
"jadi, apa kedatangan kalian ke rumah kami ini untuk melamar Arthur?"
"Apa?"
Semua orang yang ada di ruangan itu sangat terkejut dengan apa yang Mama Mawar katakan, termasuk Papa Ari dan Arthur sendiri yang tidak menyangka kalau Mamanya akan mengatakan hal seperti itu.
"apa, apa maksudmu? Bagaimana mungkin kami melamar anakmu yang lemah gemulai itu?"
"Apa? Lemah gemulai? Anda pikir Arthur itu kembang gula?"
Mama Mawar tidak terima kalau putranya dikatai lemah gemulai, padahal menurutnya Arthur itu adalah lelaki yang sangat perkasa.
"i-itu, istri saya-"
"Memang dia itu kembang gula, kalau tidak kembang bangkai sekalian!"
Ayah Barra tentu tidak mau kalah, enak saja dia dituduh datang ke tempat itu untuk melamar Arthur, itu merupakan fitnah terkeji dimuka bumi ini menurutnya.
"jaga mulut anda ya, jangan sampai-"
"Hentikan!"
Ibu Tasya dan Papa Ari sama-sama berteriak untuk menghentikan keributan itu sementara Arthur dan Lili hanya diam di tempat mereka untuk menonton pertunjukan.
Mama Mawar dan Ayah Barra sama-sama membuang muka sebal, apalagi mereka sama-sama disuruh untuk diam oleh pasangan mereka masing-masing.
"aku tidak menyangka kalau Mamaku dan Ayahmu sangat cocok!" bisik Arthur membuat Lili melihat ke arahnya.
"cocok dari mananya?" tanya Lili dengan geram, dia lalu kembali melihat ke arah para orangtua.
"maafkan istri saya, Tuan, Nyonya! Dia tidak bermaksud untuk mengatakan sesuatu yang tidak baik, hanya saja jalan pikirannya memang seperti itu!" ucap Papa Ari, dia merasa tidak enak melihat para tamunya tertekan lahir dan batin akibat ulah istrinya.
"tidak papa, Tuan! Saya merasa senang bisa mengenal anda sekeluarga!" jawab Ibu Tasya, dia lalu melihat ke arah suaminya yang sedang sibuk menarik-narik ujung bajunya.
"ayo, kita pulang!" ajak Ayah Barra, dia merasa tidak nyaman saat melihat istrinya berbicara dengan laki-laki lain.
Akhirnya, Lili dan keluarganya memutuskan untuk pamit pulang. Mama Mawar memeluk Ibu Tasya dan meminta nomor ponselnya agar bisa lebih akrab, mereka lalu saling bertukar nomor ponsel walaupun Ayah Barra terlihat tidak menyukainya.
"Sayang, ayo kita pulang!"
__ADS_1
Lili mengambil Zia dari gendongan Arthur walaupun putrinya terlihat enggan untuk pergi dari sana.
"Lili, ngapain kamu ngajak anaknya?"
Ayah Barra yang sudah berada di depan pintu bersuara, dia bingung kenapa Lili ingin membawa anaknya Arthur.
"yah tentu saja Lili harus membawanya, Zia kan anaknya. Cucu kita!"
"Apa?"
Ayah Barra merasa terkejut, dia lalu mendekati Lili dan menggendong Zia yang tampak takut dalam gendongannya.
"Kau cucuku? Kenapa wajahmu imut sekali?"
Entah ingin menghibur ataupun membuat Zia takut, yang jelas Ayah Barra berhasil membuat gadis kecil itu menangis dengan kencang.
"Papa, Mama!"
Lili kembali mengambil putrinya dan berusaha menenangkannya dan berkata kalau yang menggendongnya tadi adalah Kakeknya.
"kenapa Kakek Cia ada 2?" tanya gadis kecil itu, dia bingung kenapa ada dua Kakek saat ini.
Tunjuk Arthur ke arah Ayah Barra membuat lelaki paruh baya itu tidak suka, dia lalu berbalik dan berjalan ke luar rumah.
"ya sudah, kalau gitu kami permisi Om, Tante! Sekali lagi terima kasih karna sudah menjaga Zia, assalamu'alaikum!" pamit Lili, dia harus segera mengejar Ayahnya yang pastinya ngambek akibat Zia tidak mau dengannya.
"Wa'alaikum salam!"
Arthur dan kedua orangtuanya mengantar Lili dan keluarganya sampai taksi online yang mereka pesan datang, kemudian mereka kembali masuk ke dalam rumah setelah Lili pergi.
"Arthur, laki-laki itu benar-benar Ayahnya Lili?" tanya Mama Mawar.
"benarlah Ma, masak kami bohong sih!" jawab Arthur.
Mama Mawar menganggukkan-anggukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa kalau Ayah Lili itu seperti seseorang yang berasal dari dunia lain.
"Oh ya, Pa! Bagaimana keadaan perusahan?"
Papa Ari menggelengkan kepalanya. "Semuanya semakin rumit, Thur! Para pemegang saham mulai mengeluh karna banyaknya para investor yang menggagalkan investasi mereka."
__ADS_1
Terlihat jelas rasa lelah dan putus asa diwajah Papa Ari, dia merasa kalau sebentar lagi perusahaannya akan gulung tikar.
"Papa tenang saja, aku sudah menghubungi beberapa kolega bisnis kita dan membuat janji untuk bertemu. Semoga salah satu dari mereka akan tetap bekerja sama dengan kita,"
"Yah, semoga saja! Kau tau sendiri kalau sih Malik itu sudah mengancam semua orang, dia benar-benar sudah gila!"
Mama Mawar benar-benar merasa geram, ingin sekali dia menyiram wajah Malik dengan bunga 7 rupa beserta air garam.
"tapi Thur, bulan depan kita harus sudah mendapat dana untuk proyek kita yang sedang berjalan. Kalau tidak, itu akan berdampak untuk harga saham kita. Juga gaji para karyawan, kita tidak tau apakah masih sanggup membayarnya atau tidak,"
"Papa tidak perlu khawatir, aku akan melakukan yang terbaik! Aku tidak akan membiarkan karyawan kita tidak mendapatkan hak mereka."
Hanya itulah yang bisa Arthur katakan, dia kini harus berjuang untuk masa depan keluarganya. Namun, sampai saat ini dia tidak pernah menyesal akan pilihan yang dia ambil.
****
Beberapa hari kemudian, Arthur sedang sibuk berkutat dengan segudang pekerjaan. Dia harus memutar otak untuk menyelamatkan perusahaannya yang sudah diambang kehancuran, sampai-sampai dia tidak lagi memikirkan bagaimana pendidikannya.
Namun, seketika pekerjaannya terganggu saat ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau tidak muncul dihadapanku?"
Arthur mengernyitkan keningnya saat membaca pesan dari nomor tersebut, dia lalu mengabaikan pesan itu dan mengira kalau itu adalah kerjaan orang gila.
Namun, beberapa menit kemudian. Dia kembali menerima pesan dari nomor tersebut dan membuatnya melotot seketika.
"Aku Barra, Ayahnya Lili!"
Arthur langsung mematikan laptopnya dan berlalu keluar dari perusahaan menuju rumah Lili.
•
•
•
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘
__ADS_1