Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 48. Kenangan Masa Lalu Ayah Barra.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Arthur terus bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Ayah Barra mengirim pesan padanya. Dia lalu memutuskan untuk menghubungi Lili untuk menanyakan tentang hal tersebut.


Tut, tut, tut. "Halo, assalamu'alaikum!"


"wa'alaikum salam, kamu lagi di mana Li?" tanya Arthur di sela-sela mengemudinya.


"aku lagi di supermarket, ada apa, Arthur?"


"Apa Ayahmu di rumah?"


Lili yang saat itu sedang sibuk belanja mengernyitkan keningnya, dia merasa bingung karna tiba-tiba Arthur bertanya mengenai Ayahnya.


Sementara itu, Arthur yang tidak mendengar suara Lili kembali bertanya pada wanita itu.


"ayah dan Ibu sedang keluar bersama Zia, memangnya ada apa?"


"ooh, kalau gitu kau ada di supermarket mana? Biar aku ke sana!"


Arthur malah sibuk bertanya di mana keberadaan Lili saat ini dan melupakan pesan yang Ayah Barra kirim padanya.


Setelah Lili memberitahukan keberadaannya, Arthur segera melajukan mobilnya ke tempat Lili. Dia merasa rindu dengan wanita itu karna memang sudah beberapa hari dia sangat sibuk dengan pekerjaannya.


Sementara itu, Ayah Barra yang geram karna tidak mendapat balasan pesan dari Arthur langsung membanting ponselnya membuat Ibu Tasya melihatnya dengan bingung.


"ada apa denganmu?" tanyanya, dia duduk di sebelah sang suami setelah membelikan Zia es krim.


"Ck, dia tidak membalas pesanku!"


Ibu Tasya menatap curiga pada suaminya. "Siapa? Selingkuhanmu?"


Cup, Ayah Barra langsung mengecup bibir sang istri membuat Ibu Tasya langsung mencubit lengannya.


"apa kau tidak tau malu?" ucapnya dengan suara tertahan, mereka menjadi bahan tontonan orang-orang yang berlalu lalang di tempat itu.


"Malu kenapa? Aku kan mencium istriku sendiri, bukan istri orang lain!"


Ibu Tasya berdecak kesal melihat Ayah Barra, suaminya itu memang tidak pernah peduli dengan keadaan sekitar.


Tiba-tiba, Ayah Barra merasa kalau sejak tadi ada dua orang lelaki yang terus memperhatikan mereka. Dia lalu pamit pada istrinya denhan beralasan untuk pergi ke toilet.


"bagaimana? Apa Bos sudah memberi perintah selanjutnya?"

__ADS_1


"belum, dia hanya meminta untuk-"


"Mengikutiku?"


Kedua lelaki yang sejak beberapa hari lalu terus mengikuti Ayah Barra langsung membalikkan tubuh mereka saat mendengar suara seseorang, mendadak wajah mereka menjadi pucat saat melihat Ayah Barra sudah berdiri tepat di hadapan mereka.


"Tu-Tuan Barra-"


"Aku tidak akan bertanya siapa kalian dan siapa yang menyuruh kalian untuk mengikutiku, tapi, aku akan langsung membunuh kalian jika setelah ini kalian masih saja mengikutiku!"


Ayah Barra berbalik, dan bersiap untuk pergi dari tempat itu. Akan tetapi, kakinya tidak bisa dia gerakkan karna kedua lelaki itu bersimpuh sembari memegangi kedua kakinya.


"ampuni kami, Tuan! Kami, kami hanya menjalankan perintah!" pinta kedua lelaki itu, mereka belum siap mati tetapi tidak bisa juga membantah perintah dari bos mereka.


"Lepaskan kakiku!"


Suara Barra terdengar sangat dingin dan menusuk, kedua lelaki itu saling pandang dan memutuskan untuk melepaskan kaki Ayah Barra.


"Tu-Tuan, kami-"


"Pergi dari tempat ini sekarang juga sebelum kesabaranku habis!"


Beberapa orang yang berlalu-lalang di tempat itu terus memperhatikan Ayah Barra dan kedua lelaki yang sedang bersimpuh dikakinya.


Tiba-tiba, datanglah seorang lelaki yang merupakan bos dari orang-orang yang mengikuti Ayah Barra membuatnya langsung tersenyum sinis.


"Kau lagi kau lagi! Apa kau tidak pernah bosan denganku, Bian?"


Ayah Barra memalingkan wajah sinisnya ke arah lelaki tersebut, yang di balas dengan senyuman lebar darinya.


"tentu saja tidak, Tuan Barra! Saya malah sangat merindukan anda!"


"Cih!"


Ayah Barra sudah merasa muak, dari dulu sampai sekarang lelaki bernama Bian itu selalu saja menganggunya dan tidak bisa membiarkannya hidup tenang.


"bukannya aku sudah memperingatimu, Bian! Aku tidak akan lagi membiarkanmu kalau kau terus menganggu kehidupanku!" ucap Ayah Barra dengan penuh penekanan.


"Tuan, untuk kesekian kalinya. Saya mohon kembalilah!"


Bian bersimpuh di kaki Ayah Barra sama persis seperti apa yang kedua anak buahnya lakukan, mereka bahkan terkejut melihat Bian melakukan sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

__ADS_1


"kau-"


"Suamiku, kenapa kau lama seka-"


Ibu Tasya tidak bisa melanjutkan ucapannya saat melihat apa yang terjadi, sementara Ayah Barra segera menghempaskan mereka semua dan berjalan cepat ke arah sang istri.


"maaf Sayang, tadi ada sedikit gangguan! ayo, kita pergi!"


"Tuan, saya mohon!"


Bian mencoba sekuat tenaga untuk membujuk Ayah Barra walau dia tau kalau lelaki itu benar-benar tidak ingin lagi kembali seperti dulu.


"Kau, Bian?"


Bian langsung menganggukkan kepalanya saat Ibu Tasya melihat ke arahnya, dia lalu sedikit terkejut saat wanita paruh baya itu menggendong seorang gadis kecil.


"i-itu anak Nyonya?" tanya Bian dengan tidak percaya, dia tidak menyangka kalau mantan bosnya memiliki anak kecil lagi.


"ini-"


"Jangan bicara dengannya!"


Ibu Tasya yang akan menjawab ucapan Bian terpaksa menutup mulutnya rapat-rapat, dia tau kalau suaminya pasti saat ini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.


Ayah Barra segera menarik tangan sang istri dan membawanya pergi dari tempat itu tanpa menghiraukan ucapan Bian, inilah yang selalu dia hindari hingga dia memutuskan untuk tinggal dipedesaan yang cukup jauh.


"Kakek-kakek, Cia mau bakso!"


Ayah Barra menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Zia, dia lalu sedikit mengulas senyum sembari menggendong gadis kecil itu.


"Tidak! Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu!"


Melihat Zia, Ayah Barra ingat betul semua kejadian di masa lalu yang hampir saja merenggut nyawa seluruh keluarganya, terutama Lili yang waktu itu masih sangat kecil.


Dia sudah bersumpah kalau dia tidak akan kembali lagi seperti dulu, dan membahayakan nyawa orang-orang yang dia sayangi.




__ADS_1


Tbc.


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2