus saja menelpon membuatnya geram dan langsung mematikan ponselnya.


"kenapa gak diangkat? Pacarmu yah?" tanya Kiki, dia sempat melihat nama Gesya tertera dilayar ponsel itu.


Arthur terus menikmati sarapannya tanpa menghiraukan pertanyaan Kiki membuat lelaki itu mendelik sebal.


Selesai sarapan, Kiki bersiap-siap untuk berangkat ke kantor sementara Arthur sedang santai bersama Zia menonton televisi.


"Dek, Kakak berangkat yah!" pamit Kiki.


Lili yang sedang menjemur pakaian berlalu masuk, dia lalu mengantar sang Kakak sampai di halaman depan.


"hati-hati, Kak!"


Kiki menganggukkan kepalanya. "Oh iya, usir saja laki-laki itu dari sini! Enggak baik nanti dilihat orang."


Lili menganggukkan kepalanya, dia lalu kembali masuk dan segera meminta Arthur untuk pergi dari sana.


"Kenapa? Aku kan masih mau disini!"


Arthur merasa tidak terima, dia masih ingin berada ditempat itu dan bersama dengan mereka.


"Enggak baik diliat tetangga! Jadi lebih baik kau pergi sekarang!"


Arthur berdecak kesal, dia lalu bangkit dan menyambar jaketnya yang dia letakkan di atas sofa.


"Zia, kita main ke taman yuk!"


Lili melotot dengan tajam, bukannya pergi dari rumahnya, lelaki itu malah mengajak putrinya untuk bermain keluar.


"Mama?"


Zia melihat ke arah Mamanya seolah-olah sedang meminta izin apakah boleh pergi dengan Arthur atau tidak.


"Sayang, nanti ke tamannya sama-"


"Kita bersama, ayok, Zia!"


Arthur langsung memotong ucapan Lili, dia sudah merasakan gelagat tidak baik, itu sebabnya dia langsung menggendong Zia dan membawanya keluar rumah.


Lili mengepalkan tangannya dengan geram, lelaki itu memang selalu sesukanya sendiri. Mau tidak mau dia harus mengikuti apa yang Arthur inginkan.


Mereka bertiga lalu berangkat menuju taman, terlihat ada beberapa orang yang sedang berolahraga di tempat itu karna memang saat ini masih pukul 8 pagi.


Zia berlarian ke sana kemari dengan seorang anak lelaki yang juga ada ditempat itu, sementara Arthur dan Lili sedang duduk dibangku yang berada tidak jauh darinya.

__ADS_1


"Em ... Buk! Apa aku boleh menanyakan sesuatu?"


Lili yang melihat ke arah Zia mengalihkan pandangannya, dia melihat ke arah Arthur dengan menganggukkan kepala.


"apa saat ini Ibuk bahagia?"


Lili menatap bingung, dia tidak mengerti kenapa Arthur bertanya seperti itu. "Tentu saja aku bahagia, semua itu juga berkat bantuanmu, kan!"


Lili merasa tenang dan bahagia karna tidak ada lagi yang akan mengambil Zia dari hidupnya.


"Em ... apa Ibuk enggak ada rencana untuk menikah lagi?"


Lili semakin bingung, kenapa tiba-tiba Arthur bertanya seperti itu. Apalagi masalah pernikahan yang membuatnya sedikit trauma.


"kenapa?" akhirnya Lili bertanya.


Arthur terdiam, dia belum bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya terhadap wanita itu. Apalagi saat ini dia masih kebingungan ingin menerobos pertahanan hati Lili atau tidak.


"Mama!"


Tiba-tiba suara teriakan Zia mengagetkan mereka berdua, mereka lalu cepat-cepat menghampiri gadis kecil itu yang sedang menangis.


"Ada apa, Sayang? Kenapa menangis?" Lili memeluk tubuh Zia yang masih sesenggukan.


"Cia dipukul!" ucap Zia, dia menunjukkan tangannya yang sedikit memerah.


Arthur mengambil alih Zia, dia lalu melihat tangan yang dipukul oleh temannya tadi.


"kalau ada yang memukul Zia, Zia harus balas! Jangan diam aja!" ucap Arthur.


Lili langsung mencubit perut lelaki itu yang sudah mengajari hal buruk pada putrinya, dia lalu mengajak Zia untuk duduk dibangku mereka tadi.


"maafkan anak saya, Pak, Buk! Dia sudah membuat anak kalian menangis!" ucap lelaki itu penuh sesal, dia lalu menyuruh putranya untuk meminta maaf.


"tidak apa-apa, Pak! Namanya juga anak-anak," balas Lili dengan tidak enak, dia merasa kalau persoalan seperti itu sudah biasa terjadi.


Lelaki yang ada dihadapan Lili melihatnya tanpa berkedip, dia merasa terpesona dengan kecantikan wanita itu.


Arthur yang memperhatikan dari samping mulai terbakar, dia lalu bangkit dan menatap lelaki itu dengan tajam.


"Dasar mata keranjang! Apa dia enggak liat kalau di samping Buk Lili ada aku?"


Arthur ingin sekali mencongkel mata lelaki itu, terlihat jelas kalau dia menyukai Lili saat ini.


"aku, aku minta maap yah!" ucap anak dari lelaki itu, dia mengulurkan tangannya pada Zia.


Lili yang melihat itu langsung menyuruh Zia untuk menerima uluran tangan temannya itu, tetapi Arthur menahannya.


"Hey, bocah! Lain kali kalau main itu hati-hati, jangan suka menyakiti wanita. Apa kau- duuuh, sakit!"


Arthur berteriak saat kakinya dipijak dengan kuat oleh Lili, wanita itu melotot ke arahnya supaya dia tidak berbicara lagi.


"maaf, Pak! Saya akan lebih memperhatikan anak saya,"


"Tidak apa-apa, Pak! Anak-anak memang biasa seperti itu, lambat laun mereka pasti akan mengerti," ucap Lili.


Lelaki itu menganggukkan kepalanya. "Semoga saja, saya khawatir tidak bisa memperhatikannya seorang diri!"


Tiba-tiba lelaki itu curhat, membuat Arthur semakin tidak suka. Sementara Lili memandangnya dengan bingung.

__ADS_1


"Ibunya sudah meninggal, dia meninggal saat melahirkan putra kami!" ucapnya lirih, suaranya terdengar sangat getir.


Lili merasa iba, karna biar bagaimana pun. Seorang anak sangat membutuhkan sosok Ibu dalam kehidupan mereka.


"saya turut berduka, Pak! Semoga-"


"Zia, ayo kita pulang!"


Arthur langsung memotong ucapan Lili dan berlalu dengan menggendong Zia membuat Lili semakin merasa tidak enak pada lelaki itu.


Dia lalu mengejar langkah Arthur setelah meminta maaf, terlihat lelaki itu sudah masuk ke dalam mobil.


"Paman, apa-"


"Zia, kau tidak boleh memanggilku Paman! Kau harus memanggilku Papa," ucap Arthur.


"Papa? Tapi kata Mama-"


"Zia sendiri pilih mana? Papa atau Paman?"


Gadis kecil itu terlihat bingung, dia melihat ke arah Arthur dengan mengedipkan matanya beberapa kali.


"Papa!"


"Nah, bagus! Pokoknya mulai sekarang sampai kapanpun Zia harus panggil Papa!"


Gadis kecil itu mengangguk, dia lalu melingkarkan tangannya dileher Arthur yang memasih memangkunya di belakang kemudi.


Brak! Tiba-tiba Lili masuk ke dalam mobil dengan menutup pintu dengan keras membuat dua manusia yang ada di dalamnya terlonjak kaget.


"astaga, untuk saja kita enggak lompat!"


"Sebanarnya ada apa denganmu, Arthur? Kenapa kau sama sekali tidak punya sopan santun dan pengertian pada orang lain?"


Lili terlihat sangat marah, wajahnya merah padam dengan dada naik turun karna menahan emosi.


Zia yang melihat sang Mama mengkerut takut membuat Lili kembali keluar dari mobil dengan kesal, dia lalu meminta Arthur untuk keluar juga dari sana.


"aku tidak tau apa yang terjadi padamu, tapi yang jelas kau sudah keterlaluan!" ucap Lili setelah mereka berdua berada diluar mobil.


"kenapa Ibuk marah? Aku hanya mengajak Zia pergi saja!"


"Mengajak pergi? Apa pantas kau mengajak pergi disaat seperti itu?"


Arthur terdiam, dia memalingkan wajahnya ke arah samping karna enggan bersitatap mata dengan Lili.


"baiklah, terserah kau mau melakukan apa! Tapi aku benar-benar tidak habis pikir dengan sifatmu-"


"aku cemburu, aku sedang cemburu!"


"Ap-apa?"





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2