
Ibu Tasya sangat terkejut mendengar ucapan suaminya, bagaimana mungkin laki-laki itu memberikan pistol asli pada anak berusia 2 tahunan?
"Apa kau gila? Kau mau meledakkan cucumu sendiri?"
Lili dan Zia terlonjak kaget mendengar teriakan Ibu Tasya, dia lalu membawa Zia untuk melihat apa yang sedang terjadi pada Ibunya tersebut.
"Kenapa kau berteriak, Sayang? Aku kan cuma bercanda!"
Plak! Ibu Tasya langsung memukul tubuh Ayah Barra, bisa-bisanya laki-laki itu bercanda sesuatu yang mengerikan seperti itu.
"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu berteriak?"
Lili yang baru masuk ke dalam rumah langsung berdiri di samping Ibunya, begitu juga dengan Zia yang menempel ke tubuh Ibu Tasya.
"Ayahmu itu, Li! Benar-benar sudah gila dia!"
Ibu Tasya berbalik dan masuk ke dalam kamar, dia lalu menutup pintunya dengan keras sampai Zia terlonjak kaget.
"Kenapa sih Yah, enggak ada habisnya ganguin Ibu!"
Ayah Barra hanya mengangkat bahunya tidak peduli, dia lalu berjalan keluar rumah sembari menggendong Zia membuat Lili menarik napas frustasi.
***
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, segala kesibukan kini sudah tidak lagi menghantui keluarga Arthur, Lili dan juga Masya.
Segala urusan pernikahan sudah selesai, sekarang hanya tinggal menunggu pergantian hari saja karna memang besok sudah saatnya melangsungkan pernikahan.
Saat ini, Arthur sedang berdiri dibalkon kamarnya. Dia memandangi bulan yang bersinar terang malam ini, sekilas wajah Lili seperti melintas di bulan itu membuat bibirnya tersenyum.
"Bagaimana ini, aku merasa gugup sekali!"
Arthur lalu duduk sembari tetap memandangi langit, dadanya terus berdebar kencang saat memikirkan pernikahannya besok.
Tanpa dia sadari, Mama Mawar masuk ke dalam kamarnya. Wanita itu ingin melihat apakah Arthur sudah tidur, dan benar dugaannya kalau anaknya itu belum tertidur.
__ADS_1
"Ini sudah malam, Arthur! Kenapa kau belum tidur?"
Arthur sedikit terkejut mendengar suara seseorang, dia lalu melihat ke arah belakang untuk memastikan apakah yang bersuara adalah Mamanya.
"kenapa Mama masuk ke dalam kamarku tidak mengetuk pintu dulu?"
"Gak sempat!"
Mama Mawar mendekati Arthur yang mendengus sebal, dia lalu duduk di samping anaknya itu dan mengusap bahu Arthur.
"Kenapa? Apa kau tidak bisa tidur?"
Arthur kembali melihat ke arah depan, dia membuang napas frustasi lalu menganggukkan kepalanya.
"Aku gugup, Ma! Apa Mama dulu juga sepertiku?"
Arthur melihat sekilas ke arah Mamanya, lalu kembali melihat ke depan sambil merebahkan tubuh ke sandaran kursi.
"Tentu saja, siapa pun pasti akan gugup sepertimu!"
Mama Mawar paham sekali dengan apa yang Arthur rasakan sekarang, karna dia dulu juga seperti itu. Apalagi dia dulu dijodohkan, dan dia sama sekali belum pernah bertemu dengan Papa Ari sebelum pernikahan terjadi.
"Tidak ada, Mama hanya melakukan semuanya seperti biasa. Mama menganggap pernikahan itu sesuatu yang biasa terjadi, dan tidak terlalu memikirkannya!"
Arthur mendessah, mudah sekali cara berpikir Mamanya itu. Apa dia juga bisa berpikir seperti itu?
"Bukannya kau mencintai Lili?"
Arthur lalu memalingkan wajahnya ke arah Mama Mawar. "Tentu saja, kalau tidak untuk apa aku menikah dengannya?"
Mama Mawar tersenyum. "Kalau begitu, apa lagi yang harus kau gugupkan? Cukup pikirkan rasa cintamu itu, dan ingatlah saat-saat kau bersama dengannya. Mama yakin apapun perasaan yang ada dalam hatimu, pasti bisa hilang!"
"Termasuk rasa cintaku?"
Plak! "Sakit, Ma!" Arthur mengusap-usap kepalanya yang terasa panas.
__ADS_1
"Kau sih, dibilangin bagus-bagus malah kayak gitu!"
Mama Mawar merasa geram, saat ini dia sedang dalam mode serius, tetapi anak durjananya itu malah keluar jalur.
"Iya-iya, Ma! Aku paham!"
Arthur lalu memeluk tubuh Mama Mawar dari samping, walaupun Mamanya itu sangat rewel dan selalu membuatnya kesal. Akan tetapi. Dia sangat menyayanginya.
"Sudahlah, pikirkan apa yang Mama katakan tadi! Mama sekarang mau tidur, kau juga jangan tidur terlalu malam!"
Arthur menganggukkan kepala lalu melerai pelukannya, lalu Mama Mawar bangun dan segera keluar dari kamar itu.
"Ma!"
Mama Mawar menghentikan langkah kakinya, dan kembali melihat ke arah Arthur. "Apa?"
"Terima kasih karna sudah masuk ke kamarku!"
Mama Mawar tersenyum, dia lalu kembali mendekati Arthur dan mengecup kening putra kesayangannya itu.
"Ternyata kau sudah dewasa, Arthur! Bahkan besok kau sudah menikah dengan wanita pilihanmu sendiri, Mama harap kau bisa menjadi kepala keluarga yang baik dan sayang pada istri dan anakmu!"
Arthur menganggukkan kepalanya, lalu Mama Mawar tersenyum dan kembali melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar itu.
Arthur juga menutup pintu balkon dan masuk ke dalam kamar, dia naik ke atas ranjang dan langsung terlelap begitu saja.
Sepertinya ucapan Mama Mawar benar-benar berhasil membuatnya tenang, hingga dia tidak merasa gugup untuk pernikahannya besok.
Pada saat yang sama, Lili juga sedang berbaring di atas ranjang. Malam ini Zia tidur bersama dengan orangtuanya, walaupun Ayah Barra terus menggerutu karna istrinya membawa Zia ke dalam kemar mereka.
"Ya Allah, lancarkanlah pernikahanku besok, hingga aku dan Arthur menjadi pasangan halal yang mendapat ridhoMU!"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.