Terjebak Pesona Mama Muda

Terjebak Pesona Mama Muda
Bab. 27. Tragedi Pecahnya Dua Biji.


__ADS_3

"bukan! Namanya Gesya, Gesya Latisya,"


"Apa?"


Suara Arthur memenuhi seisi rumah membuat kedua orangtuanya terpaksa menutup telinga akibat teriakannya itu.


"Papa, aku memang dekat dengannya. Tapi kami tidak pacaran! Aku ini jomblo lahir dan batin," bantah Arthur.


"kalau memang kalian tidak pacaran, kenapa orangtuanya berkata seperti itu?" tanya Mama Mawar.


Arthur hanya mengendikkan bahunya, dia tidak tau dan tidak ada urusan dengan mereka.


"Arthur! Kau jangan main-main dengan mereka, ayahnya itu sudah banyak membantu Papa!"


Arthur yang sudah bangkit dan hendak berlalu ke kamarnya kembali melihat ke arah sang Papa. "Pa, aku benar-benar enggak ada hubungan apapun dengan Gesya. Tapi yah ... anu, kami memang sempat dekat!"


Arthur tidak mungkin mengatakan kalau dulu dia sudah pernah tidur dengan wanita itu, bahkan beberapa hari yang lalu dia juga sempat menikmati tubuh Gesya walaupun tidak sampai berhubungan badan.


"dekat? Dekat yang seperti apa?" tanya Mamanya penuh curiga.


Arthur menggaruk tengkuknya yang memang sedang gatal, tidak mungkin dia menceritakan apa yang sudah dia dan wanita itu lakukan.


"Sudahlah, pokoknya aku tidak ada hubungan apapun dengannya!"


Arthur berlalu pergi ke kamarnya, dia sudah merasa sangat ngantuk dan lelah dengan apa yang terjadi hari ini.


"Dasar anak itu!" Papa Ari merasa kesal, Arthur memang selalu membuatnya kesal dan tidak bisa hidup dengan tenang.


"memangnya kenapa kalau Arthur cuma berteman saja dengan wanita itu, Pa? Mungkin Pak Malik saja yang salah paham," ucap Mama Mawar, lagipula dia sudah punya Lili dan tidak menginginkan wanita lain untuk menjadi menantunya.


"bukan itu masalahnya, Ma! Pak Malik merasa senang karna Arthur berhubungan dengan anaknya, dia lalu meminta kita untuk segera melamar anaknya untuk Arthur!"


"Apa? Agresif sekali yah Pak Malik, tapikan Arthur sudah sama Lili, Pa! Kita tidak bisa dong menikahkan dia dengan wanita lain!"


"Tapi Papa merasa tidak enak, Ma! Dia sudah banyak membantu Papa, lagipula Lili dan Arthur sepertinya tidak ada hubungan apapun!"


Mama Mawar terdiam, dia mencoba untuk memikirkan apa yang suaminya katakan. Lalu dia mengajak suaminya untuk tidur dan membahas masalah ini esok hari.


***


Pagi-pagi sekali, Arthur sudah bertolak dari rumahnya menuju rumah Kiki. Entah apa yang ingin dia lakukan, yang pasti dia terlihat sangat bersemangat.


"Buk Lili pasti akan terkejut saat melihatku!"


Dasar Arthur, wanita itu bukan hanya akan terkejut saja saat melihatnya. Tapi bisa-bisa dia pingsan karna hari masih gelap tetapi lelaki itu sudah berkeliaran di rumah Kakaknya.


Setelah Arthur memarkirkan mobilnya dihalaman rumah Kiki, dia segera turun dengan membawa beberapa paper bag yang entah apa isinya.


"Assalamu'alaikum!"


Arthur mengetok pintu rumah itu, tidak berselang lama terdengar sahutan dari dalam membuat hati Arthur berdebar.


"siap-"


"Selamat pagi, Buk Lili! Bagaimana kabar anda hari ini?"


Lili terpaku di depan pintu, matanya membulat sempurna saat melihat Arthur ada di depan matanya saat ini.


"Oh iya, aku bawa sarapan untuk Ibu!"

__ADS_1


Arthur memberikan paper bag yang tadi dia bawa, rupanya dia membawakan sarapan untuk penghuni rumah itu. Entah warung mana yang sudah buka pagi-pagi sekali.


Lili menerima pemberian Arthur tanpa berucap sepatah katapun, sepertinya dia masih terkejut dan belum sanggup untuk mengeluarkan suaranya.


"Aku masuk ya Buk, permisi!"


Arthur melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan Lili yang masih berdiri dipintu, dia berjalan terus sampai didapur dan duduk dikursi makan.


Lili yang baru bisa menenangkan diri langsung menyusul langkah Arthur, dia lalu meletakkan paper bag pemberian Arthur tepat di depan lelaki itu.


Brak! Arthur terlonjak kaget karnanya, bukannya marah, dia malah tersenyum manis pada Lili.


"ngapain kau pagi-pagi buta ke sini?" tanya Lili dengan tajam.


"Aku merindukan Ibuk dan Zia, itu sebabnya aku ke sini mengantar sarapan!"


"Apa?"


Lili benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, kedatangan lelaki itu saja sangat mengejutkannya, apalagi mendengar ucapan yang terlontar dari mulutnya membuat Lili serasa mau pingsan.


"Tapi Buk, ke mana Kakak Ibuk?"


Arthur melihat ke sana kemari mencari keberadaan Kiki, tapi sepertinya lelaki itu belum bangun.


"Tidak tau!"


Lili memutuskan untuk mengabaikan lelaki itu, dia lalu kembali melanjutkan acara memasaknya.


Arthur bangkit dan berdiri di belakang Lili, dia memperhatikan apa yang sedang dimasak oleh wanita itu.


"Waah, kerang. Aku suka!"


"ya ampun, Ibu mengagetkan saja!"


"hey, seharusnya aku yang mengatakan itu! Ngapain kau berdiri di belakangku?" tanya Lili dengan geram, dia lalu menunduk untuk mengambil spatula yang terjatuh.


"Kau, apa yang sedang kau lakukan di rumahku?"


Lili terkejut mendengar suara Kiki yang menggelegar didapur menyebabkannya langsung mengangkat spatula itu dan tidak sengaja mengenai aset berharga Arthur.


"Hegh! Ya Tuhan telur ku!"


Arthur memegangi pusat tubuhnya yang terasa berdenyut, sementara Lili dan Kiki langsung panik saat melihatnya.


"A-Arthur, apa, apa kau baik-baik saja?"


Lili memegangi lengan Arthur yang sedang guling-guling dilantai, sementara Kiki masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kotak P3K.


"Telu*rku ya ampun, sakit sekali!"


Sepertinya Arthur sedang tidak berbohong saat ini, karna Lili bisa melihat keringat jagung menetes dari keningnya.


"Cepat singkirkan tanganmu, biar aku memeriksanya!"


Kiki membuka kaki Arthur lebar-lebar untuk memeriksa senjata lelaki itu, bisa gawat adiknya kalau sampai aset Arthur bermasalah.


"tidak! Jangan perkosa aku!"


"Tutup mulutmu, sial*an!"

__ADS_1


Kiki menarik paksa tangan Arthur yang masih menutupi asetnya, kedua kakinya menekan kaki Arthur agar lelaki itu tidak memberontak.


Lili yang ada di samping Arthur langsung berbalik saat melihat Kiki membuka celana lelaki itu, dia tidak mungkin menyaksikan adegan dewasa yang akan mereka lakukan.


Arthur tidak bisa lagi melawan, dia memasrahkan tubuhnya pada Kiki yang terlihat fokus membuka celananya.


"Kayaknya enggak ada luka, tapi memang sedikit bengkak!"


Kiki membuka kotak P3Knya untuk mengambil obat agar aset Arthur tidak semakin membengkak, dia lalu mengoleskan obat itu tepat didua biji milik lelaki itu.


"ah, ssshh! Enggh!"


"anj*ir! kenapa kau mendessah?"


"apa? Aku kan sedang menahan sakit!"


"Sakit kepalamu! jelas-jelas kau mendessah nikmat!"


Kiki merasa jijik sekaligus kesal, dia lalu cepat-cepat mengoleskan obat itu sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Mama!"


Tiba-tiba semua orang terjingkat kaget saat mendengar suara seseorang, terlihat Zia sedang berdiri di depan mereka sembari menunjuk ke arah Arthur dan juga Kiki.


"Tidak! Mata anakku bisa ternodai!"


Lili bangun dan cepat-cepat membawa Zia kembali masuk ke dalam kamar, dia lalu menutup pintunya dengan keras sekeras debaran jantungnya saat ini.


"Mama, kenapa Papa sama Paman tidulan?" tanya gadis kecil itu.


"Ti-tidak Papa, Sayang! Sudah jangan dibahas lagi!"


Lili memeluk tubuh putrinya dengan erat seraya mencoba untuk menenangkan diri.


Sementara itu, Kiki yang sudah selesai mengobati Arthur beranjak bangun dan duduk dikursi. Arthur sendiri juga duduk tepat dihadapannya.


"apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Kiki dengan tajam.


Arthur menunjuk bungkusan yang ada dihadapan Kiki. "Aku mengantar sarapan untuk kalian, tapi kalian malah membalasnya dengan memecahkan biji kehidupanku!"


"apa? Lili kan tidak sengaja melakukannya!" bantah Kiki, lagipula mereka tidak salah dalam hal ketidak-sengajaan.


"pokoknya aku enggak mau tau, kalian harus bertanggung jawab! Bagaimana kalau dia tidak bisa berfungsi?"


"yang bekerja keras itu buru*ngmu, bukan bijimu!"


"Tapikan dia berguna juga, wanita suka loh maininnya!"


"Dasar gila!"


Lili yang sudah membawa Zia keluar kamar terpaksa masuk kembali, sepertinya satu hari ini dia dan Zia akan mengurung diri di dalam kamar.





Tbc.

__ADS_1


Terima kasih yang udah baca 😘


__ADS_2