
"Apa yang kau lakukan di sini? Keluar dari rumah ini sekarang juga!"
Suara Ibu Tasya melengking dahsyat sampai menggetarkan dinding rumah itu membuat semua orang yang ada di sana terlonjak kaget.
"Sayang, tolong jangan sekejam itu padaku!"
Ayah Barra mendekati istrinya yang sedang menatapnya dengan tajam, sementara yang lainnya mengintip kedua orangtua itu dari pintu kamar mereka.
"udah ku bilang jangan masuk! Ngapain kau di sini?"
"tentu saja untuk bersama dengan istriku tercinta, kau bertanya hal yang sudah pasti, Sayang!"
"Enggak! Aku enggak mau bersamamu!" tolak Ibu Tasya, dia lalu berbalik dan masuk ke dalam kamar.
Ayah Barra tentu tidak akan membiarkan momen itu, dia lalu menarik tangan sang istri dan masuk ke dalam kamar mereka.
Brak! Pintu kamar utama sudah tertutup, entah perang seperti apa yang akan terjadi di dalam kamar itu para penonton hanya menelan salive mereka dengan kasar.
"A-Ayahmu tidak akan menyakiti Ibumu kan?" tanya Masya, sepertinya dia trauma dengan apa yang Ayah Barra lakukan.
"tidaklah, Ayahku manusia paling bucin yang pernah aku kenal dimuka bumi ini! Jangankan menyakiti, mengerrang marah pada Ibu saja Ayah tidak pernah!"
Masya bernapas lega saat mendengarnya, dia takut kalau Ayah Barra tidak akan pandang bulu pada siapapun.
"nah, Ayah sama Ibu sudah masuk. Sekarang giliran kita!"
"A-apa maksud-"
Cup, Masya terlonjak kaget saat bibirnya kembali dilummat oleh Kiki. Bahkan kini laki-laki itu sedang menghisap dan menggigit bibirnya sampai dia mengerrang tertahan, dan membiarkan Kiki mengeksplor semua yang ada di dalam mulutnya.
"Eemmh, Ki-Kiki-"
"Aku mencintaimu, Masya! Maafkan aku yang selalu menyakitimu!"
Masya mematung saat ungkapan cinta kembali Kiki ucapkan, lelaki itu meletakkan kepalanya tepat ke kepala Masya hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Lidah Masya terasa keluh untuk menjawab ungkapan cinta dari Kiki, lelaki itu kini kembali melummat bibirnya dan dibalas olehnya seakan-akan mengatakan kalau dia memiliki perasaan yang sama.
Pada saat yang sama, Lili dan Arthur sedang duduk dengan canggung. Entah kenapa suasana jadi seperti itu, apalagi saat ini mereka sedang berada di kamar Lili.
"Em ... lebih baik kau mandi dulu saja, aku, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita!"
Lili bangkit dan hendak berjalan menuju dapur, tetapi tangannya ditahan oleh Arthur hingga dia melihatnya dengan bingung.
__ADS_1
"bisakah kita seperti ini dulu, aku, aku ingin selalu berada di sampingmu!" pinta Arthur, dia tidak bisa melakukan hal lebih pada Lili karna menghormati hijab yang selalu wanita itu pakai.
"Ka-kalau gitu kau mandi dulu saja, aku, aku akan menunggu di sini!"
Arthur menganggukkan kepalanya, dia lalu turun dari ranjang dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Hah!"
Lili menyandarkan tubuhnya ke dinding, jantungnya seakan ingin meledak saat berduaan seperti ini dengan Arthur.
Beberapa saat kemudian, Arthur sudah terlihat segar dengan rambut basah yang sengaja dia biarkan sampai airnya menetes membasahi bahu. Dia menyugar rambutnya sembari berjalan ke arah Lili yang menatapnya tanpa berkedip.
Glek, Lili menelan salivenya saat melihat pemandangan yang Arthur suguhkan. Di mana lelaki itu bertelanjang dada memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang sangat sempurna dengan perut kotak-kotak bak sebuah roti.
"Awas air liurnya jatuh!"
Lili refleks mengusap bibirnya saat mendengar apa yang Arthur katakan, sementara lelaki itu terkikik geli melihat apa yang Lili lakukan.
"Ke-kenapa kau tidak memakai pakaian?"
Lili mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dia merasa malu karna ketahuan menikmati keindahan tubuh Arthur yang benar-benar nyaris sempurna.
"Aku kan tidak membawa pakaian tadi, lagipula aku sengaja ingin menggodamu. Mana tau nanti kau jadi khilaf, hehe!"
Lili menggelengkan kepalanya mendengar tujuan mulia itu, dia tidak habis pikir dengan apa yang Arthur lakukan.
Akhirnya mereka duduk dikursi makan, sekalian Lili ingin menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
"Emm ... apa aku boleh bertanya sesuatu?"
Lili yang sedang mencuci ayam melihat sekilas ke arah Arthur, dia lalu menganggukkan kepala untuk mempersilahkan lelaki itu mangatakan apa yang ingin dia tanyakan.
"Apa aku boleh bertanya mengenai Ayahmu?"
Lili mengerutkan keningnya. "Ada apa dengan Ayah? Apa dia membuat keributan lagi?"
Arthur menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku hanya penasaran dengan identitas Om Barra saja, sepertinya dia bukan orang sembarangan!" Semalam dia tidak sengaja melihat banyaknya bekas luka yang ada ditubuh lelaki itu.
Bukan itu saja, Arthur juga melihat sebuah tato yang ada didada sebelah kirinya pada saat Ayah Barra membuka baju.
Lili terdiam, dia tidak tau harus mengatakan apa pada Arthur karna dia juga tidak paham apa yang Ayahnya dulu lakukan.
"Kenapa kau sibuk sekali?"
__ADS_1
Suara Kiki berhasil mengejutkan mereka berdua, terutama Lili yang hampir saja menjatuhkan ayamnya.
"ka-kau mau masak Li?" tanya Masya sembari mendekatinya, entah kenapa dia merasa malu dan canggung saat ini.
"cih! Udah puas anu-anunya di kamar tadi?"
"A-anu-anu apa?"
Kiki melotot tajam ke arah Arthur dengan wajah memerah, begitu juga dengan Masya yang berpura-pura tidak mendengar apa yang Arthur katakan.
"Cih, kura-kura dalam perahu!"
Kiki ingin sekali menonyor kepala Arthur saat ini juga, tetapi dia mengurungkan niatnya itu karna takut Arthur berbicara yang macam-macam lagi.
"Kak, besok kita pulang yah! Aku merindukan Zia," ucap Lili, dia juga merasa tidak enak menitipkan Zia terlalu lama pada kedua orangtua Arthur.
Kiki menganggukkan kepalanya. "Iya, Kakak dan Masya juga harus bekerja!"
"Ibu ikut!"
Tiba-tiba Ibu Tasya bergabung dengan mereka diikuti oleh Ayah Barra yang menempel bak perangko pada istrinya.
"Ibu yakin mau ikut?"
Kiki melirik ke arah Ayahnya yang tumben-tumbenan hanya diam saat mendengar istrinya ingin pergi keluar.
"iya, Ibu mau ketemu sama cucu Ibu!"
"tapi, bagaimana dengan seseorang penunggu rumah ini?" tanya Kiki menyindir Ayahnya.
"Lupakan tentang tua bangka ini, pokoknya Ibu mau ikut kalian!"
Kiki dan Lili tentu tidak masalah kalau Ibu mereka ikut, tetapi Ayah mereka tidak pernah mengizinkannya untuk keluar dari desa ini.
"aku juga akan ikut!"
"Apa?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.
Terima kasih yang udah baca 😘